
Rica telah mulai bekerja, para office girl dan office boy mendapat kesempatan beristirahat langsung berbincang-bincang dengan office girl baru itu. Terlihat kekaguman Rica terhadap Leana. Semua itu disampaikannya dengan tulus di hadapan para office girl dan office boy. Semua mengakui Leana adalah seseorang yang rendah hati.
Saat berkumpul untuk makan malam, Rica menceritakan pengalaman kerja hari pertamanya. Semua mendengar dengan antusias, bahkan Ratih yang telah mendengar cerita begitu Rica pulang bekerja, masih saja semangat mendengar pengalaman pertama gadis itu.
Hanya Shanty yang bermuka masam saat melihat semuanya begitu mendengar dengan penuh perhatian. Sementara Monica hanya bersikap acuh tak acuh. Baginya hal seperti itu tak perlu mendapat perhatiannya.
Cuma jadi office girl aja, hebohnya minta ampun. Dasar kampungan, batin Shanty sambil menyantap makan malamnya.
Jadi office girl semangat sekali, baguslah daripada minta jadi staff mau kerjain apa dia, batin Monica.
"Syukurlah kamu bisa beradaptasi di sana. Asalkan tidak ada musuh, bekerja di mana saja, posisi apa saja pasti terasa enak," ucap Leana.
"Ya Kak, untung saja saran Kak Livia aku pakai. Melihat penampilanku dan juga usiaku, tadinya mereka nggak percaya kalau aku bakal jadi office girl. Untung saja mereka nggak ingat kalau baju, sepatu dan tas ku, pernah dipakai pimpinan tertinggi perusahaan itu," jelas Rica.
"Apa? Kak Liva kasih dia baju, tas dan sepatu? Kenapa?" tanya Monica.
"Kasihan pakaiannya kurang layak untuk dipakai ke kantor. Aku punya banyak, kenapa tidak diberikan pada yang membutuhkan. Pandangan pertama itu menilai penampilan, kalau pertama kali masuk dia sudah direndahkan, pandangan selanjutnya akan semakin direndahkan. Lagi pula jika ada yang tahu kalau aku masih ada hubungan keluarga dengannya, apa pandangan orang tentang kita? Tidak peduli pada keluarga sendiri?" tanya Leana.
"Apa? Jadi kamu biarkan orang-orang tahu kita maksud Mommy … kamu, sebagai pimpinan tertinggi perusahaan itu, punya hubungan dengannya? Dengan seorang office girl?" tanya Shanty heran.
"Ya bagaimana lagi Mommy. Aku sudah memutuskan untuk menerimanya bekerja di perusahaan itu, lalu bagaimana kita sembunyikan hubungan kita? Kalau berbohong dan ketahuan justru malah memalukan," jawab Leana.
"Lalu kenapa dimasukan ke perusahaan itu?" tanya Shanty.
__ADS_1
"Lalu masuk perusahaan mana lagi Mommy? Melamar kerja di perusahaan lain, apa mungkin diterima. Rica belum punya pengalaman sama sekali. Aku takut dia gamang bertemu dengan orang-orang yang belum dikenal. Dia juga belum tahu seperti apa dunia kerja. Bagaimana bersosialisasi dengan orang yang dalam satu ruang lingkup. Kalau berkomunikasi dengan orang-orang bebas kita mungkin bisa tidak peduli, tapi ini orang-orang yang harus dihadapi setiap hari. Aku ingin dia merasa nyaman jika tahu perusahaan tempat dia bekerja adalah milik keluarga sendiri," jelas Leana.
"Tapi itu perusahaan besar," ucap Shanty.
"Lalu perusahaan mana lagi Mommy. Perusahaan Papa? Kakak yang jadi CEO nya, sama saja. Aku malah takut nanti mengganggu konsentrasi Kakak. Sementara kalau perusahaan rintisan itu, ada Papa Ridwan di sana. Masa ayah dan anak bekerja dalam satu perusahaan?" tanya Leana.
"Ya udah terserah kamu. Yang kamu Rica jangan sampai bikin malu Livia. Dia sudah banyak bantu kamu jangan balas dengan perbuatan yang memalukan," ucap Shanty dengan nada tegas sedikit mengancam.
"Ya Mommy," jawab Rica.
Mata Shanty langsung terbelalak mendengar panggilan Rica padanya. Leana tersenyum tertahan. Begitu juga dengan Radian. Mereka tertawa dalam hati melihat sikap polos gadis itu. Jelas-jelas Shanty tak menyukainya, malah justru memanggilnya dengan panggilan yang sok akrab seperti itu. Tentu saja Shanty langsung terbelalak.
Saat di kamarnya, Leana tertawa terbahak-bahak. Setelah menahan selama makan malam itu. Akhirnya Leana bisa melepaskan tawanya hanya di depan suaminya.
Sementara Radian hanya menatapnya dengan tersenyum. Laki-laki itu justru melingkarkan tangannya di pinggang wanita cantik itu. Lalu menatapnya dalam-dalam.
"Ada apa Kak? Maaf aku tidak bermaksud menertawakan Mommy," tanya Leana khawatir suaminya tersinggung karena dirinya yang tak tahan menertawakan ibunya.
"Aku tidak perhatikan ekspresi Mommy jadi aku tidak tahu seperti apa lucunya. Aku terpana. Aku hanya sibuk perhatikan kamui," jawab Radian.
"Apa yang membuat Kakak terpana?" tanya Leana sambil tersenyum.
"Kamu itu mengagumkan sayang. Hatimu begitu lapang, sangat jauh dibandingkan dengan Mommy. Tak ada yang perbedaan status atau derajat di matamu. Semua kamu perlakukan sama, tak ada yang ditinggikan dan tak ada yang direndahkan. Aku kagum padamu sayang," ungkap Radian lalu mengecup bibir istrinya.
__ADS_1
"Apa yang kulakukan ini terlihat benar, tapi aku tidak tahu bagaimana hasilnya. Jika Rica sempat berbuat kesalahan maka Mommy pasti akan menertawakan keputusanku," ucap Leana.
"Mommy mungkin akan tertawakan, mungkin juga akan menyalahkan tapi kesalahan apa pun yang terjadi itu bukan menjadi kesalahanmu tapi kesalahan Rica secara personal. Kamu hanya memberi dia kesempatan bekerja, bukan sebagai penjamin kalau dia tidak akan berbuat salah," jelas Radian.
"Baiklah Kak aku mengerti. Karena itu aku memberinya nasehat. Aku juga menyarankan agar dia melanjutkan kuliah. Jika dia memiliki ilmu, dia punya modal untuk bersaing di dunia kerja," jawab Leana.
"Kamu luar biasa sayang. Perhatian pada semua orang. Tak bisa membiarkan orang-orang dihadapanmu mengalami kesulitan. Aku benar-benar kagum padamu sayang," ungkap Radian kembali mengecup bibir istrinya.
"Apa ada rasa kagum yang lain?" tanya Leana.
"Apa ya? Nanti kalau ingat aku katakan langsung," jawab Radian.
"Oh," ucap Leana dengan ekspresi yang pura-pura sedih.
"Memangnya kenapa?" tanya Radian sambil tersenyum.
"Kalau setiap kali merasa kagum aku dapat ciuman, aku ingin buat Kakak kagum lagi," ucap Leana sambil tersenyum.
"Ya ampun, karena itu? Tak perlu susah payah untuk dapatkan itu. Aku akan berikan setiap saat setiap waktu karena aku sudah kagum padamu setiap waktu. Tak perlu berusaha apa-apa, sayang aku berikan apa pun yang kamu mau," ucap Radian sambil memeluk erat istrinya.
Merebahkan Leana di atas ranjang lalu membenamkan bibirnya di bibir manis wanita cantik itu. Menikmati manisnya bibir lembut itu hingga membenamkannya lebih dalam lagi sebagai bukti cintanya untuk Leana. Hanya mengecup dan menyesap dalam karena hanya itu yang bisa dilakukannya untuk membuktikan cintanya.
Dengan sabar menunggu wanita cantik itu siapa melayaninya lagi. Leana tak perlu khawatir suaminya mencari pelampiasan lain, karena apa pun yang diberikan Leana adalah yang terbaik Radian.
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...