
Makanan dalam kotak makan itu telah habis dimakan oleh Leana seorang diri. Dengan gaya bangga wanita itu menunjukkan kalau dia telah menghabiskannya.
Radian diam menatap istrinya dengan raut wajah panik, sedih, takut dan marah. Radian menatap kotak makan yang dihabiskan Leana seorang diri. Jika tidak ada Shanty dan Monica mungkin Radian sudah memaki Leana sekaligus menangis di pelukannya. Radian seperti lemah di mata Leana dan dimanfaatkan wanita itu untuk menjalankan niatnya. Menghabiskan sendiri kotak makan yang membuat mereka merasa curiga.
Jika benar apa yang mereka takutkan, Leana tak akan membiarkan laki-laki yang dicintainya itu mengalami hal yang buruk.
Aku tahu kekhawatiran Kakak, aku juga sama Kak. Tapi aku tidak akan membiarkan Kakak yang mendapat imbas dari kebencian Mommy padaku, batin Leana.
Sementara Radian menangis di dalam hatinya.
Jika terjadi sesuatu padamu, aku juga tidak mau hidup lagi, kamu mengerti! batin Radian.
Mereka seolah-olah berbicara dalam hati namun hanya dilakukan lewat tatapan mata. Leana memalingkan wajah mengambil kotak makannya yang telah kosong lalu membersihkan di wastafel. Seperti tak peduli dengan tatapan Radian. Laki-laki itu hanya mengikuti kemana langkah kaki Leana berjalan.
"Kenapa kamu malah berdiri di sini? Ayo kembali ke ranjangmu," ucap Shanty yang melihat putranya hanya berdiri menatap istrinya.
Radian kembali ke ranjangnya namun pandangannya tak lepas dari istrinya. Tak lama setelah itu makan pagi untuk Radian datang. Leana langsung memindahkan kotak makan yang diberikannya pada Radian yang sama sekali tak disentuh laki-laki itu.
Petugas pengantar makanan rumah sakit itu menata makanan yang disiapkan untuk pasien lengkap dengan obat dan vitaminnya. Begitu petugas pengantar makanan itu pergi, Leana langsung mendekati suaminya. Seolah-olah ingin membujuk laki-laki itu agar jangan marah lagi.
"Kakak mau makan sekarang? Ayo mumpung masih panas, aku suapi ya?" tanya Leana dengan wajah ceria.
Jangan khawatir Kak, aku baik-baik saja. Kakak jangan marah lagi ya, batin Leana memohon lewat tatapan matanya.
Wanita itu tersenyum sambil mengangguk seolah-olah mengatakan tidak terjadi sesuatu hal yang ditakutkan. Radian pun akhirnya menunduk menunjukkan rasa lega karena tak terjadi apa-apa.
"Kakak, aku suapi ya? Tadi katanya ingin makan," ucap Leana sambil tersenyum manis yang menggoda.
Radian tersenyum dan akhirnya mengangguk. Wanita itu langsung melepas plastik penutup makanan yang disajikan dalam piring lebar, semangkuk sup dan sepiring buah-buahan. Setelah membuka semua plastik yang menutupi makanan-makanan itu. Leana tiba-tiba merasakan mual yang amat sangat. Wanita itu bahkan langsung menahan mulutnya dengan tangannya.
"Kenapa Leana?" tanya Radian yang langsung panik melihat tingkah Leana.
Leana menggelengkan kepalanya, lalu diam sesaat menunggu dengan nafas yang tiba-tiba tersengal-sengal dan keringat dingin yang langsung membanjiri keningnya.
"Kamu kenapa Leana?" tanya Shanty yang langsung datang menghampiri.
Melihat Shanty mendekati Leana, Radian langsung menatap tajam ke arah ibunya. Leana kembali merasakan mual, namun kali ini wanita itu tidak tahan lagi hingga berlari ke kamar mandi. Terdengar wanita itu memuntahkan makanan yang baru saja dimakannya. Leana muntah parah bahkan hingga terbatuk-batuk.
__ADS_1
Radian segera ingin melihat keadaan istrinya. Shanty pun segera menghampiri Leana. Terlihat wajah wanita itu yang begitu pucat dan keringat mengalir deras di dahinya.
"Apa yang Mommy lakukan?" tanya Radian dengan tatapan mata yang tajam.
"Apa maksudmu?" tanya Shanty yang sedang mengusap-usap punggung Leana yang masih memuntahkan isi perutnya.
"Apa benar dugaanku? Mommy telah menaruh sesuatu di dalam makanan yang Mommy berikan pada Leana?" bentak Radian dengan suara meninggi.
"Apa maksudmu Radian?" teriak Shanty.
"Mengaku saja Mommy, kalian berdua pasti merencanakan pembunuhan terhadap istriku 'kan?" tanya Radian dengan suara yang semakin keras pada Shanty dan Monica yang juga telah berdiri di dekat pintu kamar mandi.
"Apa maksud Kakak?" tanya Monica yang juga merasa dituduh.
"Kalian pasti berniat meracuni istriku 'kan?" tanya Radian dengan suara membentak.
"Apa?" tanya Shanty dan Monica serentak.
"Jangan bohong, mengakulah! Itu lebih baik atau kalian akan mendapat hukuman berat karena melakukan pembunuhan berencana," ancam Radian
"Kenapa tidak! Bukankah dulu Mommy memang berencana membunuh Livia? Bukankah Mommy memang berniat untuk melenyapkannya?" tanya Radian lebih keras lagi.
"Kak Radian! Cukup! Kakak tega menuduh Mommy sejahat itu. Setelah Mommy menyadari kesalahan Mommy?" tanya Monica menangis.
"Menyadari kesalahannya? Mungkin saja itu palsu, agar kami percaya kalau Mommy telah sadar, hingga membuat Leana tak tega menolak tawaran makanan dari Mommy," ucap Radian masih dengan suara membentak.
Leana yang susah payah memuntahkan isi perutnya akhirnya terlihat lemas. Wanita itu menggelengkan kepala dengan lemah meminta suaminya menghentikan tuduhan itu. Leana tahu itu pasti sangat menyakitkan hati ibu mertuanya.
Dan memang benar, tuduhan Radian sangat menyakiti hati ibu yang telah melahirkannya itu. Shanty langsung melangkah pergi dari ruangan rawat inap itu sambil menangis, diikuti oleh Monica. Leana segera ingin mengejar namun wanita itu merasa sangat letih. Wajahnya pucat dan keringat dingin membanjiri keningnya.
"Kita harus segera periksakan kamu ke dokter," ucap Radian panik.
Laki-laki itu seperti tak peduli pada perasaan ibunya. Hanya fokus pada keadaan istrinya, pikirannya sangat kalut hingga yang dilakukannya hanya membimbing istrinya keluar dari ruang rawat inapnya untuk menemui paramedis.
"Apa yang Kakak lakukan? Kakak jangan ke mana-mana, istirahatlah!" ucap Leana mengkhawatirkan kesehatan suaminya.
"Aku akan membawamu ke dokter sayang. Lihatlah! Wajahmu begitu pucat, di keningmu mengalir banyak keringat. Tubuhmu juga sangat lemah, sebaiknya aku temani kamu ke dokter ya?" tanya Radian bertanya karena begitu khawatir.
__ADS_1
"Tapi Kakak di sini saja, biar aku pergi sendiri," jawab Leana.
"NGGAK! AKU TEMANI KAMU!" bentak Radian karena tak ingin di tentang lagi.
Leana kaget dan akhirnya pasrah jika suaminya yang masih menggunakan jarum infus itu harus menemaninya mencari dokter. Setelah bertemu dengan seorang perawat yang lewat, Radian menceritakan keluhan istrinya. Perawat itu langsung mencari kursi roda untuk Leana dan mengantarkan mereka menemui dokter.
Sampai di sana Leana diperiksa dan diminta melakukan tes laboratorium. Leana dibiarkan tertidur di ruang periksa itu sementara menunggu hasil tes laboratorium keluar. Wanita itu terlihat begitu lemas. Sementara itu dokter menanyakan keadaan Radian yang dilihatnya juga sedang menjalani perawatan.
Tak lama kemudian, hasil tes laboratorium di antarkan ke ruang dokter itu. Dokter memeriksa semua hasilnya sambil mengangguk-angguk.
"Bagaimana dokter? Apa benar istri saya keracunan?" tanya Radian.
Leana yang terbangun mendengar pernyataan Radian yang sedikit keras karena panik langsung duduk. Wanita itu sendiri penasaran dengan keadaan kesehatannya. Melihat Leana yang muncul dari balik tirai, Radian langsung membimbing istrinya duduk di hadapan meja dokter.
"Kita sudah melakukan tes dengan mengambil sampel darah dan urine hasilnya juga telah didapatkan. Kesehatan Ny. Leana tidak ada masalah dan juga tidak keracunan--"
"Tidak keracunan? Tapi tadi, istri saya muntah sangat parah dokter," ucap Radian tak percaya dengan ucapan dokter perempuan itu.
"Benar tuan! Kami sudah memeriksanya dengan teliti. Tak ada kandungan racun dalam tubuh Ny. Leana. Apa yang dialami Ny. Leana tadi adalah hal yang wajar--"
"Wajar? Muntah hingga tubuhnya lemas seperti itu adalah hal yang wajar?" tanya Radian sedikit emosi.
Leana langsung menyentuh lengan suaminya agar laki-laki itu bersabar dan lebih tenang.
"Ya! Itu namanya morning sickness, hal yang wajar bagi ibu hamil" jelas dokter itu sambil tersenyum.
"APA? HAMIL?" teriak ke duanya serentak.
"Ya tuan, tak ada racun dalam tubuh Ny. Leana tapi yang ada itu janin dalam rahimnya, Ny. Leana sudah positif hamil tuan," jelas dokter perempuan itu kembali tersenyum.
Radian dan Leana saling berpandangan dan reflek saling memalingkan wajah. Semburat merah menyeruak dari pipi keduanya. Tak menyangka aksi bercinta mereka yang hanya beberapa kali ternyata langsung membuahkan hasil.
Dan lebih lagi, mereka belum pernah mendengar secara langsung dari orang lain kalau Leana sedang hamil karena sebelumnya, Leana mengetahui kehamilannya hanya dengan menggunakan test pack.
Mengetahui kehamilan dari orang lain, bagi mereka terasa sedikit aneh, karena seperti ingin menanyakan hasil percintaan mereka pada orang lain. Dokter perempuan itu hanya tersenyum-senyum melihat pasangan yang malu-malu itu.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1