Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 62 ~ Ujian Cinta ~


__ADS_3

Radian kaget saat mendapati suara wanita yang didengarnya ternyata adalah Camelia. Laki-laki itu tak menyangka Camelia akan mengikutinya hingga ke perusahaan baru berdiri yang tentu saja tak akan sanggup menggaji orang dengan gaji yang besar.


"Apa kita benar-benar butuh sekretaris Pak? Aku tidak perlu, kita bisa mengerjakan sendiri tugas sekretaris itu Pak," ucap Radian kurang setuju dengan keputusan Pak Arif menerima Camelia sebagai sekretaris di perusahaan itu.


Mengingat mereka harus menghemat biaya operasional kantor. Radian juga merasa tak nyaman jika ada perempuan bekerja di kantor yang luasnya tak lebih besar dari kamarnya di kediaman Robert Chandra.


Radian tentu saja tak menunjukkan keberatan itu di depan Camelia. Laki-laki itu mengajak Pak Arif bicara empat mata di ruangannya.


"Kita butuh sentuhan wanita Radian, setiap usaha itu butuh sentuhan wanita. Karena wanita itu ibarat bunga. Di mana ada bunga maka akan ada kumbang yang datang. Bukan untuk kita tapi untuk rekan usaha. Jika isi sebuah kantor itu isinya laki-laki semua orang tak akan tertarik untuk datang ke perusahaan kita. Apalagi dia cantik dan bersedia di gaji murah. Meski tugasnya belum terlalu banyak minimal ada yang ambilkan minum untuk kamu," ucap Arif sambil tersenyum.


"Justru itu Pak, dia … dia itu yang menunjukkan foto perselingkuhan istriku. Bapak pasti mengerti tujuannya bekerja di sini," jelas Radian.


"Oh ya? Wah seru ini," ucap Arif sambil tersenyum.


"Apa?" tanya Radian tak percaya dengan ucapan Pak Arif.


"Ini ujian cintamu. Aku juga ingin tahu seberapa besar cintamu yang katanya besar itu pada istrimu. Jika ada Camelia di sisimu, apa kamu bisa bertahan dengan cintamu pada istrimu," ucap Arif sambil tertawa.


Radian bengong melihat begitu santainya bapak itu menanggapi masalah keluarganya. Radian yang getar getir jika harus berhadapan dengan muslihat Camelia tak dihiraukannya. Laki-laki itu akhirnya pasrah namun bertekad tak akan berhubungan dengan Camelia.


Gadis itu langsung menjadi idola kantor itu, para karyawan laki-laki, tak peduli belum berkeluarga ataupun sudah berkeluarga otomatis mendekat padanya. Hanya Pak Arif yang tertawa-tawa mengamati. Menurutnya Camelia seperti sedang tebar pesona namun sesungguhnya yang diincarnya tetaplah Radian.


Camelia dengan segala macam cara mencari alasan untuk masuk ke ruangan Radian. Dan setiap kali masuk itu pula Radian meminta gadis itu untuk membiarkan pintu ruangan itu terbuka. Lama kelamaan Radian merasa risih. Laki-laki itu memutuskan untuk pindah meja kerja di ruangan terbuka. Semua karyawannya langsung tertawa.


"CEO kita ini memang unik, dikasih ruangan sendiri malah ingin gabung dengan bawahan," ucap Haris sambil tertawa.


"Aku sudah bilang tidak ada CEO-CEO-an, tak apa pimpinan. Kita semua sama cuma tugas kita saja yang berbeda-beda," protes Radian.


Pak Arif tertawa, laki-laki paruh baya itu tahu pasti alasan Radian sesungguhnya. Terlihat Radian yang memindahkan laptop-nya di samping meja kerja Haris. Laki-laki itu tak mau diganggu Camelia yang bertanya ini itu padanya di ruangannya dulu.


"Yey ada calon customer Bang!" teriak Haris sambil mengarahkan laptop-nya pada Radian yang telah duduk di sebelahnya..


Radian mengamati perusahaan yang tertarik untuk bekerja sama dengan perusahaan mereka itu. Meski perusahaan itu tak terlalu besar namun ini adalah langkah awal mereka untuk dikenal di dunia bisnis.


"Semoga berhasil Ris, semoga mencapai kesepakatan," ucap Radian menepuk bahu Haris.


Laki-laki itu tersenyum dan kembali bekerja. Semua kembali tenggelam dalam tugas masing-masing. Hanya Camelia yang tak melakukan tugas apa pun dan Pak Arif yang sesekali mengamati gadis itu.


Camelia jelas agak bosan karena tak melakukan apa-apa. Juga tak bisa menggoda Radian yang telah bergabung dengan karyawan yang lainnya. Gadis itu akhirnya mencari kesibukan dengan ponselnya, melihat gaun-gaun model terbaru.

__ADS_1


Setelah jam kantor habis gadis itu tak kunjung berangkat pulang. Sementara para karyawan lain telah pulang ke rumah masing-masing hanya tertinggal Radian, Haris dan Yanto.


"Kamu tidak pulang?" tanya Radian pada Camelia yang sepertinya masih belum berniat untuk pulang.


"Nanti! Aku ingin pulang sama Kak Radian," jawab Camelia.


Radian membuang muka kesal, entah berapa kali meminta gadis itu tak memanggilnya dengan sebutan itu tapi Camelia tetap keras kepala.


"Aku tidak pulang ke mana-mana. Aku tinggal di sini," jawab Radian.


"Apa? Jangan bohong!" seru Camelia.


"Nggak bohong, Bang Radian memang tinggal di sini. Kami bertiga memang tinggal di ruko ini," jelas Haris.


"Gimana? Apa takut pulang sendiri? Sampai-sampai nunggu Bang Radian antar pulang. Kalau aku yang antar pulang gimana?" tanya Yanto.


"Nggak! Nggak usah!" sahut Camelia.


Kedua laki-laki itu tertawa melihat Camelia yang bergegas pulang. Sementara Radian hanya tersenyum tapi tertahan. Laki-laki itu lega karena gadis itu akhirnya pergi juga dari hadapannya.


Sementara itu Camelia melangkah dengan hati kesal. Berharap bisa pulang bersama dengan laki-laki pujaannya namun justru pulang sendiri di saat hari sudah sangat sore.


"Bang Radian! Positif Bang! Perusahaan ini pilih perusahaan kita. Dalam waktu dekat mereka ingin adakan pertemuan dengan Abang," ucap Haris.


"Baiklah! Kalau begitu siapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Yanto! Tolong siapkan presentasi dalam bentuk flashdisk dan handout-nya ya," pinta Radian.


"Siap Bang, sebentar juga jadi, nanti Abang periksa lagi," jawab Yanto.


Radian mengangguk, lalu berdiri dan melangkah ke ruangannya. Laki-laki itu berdoa dan bersyukur.


Semoga presentasi besok berjalan lancar, batin Radian.


Laki-laki itu tersenyum dan segera membuka layar ponselnya. Terlihat laki-laki itu sedang membuka foto profil istri dan anaknya.


Aku menyesal dulu tak sering-sering mengambil fotomu. Sekarang aku hanya bisa menatap foto profil ini. Mudah-mudahan kamu tak menggantinya. Agar aku bisa terus memandangimu. Bersabarlah ya sayang setelah aku sukses dengan kerja sama satu ini, aku akan langsung menemuimu, batin Radian sambil mengecup foto profil yang telah diperbesar itu.


Radian baru saja akan keluar saat Camelia tiba-tiba masuk.


"Biasakan mengetuk pintu," ucap laki-laki itu hendak melangkah keluar ruangan.

__ADS_1


Namun Camelia justru menutup pintu itu dan menguncinya. Lebih parah lagi, gadis itu mengambil kunci itu dan menyelipkannya di dalam blouse-nya. Radian berusaha bersikap tenang meski dalam hati begitu panik. Entah apa rencana gadis itu.


"Aku ingin menyerahkan diri padamu, aku hanya mencintaimu. Kak Radian harus menjadi milikku," ucap gadis itu sambil melepas kancing blouse-nya.


"Aku sudah menjadi milik istriku, aku mencintainya sejak aku mengenal cinta. Perasaanku padanya tak akan mudah goyah," ucap Radian.


"Oh ya? Tak mudah goyah? Dengan foto-foto itu saja Kakak sudah memutuskan keluar dari perusahaan Tn. Ezra. Dan sekarang tinggal di ruko ini. Apa itu bukan tanda-tanda cintamu sudah goyah padanya?" tanya Camelia.


"Aku hanya ingin fokus pada usaha baru kami. Setelah itu, aku akan kembali padanya," jawab Radian sambil memalingkan wajahnya karena wanita itu telah melepas blouse-nya.


"Coba pandangi aku? Apa kamu bisa bertahan tetap mencintai istrimu setelah melihatku?" tanya Camelia.


Yang tentu saja tak diikuti oleh Radian.


Bagaimana ini? Bagaimana caraku bebas dari ruangan ini. Perempuan ini gila, jika dia melepas semua pakaiannya bagaimana ini? Aku tak mau ada fitnah, batin Radian.


Entah apa yang menggerakkannya, laki-laki itu langsung menggedor-gedor pintu itu.


"Kenapa Bang!" terdengar suara Yanto menyahut.


"Kamu punya kunci cadangan kamar ini 'kan? Tolong bukakan, di sini macet!" teriak Radian.


"Ya! Tunggu sebentar!" seru Yanto.


Mendengar itu Camelia buru-buru mengenakan kembali blouse bahkan rok yang telah terlanjur di bukanya. Wanita itu segera membuka pintu dengan kunci yang ada padanya dan langsung melangkah dengan cepat keluar ruangan.


"Emang kamu pegang kunci cadangannya?" bisik Radian.


"Nggak ada Bang. Cuma satu set itu, kalau mau kita bikin sendiri. Tadi itu emergency 'kan?" tanya  Yanto juga dengan cara berbisik.


Radian mengangguk sambil tersenyum. Laki-laki itu kangum dengan kecerdasan Yanto cepat mengantisipasi keadaan. Tak lupa laki-laki itu berterima kasih pada anak muda itu.


Radian duduk di meja di samping Haris. Matanya menatap laptop namun pikirannya melayang pada kejadian tadi. Hari ini laki-laki itu bisa lolos dari godaan Camelia entah suatu saat nanti. Radian menoleh pada Pak Arif, bapak paruh baya itu mengangguk menujukkan rasa bangga.


Ini ujian cinta, benarkah? Apa aku telah lulus? Batin Radian membalas senyuman Pak Arif.


Radian menganggap itu adalah ujian cinta pertamanya dan melihat Pak Arif yang mengangguk, Radian merasa kalau dia telah memenangkan ujian cinta pertama itu.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2