
Monica pergi menemui Ezra di rumah sakit. Setelah sebelumnya merasa kecewa dengan kenyataan pahit yang ditemuinya. Laki-laki yang dicintainya sejak masih remaja justru berencana menikah dengan seseorang yang menurutnya tak layak bagi laki-laki itu.
Monica tak rela tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Hanya menangis mengadu pada adik iparnya. Monica tak rela, jika Camelia yang bisa mendapatkan Ezra. Semua dicurahkannya pada Leana dengan derai air mata.
"Kami akan menjenguknya besok, apa Kak Monica mau ikut?" tanya Leana mencoba menghibur adik iparnya.
"Aku nggak sanggup bertemu dengannya lagi. Aku akan menangis jika mengingat kehilangannya seumur hidup hanya karena perempuan seperti itu. Aku benci dia, dia begitu bodoh," ucap Monica.
"Kak Monica benar. Dia bodoh dalam mencari wanita yang tepat. Karena itu ayo kita jenguk dia. Kita bisa nasehati dia," ajak Leana.
"Nggak usah! Kak Livia ajak Reno aja. Kak Ezra sangat suka sama Reno. Dia cuma ingin ketemu Reno aja, dia nggak ingin ketemu denganku," ucap Monica menyarankan dengan air mata yang terus mengalir.
Leana tak bisa membujuk adik iparnya itu lagi. Radian pun hanya bisa pasrah melihat kesedihan hatinya. Dalam hati tak begitu simpati dengan kesedihan adiknya itu. Monica bisa mencari laki-laki lain yang lebih baik dibandingkan laki-laki yang pernah berusaha melecehkan istrinya itu. Rasa sakit hati Radian terhadap Ezra belum bisa hilang sepenuhnya.
"Biarkan saja dia, sebenarnya aku juga tak suka dengan Ezra," ucap Radian.
"Kakak masih marah sama Kak Ezra? Dia sekarang di rumah sakit karena menolong Kak Monica lho," ucap Leana mengingatkan sambil mengapit lengan suaminya.
"Ya, tapi … kalau aku teringat kelakuan dia sama kamu rasanya hatiku masih kesal," jawab Radian.
"Kalau aku selalu mengingat Kak Radian yang menuduhku berselingkuh, aku harus bagaimana?" tanya Leana.
"Tapi sayang … itu semua karena salah paham," ucap Radian membela diri.
"Karena salah paham atau tidak, intinya kakak tidak percaya padaku. Itu yang membuat aku sedih," ucap Leana lalu melangkah meninggalkan Radian yang terpaku.
Laki-laki itu segera menyusul dan memeluk istrinya dari belakang. Radian memejamkan mata mengingat bagaimana rasanya hidup tanpa Leana. Begitu menderita hingga setiap malam laki-laki itu menangis. Radian bisa merasakan sakitnya hati Leana dituduh dan ditinggalkan.
"Maafkan aku sayang. Tolong maafkan aku," ucap Radian masih memeluk istrinya.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkan Kakak, karena itu aku bisa bahagia," jawab Leana sambil mengusap tangan Radian yang melingkar di dadanya.
Radian mengecup pipi wanita yang dicintainya itu lalu tersenyum. Leana menoleh menatap wajah tampan itu. Perlahan Radian membenamkan bibirnya ke bibir manis wanita itu. Pelan, lembut dan menikmati.
Leana melepas ciumannya, merasa takut seseorang melihat mereka berciuman di depan kamar Monica. Radian langsung menggendong wanita yang dicintainya itu. Leana merasa gamang karena tubuhnya yang bertambah berat justru digendong oleh Radian.
"Aku masih sanggup menggendongmu meski ada bayi kembar lima di rahimmu," ucap Radian sambil menaruh istrinya perlahan di ranjang.
"Suamiku memang kuat dan perkasa," ucap Leana sambil membelai pipi Radian.
Perlahan laki-laki itu melanjutkan aksi berciuman yang sempat terhenti tadi. Hasrat laki-laki itu telah terlanjur memuncak hingga tak bisa ditahan lagi. Setiap kali memeluk istrinya, hasrat Radian tak bisa bendung dan Leana selalu menyambut keinginan suaminya itu dengan penuh nafsu.
Sama seperti kehamilan Revano. Kehamilannya kali ini juga membuat Leana bernafsu setiap waktu Hasrat wanita itu terpancar dan sorot matanya yang selalu menatap sendu suaminya dan Radian tak bisa mengelak dari daya tarik wanita cantik itu.
"Baiklah kita jenguk Ezra besok. Aku akan berusaha menghilangkan dendamku padanya. Aku akan memaafkannya, karena aku juga ingin bahagia sama sepertimu," bisik Radian membuat Leana tersenyum, perlahan kedua tangannya menyusuri punggung Radian yang telah terbuka.
Keesokan harinya, Leana, Radian dan putra mereka pergi ke rumah sakit menjenguk Ezra. Tak lupa Radian menceritakan panjang lebar tentang siapa Camelia sebenarnya. Radian yang berjanji tak menaruh dendam lagi pada mantan atasannya itu hanya tersenyum saat Ezra meminta Monica untuk menjenguknya.
Hati Radian telah terbuka menerima Ezra untuk menjadi adik iparnya jika memang mereka berjodoh. Melepaskan dendamnya pada Ezra seperti Leana yang menghapus dendamnya. Sesampainya di rumah Leana menceritakan pembicaraan mereka dengan Ezra yang meminta Monica untuk datang menjenguk.
"Benarkah? Dia sudah membatalkan pernikahan dengan ular itu?" tanya Monica.
Leana dan Radian malah tertawa mendengar pertanyaan serius tetapi mengudang tawa itu. Karena tak mungkin Ezra ingin menikah dengan seekor ular.
"Kakak benarkah dia memintaku datang?" tanya Monica masih tak percaya.
"Ya sayang! Dia ingin kamu menjenguknya tapi jangan berharap apa-apa dulu kita tidak tahu apa yang diinginkan," ucap Radian sambil membelai rambut adiknya.
Mendengar itu hati Monica tetap bahagia. Setidaknya Ezra tak menikah dengan wanita yang dibencinya itu. Wanita yang sempat membuat hidup kakaknya itu menderita.
__ADS_1
Keesokan harinya Monica sungguh-sungguh datang ke ruang rawat inap Ezra. Sangat terkejut karena tak mendapati laki-laki itu di sana. Monica menangis merasa nasib mempermainkannya.
Namun, di saat memutuskan untuk pergi, Monica justru mendengar suara Ezra dari arah balkon. Laki-laki itu berdiri di sana dengan seikat buket bunga yang indah. Hati Monica berbunga-bunga saat Ezra bercerita harus memohon pada pihak rumah sakit agar membiarkannya menunggu Monica.
Monica terharu hingga tak mampu menahan tangisnya. Rasa tak percaya semua ini adalah nyata. Monica yang sejak dulu tak bisa sedikit pun mendekati Ezra, kini justru menerima buket bunga dari laki-laki itu.
"Apa ini nyata? Aku tidak bermimpi?" tanya Monica.
Ezra tersenyum lalu lebih mendekati Monica. Wanita itu diam membeku. Ezra memeluk lalu mencium keningnya.
"Sudah yakin kalau ini bukan mimpi?" tanya Ezra.
"Katanya harus dicubit, kalau sakit berarti bukan mimpi," ucap Monica dengan manja.
"Jadi kalau dicium saja belum membuktikan ini bukan mimpi?" tanya Ezra yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Monica.
"Karena aku memang ingin bermimpi seperti itu," jawab Monica lagi yang membuat Ezra tertawa.
"Baiklah, kalau ini?" tanya laki-laki itu sambil menangkis wajah Monica lalu membenamkan bibirnya ke bibir gadis cantik itu.
Monica terpaku menikmati lembutnya ciuman dari laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu. Monica ingin ini adalah nyata tetapi jika hanya mimpi pun Monica bahagia. Perlahan gadis membalas ciuman Ezra. Monica sangat ingin menikmati mimpi itu bahkan berharap tak bangun lagi.
"Aaah aduh!" jerit Monica.
"Bagaimana sakit nggak? Berarti mimpi atau nyata?" tanya Ezra.
Monica tersenyum menatap laki-laki itu. Ezra membuktikan pada Monica kalau semua ini adalah nyata. Menggigit bibir gadis itu setelah puas menikmati ciumannya.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1