
Radian segera datang ke rumah sakit begitu mendapat panggilan telepon dari Leana. Mengetahui istrinya itu berada di rumah sakit. Segera laki-laki itu memacu laju mobilnya dalam kecepatan tinggi. Begitu melihat Leana dan putrinya, laki-laki itu langsung memeluk mereka. Tak ada yang bisa menggambarkan besarnya rasa khawatir Radian terhadap kondisi istri dan putrinya.
Berkali-kali menciumi bayinya dan memeluk istrinya. Dengan rasa penuh syukur karena mereka berdua baik-baik saja. Leana pun memeluk suaminya dan merasakan degup jantung laki-laki itu yang begitu berpacu.
Setelah perasaannya sendiri merasa tenang, Radian langsung bertanya pada Leana. Melihat putri mereka tiba-tiba berada dalam gendongan Leana hati Radian sangat bersyukur tetapi tak menghilangkan rasa khawatirnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba bisa menemukan Reva? Lalu kenapa kamu bisa berada di rumah sakit?" tanya Radian bertubi-tubi.
Mendapat pertanyaan yang begitu banyak Leana sendiri bingung cara menjawabnya. Belum lagi tatapan heran Radian terhadap kehadiran ayah kandungnya di rumah sakit itu. Leana sendiri tidak tahu kenapa ayah mertuanya itu bisa tiba-tiba muncul di rumah susun itu menyusul dirinya.
__ADS_1
Setelah cukup tenang Leana mencoba menjelaskan kronologi kejadian. Sejak mendapatkan telepon dari Salsa hingga akhirnya berada di rumah sakit. Radian sangat terkejut dan sangat ketakutan mendengar apa yang terjadi pada istrinya. Setengah hatinya bahagia akhirnya bisa menemukan putri mereka kembali, setengahnya lagi begitu khawatir akan keselamatan istri dan anaknya itu.
"Kenapa tidak bangunkan aku? Jika terjadi apa-apa, aku yang menyesali diri. Merasa tidak berguna sebagai seorang suami. Kenapa kamu terlalu berani bertindak sendiri?" tanya Radian.
"Aku terlalu panik karena harus segera menemui Salsa. Dia katakan kalau aku tidak segera ke sana, aku tidak akan bisa bertemu dengan Reva lagi selamanya," jawab Leana dengan derai air mata.
"Maafkan aku kak," ucap Leana lalu menangis sesenggukan.
Wanita itu menangis tertunduk sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Radian merasa menyesal karena melampiaskan kekesalannya pada Leana setelah apa yang dialami istrinya itu. Segera laki-laki itu merengkuh istrinya dan membenamkannya ke dalam pelukan.
__ADS_1
"Aku marah Livia. Sangat marah tapi bukan karena kamu berbuat kesalahan. Karena aku yang begitu ketakutan. Aku takut kehilangan kamu sayang. Membayangkan apa yang terjadi membuat aku sangat takut. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Camelia itu sudah gila. Dia bisa sangat nekad. Aku benar-benar takut membayangkannya," ucap Radian lalu mengecup puncak rambut istrinya yang masih bersandar di dadanya.
Radian membujuk istrinya agar tidak menangis lagi. Laki-laki itu mencium pipi istrinya berkali-kali. Melihat itu Pak Ridwan Putra tersenyum. Lalu kembali tertunduk. Apa yang dilakukannya terhadap Camelia mungkin akan berimbas padanya.
Saat ini tim medis sedang melakukan penyelamatan terhadap Camelia yang jatuh dari tangga. Entah apa yang akan terjadi nantinya. Jika Camelia tak berhasil diselamatkan mungkin bapak itu mendekam di dalam penjara. Berhasil diselamatkan pun bapak itu mungkin tetap akan mendapatkan tuntutan.
Namun, Pak Ridwan Putra pasrah. Sedikit pun tidak menyesal melakukan itu. Melihat putranya berkumpul lagi dengan istri dan putri mereka, Pak Ridwan Putra sudah sangat bahagia. Radian bersedia menerima kembali ayah yang tak berguna seperti dirinya. Leana bahkan sudah sangat berbaik hati menerima dirinya dan keluarga barunya di rumah megahnya.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1