
Leana mengenalkan Ricky dengan Rica. Karena Ricky yang bersedia mengenal Rica dan Rica pun bersedia dibimbing oleh Ricky, Leana akhirnya menceritakan niatnya mendekatkan mereka pada Pak Ridwan Putra dan Bu Ratih. Awalnya mendapat tentangan dari Bu Ratih karena Ricky yang hanya seorang office boy.
Namun setelah menceritakan seperti apa Ricky dan bagaimana potensi masa depannya, Bu Ratih akhirnya setuju bahkan merasa kagum.
"Benarkah? Dia sudah mau tamat?" tanya Ratih.
Leana mengangguk sambil tersenyum. Leana sendiri tidak tahu apakah hubungan Ricky dan Rica akan berlanjut menjadi hubungan yang lebih serius. Yang terpenting bagi Leana, Bu Ratih sebagai ibu kandung Rica telah mengizinkan putrinya berhubungan dekat dengan Ricky.
Leana pun kembali kesehari-hariannya. Mengurus bayinya. Karena Revano sudah masuk usia sekolah, Leana pun menggunakan jasa baby sitter untuk membantu merawat bayinya.
"Reno mulai sekolah ya Ma?" tanya Revano.
"Ya sayang, kita daftarkan Reno dulu ya," ucap Leana menyiapkan putranya untuk berangkat ke sebuah sekolah.
"Adeknya juga ikut ya Ma?" tanya Revano.
"Ya, nanti Mbak Salsa yang bantu gendong adek di kursi tengah," ucap Leana.
"Asyik! Nanti Mama tungguin Reno nggak Ma?" tanya Revano lagi.
"Ya dong. Masa Mama tinggalin? Nanti kalau Reno udah terbiasa, barulah Reno nggak perlu ditunggu lagi. Kalau sekarang, Mama juga ingin lihat seperti apa anak Mama ini di sekolah," ujar Leana.
"Asyik! Nanti Mama tunggu sampai pulang ya Ma?" tanya Revano.
"Ya, kalau ditungguin ya sampai pulang," jawab Leana.
"Asyik!" seru Revano.
Mereka pun bersiap-siap untuk berangkat ke sebuah taman kanak-kanak. Sebelumnya mereka sarapan pagi bersama. Leana pun menawarkan untuk mengantar Rica sekalian tetapi gadis itu menolak.
__ADS_1
"Kenapa tidak mau, lumayan bisa hemat ongkos," ucap Leana.
"Bukan nggak mau Kak, tapi aku udah terlanjur janji sama … Ricky," ucap Rica malu-malu.
"Dia ingin jemput kamu? Ke rumah?" tanya Leana heran.
"Iya Kak, nanti juga mau antar pulang," jawab Rica.
"Wah,bisa maju pesat begitu hubungan kalian. Ngomong-ngomong, dia udah punya motor sekarang?" tanya Leana.
"Sudah Kak, katanya baru beli," jawab Rica.
"Wah, demi kamu?" tanya Leana.
"Ah masa sih Kak? Nggak tahu kalau itu," jawab Rica.
"Artinya dia menghargai kamu. Jangan sia-siakan kebaikan hatinya padamu," nasehat Radian.
"Ya Kak, aku akan ingat itu," jawab Rica.
Mereka bahagia karena Rica juga terlihat bahagia. Terlebih lagi Bu Ratih yang tak menyangka memiliki hidup yang lebih baik sekarang ini. Kedua orang keluarganya telah bekerja, meski belum menerima gaji tapi mereka telah memiliki harapan untuk mendapatkan penghasilan.
Bu Ratih sangat bersyukur mendapatkan bantuan yang sangat banyak dari Leana. Sekarang putrinya pun telah mendapatkan teman dekat. Bu Ratih semakin percaya pada cerita Rica akan kebaikan hati Leana.
Revano diantar Leana ke sekolahnya. Untuk minggu pertama, orang tua diizinkan menunggui putra mereka. Leana ditemani oleh baby sitter yang menjaga bayinya. Sambil menunggu Revano di kelasnya, Leana berbincang-bincang dengan baby sitter itu.
"Bagaimana Salsa? Apa bentah menjaga Reva?" tanya Leana.
"Betah Bu, Reva anaknya tenang, nggak rewel, nggak cengeng," jawab Salsa.
__ADS_1
"Syukurlah, aku ikut senang kalau begitu. Kita tunggu Reno sampai pulang, setelah itu kamu bisa istirahat. Biar aku yang menjaga Reva," ucap Leana.
"Nggak usah Bu, biar saya yang jaga Reva. Nanti biar ibu saja yang istirahat," ucap Salsa.
"Kamu baik sekali Salsa, tapi nggak apa-apa biar aku yang jaga Reva sambil istirahat di kamar," ucap Leana.
"Baiklah Bu. Ngomong-ngomong, ibu kapan mulai bekerja?" tanya Salsa.
"Satu bulan lagi kira-kira. Setelah tiga bulan cuti melahirkan, aku akan mulai masuk kantor. Reno sudah terbiasa dengan sekolahnya dan Reva sudah berumur tiga bulan," jelas Leana.
"Oh begitu. Nah itu Bu, sudah jam istirahat," ucap Salsa saat terdengar bel berbunyi.
Terlihat anak-anak kecil yang berhamburan keluar dari kelas. Ada yang langsung mencari orang tuanya, ada yang langsung bermain. Leana berdiri, untuk mencari-cari. Entah mengapa begitu melihat anak-anak kecil dengan seragam, membuat anak-anak itu terlihat sama oleh Leana.
Tiba-tiba terlihat Revano yang datang sambil berlari ke arahnya. Diikuti oleh seorang gadis kecil yang sangat cantik. Leana langsung melarang mereka untuk berlari. Baru saja Leana bicara, gadis kecil yang mengikuti Revano itu terjatuh. Leana kaget dan langsung berlari menghampiri.
Gadis kecil itu langsung menangis. Leana menggendongnya dan membawanya ke tempat duduk yang tersedia di taman bermain. Wanita itu mendudukkan di pangkuannya sambil membersihkan rok seragam sekolah gadis kecil itu. Beruntung tidak terluka tetapi terdapat memar.
Sementara Leana membujuknya agar tidak menangis lagi, Revano terlihat sedih. Leana pun meminta putranya duduk di sampingnya. Leana merangkul Revano dan juga membujuknya. Tiba-tiba seorang laki-laki datang dan langsung memaki Leana.
"Hey kenapa anakku ada padamu? Kamu apakan dia? Kamu mau menculiknya ya," ucap laki-laki itu.
Bisa diperkirakan kalau dia adalah ayah dari gadis kecil itu. Leana yang terlihat bingung langsung menurunkan gadis kecil itu dari pangkuannya. Menoleh ke kanan dan ke kiri, merasa khawatir dengan apa yang dituduhkan laki-laki itu.
"Hati-hati ya kalau bicara. Siapa yang mau menculik? Kalau ingin menculik ngapain duduk di sini?" tanya Leana dengan wajah kesal.
Melihat itu, gadis kecil itu menarik ujung lengan ayahnya. Laki-laki itu menoleh lalu mendengar penjelasan dari putrinya. Leana tak peduli lagi, lebih memilih mengajak Revano berbincang. Laki-laki itu menoleh ke arah Leana. Dengan ekspresi yang merasa bersalah, menghampiri Leana untuk meminta maaf.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1