Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 22 ~ Kesempatan ~


__ADS_3

Radian membantu seorang bapak yang tertabrak sepeda. Radian membantu bapak itu duduk di sebuah bangku dibawah pohon. Setelah mengambil mapnya, Radian kembali menghampiri bapak itu.


"Apa bapak tidak apa-apa? Apa ada yang terluka? Maaf Pak kalau aku tahu ada bapak di belakang, aku tidak akan mengelak. Biar dia tabrak aku saja," ucap Radian sambil duduk di samping bapak itu dan tersenyum.


Bapak itu tertawa mendengar ucapan Radian, mengangguk-anggukan kepalanya sambil menepuk pundak laki-laki tampan itu.


"Kamu anak baik, sebenarnya akulah yang salah. Karena banyak pikiran jadi tak awas saat berjalan. Harusnya aku juga mengelak tadi," jawab bapak itu. Radian mengangguk. "Sebenarnya bapak melihatmu juga sedang banyak pikiran, ada apa? Kalau bapak boleh tahu."


"Ya Pak, sudah tiga bulan aku mencari kerja tapi belum mendapatkan pekerjaan Pak. Sudah banyak perusahaan yang aku datangi tapi tak ada yang bersedia menerimaku. Sedangkan persediaan uangku sudah mulai menipis," jawab Radian tanpa disadarinya sedang mencurahkan isi hatinya.


Radian butuh seseorang yang bisa mendengarkan kesedihannya. Rasa panik tak kunjung mendapatkan pekerjaan tak bisa dikeluhkannya pada ibu dan adiknya. Radian hanya akan disalahkan karena tak bertahan tinggal di rumah istrinya dan bekerja di perusahaan milik istrinya.


Bapak itu mendengarkan lalu meminta ijin untuk melihat berkas lamaran Radian. Laki-laki itu pun mengangguk dan menyerahkannya pada bapak itu. Bapak itu melihat lembar demi lembar berkas lamaran Radian sambil sesekali menoleh dan menatap wajah Radian.


"Sayang sekali, kamu lulusan luar negeri tapi sulit mendapatkan pekerjaan. Bukan karena kamu yang tak berkompeten tapi mungkin mereka yang tak sanggup membayar gajimu," ucap bapak itu.


"Tapi aku tidak meminta gaji yang besar Pak. Aku cuma berharap memiliki uang untuk makan dan bayar kontrakan. Gaji besar tentu aku inginkan, tapi saat ini berapa pun gaji yang diberikan aku sudah sangat bersyukur," jelas Radian.


"Kamu lulusan luar negeri tapi tak melampirkan pengalaman kerja? Apa tidak pernah bekerja sebelumnya?" tanya bapak itu.


"Begitu lulus, aku langsung menjabat sebagai CEO di perusahaan milik ayah tiri. Bisa dikatakan aku belum pernah mencoba untuk melamar pekerjaan. Selama ini aku tidak tahu bagaimana rasanya mencari pekerjaan. Aku sengaja tak melampirkan paklaring karena merasa tak pantas Pak," jelas Radian.


"Pantas saja, setelah menjabat sebagai CEO, tiba-tiba harus mencari pekerjaan, tentu itu sangat sulit bagimu. Bapak kira beberapa perusahaan yang kamu datangi itu mungkin mengenalmu hingga tak berani mempekerjakanmu … bapak ingin memberimu kesempatan tapi jangan berharap mendapat gaji yang besar. Karena jika memang kinerjamu bagus otomatis gaji akan mengikuti. Itu kalau kamu mau mencoba," ujar bapak itu.


"Mau Pak … mau, aku janji akan bekerja dengan sungguh-sungguh," ucap Radian dengan wajah riang.


Bapak itu mengangguk-angguk, setelah merasa cukup beristirahat bapak itu pun mengajak Radian ke perusahaannya. Laki-laki itu sampai ke sebuah gedung berlantai lima belas. Tak menyangka jika bapak itu justru mengajak Radian ke  perusahaan yang tadinya telah menolaknya.

__ADS_1


Radian juga tak menyangka bahwa bapak yang berpenampilan sederhana itu ternyata pemilik perusahaan dengan gedung yang terlihat sangat mewah itu. Semua orang mengangguk hormat pada Bapak itu. Radian sangat senang mengenal dan mendapat bantuan dari Bapak itu. Baru terpikirkan olehnya betapa bahagianya bisa mendapatkan pertolongan dari orang lain.


Mereka pun tiba di ruang kerja bapak itu, dia langsung meminta kepala HRD untuk menghadapnya. Bapak itu memerintahkan untuk memproses lamaran kerja Radian dan menyuruh kepala HRD itu untuk menerima laki-laki itu bekerja di situ. Radian merasa seperti sedang bermimpi bahkan takut merasa gila karena tak mampu menghadapi kenyataan sulit yang dihadapinya selama tiga bulan mencari kerja.


"Terima kasih banyak Pak atas pertolongan Bapak. Aku harap ini bukan mimpi atau aku yang telah menjadi gila," ucap Radian sambil menyalami bapak itu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ini bukan mimpi dan kamu tidak gila. Ini takdir, aku menerimamu bekerja karena terkesan dengan ucapanmu tadi," jawab bapak itu.


Radian bingung mengingat ucapan mana yang dimaksudkan. Laki-laki itu buru-buru menghapus air matanya yang terlanjur mengalir.


"Ucapanku yang mana Pak?" tanya Radian heran.


"Ucapanmu yang berkata kalau kamu tahu ada aku di belakangmu, kamu tidak akan mengelak. Biar kamu saja yang tertabrak anak itu," ucapnya sambil tertawa.


"Oh itu, kalau aku yang tertabrak bapak tak mungkin tertabrak lagi 'kan?" tanya Radian yang tak butuh jawaban.


"Jawabanmu itu terdengar begitu polos namun mencerminkan kebaikan hatimu. Ada orang yang berharap dia tertabrak agar orang lain tidak tertabrak. Aku belum pernah mendapat satu bentuk kebaikan seperti itu," jawab bapak itu lagi lalu kembali tertawa.


Radian cuma tersenyum sambil menunduk. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia bisa berkata seperti itu. Kejadian seperti tadi, tentu belum pernah dialaminya. Radian hanya ingin mengungkapkan merasa menyesalnya setelah melihat bapak itu tertabrak.


Bapak itu tertawa begitu lepas, saat mengingat lagi kata-kata yang diucapkan Radian. Hingga akhirnya dia sulit untuk meredakan tawanya sendiri.


"Sudah lama aku tidak tertawa, mungkin sejak kematian istriku. Aku berjalan-jalan di taman itu untuk menghilangkan beban pikiranku tapi aku justru berjalan dengan tidak hati-hati. Beruntung aki bertemu denganmu," ucap bapak itu.


"Ah, beruntung apa Pak, justru aku yang beruntung bisa bertemu dengan Bapak hingga mendapatkan tawaran pekerjaan. Tapi kalau boleh aku tahu apa yang menjadi beban pikiran bapak?" tanya Radian.


"Aku sudah semakin tua sementara putraku masih belum mau kembali ke rumah kami. Dia membenci kami karena menganggap kami telah mengusirnya demi menjauhkannya dari seorang gadis dengan mengirimnya ke luar negeri. Sejak itu dia marah dan membenci kami. Sama sekali tak mau mengunjungi kami lagi. Jika kami merindukannya, kami lah yang akan mendatanginya sementara anak itu tetap teguh pendirian untuk tidak mau kembali bersama kami. Aku menyesal … karena sikap aroganku membuatnya membenci kami, orang tuanya. Hingga kini dia tak mau mengambil alih perusahaan yang susah payah aku besarkan. Dia lebih memilih untuk mengabdi di perusahaan orang lain. Jika dipikir-pikir untuk apa aku membesarkan perusahaan ini jika anakku sendiri tak menginginkannya?" tanya Bapak itu sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


"Andai aku bisa bantu Pak," ucap Radian ikut prihatin dengan masalah yang dihadapi bapak itu.


Bapak itu mengangguk. "Kamu pasti bisa membantu, yang penting sekarang kamu bekerja yang giat di perusahaan ini," jawab bapak itu.


Radian mengangguk, hari itu juga Radian diterima bekerja di perusahaan itu. Meski menjabat sebagai karyawan biasa. Tapi laki-laki itu merasa bahagia bahkan lebih bahagia dari saat dia ditetapkan sebagai CEO di perusahaan Robert Chandra.


"Gajinya cuma segitu? Itu bisa habis dalam tiga hari," ucap Shanty.


"Kalau begitu mulai sekarang habiskan dalam tiga puluh hari. Mommy nggak tahu bagaimana susahnya mencari kerja? Aku hampir gila Mom," jawab Radian pada ibunya yang tak menghargai penghasilan yang diterimanya setelah susah payah mendapatkan pekerjaan dan bekerja dengan sungguh-sungguh selama sebulan penuh.


"Apa ini akan cukup?" tanya Monica.


"Lebih baik dapat sedikit daripada tidak ada penghasilan sama sekali," jawab Radian.


Monica tertunduk, hidup sederhana dengan penghasilan yang tak mencukupi. Membuat Shanty dan Monica menyesal dan selalu cekcok karena Radian memilih meninggalkan rumah mewah milik istrinya. Di awal-awal Monica dan Shanty mengeluhkan rumah yang sempit. Mereka yang terbiasa memiliki kamar mewah sendiri sekarang harus tidur seranjang berdua.


"Kenapa kamu memilih keluar dari rumah itu padahal dia tidak mengusir kita?" tanya Shanty.


"Mommy sanggup hidup menumpang pada orang yang pernah ingin Mommy bunuh?" tanya Radian pada Shanty saat mereka makan malam dengan lauk seadanya. "Aku tidak sanggup Mom, aku masih punya harga diri. Apa Mommy tahu bagaimana kondisi tubuh Livia setelah Mommy buang ke jurang? Wajahnya hancur parah, tubuhnya patah di beberapa tempat. Mommy tidak tahu bagaimana rasa sakit yang harus ditahan tubuh dan hatinya. Kalau aku, mungkin lebih memilih mati saat itu juga, mengetahui keluargaku begitu membenciku hingga ingin membunuhku," jawab Radian.


Laki-laki itu meninggalkan makan malamnya dan menangis di kamar seorang diri. Shanty dan Monica terdiam, meski Radian telah mencoba meredam tangisnya namun mereka masih mendengar isak tangis laki-laki itu.


Meski hanya itu jawaban yang Radian berikan namun baginya bukan hanya sekedar itu. Radian sangat kecewa pada Livia yang menikahinya hanya untuk membalas dendam. Sementara hati Radian telah terlanjur diserahkannya pada wanita itu, baik itu Livia ataupun Leana.


Sejak saat itu mereka mencoba menjalani hidup yang ala kadarnya. Kehidupan yang serba mewah sebelumnya harus berubah 180°. Mereka kembali pada kehidupan saat sebelum Shanty menikah dengan Tn. Robert Chandra. Tinggal di rumah kontrakan dengan makan dan minum seadanya. Dengan lauk yang tak mereka cicipi lagi saat menjadi keluarga Chandra.


Di sela-sela pekerjaannya yang berat sebagai karyawan biasa, Radian selalu merindukan istri dan bayinya. Sesekali datang dan bersembunyi di balik pohon besar di pinggir jalan depan rumah Livia, hanya demi menatap dari jauh istri dan anaknya.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2