
Shanty menyodorkan makanan yang dibawanya dari rumah pada Leana. Leana menatap kotak makanan itu, ada rasa tak percaya melihat sikap baik Shanty. Leana menoleh ke arah suaminya. Ada rasa curiga muncul dari dalam hati Leana.
Bagaimanapun juga Shanty membencinya, mendekatinya hanya untuk menikahi ayahnya. Dan terlebih lagi Shanty pernah berniat membunuhnya. Leana bimbang untuk menerima bekal makanan dari Shanty. Berprasangka buruk bahwa Shanty tak akan pernah bisa berubah. Melihat Leana yang terlihat ragu, Shanty pun akhirnya angkat bicara.
"Mommy tahu, selama ini Mommy tidak menjadi ibu yang baik bagimu. Mungkin kamu merasa heran dengan sikap Mommy sekarang ini atau mungkin malah curiga. Tapi tidak apa-apa, itu wajar setelah apa yang Mommy lakukan padamu. Bagimu Mommy adalah orang yang tak pernah bisa berbuat baik jika tidak ada maunya. Tapi percayalah, kali ini Mommy melakukannya bukan karena mengharapkan sesuatu. Tapi karena Mommy ingin berubah. Mommy telah menjalani hidup sebagai seorang yang egois seumur hidup Mommy. Dan sekarang Mommy telah menuai akibatnya," ungkap Shanty, lalu berdiri mendekati putranya.
Wanita setengah abad lebih itu membelai wajah putranya lalu tersenyum.
"Mengingat perlakuan Mommy selama ini pada Radian. Sejak kecil Radian tak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari Mommy. Mengabaikannya, tak peduli pada perasaannya, hanya bisa menyalahkannya. Mengingat semua itu tak akan pernah Mommy berpikir kalau dia akan peduli pada Mommy," sambung Shanty dengan mata yang berkaca-kaca.
Wanita itu tertunduk.
"Mommy … tergugah oleh ucapanmu waktu itu. Kamu telah mengajaknya tinggal bersamamu. Tapi Radian menolak, padahal dia bisa saja hidup enak bersamamu. Dia bisa saja tak peduli pada kami tapi itu tidak dia lakukan. Karena Radian anak yang baik, anak baik Mommy yang rela menderita dan menahan lapar demi bertanggung jawab terhadap hidup kami," jelas Shanty yang kini mengalirkan air mata.
"Mommy rela jika Radian tinggal bersamamu dan meninggalkan kami di kontrakan. Mommy memang tidak berhak untuk ikut bersamamu. Mommy tidak akan mengharapkan apa-apa lagi darimu. Karena sekarang Mommy sadar, keserakahan hanya membawa keburukan bagi kita. Semakin ingin mendapatkan lebih, lebih lagi, lebih lagi, tak pernah merasa cukup hingga akhirnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Mommy minta maaf padamu Livia, tolong … maafkan Mommy, Mommy bahagia Radian menikahimu. Mommy berharap restu dari Mommy bisa meringankan sedikit dosa Mommy padamu," ucap Shanty sambil memeluk Leana.
Leana diam mendengarkan ucapan Shanty, sebagian percaya pada ucapan wanita paruh baya dihadapannya itu. Sebagiannya lagi merasa tak yakin dengan ketulusan dan linangan air matanya. Karena Leana mengalami sendiri seperti apa baiknya Shanty saat ingin mendapatkan rasa percaya darinya dan ayahnya. Shanty bahkan menjadi pelindung dan rela bertanggung jawab memikul kesalahan Livia di perusahaan ayahnya waktu itu.
Tapi kebaikan itu hanya sesaat, setelah mencapai apa yang diinginkannya Shanty berubah menjadi orang yang berbeda, berubah 180°. Hanya prasangka baik yang selalu ditanamkan ayahnya yang membuat Livia rela menerima perlakuan buruk dari ibu dan putrinya itu.
"Kita makan sama-sama sayang," ajak Radian.
"Kakak lapar?" tanya Leana.
"Belum, tapi aku ingin temani kamu sarapan," jawab Radian.
Dalam hati, Radian tahu kebimbangan Leana. Setiap orang yang mengenal pasti akan waspada dari mana datangnya kebaikan hati Shanty yang muncul tiba-tiba. Radian sendiri tak menyangka jika ibu dan adiknya berniat membunuh Livia. Tapi semua itu kenyataan yang harus diterimanya. Beruntung percobaan pembunuhan itu gagal dan Radian masih bisa bertemu dengan gadis yang telah menggetarkan hatinya itu.
Jika makanan Livia beracun maka aku juga akan ikut keracunan. Aku tahu Mommy tega berbuat itu, setidaknya dia pernah mencobanya. Maaf jika aku berprasangka buruk pada Mommy. Tapi jika itu terjadi, aku tak akan bisa hidup tanpa Livia kali ini. Lebih baik bunuh kami berdua saja sekalian, batin Radian.
__ADS_1
"Tapi bukannya kamu mendapat sarapan dari rumah sakit?" tanya Shanty.
"Makanan dari rumah sakit buat Mommy saja, biar aku makan bekal yang Mommy bawa," ucap Radian sambil tersenyum pada Leana.
"Tapi standar makanan di rumah sakit itu sesuai dengan kebutuhan gizi kamu. Makanan Mommy cuma sayur, tempe dan tahu, Radian," ucap Shanty.
Leana menatap suaminya, wanita itu menangis dalam hati. Tak setuju jika Radian ikut makan bersamanya. Jika ibu mertuanya itu benar-benar berniat jahat padanya. Leana tak ingin Radian juga terkena imbasnya. Leana teringat putra mereka yang akan tinggal sebatang kara.
Aku letih Livia, jika aku harus terus berprasangka buruk terhadap perlakuan ibuku padamu. Kita tak mungkin bertanya pada Mommy bukan? Apa Mommy menaruh racun di dalam makanan ini? Juga tak mungkin nyata-nyata menuduh Mommy bukan? Kamu juga tidak akan menolak tawarannya bukan? Kalau begitu biarlah kita tuntaskan semuanya sekarang. Aku ingin selalu bersamamu. Di dunia maupun di akhirat, batin Radian.
Dengan hati bimbang Leana mengambil makanan dalam kotak bekal yang disodorkan Shanty. Lalu duduk di sofa. Wanita itu pura-pura lupa kalau Radian juga ingin makan bersamanya. Segera Radian memanggil wanita itu dan menepuk overbed table agar Leana menaruh makanan itu di atas meja makan pasien itu.
Dengan ragu-ragu Leana menaruh makanan itu di meja makan pasien itu dan ikut duduk di ranjang rumah sakit. Duduk saling berhadapan dan saling menatap, Radian tersenyum menatap istrinya dengan tatapan yang lembut. Radian membuka kotak bekal itu dan bersiap hendak menyantapnya.
"Radian!" panggil Shanty.
"Kami makan satu berdua Mommy, jika kurang nanti kami bisa tambah lagi," ucap Radian sambil tersenyum.
Laki-laki itu meraih tangan kiri Leana dan menggenggam tangan wanita itu lalu mulai menyantap makanannya. Dengan ragu-ragu mereka berdua bergantian menyantap makanan dari satu kotak bekal yang sama.
Shanty dan Monica hanya bisa saling memandang. Hanya diam menunggu kedua orang itu yang ingin menghabiskan makanannya. Sementara itu Radian berusaha bersikap wajar. Seakan di hatinya tak ada keraguan. Menggeser kotak makan itu mendekatinya seolah-olah begitu bernafsu makan bersama dengan istrinya. Radian ingin makan sebanyak-banyaknya.
Sementara dalam hati Leana justru sebaliknya, merasa sangat khawatir jika laki-laki itu akan menghabiskan banyak makanan dari kotak bekal itu.
"Katanya belum lapar kenapa begitu bernafsu ingin menghabiskan makananku," ucap Leana.
"Makan denganmu itu rasanya nikmat aku jadi semangat makan," balas Radian hendak menyantapnya lagi.
"Sudahlah Radian, bukannya nanti kamu juga mendapatkan sarapan pagi sebentar lagi. Biarkan Leana yang menghabiskannya," ucap Shanty seperti berpihak pada Leana.
__ADS_1
Leana mengangguk ikut menyetujui, wanita itu membukakan kotak makan yang lain dan merebut kotak makan dari hadapan suaminya itu lalu membawanya ke sofa. Leana ingin segera menghabiskannya dalam waktu singkat.
"Livia! Kemari aku ingin makan bersamamu!" seru Radian dengan nada yang sedikit panik.
Leana justru segera menyantap segera makanan itu. Leana hanya menunjuk kotak bekal lain yang ditaruhnya di hadapan Radian.
"Livia!" Kembali laki-laki itu memanggil. Namun Leana tak mau mendengarkan panggilan Radian. Laki-laki itu mulai panik. Bahkan nekat turun dari ranjangnya menyeret tiang infus itu membuat gerakannya sedikit sulit.
Begitu sampai di hadapan Leana, kotak makan itu telah habis. Wanita itu tinggal menunggu apa yang akan terjadi.
"Sudah habis!" ucap Leana begitu laki-laki itu tiba di hadapannya.
"LIVIA!"
"Kenapa? Punya Kakak ada di situ!" seru Leana sambil menunjuk kotak makan yang ditinggalnya di atas overbed table.
Radian menatap Leana dengan napas yang turun naik karena emosi.
"Mommy, sepertinya Kak Radian sangat suka masakan Mommy sampai-sampai aku ingin memakannya saja Kakak begitu marah. Padahal setiap hari Kakak merasakan masakan Mommy, sedangkan aku … baru kali ini aku mencicipi masakan Mommy. Itu saja Kakak langsung marah," ucap Leana seolah-olah mengadu pada Shanty.
Wanita itu tersenyum pada Shanty dan mengabaikan tatapan Radian yang menahan rasa marah karena istrinya tak patuh pada keinginannya.
"Kakak kenapa di sini? Istirahatlah di ranjang itu, atau mau makan sekarang. Mari sini aku suapi?" tanya Leana.
Radian hanya diam menatap istrinya dengan raut wajah panik, sedih, takut dan marah. Radian menatap kotak makan yang dihabiskan Leana seorang diri. Jika tidak ada Shanty dan Monica mungkin Radian sudah memaki Leana sekaligus menangis di pelukannya. Radian seperti lemah di mata Leana dan dimanfaatkan wanita itu untuk menjalankan niatnya. Menghabiskan sendiri kotak makan yang membuat mereka merasa curiga.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1