
Monica menaruh curiga pada Leana namun rasa cinta Radian pada Leana membuatnya percaya istrinya bukanlah wanita yang jahat. Laki-laki itu membela Leana di depan ibu dan adiknya. Namun, meski menunjukkan rasa percaya dan tak menaruh curiga pada Leana, diam-diam Radian mulai menyelidiki siapa Leana sesungguhnya.
Radian masih termenung di meja kerjanya saat tiba-tiba laki-laki itu mendengar ketukan pintu. Syasko, personal assistant-nya masuk setelah Radian mempersilahkan laki-laki itu masuk. Seperti yang telah ditugaskan padanya, Syasko menyerahkan bukti jati diri Leana.
"Anak gadis Dr. Djamal sebenarnya sudah meninggal?" tanya Radian heran.
"Benar Tuan, masih sangat muda karena kanker," jelas Syasko.
"Tapi wajahnya benar-benar mirip dengan Leana," ucap laki-laki itu heran.
Radian menatap foto wajah putri kandung Dr. Djamal di hadapannya.
"Dr. Djamal adalah dokter bedah plastik yang sangat handal. Orang-orang disekitarnya berkata beliau sangat terpukul dengan kematian putrinya. Mereka berasumsi, Dr. Djamal sangat terobsesi mencari pengganti putrinya yang telah meninggal dengan melakukan rekonstruksi wajah yang menyerupai wajah putrinya," jelas Syasko.
"Dokter bedah plastik? Beliau yang melakukannya sendiri?" tanya Radian kembali terheran-heran.
"Beliau melakukannya bersama-sama dengan tim dokter bedah plastik di Seoul. Menurut informasi, anak gadis yang dijadikan anak angkatnya itu mengalami kecelakaan parah hingga merusak wajahnya. Dr. Djamal merasa kasihan karena anak itu hanya tinggal sebatang kara karena tak mengetahui seperti apa wajah aslinya, dokter itu memakai struktur wajah putrinya sebagai wajah baru dari anak angkatnya," jelas Syasko.
"Berarti wajah asli Leana tidak seperti ini?" tanya Radian.
Personal assistant itu mengangguk.
"Kenapa dia tidak cerita padaku yang sesungguhnya?" tanya Radian berbicara sendiri.
Hatinya terguncang, hampir setahun mereka menikah. Leana sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda ingin mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya.
Apa patut aku mencurigainya? Selama ini dia selalu menjadi istri, menantu dan Kakak ipar yang baik bagi kami? Tapi dengan wajahnya yang sekarang, aku jadi merasa kalau semua hanyalah kepalsuan. Begitu juga dengan apa yang dilakukannya selama ini pada keluargaku. Apa dia sengaja, ingin menguasai harta kami. Meski di depan keluarga aku membelanya tapi … apa memang seperti ini sebuah keluarga, menolong lalu menguasai hartanya? Apa pernikahan kami sungguh-sungguh? Atau ini juga hanya sebuah kepalsuan? Batin Radian bertanya-tanya.
Sekuat apa pun Radian mencoba untuk mencari jawaban, laki-laki itu tak menemukan satu pun. Saat tiba di rumah, Radian hanya bisa menatap istrinya yang datang menyambutnya dengan senyumannya yang khas.
Aku jatuh cinta dengan senyuman itu, senyum yang mirip dengan senyum Livia. Harusnya aku tidak seperti itu, hanya karena matanya yang menyipit seperti Livia saat tersenyum, aku melamarnya? Seperti apa dia sebenarnya, seperti apa wajah aslinya. Apa mungkin dia sudah mengenalku sebelumnya? Apa semua ini rencananya? Mendekatiku, membuatku jatuh cinta lalu menguasai semuanya? Batin Radian kembali bertanya-tanya.
"Ada apa Kak, kenapa memandangku seperti itu? Mommy baik-baik saja 'kan?" tanya Leana.
Apa kamu tulus bertanya seperti itu? Tuluskah mengkhawatirkan Mommy-ku? Batin Radian.
"Mommy sudah lebih baik, Mommy bahkan sudah bicara," jawab Radian.
"Benarkah? Kalau begitu nanti malam giliran aku menemaninya?"
"Tidak usah," jawab Radian langsung.
Leana kaget, senyum diwajahnya langsung menghilang. Merasa heran karena Radian melarangnya untuk menginap di rumah sakit menemani ibu mertuanya. Padahal selama ini Radian selalu merasa senang jika Istrinya itu bersedia menggantikan mereka menjaga ibunya.
"Kenapa?" tanya Leana.
"Tidak apa-apa," jawab Radian dan langsung melangkah masuk ke kamarnya.
Leana menyusul ke kamar lalu membantu suaminya berganti pakaian.
__ADS_1
"Kakak ingin mandi? Aku siapkan air hangat ya," ucap Leana.
"Tidak usah!" jawab Radian.
Leana tercenung, merasa heran karena apa yang ditawarkannya selalu ditolak Radian.
"Kak, ada apa?" tanya Leana.
"Apa? Kenapa?" tanya laki-laki itu terlihat tak acuh.
"Apa yang terjadi? Kenapa Kakak seperti itu? Kenapa selalu menolak tawaranku?" tanya Leana untuk menghilangkan rasa penasaran di hatinya.
"Tidak apa-apa. Tapi … aku heran, kenapa aku harus menerima tawaranmu?" tanya Radian membalik badan dan menatap Leana.
Wanita itu merasa benar-benar telah terjadi sesuatu. Selama ini sikap Radian tak pernah seperti itu. Laki-laki itu akan langsung bersikap mesra dan menerima semua yang ditawarkannya. Namun sekarang jangankan sikap mesra, Radian seperti tak mau menerima apa pun darinya.
"Baiklah! Memang tidak harus menerima tawaranku. Aku jadi menyesal menawarkan diri. Memang tak perlu peduli dengan perasaanku," ucap Leana lalu membanting jas Radian yang sejak tadi di pegangnya ke lantai.
Wanita itu melangkah meninggalkan kamar itu.
"LEANA!"
Langkah kaki Leana terhenti, mendengar suara bentakan Radian namun tak berminat membalik badan untuk menatap suaminya itu.
"Aku hanya … ada sedikit masalah di kantor, kamu juga tidak perlu bersusah payah menemani Mommy. Kehamilanmu sudah menunggu hari sebaiknya di rumah saja. Jangan sampai membuatmu lelah," ucap Radian akhirnya memberi alasan dengan suara yang melunak.
"Ada masalah apa? Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Leana.
Radian menatap wajah Leana yang mendekat padanya. Laki-laki itu tak melihat raut pura-pura di wajah cantik istrinya itu.
Memang sudah menjadi sifatnya selalu ingin membantu, tapi apa selalu ada imbalan dari setiap bantuannya itu? Batin Radian.
"Apa yang ada dalam pikiran Kakak? Apa yang sebenarnya ingin Kakak tanyakan? Jika ada sesuatu yang meragukan tentang aku sebaiknya tanyakan langsung padaku. Jangan hanya bertanya di dalam hati. Aku tidak yakin jika ini hanya masalah kantor. Kakak biasanya akan langsung cerita padaku, meminta pendapatku. Kakak tidak pernah menutupi apa pun masalah yang terjadi di kantor apalagi hingga menolak tawaranku," tutur Leana akhirnya.
Wanita itu tidak tahan lagi, melihat Radian yang selalu termenung setiap kali diajak bicara. Leana merasa suaminya memiliki masalah yang mengganggu pikirannya namun tak ingin diungkapkannya.
"Katakan terus terang, apa yang ingin Kakak tanyakan? Aku akan menjawabnya,"
"Tidak ada apa-apa," jawab Radian sambil menunduk.
Setengah hatinya ingin bertanya tapi tak ingin menyakiti perasaan istrinya. Radian tak tega membongkar sesuatu yang disimpan Leana.
"Begitu sulit mengatakannya? Apa Kakak sudah menemukan seseorang yang lebih baik dariku? Tidak perlu menunggu aku lumpuh bukan? Hanya perut buncit dan badan bertambah gemuk. Aku sudah ingin ditinggalkan," ucap Leana.
"Kamu tahu, aku tidak seperti itu."
"Tidak! Aku tidak tahu. Aku tidak tahu Kakak orang yang seperti apa. Kita mengenal belum terlalu lama, Kakak langsung melamarku. Sekarang apa Kakak menyesal? Tidak apa-apa, katakan saja terus terang. Aku tidak akan memaksamu untuk tetap bersamaku," ucap Leana dengan mata yang berkaca-kaca.
Leana tak pernah menangis di hadapan Radian sebelumnya namun sekarang air matanya hampir tumpah. Leana membalik badan tak ingin laki-laki itu melihat tangisnya. Radian memeluk Leana dari belakang.
__ADS_1
"Aku tidak seperti itu Leana, aku tidak inginkan wanita lain. Aku sangat mencintaimu, sedikit pun aku tidak menyesal. Aku bahagia bersamamu tapi …." ucap Radian terhenti.
"Apa? Kenapa berhenti? Katakan saja terus terang, aku siap mendengarnya," tanya Leana dengan suara yang jelas penasaran.
"Aku … aku tidak tahu harus memulai dari mana. Aku ingin tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Kenapa kamu tidak cerita kalau Dr. Djamal bukanlah ayah kandungmu?" tanya Radian lalu membalik tubuh istrinya menghadap ke arahnya.
"Apa itu penting? Jika aku bukan putri kandung Daddy, Kakak tidak jadi melamarku? Kita tidak jadi menikah? Apa asal usul keluarga itu penting bagi Kakak? Apa Mommy ingin kita berpisah? Kalau begitu aku akan menjawabnya. Aku memang bukan anak kandung Dr. Djamal. Aku anak malang yang hanya sebatang kara, kedua orang tuaku telah meninggal dan keluarga tiriku ingin membunuhku," ucap Leana kali ini tak mampu menahan tangisnya.
Leana terpaksa mengungkit tentang keluarganya dan itu sangat menyakiti hatinya.
"Apa itu sebuah cerita yang bisa dibanggakan hingga aku harus menceritakannya kalian? Sudahlah! Jika keluarga ini tidak bisa menerima anak terbuang seperti aku. Cukup katakan saja maka aku akan pergi dari sini," ucap Leana sambil berbalik hendak pergi.
"LEANA!" teriak Radian menghentikannya.
Laki-laki itu meraih tangan Leana namun wanita itu langsung menepisnya. Radian tetap meraih tangan istrinya. Lagi-lagi wanita itu ingin menepisnya namun Leana tiba-tiba merasakan sakit di perutnya. Wanita itu hingga tak mampu berdiri. Perlahan jatuh berlutut.
"LEANA KAMU KENAPA?" jerit Radian panik.
Air mengalir dari sela paha wanita itu, Radian langsung menggendong istrinya berjalan menuju garasi mobil.
"Nyonya kenapa Tuan?" tanya seorang pelayan sambil berteriak.
"Entahlah Bi, aku akan membawanya ke rumah sakit," jawab Radian.
"Oh ya ampun, Nyonya Leana akan melahirkan Tuan. Ketubannya sudah pecah," ucap pelayan itu saat melihat air yang menetes dari sela paha Leana.
"Benarkah? Tapi sekarang belum waktunya," ucap Radian semakin panik lalu mempercepat langkahnya.
Segera laki-laki itu melajukan mobilnya ke rumah sakit. Leana segera di tangani oleh tenaga medis. Radian tidak tega melihat istrinya yang merintih kesakitan. Laki-laki itu merasa bersalah karena menyebabkan Leana sedih hingga terguncang.
Radian menunggu hingga tiga jam di luar ruangan persalinan. Laki-laki tak mampu mendengar suara istrinya yang merintih bahkan mengerang. Radian tak henti-hentinya berdoa agar persalinan istrinya berjalan normal dan lancar. Bahkan untuk menelpon Monica pun tak sempat lagi, Radian hanya ingin khusyuk berdoa.
Bukan apa-apa, karena ketakutan akan apa yang terjadi pada ibu Leana mulai membayanginya. Laki-laki itu terus berdoa hingga satu jam kemudian pintu ruangan terbuka dan tenaga medis keluar dari ruang persalinan itu
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dokter?" tanya Radian pada dokter kandungan wanita itu.
"Istri dan bayi, ada dalam keadaan sehat dan baik-baik saja," ucap dokter itu sambil tersenyum.
Radian langsung bersyukur mendengar ucapan dokter itu. Dokter itu mengangguk dan meminta diri setelah mengatakan Leana akan dipindahkan ke ruang rawat inap dan Radian bisa menemui Leana di sana. Tak lama kemudian Radian menemui Leana yang sedang menyusui bayinya di ruang rawat inap itu.
Radian langsung duduk di ranjang rumah sakit itu dan mencium kening istrinya. Sementara Leana hanya memalingkan wajah dengan air mata yang mengalir di pipinya. Radian menatap istrinya yang sedang merajuk itu lalu menghapus air matanya.
"Maafkan aku, tolong jangan menangis lagi. Aku mencintaimu Leana, tidak peduli asal usulmu. Aku hanya mencintaimu dan anak kita," ucap Radian sambil menarik dagu Leana agar menoleh ke arahnya.
Tak peduli asal usulmu, tak peduli seperti apa wajahmu dulu. Aku hanya akan mencintaimu karena hanya kamu yang bisa memberiku kebahagiaan, batin Radian lalu membenamkan bibirnya di bibir Leana.
Tak peduli Radian harus mencicipi rasa asin air mata Leana yang masuk ke mulutnya. Laki-laki itu terus saja memeluk dan membenamkan lidahnya lebih dalam lagi di rongga mulut Leana. Sisa isak tangis masih terasa sesekali dari tubuh wanita yang sedang memejamkan mata menikmati ciuman lembut dari suaminya itu.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1