
Semua karyawan kantor Radian datang untuk melihat keadaan pimpinan perusahaan mereka. Terlihat Radian yang masih berbaring belum sadarkan diri. Sebagian dari mereka pulang setelah melihat keadaan atasan mereka. Pak Arif, Haris, Yanto dan Ricky masih bertahan menunggu di ruang rawat inap itu.
"Kalian pulanglah, lebih-lebih kamu Ricky. Bukankah besok kamu harus bekerja jadi OB, berangkat pagi-pagi sekali," ucap Pak Arif.
Ricky agak keberatan disuruh pulang tapi apa yang dikatakan Pak Arif memang benar. Sebagai OB dia harus masuk kerja jauh lebih pagi daripada karyawan kantor. Harus telah beres, rapi dan bersih sebelum para karyawan berdatangan. Selain itu Ricky juga harus kuliah setelah itu.
Malam ini Ricky meminta izin tak masuk kerja di Night Club demi menunggu perkembangan kondisi Radian. Anak muda itu bertekad akan menunggu hingga Radian sadar tetapi mengingat kesibukannya besok, dengan berat hati, laki-laki muda pekerja keras itu terpaksa kembali pulang.
"Apa Bu Leana bersedia datang Pak? Mengingat Bang Radian dan Bu Leana telah berpisah. Lalu bagaimana dengan orang tua Bang Radian, Pak?" tanya Haris.
"Benar juga Pak, kalau Bu Leana tak peduli lagi sama Bang Radian bagaimana Pak? Kasihan Bang Radian tak ada keluarganya yang menunggui," ucap Yanto.
Pak Arif tercenung, kemudian mengangguk. Bapak paling tua dari segi usia itu akhirnya memutuskan untuk menghubungi ibunda Radian. Tak lama kemudian terlihat Leana yang masuk ke ruangan itu. Dengan air mata yang mengalir Leana mengangguk menyapa semua teman kerja Radian yang menunggui.
Wanita itu kemudian mendekati laki-laki yang baru saja pulang dari rumahnya itu. Leana menyesal, hingga menangis tersedu-sedu di samping ranjang rumah sakit Radian. Teman-teman kerja Radian hanya tertunduk melihat kesedihan wanita yang mereka kenal sebagai CEO di perusahaannya sendiri sekaligus pemilik perusahaan yang dipimpin Radian dulu.
Tak ada yang berani menghibur wanita itu karena bagi mereka, Leana adalah orang yang turut andil dalam perubahan besar-besaran manajemen PT. Cahaya Chandra hingga membuat mereka diberhentikan dengan berbagai alasan dari perusahaan itu. Pak Arif yang mencoba menyapa Leana, itu pun dengan sikap yang ragu-ragu.
"Kita doakan bersama-sama Bu Leana, semoga Pak Radian segera sadar," ucap Arif pelan.
Setelah berpikir-pikir apa yang akan diucapkannya pada Leana agar wanita itu tidak merasa bersedih seorang diri.
"Terima kasih Pak, Kak Radian sangat beruntung memiliki teman kerja seperti Bapak-bapak semua," ucap Leana sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
Setelah mencium kening suaminya, Leana duduk kursi yang tersedia di samping ranjang itu. Sebuah ruangan sederhana yang bisa dihuni oleh dua orang pasien. Beruntung ruangan itu masih dalam keadaan kosong hingga hanya diisi oleh Radian.
"Maaf Bu, kami hanya sanggup memilih tempat ini untuk Pak Radian," ucap Arif lagi. Saat melihat Leana yang memandang ke sekeliling ruangan.
"Tidak apa-apa Pak, saya justru berterima kasih karena bapak yang telah bersedia mengurus pendaftaran rawat inap suami saya. Selebihnya biar saya yang urus Pak, apalagi semua ini adalah kesalahan saya," ucap Leana yang kembali menitikkan air mata.
"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang Bu. Kita semua juga tak ingin kejadian ini terjadi," jawab Arif.
Leana mengangguk lalu menoleh pada Haris dan Yanto yang hanya berdiri mendengar percakapan Pak Arif dan Leana. Wanita itu mengamati ketiga orang itu.
"Saya merasa seperti mengenal bapak-bapak ini. Apa kita pernah bertemu sebelumnya Pak?" tanya Leana.
"Kami ini mantan karyawan di Perusahaan Cahaya Chandra Bu," jawab Arif.
"Apa?" tanya Leana kaget.
"Benarkah?" tanya Leana kembali tak percaya.
Wanita itu menoleh pada Radian. Teringat saat dirinya hendak mengunjungi ibu mertuanya yang terkena stroke. Leana pernah mendengar Radian bercerita tentang kondisi perusahaan ayahnya yang telah dikuasai oleh sekelompok orang.
Air mata wanita itu kembali menetes. Bukan karena kondisi perusahaannya yang telah dikuasai berwenang-wenang oleh kelompok manajemen baru tapi teringat saat itu Radian dan dirinya masih bersama dan ingin berkumpul kembali. Radian telah menyarankan untuk mengaudit perusahaan melalui program anti fraud.
Leana tak mengkhawatirkan itu, jika dia ikut campur dalam melacak penyelewengan di perusahaan itu, dengan mudah wanita itu akan membabat habis orang-orang yang terlibat setelah masa kepemimpinan Radian berakhir di sana.
__ADS_1
Leana menoleh ke arah suaminya, meraih tangan laki-laki itu menggenggamnya. Leana mencium tangan Leana dengan air mata yang kembali berlinang. Menyesali sikapnya pada laki-laki yang tak sadarkan diri itu. Tiba-tiba Pak Arif angkat bicara membuat Leana kembali menoleh padanya.
"Saya minta maaf Bu, mengenai Camelia," ucap Pak Arif terlihat ragu-ragu tapi sangat ingin mengungkapkan isi hatinya.
"Apa maksud Bapak?" tanya Leana sangat ingin tahu.
"Sebenarnya Radian keberatan untuk menerima Camelia bekerja di perusahaan kami. Radian telah menolak tapi bapak justru menantang untuk menerima. Radian tak ingin ada wanita di perusahaan kami tapi bapak justru membujuknya menerima. Hari itu Radian berhasil melakukan kontrak kerjasama pertama perusahaan kami. Kami merayakannya di sebuah Night Club. Radian sebenarnya tak ingin ikut karena bersedih atas kepergian Bu Leana ke luar negeri. Lagi-lagi kami membujuknya. Radian juga tak ingin minum tapi berniat untuk menghibur dari rasa sedihnya kami justru memaksanya menikmati minuman itu hingga akhirnya terjadi sesuatu antara Radian dan Camelia. Sejujurnya Radian tak mengingat semuanya. Tapi Camelia menyatakan bahwa Radian melakukan itu dengan mengingat Bu Leana. Radian tak bisa mengelak lagi, Camelia hamil dan terpaksa menikahinya tapi di dalam hati Radian hanya ada Bu Leana. Radian sangat menderita karena berpisah dengan Bu Leana. Bapak berharap, Radian bisa bertahan dan dapat menemukan kebahagiaannya lagi," jelas Arif sambil menghapus air matanya.
Setumpuk beban besar di pundaknya telah dilepaskannya. Pak Arif merasa semua masalah yang timbul dalam hidup Radian berasal darinya. Bapak itu menangis menyesal di hadapan Leana, berharap wanita itu akan mempertimbangkan untuk memaafkan Radian.
"Bapak banyak salah padanya, setiap saran yang Bapak usulkan berakhir buruk padanya. Untuk itu Bu Leana, Bapak mohon maafkanlah Radian, dia tidak salah. Radian sangat mencintai Bu Leana, semua itu diungkapkan Radian hampir setiap hari. Tolong maafkan Radian yang tak bersalah itu," ungkap Arif sambil menghapus air matanya.
Haris dan Yanto tertunduk, meski tak masalah pastinya tapi dengan jelas mereka memang tahu kalau Radian selalu menghindar dari Camelia. Leana pun ikut tertunduk, setelah membaca tulisan Radian, wanita itu menyadari betapa besarnya rasa cinta Radian padanya. Leana juga merasa menyesal telah meragukan cinta laki-laki itu.
Tiba-tiba Shanty, Monica dan Camelia datang. Mereka langsung meraung melihat kondisi Radian. Leana hanya bisa menangis menatap kesedihan keluarga Radian itu.
"Kak Leana ada di sini?" tanya Monica.
Belum sempat Leana menjawab, Camelia telah mendahuluinya bicara.
"Ya! Untuk apa kamu masih ada di sini? Bukankah hari itu sudah memutuskan hubungan dengan Kak Radian bahkan telah menyerahkan cincin pernikahan. Lalu, kenapa masih muncul di hadapan Kak Radian?" tanya Camelia sambil mendorong Leana.
"Karena aku istrinya, meski banyak masalah yang menggangu kehidupan rumah tangga kami tapi kami masih saling mencintai. Kak Radian masih tetap mencintaiku, bukan halusinasi tapi sungguh-sungguh dinyatakan padaku. Aku bersalah. Aku memang bersalah karena tidak percaya padanya. Kini aku tak ingin melakukan kesalahan lagi. Aku akan kembali padanya, tak peduli lagi, aku tidak akan merasa bersalah padamu. Aku tidak merebut Kak Radian darimu karena sejak dulu hingga sekarang hati Kak Radian adalah milikku," ungkap Leana.
__ADS_1
Ungkapan yang membuat Camelia terperangah hingga mulutnya ternganga. Wanita itu tak percaya jika Leana akhirnya memutuskan untuk kembali kepada Radian. Berbeda dengan Camelia yang tak terima dengan ucapan Leana, Pak Arif dan yang lainnya di ruangan itu justru mendukung keputusan Leana.
...~ Bersambung ~...