
Sehari-hari Leana menemani suaminya di rumah sakit. Dengan sabar merawat dengan telaten, membantu apa pun yang dibutuhkan Radian hingga laki-laki itu merasa tak enak hati pada Leana.
"Aku bisa makan sendiri, kamu sendiri belum makan. Jangan terlalu memanjakan aku," ucap Radian yang ingin istrinya mementingkan kebutuhannya sendiri.
"Nggak apa-apa Kak, tugas aku di sini untuk melayani Kakak," jawab Leana masih ingin menyuapi suaminya.
"Tapi sayang, kamu juga harus pikirkan kesehatanmu. Di sini tidak bisa tidur nyenyak, makan cuma seadanya. Kamu sedang hamil harusnya lebih memperhatikan kandunganmu," jawab Radian khawatir.
Leana justru malah tertawa sambil tertunduk. Merasa rasa khawatir dan perhatian Radian terasa begitu berlebihan. Laki-laki itu bertanya kenapa wanita itu tertawa. Leana menjawab teringat saat dirinya hamil anak pertama mereka. Radian begitu perhatian hingga tak mengizinkannya makan sendiri. Tiap hari laki-laki itu pulang, untuk memastikan Leana makan siang.
Radian lakukan apa pun untuk keselamatan kandungan istri tercintanya meski dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Leana merasa apa yang dilakukannya saat ini belum seberapa, karena itu Leana ingin maksimal membalas perhatian suaminya itu.
Kecelakaan itu menyebabkan tulang pada lengan tangan kiri Radian patah. Pemeriksaan rontgen pada tangan bahkan MRI untuk kepala, Radian jalani untuk mengetahui kondisi tulang yang patah. Kalau-kalau ada kemungkinkan seperti serpihan tulang dalam daging tangan yang tak bisa dilihat dengan mata biasa saja.
Pemeriksaan MRI di kepala untuk mengetahui kondisinya karena Radian sempat mengalami benturan di aspal hingga menyebabkan perdarahan hingga menyebabkan laki-laki itu sempat koma. Radian pun sempat menjalani operasi, begitu Leana datang, Radian di pindahkan ke ruang rawat inap VVIP agar suaminya lebih nyaman.
Terkadang mereka dikunjungi oleh teman-teman kantor Radian. Begitu juga dengan Shanty dan Monica. Sementara Leana dan putranya Revano, setiap hari menemani. Beberapa hari di rawat inap, Radian pun diizinkan pulang. Leana meminta izin pada ibu mertuanya untuk membawa suaminya pulang ke rumahnya.
"Radian akan langsung pindah ke rumahmu?" tanya Shanty.
"Ke rumah kita Mommy, jika Mommy izinkan. Kita semua pulang ke rumah–"
"Benarkah?" tanya Monica begitu gembira. Leana mengangguk.
"Tapi … bagaimana dengan Camelia? Apa dia bersedia pindah ke rumah kita?" tanya Leana.
"Jangan dipikirkan, selama Radian di rumah sakit dia juga tidak pernah tinggal di rumah. Dia itu tak peduli dengan keluarga ini," jelas Monica.
"Benarkah Mommy?" tanya Leana tak percaya.
Sementara Radian seperti tak peduli. Leana menoleh pada suaminya. Wanita itu merasakan rumah tangga Radian dan Camelia adalah rumah tangga yang sulit. Mendengar ucapan Radian sebelumnya memang jelas laki-laki itu tak menganggap Cemelia sebagai istrinya.
"Apa kita ajak dia sekalian tinggal di rumah kita?" tanya Leana.
"Untuk apa Leana. Bagiku lebih baik tak melihatnya. Setiap kali dia ada di sekitarku, kepalaku pusing. Aku tak berniat menikah dengannya tapi keadaan yang memaksa. Jika bukan karena kandungannya, mana mungkin aku menikahinya. Itu sebabnya, jika dia memilih tetap di rumahnya. Aku akan lebih senang," jelas Radian panjang lebar.
"Kak, tidak baik seperti itu. Bagaimanapun juga dia sah istri Kakak. Bagaimana pertanggungjawaban Kakak terhadap orang tuanya? Setelah dinikahi lalu diabaikan?" tanya Leana begitu ingin penjelasan.
__ADS_1
Leana tak ingin Radian mengukir dosa baru dengan sikapnya yang tidak bertanggung jawab terhadap istrinya. Wanita itu seperti telah ikhlas suaminya berbagi cinta. Tetapi pendirian Radian tetap teguh. Radian tak bisa memaksakan diri untuk berbaik hati pada Cemelia.
Bersedia menikahi Camelia adalah bentuk tanggung jawab paling berat yang harus dipikulnya. Radian tak bisa lagi memperlakukan Camelia lebih dari seorang kenalan. Sahabat atau teman pun tidak bagi Radian. Di mata Radian, Camelia adalah seorang penjahat yang tega melihat seseorang dalam bahaya bahkan tega memfitnah. Leana akhirnya tak bisa memaksakan laki-laki itu untuk menerima Camelia.
Beberapa hari menjalani rawat inap setelah operasi akhirnya Radian bisa beraktivitas seperti biasa. Hanya saja tangannya belum boleh mengangkat barang yang berat-berat selama tiga bulan. Tak ada masalah dengan fungsi lengannya, semuanya baik. Hanya rasa nyeri bekas operasi saja yang terasa. Itu bisa reda dengan obat yang diberikan dokter.
Leana masih melarang Radian untuk berangkat kerja. Jika pun tetap berangkat maka Leana yang akan mengantarnya.
"Aku bisa berangkat sendiri, sayang," ucap Radian sambil menangkup wajah istrinya yang duduk disampingnya.
"Menyetir sendiri atau naik kendaraan umum dan bersenggolan dengan orang lain? Kakak jangan bikin aku khawatir. Pulang pergi aku antar atau nggak usah masuk kerja," ucap Leana dengan tegas.
Radian menoleh pada ibu dan adiknya untuk meminta dukungan. Namun, Shanty dan Monica hanya menahan tertawa.
"Aku bisa antar Kak Radian, Kak. Tapi kalau pulangnya aku tak bisa jamin. Jadwalku tak jelas kapan selesainya," ucap Monica akhirnya.
Pindah kembali ke rumah besar milik Leana, membuat Shanty dan Monica sangat bersyukur. Mereka tak mungkin bersikap seperti dulu. Acuh tak acuh hanya mementingkan diri sendiri. Mereka kembali mendapat fasilitas yang memang telah menjadi hak mereka. Leana pun mengizinkan Monica menggunakan mobilnya kembali untuk beraktivitas.
"Baiklah, Kakak bisa berangkat bersama Monica. Pulangnya aku yang jemput," tegas Leana.
"Sebentar lagi kita berangkat ya Kak," ucap Monica sambil menikmati sandwich-nya.
Radian terpaksa menurut, sambil tersenyum menunduk akhirnya pasrah dengan keputusan istrinya. Jika dipikir-pikir setiap kali Leana memutuskan sesuatu, dia tidak pernah bisa berkutik.
"Kapan aku bisa menang melawan keputusan Leana?" ucap Radian bicara pada dirinya sendiri di dalam kamarnya.
Leana hanya tertawa mendengar di belakang punggungnya, laki-laki itu pun membalik badan dan tersenyum. Radian segera membenamkan bibirnya ke bibir istrinya. Radian ingin menarik tubuh Leana lebih erat lagi. Namun, tangannya masih terasa nyeri. Mereka sangat merindukan pelukan dan ciuman itu. Sejak kembali ke rumah itu mereka melampiaskan rasa rindu setiap saat.
Jika tak mengingat tanggung jawabnya pada perusahaan, Radian mungkin masih bergelung di bawah selimut bersama Leana. Demi perusahaan yang masih merintis itu akhirnya Radian memutuskan untuk bekerja.
{Para reader yang Othor sayangi, numpang iklan ya hehe ... main-main ke rumah tetangga di blok F ya nggak pake koin kok hehe ... napen Kak_ICHA judul SIRKUIT CINTA. Mohon dukungannya untuk karyaku ini, masukin ke daftar pustaka aja dulu... ditunggu kedatangannya ya ... makasih.}
Saat menjelang makan siang tiba-tiba Haris dan Yanto dikejutkan dengan kedatangan petugas pengantar makanan dari berbagai restoran. Mereka kaget, langsung melaporkan pada Radian. Dia yang telah menempati ruangannya kembali setelah Cemelia berhenti bekerja, akhirnya memutuskan untuk melihat sendiri.
"Banyak sekali, siapa yang pesan ini?" tanya Radian pada dirinya sendiri karena tak mungkin para karyawannya yang sedang hidup berhemat memesan makanan sebanyak dan semahal itu.
"Aku!" Leana berjalan mendekati Radian dan karyawan lainnya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa banyak sekali?" tanya Radian.
Para karyawan langsung tertawa tertahan. Termasuk Ricky yang juga berada di situ untuk menunggu jadwal kuliahnya jadi terbengong-bengong.
"Kenapa Bang? Kenapa pada ketawa?" tanya Ricky heran.
"Bos kita ini tak adil, kalau sama istri pertama bilang sayang. Kalau sama istri kedua, jutek. Umumnya istri kedua yang dipanggil sayang," ungkap Haris sambil tertawa.
"Ada-ada aja kamu," jawab Radian malu.
"Tapi Bu, kenapa pesan makanan sebanyak ini?" tanya Yanto lagi.
"Aku tidak tahu berapa banyak karyawan di sini, jadi beli yang banyak, daripada kurang?" tanya Leana.
"Wah! Kita makan besar!" seru Ricky.
Dengan semangat pemuda itu menyiapkan perangkat makan. Leana pun diajak makan siang bersama.
"Sebenarnya aku cuma ingin mengantar saja."
"Jangan Bu, ayo makan bersama kami. Ini sangat banyak, nanti yang beruntung Haris dan Yanto yang tinggal di sini," ucap Arif lalu tertawa.
"Saya juga tinggal di sini Pak." Protes Ricky.
Semua ketawa, Leana mengirimkan makanan itu untuk suaminya. Berharap laki-laki itu tak perlu keluar rumah toko itu untuk mencari makanan. Sekalian ingin berterima kasih pada para karyawan itu yang telah dengan cepat datang ke rumah sakit menjenguk Radian serta menghubunginya. Leana pun akhirnya ikut makan bersama dengan mereka.
"Ooh rupanya di sini? Aku cari-cari ke mana-mana. Di rumah sakit tak ada. Di rumah pun, tak ada. Rupanya sedang enak-enakan makan-makan di sini?" tanya Camelia dengan nada tinggi.
Semua langsung menoleh pada Camelia yang baru datang langsung marah-marah. Ricky yang baru datang membawakan air mineral pun ikut kaget.
"Oh nenek sihir? Ngapain ke sini?" tanya Ricky langsung.
"Kamu!"
Rasa heran mereka pada kedatangan Camelia yang tiba-tiba kini beralih pada Ricky yang ternyata mengenal wanita itu. Dan lebih mengejutkan, Ricky seperti biasa berkata tak sopan pada Cemelia.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1