
Radian termenung saat makan malam bersama keluarganya. Shanty dan Monica hanya bisa diam menikmati makanan mereka yang seadanya.
"Radian, maaf Mommy kehabisan uang untuk beli sayur, apa kamu bisa memberikan sedikit uang untuk belanja besok?" tanya Shanty dengan hati-hati takut membuat Radian bersedih.
Radian mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk. Laki-laki itu ingat di dompetnya hanya tinggal beberapa lembar uang sepuluh ribuan. Demi menginap bersama istrinya di hotel semalam saja, laki-laki itu telah menguras isi di dompetnya yang rencanakan cukup hingga akhir bulan.
Laki-laki itu pun menghitung pengeluarannya selama sisa hari hingga menerima gaji hingga akhirnya memutuskan untuk berhemat dengan tidak makan siang. Untuk berangkat ke kantor, biasanya Radian harus menempuh dua kali naik angkutan umum akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki di salah satunya.
Radian harus bangun lebih pagi agar tidak terlambat sampai di kantor. Hal itu membuat Shanty heran karena Radian telah pamit berangkat kerja saat langit masih gelap. Satu dua hari Shanty hanya bisa mengamati tanpa berani bertanya. Hingga akhirnya ibunya itu memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa beberapa hari ini kamu selalu berangkat lebih pagi?" tanya Shanty akhirnya tak tahan dengan rasa ingin tahunya.
Awalnya Radian enggan menjawab namun laki-laki itu tak punya pilihan lain. Laki-laki itu juga berharap ibunya lebih pengertian terhadap situasinya.
"Aku harus berjalan kaki ke kantor Mommy untuk setengah perjalananku--"
"Apa? Kenapa? Apa karena ingin berhemat?" tanya Shanty kaget.
"Bukan ingin tapi harus. Aku takut uangku tak cukup untuk ongkos hingga akhir bulan ini," jelas Radian.
Mendengar itu Shanty menangis, dalam situasi keluarganya yang sulit itu, nyonya yang pernah mengenyam hidup mewah itu masih bersikap egois. Demi mempertahankan perhiasannya, dia harus melihat putranya berangkat kerja dengan berjalan kaki.
Tidur lebih cepat agar bisa bangun lebih pagi. Menyimpan satu buah roti goreng untuk makan siangnya itupun jika tersedia. Jika tidak Radian terpaksa menahan lapar. Hal itu membuat hati nyonya itu luluh hingga akhirnya meminta maaf pada putranya.
"Maafkan Mommy Radian. Besok Mommy akan menjual sisa perhiasan Mommy untuk biayamu ke kantor. Akhir bulan masih cukup lama, Mommy takut tubuhmu tak sanggup menahan beban kerja yang berat dengan gizi yang tak cukup. Kamu harus berjalan kaki sejauh itu? Maafkan Mommy yang hanya bisa meminta uang tanpa memikirkan keadaanmu," jelas Shanty dengan air mata yang mengalir.
Monica hanya tertunduk, gadis itu sendiri juga berusaha untuk berhemat meski tak begitu menderita seperti yang dialami Radian. Uang yang dihasilkannya dari bekerja menjadi pendamping para model itu dipergunakannya untuk keperluannya sendiri. Tapi bekerja di dunia penuh gemerlap itu memerlukan biaya yang tak sedikit. Jika ingin dihargai, Monica pun harus berpenampilan menarik. Ditambah lagi, Monica memang bercita-cita menjadi model yang terkenal. Penampilannya sendiri tak boleh terlalu timpang di bandingkan model yang jadi diikutinya.
"Sebenarnya aku telah bertemu dengan Leana," ucap Radian akhirnya.
Dengan tatapan yang kosong Radian akhirnya menceritakan pertemuannya dengan Leana. Tentu saja hal itu membuat terkejut keduanya. Dalam hati mereka langsung berharap Radian akan berbaikan dengan Livia. Timbul harapan hingga langsung membayangkan kehidupan yang pernah mereka jalani saat bersama Leana.
"Lalu, bagaimana dengan hubungan kalian? Apa kalian akan berbaikan?" tanya Shanty penasaran.
"Dia baik, dia memaafkan aku. Dia ... juga ingin aku kembali padanya--"
__ADS_1
"Benarkah? Lalu ... apa Kakak setuju?" tanya Monica langsung, begitu penasarannya hingga berharap gadis yang pernah di bully-nya dulu sebagai penyelamat kehidupan mereka.
Monica lupa pada apa yang pernah dilakukannya pada Livia. Kekejamannya pada gadis itu di sekolah maupun di rumah. Melupakan kesedihan gadis itu saat diperlakukan kejam di sekolah maupun di rumah.
Begitu keadaan berbalik, Monica melupakan kejahatannya begitu saja pada Livia dan menganggap hubungan mereka baik-baik saja dari dulu. Menganggap semuanya telah berlalu dan dengan mudah bisa dimaafkan dan dilupakan oleh Livia.
Begitu juga dengan Shanty, hanya mengingat Leana yang baik saat menjadi menantunya. Begitu patuh dan hormat padanya sebagai ibu mertuanya. Shanty bahkan menganggap dirinya bisa menguasai Leana melalui putranya yang terlihat begitu dicintai wanita itu.
Di mata Shanty, apa pun akan dilakukan Leana demi kebahagiaan mereka bersama putranya. Leana seperti berada dalam genggamannya karena cinta Leana pada Radian. Hingga wanita setengah abad lebih itu lupa kalau Leana sebenarnya adalah Livia. Anak tiri yang benar-benar di anak tirikan.
Di mana harusnya kehidupan mewah yang diberikan ayah Livia membuatnya lebih menyayangi putri dari suaminya itu. Namun sifat egois yang hanya mementingkan kebahagiaannya sendiri hingga lupa untuk berbagi cinta dan kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Shanty tak menyadari bahwa kehadirannya sebagai istri Tn. Robert Chandra juga diharapkan sebagai ibu bagi Livia.
"Untuk apa aku keluar dari rumah itu? Jika aku harus kembali ke sana?" tanya Radian pada kedua orang yang tiba-tiba berbinar saat membicarakan Leana.
"Tapi Kak Radian masih suaminya, Kak Radian tak pernah menceraikannya 'kan? Kenapa tak berkumpul lagi dengannya?" tanya Monica lagi.
"Apa kamu tulus menginginkan aku kembali padanya? Atau ada tujuan di balik itu? Kamu benar-benar ingin aku kembali padanya? Untuk apa? Agar kalian bisa kembali hidup enak di atas penderitaannya?" tanya Radian.
"Hidup enak di atas penderitaannya? Apa maksud Kakak?" tanya Monica.
Kemudian beralih pada ibunya. "Mommy! Apa pernah menganggap dia sebagai anak Mommy? Meski dia memanggil Nyonya Robert Chandra dengan panggilan Mommy, apa dia menjalani hidup seperti anak Mommy? Tidak! Di mata Mommy dia hanya seorang pembantu. Jangankan di manja, dia lebih sering mendapatkan hukuman. Jangan dikira aku tidak tahu semua itu. Sementara kita hidup di atas harta milik ayahnya. Kita memperlakukannya seperti seorang pembantu. Dan yang lebih mengenaskan lagi, apa Mommy dan kamu Monica, apa bisa seperti Livia? Bisa hidup dan tersenyum dengan orang yang dulu ingin kalian membunuh? Hanya karena dia tidak mati lalu apa dosa kalian terhapuskan?" tanya Radian.
Kali ini Radian benar-benar ingin membahas semuanya. Agar ibu dan adiknya itu sadar dan tidak berharap lagi pada Leana. Meski suatu saat Radian akan kembali pada Leana, laki-laki itu ingin ibu dan adiknya mengharapkan mereka berkumpul bukan hanya karena ingin hidup nyaman tapi karena benar-benar menyayangi istrinya itu.
"Kenapa kalian tidak menjawab? Apa dosa kalian bisa terampuni begitu saja dan kita bisa hidup bahagia bersama seperti tidak pernah terjadi apa-apa? Kalau aku tidak! Aku tidak sanggup karena aku sangat menyesal ... aku menyesal tidak bisa melindunginya. Dia mencintaiku, dia ingin aku kembali padanya. Demi cintanya padaku dia menutup mata dengan kekejaman kalian tapi aku malu … malu karena memiliki ibu dan adik yang jahat padanya," jelas Radian pada akhirnya kemudian berlalu masuk ke kamarnya.
Di situ laki-laki itu menangis, berharap kedua orang keluarganya itu menyesali perbuatan mereka dengan tulus bukan karena maksud tertentu. Shanty tercenung, Monica tak mampu berkata apa-apa lagi. Mereka tahu Radian sangat mencintai Leana. Namun demi menjauhkan wanita yang dicintainya itu dari mereka, Radian rela tak berkumpul lagi dengan istri dan anaknya.
Shanty yang hampir batal menjual sisa perhiasannya akhirnya memutuskan untuk kembali menjual perhiasan kesayangannya itu karena tak ada harapan Radian akan menerima tawaran Leana untuk kembali pada istrinya.
Seperti hari-hari sebelumnya, Radian harus tidur lebih cepat agar bisa bangun lebih pagi. Menjalani rutinitas di kantor dengan sesekali Camelia berusaha mendekatinya. Namun, laki-laki itu tetap mengabaikannya. Membelikan laki-laki itu makan siang atau menyiapkan kopi untuknya semua itu tak membuat Radian mau menerima segala bentuk kebaikan dari Camelia.
Sore harinya laki-laki itu kembali pulang dengan berjalan kaki namun kali ini Leana telah berdiri menghadangnya. Berdiri di trotoar dan berdiri tepat di hadapan laki-laki yang berjalan dengan melamun sambil tertunduk itu.
"Leana? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Radian kaget dan tak menyangka bisa bertemu dengan istri yang dicintainya itu.
__ADS_1
"Menunggu Kakak, aku sangat rindu tapi tak bisa datang ke sana untuk temui Kakak. Aku takut, justru terperangkap oleh Tn. Ezra. Jadi aku menunggu Kakak di sini. Sekarang ayo kita pulang Kak," ajak Leana.
"Kemana?" tanya Radian.
"Ke rumah kita tentu saja," jawab Leana.
"Maksudmu, ke rumahmu?" tanya Radian yang di balas dengan anggukan oleh Leana.
"Aku belum bisa sayang, saat ini aku masih belum yakin bisa merubah sifat ibu dan adikku. Aku tak ingin mereka mengambil kesempatan atas kebaikanmu," jelas Radian.
"Apa Kakak tidak kangen pada Revano?" tanya Leana mengalihkan pembicaraan.
Melihat Radian yang masih berdalih untuk datang ke rumahnya. Leana mengingatkan laki-laki itu pada putranya.
"Tentu saja aku kangen--"
"Kalau begitu ayolah kita ke rumah, meski hanya sebentar saja tak apa. Aku akan menunggu, sampai Kakak siap memutuskan untuk kembali pada kami," bujuk Leana sambil mengapit lengan Radian.
Wanita itu sudah cukup mengetahui seperti apa kehidupan Radian. Setelah mengetahui Radian bekerja di perusahaan milik keluarga Ezra. Leana meminta seseorang untuk mengamati kehidupan Radian. Leana tahu pasti kehidupan ketiga orang itu yang begitu sulit.
Monica yang terpaksa bekerja seperti kacung seorang model. Shanty yang terpaksa berhutang untuk memenuhi kebutuhan dapurnya. Dan tentu saja Radian yang terpaksa hidup hemat demi membiayai kehidupan mereka bertiga.
Namun, karena hubungan Radian dan Camelia membuat Leana sakit hati. Hingga membiarkan ketiga orang itu menjalani kehidupan yang susah. Leana hampir saja menutup pintu maaf bagi ketiganya dan mencoba untuk membuka hatinya pada Ezra.
Hingga akhirnya mereka bertemu di acara makan malam yang diusulkan oleh Ezra. Detik itu, saat melihat Radian datang bersama Camelia, hati Leana benar-benar marah, benar-benar benci. Namun justru di malam itu juga kebenarannya terkuak. Radian sama sekali tak mencintai Camelia tapi justru tetap mencintainya.
Radian bahkan mengakui cintanya yang sejak dulu pada Livia. Hati Leana langsung luluh, tak menyangka laki-laki yang terlihat tak acuh padanya selama ini. Justru menyimpan rasa sayang dan cinta padanya meski saat itu wajahnya sangat jelek karena telah rusak.
Kini Leana bahagia, mengetahui isi hati Radian yang terpendam selama ini padanya. Begitu bahagianya hingga setiap hari ingin bertemu dengan Radian. Namun sangat sulit baginya mencari alasan hingga akhirnya Leana memutuskan menunggu laki-laki itu di jalan pulang dari kantor. Mengajak suaminya itu untuk pulang ke rumahnya.
"Baiklah tapi hanya berkunjung ya sayang! Aku tidak bisa menginap di sana," ucap Radian yang disetujui oleh Leana.
Leana mengangguk, apa pun yang bisa membuat laki-laki bisa lebih lama bersamanya akan disetujuinya. Dan berharap suami yang dicintainya itu segera memutuskan untuk kembali tinggal bersamanya.
Radian pun masuk ke dalam mobil mewah Leana. Mereka melaju pulang ke rumah milik Leana. Wanita itu begitu bahagia hingga tersenyum di sepanjang jalan. Radian sesekali menimpali ucapan Leana lalu tertidur selama sisa perjalanan mereka.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...