
Radian mengamati test pack yang diberikan Leana. Sedikit pun dia tak mengerti. Tapi Leana menjelaskan kalau dirinya telah positif hamil. Mendengar itu tak terkira betapa bahagianya Radian mendengar ucapan istrinya. Radian memeluk Leana dengan rasa haru yang luar biasa. Leana pun tersenyum bahagia, kebahagiaan yang tak pernah terbayangkan olehnya bisa menyimpan benih cinta Radian di dalam rahimnya.
Radian memeluk istri yang dicintainya itu sambil membelai rambut indah Leana.
"Ini adalah hadiah yang paling berharga dalam hidupku dan dalam hidup kami. Aku akan menjadi seorang ayah, Mommy akan memiliki cucu dan Monica memiliki seorang keponakan. Leana, apa pun yang kami miliki tak lebih berharga dari apa yang kamu berikan padaku sekarang," ucap Radian sambil mencium pangkal leher istrinya.
Bayi ini lebih berharga dari apa pun yang kalian miliki? Benarkah? Jika di tukar dengan semua harta milik Papa yang dikuasai keluarga Kakak, apakah bersedia? Apakah mau menyerahkan kembali semua yang seharusnya menjadi milikku? Benarkah bayi ini begitu berharga bagi kalian? Batin Leana menangis teringat semua yang pernah dilakukan keluarga suaminya hanya demi harta.
Leana menangis, melihat itu Radian merenggangkan pelukannya dan menatap wajah istri yang dicintainya itu.
"Tapi ... sebelum semakin membesar aku ingin menggugurkannya," ucap Leana dengan wajah murung.
"APA?"
Radian kaget mendengar ucapan Leana yang tak disangka-sangka. Laki-laki itu tak mengerti dengan pemikiran istrinya. Jelas-jelas Radian dan seluruh penghuni rumah menganggap kehamilan Leana adalah berita yang sangat menggembirakan. Tapi ternyata tidak bagi Leana.
Istrinya justru menangis dan Leana terlihat tidak main-main dengan ucapannya. Radian termangu hingga terduduk di kursi panjang itu.
"Kak, demi aku, Kakak setuju 'kan bayi ini di gugurkan?" tanya Leana dengan air mata bercucuran.
"Tidak! Tidak! Tidak! Bayi ini anak kita, darah daging kita! Buah cinta kita, kamu pikir aku menikahmu hanya untuk bisa menidurimu? Keluarga itu adalah ayah, ibu dan anak-anak. Kamu tidak tahu bagaimana ketakutanku memiliki keluarga? Keluarga ibuku berantakan, aku bahkan pernah bertekad tidak akan menikah. Tapi sejak bertemu denganmu, aku yakin aku bisa memiliki keluarga yang bahagia. Aku bertekad akan menjadi suami yang baik dan ayah yang baik untuk anak-anakku. Aku bertekad akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan keluargaku, apa pun ... ! Aku mohon Leana, apa pun alasanmu tolonglah, pertahankan bayi kita. Aku mohon, aku akan berikan semua yang kamu inginkan agar aku bisa menggendong bayi yang lahir dari rahimmu. Aku begitu bahagia membayangkan kamu menjadi ibu dari anak-anakku. Tolong jangan pupuskan harapanku itu, Leana!" pinta Radian dengan air mata yang mengalir di sudut matanya.
Leana tergugah mendengar harapan suaminya. Hatinya hampir saja melemah mendengar ungkapan perasaan Radian yang begitu bahagia memiliki bayi darinya. Hati Leana hampir saja goyah namun sesaat kemudian Leana sadar. Ini adalah kesempatannya untuk melanjutkan rencananya.
"Tapi aku takut, aku sama seperti Kakak. Aku bahagia bisa mengandung bayi Kakak. Tapi … aku merasa hidupku akan berakhir," ungkap Leana sambil terisak.
Radian heran dengan ucapan Leana. Nyata-nyata Leana juga menginginkan bayi itu tapi dia memutuskan untuk menggugurkannya, Radian tak habis pikir.
"Kenapa Leana? Kenapa? Ceritakan padaku, apa yang membuatmu begitu takut? Cerita padaku sayang," desak Radian.
"Aku tidak ingin seperti ibuku, Mommy mengalami lumpuh total akibat komplikasi menjelang kelahirkanku. Daddy pernah cerita kalau sebelum melahirkan, Mommy terserang stroke. Setelah melakukan pemeriksaan CT Scan ditemukan gumpalan darah di kepala Mommy. Kondisi Mommy semakin memburuk padahal Mommy tak mengalami masalah apapun selama kehamilan. Mommy mengalami komplikasi, kejang di seluruh tubuhnya, hingga menyebabkan oksigen gagal mencapai otak dan itu membuatnya lumpuh total. Akibatnya, aku terpaksa dilahirkan dengan cara caesar, dokter mengatakan kalau Mommy tak akan pernah sembuh. Daddy pun tidak bisa berbuat apa-apa. Apa Kakak ingin semua itu terjadi padaku?" tanya Leana pada akhirnya.
__ADS_1
"Sayang itu tidak akan terjadi padamu. Percayalah! Kamu akan baik-baik saja. Banyak ibu-ibu yang mengandung dan melahirkan tapi tetap sehat," bujuk Radian.
"Siapa yang bisa menjamin itu tidak akan terjadi padaku. Setelah aku lumpuh Kakak tidak akan menginginkanku lagi. Kakak akan mencampakkan aku. Aku tidak bisa bekerja lagi, aku akan hidup miskin dan mungkin akan menjadi gelandangan," ucap Leana.
"Leana itu tidak akan terjadi padamu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku sangat mencintaimu Leana," ucap Radian menyakinkan hati istrinya.
"Itu ucapan Kakak sekarang, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Daddy juga tidak tahu Mommy akan mengalami hal itu. Sekian tahun Daddy merawat Mommy yang lumpuh. Apa Kakak bisa bertahan seperti itu?" tanya Leana.
"Leana, aku tidak akan meninggalkanmu meski itu terjadi padamu. Tidak! Aku janji tidak akan meninggalkanmu," tegas Radian.
"Oh ya? Mana mungkin Mommy akan membiarkan putra satu-satunya setiap hari hanya merawat istrinya. Kakak sangat tampan, semua orang akan menyayangkan laki-laki seperti Kakak hanya memiliki seorang istri yang lumpuh. Kakak sendiri mungkin tidak berniat meninggalkanku. Tapi Mommy dengan segala cara pasti akan membuat Kakak mencampakkan aku dan mencarikan Kakak istri yang lain," tutur Leana sambil menatap wajah suaminya dengan air mata yang terus mengalir.
Radian kehabisan kata-kata, dia tidak ingin kehilangan bayinya tapi juga tidak bisa memastikan apa yang ditakutkan Leana tidak akan terjadi.
Benar apa yang dikatakan Leana, aku sendiri mungkin bisa tetap bertahan mencintainya tapi bagaimana aku bisa bertahan jika terus mendapat desakan dari Mommy dan Monica. Di tambah Monica yang dulu pernah tidak menyetujui pernikahan kami. Dia pasti akan semakin gencar menyalahkanku salah dalam memilih istri. Leana akan dibuat menderita olehnya, batin Radian.
Sebagian hatinya pasrah dengan keputusan Leana tapi Radian masih merasa memiliki harapan untuk bahagia bersama istri dan anaknya.
Leana tertunduk, raut wajah berpikir keras. Terlihat kebimbangan di wajahnya. Hingga akhirnya wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke mata suaminya.
"Baiklah! Demi Kakak aku bersedia menjalani pilihan yang menakutkan ini tapi aku tidak mau setengah saham Kak Radian. Itu tidak ada arti bagiku dibandingkan resiko kelumpuhan dan mungkin dicampakkan dari keluarga ini. Kecuali Kak Radian menyerahkan seratus persen saham Kakak ditambah dengan seluruh saham Mommy dan Monica," ucap Leana.
"Apa? Ini gila Leana, mana mungkin Mommy dan Monica mau menyerahkan seluruh saham mereka," teriak Radian.
"Kakak bisa membujuk mereka dengan menambahkan uang bulanan yang sesuai dengan keuntungannya memiliki saham itu. Mereka tidak akan merasa rugi jika pendapatan mereka setiap bulan tidak berkurang justru mungkin bertambah dari yang biasa mereka dapatkan," jawab Leana.
Radian pasrah, akhirnya menceritakan tentang berita kehamilan Leana. Shanty dan Monica terlihat gembira mendengar berita itu tapi terkejut dengan syarat yang diajukan Leana agar dia tetap mempertahankan kehamilan.
Radian membujuk ibu dan adiknya menyerahkan seluruh saham mereka. Tentu saja Shanty dan Monica keberatan. Radian akhirnya berjanji memberikan uang bulanan yang lebih banyak seperti yang disarankan Leana. Setelah mempertimbangkan, Shanty dan Monica meminta diadakan pertemuan di ruang keluarga. Mereka pun berkumpul di ruangan itu. Shanty dan Monica duduk di hadapan Leana, keduanya menatap istri Radian itu dengan tatapan mata yang tajam.
"Benarkah kamu menginginkan saham kami sebagai jaminan atas kehamilanmu? Apa itu masuk akal?" tanya Shanty mengawali pembicaraan mereka.
__ADS_1
Radian risau, ibunya terlihat keberatan memenuhi permintaan Leana.
"Ya, Mommy mungkin sudah tahu ceritanya," ucap Leana.
"Karena kamu takut Radian akan mencampakkanmu jika kamu mengalami kelumpuhan seperti yang dialami ibumu?" tanya Shanty.
"Ya,"
"Lalu sekarang kamu inginkan saham kami?" tanya Monica.
"MONICA!" bentak Radian melihat gaya Monica yang kurang sopan memanggil kakak iparnya.
Tapi Leana tidak pedulikan atas sikap Monica yang mendadak merasa di atas angin. Seolah-olah Leana begitu ketakutan dengan situasinya yang takut dicampakkan kakaknya.
"Ya, sebagai jaminan jika aku tidak bisa bekerja lagi maka aku masih memiliki saham di perusahaan itu. Dengan begitu aku masih memiliki pendapat bukan? Tapi jangan lupa ... jika aku lumpuh, bukan berarti aku tidak bisa meminta bantuan untuk mengeluarkan seseorang dari sebuah agensi. Karena itu adalah hal yang sangat mudah aku lakukan seperti meniup debu di ujung jariku," ucap Leana.
"Apa maksudnya itu?" tanya Radian.
"Tidak apa-apa, aku hanya mencoba mengatakan kalau kekuasaanku tidak akan langsung hilang jika aku menjadi lumpuh. Aku masih menghancurkan nasib baik seseorang," jawab Leana sambil tersenyum.
Radian tidak mengerti namun Monica sangat mengerti. Jika dia mencoba melawan kehendak Leana tak perlu menunggu wanita itu menjadi lumpuh, saat ini juga dia bisa dikeluarkan dari agensi kebanggaannya. Monica tertunduk, Leana beralih menatap ke arah ibu mertuanya.
"Jika aku dicampakkan suamiku. Setidaknya aku masih punya rumah untuk berteduh. Tanpa saham itu, untuk biaya hidupku, mungkin aku harus menjual rumahku," ucap Leana sambil matanya mengitari ruangan itu.
Shanty langsung tercekat, mendengar ucapan Leana barulah dia sadar kalau rumah yang mereka tempati sekarang ini bukan lagi miliknya.
Mendapat sinyal ancaman itu Shanty dan Monica tak berani lagi bermain-main dengan Leana. Mereka akhirnya setuju menyerahkan semua saham milik mereka yang dibagikan sesaat Shanty berhasil menguasai seluruh harta kekayaan Tn. Robert Chandra, ayah kandung Leana.
Ibu dan adiknya itu akhirnya bersedia menerima tawaran Radian yang melebihkan uang bulanan mereka sebagai kompensasi penyerahan seluruh saham milik mereka. Bagi mereka kepemilikan saham tidaklah lebih penting daripada dompet mereka yang selalu tebal di setiap bulannya.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1