
Malam itu Leana dan Radian telah tertidur lelap. Namun, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang terburu-buru. Radian meminta istri tercintanya itu untuk melanjutkan tidurnya. Radian yang akan menemui pengetuk pintu itu.
Radian agak heran melihat ibu tirinya berdiri di depan pintu dengan wajah panik. Radian bertanya, Ratih menceritakan kegelisahannya. Seketika Leana yang mendengar penjelasan Ratih langsung panik. Segera berlari ke kamar tidur bayi di mana baby sitter-nya juga tidur di situ saat malam.
"Dia membawa putriku, dia membawa putriku kak!" jerit Leana dengan air mata yang mengalir.
"Livia, Radian, ayo kita cari sekarang! Aku rasa mereka belum jauh, baru beberapa menit yang lalu aku melihatnya di dapur. Dia mengatakan Reva ingin minum susu, dia membuatkan susu untuk Reva. Mama tak curiga dan kembali tidur tapi setelah mencoba tidur, mama nggak bisa tidur lagi. Pikiran Mama melayang saat melihat dia menyiapkan begitu banyak susu. Juga membawa susu dalam kaleng karena itu Mama langsung mencarinya, bermaksud untuk bertanya, tapi dia sudah tidak ada," ucap Ratih menangis.
"Ayo kita cari," ucap Leana langsung berlari mengambil kunci mobilnya.
Semua langsung berangkat mencari, Radian, Leana bersama Ratih dan Monica yang di temani Rica berangkat dengan mobil masing-masing. Sementara Shanti ditemani Ridwan Putra berangkat dengan mobil yang lain. Mereka berpencar untuk mencari baby sitter yang membawa serta bayi Leana itu.
Semakin lama tak mendapatkan hasil, Leana semakin panik. Air matanya tak henti-hentinya mengalir. Leana tak menyangka putrinya dibawa lari justru di saat dirinya sedang berada di rumah. Rasa khawatir yang dirasakannya saat berangkat bekerja di kantor membuatnya lega setelah di tiba rumah hingga akhirnya lengah.
"Bagaimana ini Ma?" tanya Leana sambil menangis dan terus melaju pelan di jalanan komplek perumahan elit itu.
"Maafkan Mama Livia. Mama lengah menjaga Reva," ucap Ratih lalu tertunduk menangis.
"Ini bukan salah Mama. Aku hanya meminta Mama mengawasi Reva saat aku bekerja di kantor. Ini salahku Ma, aku yang lengah. Saat berada di rumah, harusnya Reva bersamaku. Harusnya aku segera mengambil alih Reva. Ini salahku Ma," jawab Leana menangis sesenggukan.
Sebelah tangannya menutup mulutnya karena menangis. Ratih mengusap punggung Leana untuk menenangkan hati wanita itu. Ratih memintanya untuk fokus mencari.
"Jangan salahkan dirimu. Kamu sudah bekerja seharian, wajar jika kamu ingin beristirahat dan menyerahkan pengasuhan putrimu pada baby sitter karena untuk itulah kamu menggajinya," jelas Ratih.
__ADS_1
Leana mengangguk, meski mengerti dengan maksud ucapan ibu mertuanya itu tetapi Leana tetap merasa bersalah dan menyesal. Mereka terus mencari, tiba-tiba ponsel di sakunya bergetar. Leana segera menerima sambungan telepon seluler itu.
"Bagaimana Kak, apa sudah ketemu?" tanya Leana lalu menangis.
"Belum sayang. Aku justru ingin tanya perkembangan pencarianmu," ucap Radian.
"Aku juga belum ketemu Kak, bagaimana ini," ungkap Leana.
"Sabar sayang. Kita terus cari, kalau perlu kita lapor polisi," ucap Radian berusaha menenangkan istrinya meski hatinya sendiri tidak tenang.
"Baiklah Kak," jawab Leana.
"Maafkan aku ya sayang. Andai saja waktu kita mengujinya seperti keinginanmu. Andai saja kita menangkap basah niat jahatnya, kita telah memecatnya dan putri kita masih ada bersama kita," ucap Radian sambil menahan isak tangisnya.
Foto itu sekaligus digunakannya untuk menyebarkan poster pencarian orang. Di media cetak, media elektronik mau pun dunia maya. Radian juga mengerahkan seluruh karyawan perusahaannya untuk membantu mengenali ciri-ciri orang yang menculik putrinya.
Banyak yang memberikan dukungan padanya dan keluarga. Mereka semua berjanji akan ikut mencari dan mengamati. Menyebarluaskan berita penculikan itu melalui media sosial mereka masing-masing. Radian dan Leana adalah para pemimpin yang baik bagi perusahaan mereka karena itu para karyawan merasa prihatin pada peristiwa yang menimpa mereka.
Tanpa diminta pun mereka akan senang hati membantu. Namun, hingga kini kabar keberadaan bayi Leana masih belum ada sama sekali. Wanita itu setiap hari keluar rumah dari pagi dan pulang di malam hari. Mencari hingga ke pelosok dan gang kecil. Setiap kali pulang malam, Radian menatap wajah istrinya, laki-laki itu merasa iba.
Sementara Leana tak pernah berani menatap mata suaminya. Wanita itu lebih banyak diam dan menghindar. Leana takut, jika sempat menatap wajah laki-laki itu Leana akan menangis. Wanita itu merasa tidak akan mampu menahan tangisnya jika telah bicara tentang putrinya.
Suasana di rumah itu pun menjadi suram. Tak ada obrolan di pagi hari atau pun tawa di beranda belakang. Semua sibuk memikirkan jalan untuk menemukan bayi kecil yang mereka sayangi. Monica bahkan tak mau bertemu dengan siapa pun. Gadis itu tak akan bisa tidak membahasnya, tak akan bisa menahan tangisnya. Monica lebih memilih pergi dari rumah dan menangis di pelukan Ezra.
__ADS_1
"Kita masih mencarinya sayang, jangan putus asa," ucap Ezra menghibur tunangannya.
"Kalau aku tahu dia tega berbuat seperti itu, aku cekik dia sampai mati," ucap Monica kesal.
"Jangan sesali diri sayang, kita tetap berusaha mencarinya. Kamu berdoa agar dibukakan hatinya agar tumbuh di hatinya keinginan untuk mengembalikan bayi Leana," bujuk Ezra.
Sementara itu Leana tak akan pulang ke rumah sebelum larut malam. Radian tentu khawatirkan keselamatan istrinya tetapi tak bisa melarang. Leana akan sangat marah dan membencinya jika Radian menghalanginya mencari Revani.
"Tadi Reno bertanya, kenapa tidak melihatmu beberapa hari ini. Sayang, dia kangen sama kamu," ucap Radian memancing pembicaraan.
"Katakan saja aku sibuk," jawab Leana pelan dan menghindari untuk menatap wajah suaminya.
"Reno itu juga anakmu. Dia butuh kasih sayang dari kamu," ucap Radian.
"Lalu bagaimana dengan Reva? Dia putriku. Aku mengandungnya dengan susah payah. Dia juga butuh kasih sayang dariku tapi aku tidak bisa memberikannya. Reva tidak bisa mendapatkan kasih sayang dariku. Harusnya Reno mengerti, adiknya tak bisa mendapatkan kasih sayang juga!" jerit Leana akhirnya tak bisa menahan kesedihannya.
"Jangan keras-keras nanti Reno dengar. Dia masih kecil, wajar jika dia bertanya ibunya. Apa dia yang membuat adiknya hilang? Lalu kenapa kamu seperti menghukum dia? Reva tidak bisa mendapatkan kasih sayang lalu Reno jadi tidak berhak lagi? Itu namanya tidak adil Livia. Tidak ada di rumah ini yang ingin Reva hilang, tapi tingkahmu seperti ingin menghukum semua orang. Semua orang di rumah ini juga bersedih. Kami tahu kamu bersedih tapi jangan musuhi semua orang dan mengharapkan orang pengertian dengan perbuatanmu. Pergi sebelum matahari terbit, pulang setelah malam. Mereka juga mencari Reva tapi mereka tidak sepertimu. Jangan katakan kamu berbeda karena kamu ibunya. Mereka juga bersedih dan merasa kehilangan. Jangan sampai Reno merasa kehilangan kedua-duanya. Kehilangan adik dan juga kehilangan ibunya kasihan dia. Kamu jadi jahat pada Reno," tutur Radian.
"Bukan begitu Kak. Aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Leana akhirnya menangis tertunduk.
Begitu letih tubuh dan batinnya hingga kaki wanita itu tak lagi mampu menopang berat tubuhnya. Leana terduduk di lantai, menangis sesenggukan. Leana bahkan tak berani mendekati suaminya untuk mendapatkan sebuah pelukan menenangkan. Radian mendekat dan langsung memeluk tubuh istrinya.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1