
Lagi-lagi Ezra menyelamatkan Monica. Gadis itu selalu kehilangan fokus saat memiliki banyak pikiran. Mereka bersyukur karena tak terjadi kecelakaan lagi. Namun, kembali dirinya terancam bahaya karena tak berhati-hati melangkah seorang diri.
Monica yang tubuhnya gemetar karena baru saja lolos dari bahaya kini hanya bisa menangis. Ezra memeluk dan membelai rambut Monica. Sedikit pun tak memintanya untuk berhenti menangis. Ezra membiarkan Monica melepas rasa sedihnya dalam pelukannya.
Bukan karena terbebas dari bahaya saja yang membuat tak bisa menahan tangis. Kejadian saat berkunjung dan berkenalan dengan ayah Ezra juga menambah kesedihannya. Ezra dengan sabar memberi pengertian pada Monica. Perlahan membangkitkan rasa percaya diri Monica.
Gadis itu justru merasa sulit saat dirinya ingin menjadi sosok yang baik. Ezra memberikan dukungan untuk Monica yang mencoba untuk berubah. Ezra memberikan pemikirannya bahwa jika dirinya mendapat kesempatan dari Radian dan Livia.
Maka dirinya juga ingin memberikan kesempatan bagi Monica. Akan berusaha menerima Monica yang baru, yang ingin berubah menjadi orang yang lebih baik. Mendengar itu Monica sangat terharu.
"Mungkin aku harus membatalkan pernikahanku. Tadinya ingin menjadikan kamu sebagai pengantin pengganti, tapi benar apa yang dikatakan Daddy. Jangan karena hanya ingin mengisi kekosongan posisi seorang pengantin, aku langsung ingin mengajakmu menikah. Mungkin saat ini terasa benar, seperti kebetulan dan seperti jalan yang dimudahkan tapi bisa saja nanti kita akan menyesalinya. Karena terburu-buru mengambil keputusan," ucap Ezra sambil tersenyum.
"Aku tahu, kamu memang belum yakin padaku. Sementara aku, sejak dulu telah yakin ingin selalu bersamamu, tapi tidak apa, demi tak ada penyesalan di belakang hari. Aku juga tak akan sanggup menghadapi kenyataan, kalau kamu suatu saat menyesal dengan keputusanmu. Tidak apa-apa, kita jalani saja. Jika berjodoh, kita pasti bisa bersama," ucap Monica pasrah.
Ezra mengangguk, laki-laki itu setuju. Mereka sepakat untuk lebih mengenal lebih dekat lagi. Meski telah lama saling mengenal tetapi mereka belum pernah menjalin hubungan. Hati Monica lega karena Ezra tak memutuskan begitu saja hubungan mereka.
Monica pun menghilangkan prasangka terhadap ayah Ezra yang ingin mereka putus hubungan. Tn. Adam ingin putranya lebih mengetahui siapa sebenarnya Monica, hanya itu. Monica minta diri dan Ezra berjanji akan mengunjunginya ke rumah. Hati wanita itu sangat bahagia, menunggu kedatangan laki-laki yang dicintainya itu.
Seperti janjinya yang ingin lebih mengenal dekat gadis yang pernah satu sekolah dengannya itu. Saat weekend, Ezra datang ke rumah keluarga Robert Chandra di mana Leana sekeluarga juga ibu mertua dan adik iparnya juga tinggal di rumah itu.
__ADS_1
"Kak Monica belum pulang Kak, kesibukannya memang tidak tetap," ucap Leana yang menerima kedatangan Ezra.
"Kamu sendiri tidak ke kantor lagi?" tanya Ezra.
"Kandunganku sudah besar Kak, tinggal menghitung hari. Aku putuskan menunggu kelahiran di rumah saja," ucap Leana.
"Suamimu? Dia belum pulang jam segini?" tanya Ezra.
"Kakak mengambil alih lagi perusahaan Papa. Dulu Kak Radian menjadi CEO di sana, semua berjalan dengan baik, sejak mengangkat CEO dari luar, perusahaan itu berubah total. Banyak terjadi kecurangan. Aku tak tega melihat perusahaan Papa hancur di tangan orang lain. Aku meminta Kak Radian kembali memimpin perusahaan Papa. Sementara perusahaan yang sedang dirintisnya diserahkan pada orang yang dipercayainya," jelas Leana.
"Begitu, sepertinya kehidupan kalian sudah tenang, syukurlah," ucap Ezra yang tersenyum sambil menatap Leana dengan tatapan sendu.
"Aku ingin mengenal Monica lebih dekat," ucap Ezra tiba-tiba.
"Ya Kak, aku turut bahagia mendengarnya," jawab Leana.
"Sungguh? Tak adakah sedikit cinta tersisa untukku?" tanya Ezra, terhanyut oleh perasaannya sendiri.
"Kakak tahu, yang aku cintai sejak dulu hanya Kak Radian, suamiku," ucap Leana mulai tak nyaman.
__ADS_1
"Apa kekuranganku?" tanya Ezra.
"Kakak sudahlah! Kak Ezra tak ada kekurangan apa-apa. Ini hanya masalah hati, hatiku tak bisa diarahkan begitu saja," jelas Leana.
"Apa aku sanggup hidup bersama Monica?" tanya Ezra tak mau berhenti.
"Mana aku tahu Kak. Semua tergantung padamu," ucap Leana mulai panik.
"Saat bersamamu, aku merasa kalau aku masih mencintaimu Livia," ucap Ezra tak bisa ditahannya.
"Cukup Kak, hentikan! Aku nggak mau temani Kakak di sini jika masih tetap seperti ini," ungkap Leana dengan emosi dan segera bangkit dari kursi tamu itu.
Tiba-tiba Leana merasakan perutnya yang terasa sakit. Wanita itu bahkan kembali terduduk di kursi. Memegang kandungannya yang tiba-tiba mengalami kontraksi. Ezra segera datang menghampiri. Namun, bingung tak tahu harus berbuat apa-apa. Laki-laki itu mencoba menenangkan Leana. Wanita itu mengerang, merintih dan menjerit.
"Aku akan telepon Radian," ucapnya duduk di sisi Leana.
Sambil mencoba menghubungi Radian. Laki-laki itu mencoba menenangkan Leana yang terus menjerit dengan mengusap wajah Leana yang telah berkeringat. Belum sempat tersambung, Radian telah datang dan langsung menarik kerah Ezra.
Melayangkan tinjunya hingga membuat laki-laki itu jatuh tersungkur. Monica dan Shanti datang bersamaan ke ruang tamu itu dari arah yang berlawanan. Mereka terkejut saat menyaksikan Leana yang merintih dan Ezra yang dipukuli Radian hingga terjatuh.
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...