
Radian berhasil dengan presentasinya, laki-laki itu pun berhasil menarik minat perusahaan itu untuk bekerja sama dengan perusahaannya. Setelah menandatangani kontrak kerja sama, laki-laki itu segera kembali ke kantornya. Seperti biasa laki-laki itu membuka profil istrinya.
Sambil tersenyum laki-laki itu mengecup layar ponsel itu tanpa pedulikan sekitarnya. Melakukannya hingga berkali-kali, terdengar suara tawa yang tertahan dari orang-orang dalam angkutan umum itu. Radian tersenyum malu namun sebenarnya tak peduli, karena Radian tak mengenal siapa pun di situ.
Laki-laki itu langsung menemui ibu dan adiknya di ruang rawat inap itu. Radian memeluk erat ibunya hingga membuat wanita yang melahirkannya itu merasa heran.
"Aku berhasil mendapatkan kontrak kerja sama dengan perusahaan lain Mommy. Aku bahagia sekali," ucap Radian masih memeluk ibunya.
Monica pun ikut memeluk kakaknya itu dari belakang. Perasaan Radian sangat bahagia karena kembali bekerja sesuai dengan keahliannya.
"Bagaimana rasanya? Kamu menjadi pimpinan di sebuah perusahaan kecil," tanya Shanty.
"Rasanya sama seperti memimpin di perusahaan besar Mom, karena aku memang dipilih untuk memimpin perusahaan itu. Artinya aku memang di percaya. Berbeda dengan menjadi pimpinan di perusahaan Daddy. Jabatan yang hanya diserahkan, karena hubungan keluarga. Bukan diakui karena kemampuan," jelas Radian.
"Benar! Tapi itu hanya cara kamu mendapatkan jabatan itu. Sementara kemampuan kamu memang layak mendapatkan posisi itu. Perusahaan Daddy tidak akan sebesar sekarang ini jika bukan karena kepemimpinan kamu," ucap Shanty dengan nada bangga.
"Namanya juga Kakakku Mommy, percuma kamarnya mirip perpustakaan jika nggak jenius," sahut Monica.
Radian tertawa dan mengucek rambut adiknya. Mereka semua tertawa, sementara Leana tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca di balik pintu. Wanita itu akhirnya menitipkan makanan dalam sebuah paper bag pada suster jaga. Kemudian melangkah kembali ke parkiran.
"Aku antar sekarang saja ya! Mumpung makanannya masih hangat," ucap suster jaga itu.
Segera suster itu mengantarkan paper bag besar itu ke ruang rawat inap Shanty. Dengan heran Monica menerima.
"Dari siapa?" tanya Radian.
"Dia tak menyebut nama Pak, cuma orangnya cantik," ucap suster itu.
Monica membongkar isi paper bag itu. Bermacam-macam makanan yang masih hangat dengan kotak dan merk yang bermacam-macam. Namun, saat Monica mengeluarkan Korea sandwich dari dalam paper bag itu, Radian langsung berlari keluar dari ruang rawat inap itu. Laki-laki itu berlari sambil melihat ke kanan dan ke kiri mencari-cari wanita yang dicintainya itu.
Hingga sampai di parkiran Radian tak menemukan wanita yang dicintainya itu.
Aku akan ke rumah sebentar lagi, tunggu aku ya sayang, batin Radian, putus asa mencari di area parkir yang sangat luas itu.
__ADS_1
Perlahan kembali melangkah ke ruang rawat inap ibunya. Monica langsung bertanya alasan kakaknya itu langsung berlari keluar.
"Aku ingin mencari Leana, aku rasa Leana yang menitip makanan ini pada suster itu," jawab Radian.
"Dari mana Kakak bisa yakin?" tanya Monica.
"Dari ini, ini adalah makanan kesukaan kami. Ini makanan yang menyatukan kami," ucap Radian mengangkat Korea sandwich kesukaannya.
Monica mengangguk-angguk, beruntung gadis itu tak memberikannya pada suster itu. Karena ibunya meminta Monica membagikan juga makanan itu untuk suster jaga.
Radian menghela nafas berat, laki-laki itu begitu kecewa karena tak bisa menemukan wanita yang dicintainya. Satu-satunya yang bisa meringankan rasa kecewanya adalah menikmati Korean sandwich itu sambil mengingat kenangan mereka. Perlahan menikmati makanan itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jika kamu rindu padanya, temuilah dia. Minta maaflah padanya dan berjanji akan selalu mempercayainya," ujar Shanty.
Radian mengangguk pelan, laki-laki masih terus menikmati makanan itu dengan perlahan. Menikmati setiap gigitan. Radian pun pamit untuk menemui Leana di rumahnya.
"Tuan? Ada apa Tuan ke sini?" tanya pelayan itu.
"Untuk bertemu dengan istriku tentu saja," jawab Radian yang tak tahan ingin segera menemui Leana.
"New York?--"
"Bukan Tuan yang lain lagi,"
"New Zealand?" tanya Radian.
"Ah, ya ya benar Tuan, New Zealand. Nyonya Leana pergi bersama Dr. Djamal dan Revano," jelas pelayan itu.
"Apa? Tidak mungkin, tadi Leana masih mengirim makanan ke rumah sakit," jawab Radian gusar.
Laki-laki itu langsung menerobos masuk ke dalam. Memanggil-manggil nama istrinya.
"Livia! Livia! Livia aku datang, kamu di mana? Keluarlah! Temui aku! Maafkan aku Livia! Maafkan aku sayang! Keluarlah! Jangan bersembunyi, ayolah! Aku capek mencarimu!" jerit Radian kembali berlari ke sana kemari mencari Leana dari satu ruangan ke ruangan yang lain.
__ADS_1
Laki-laki itu bahkan memeriksa hingga ke seluruh kamar tidur dan kamar mandi. Tak lupa ke beranda belakang dan taman. Laki-laki itu letih mencari. Bukan letih tubuhnya namun letih hatinya. Laki-laki itu menyesal menunda untuk mencari Leana. Karena sekarang rasanya tak mungkin lagi menemukannya.
Leana pergi karena putus asa dan pasrah dengan pernikahannya. Mengikuti saran ayah angkatnya yang melihat putrinya itu butuh suasana baru dalam hidupnya.
"Daddy punya kenalan di New Zealand, di situ kamu bisa beristirahat dan melepaskan diri dari beban hidupmu. Hidup tak selalu berjalan sesuai dengan rencana. Kita tak boleh terlalu memaksakan. Ada kalanya kita pasrah, mundur dan mencari jalan lain agar tetap bisa bertahan. Kamu harus yakin akan menemukan kebahagiaanmu suatu saat nanti," nasehat Djamal pada putrinya yang menangis di dadanya.
Dokter yang telah tua itu menawarkan diri untuk menemani putrinya yang seperti kehilangan semangat hidup. Leana menyetujui, mereka pun bersiap-siap berangkat ke negara yang terkenal dengan pemandangannya yang menakjubkan itu. Namun sesaat sebelum berangkat Leana meminta izin pada ayahnya untuk pamit pada mertuanya. Dr. Djamal menyetujui.
Sebelum perjalanan menuju bandara Leana mampir membeli bermacam-macam makanan. Saat melihat Korean sandwich wanita tersenyum sedih dan memesan beberapa pieces. Ada rasa ragu-ragu tiba-tiba merasuki hatinya. Leana takut jika melihat keluarga suaminya itu, Leana urung berangkat namun saat melihat mereka bersama Radian yang tersenyum bahagia. Hati wanita itu terasa teriris. Merasa hidup mereka bahagia tanpanya, Leana segera memutuskan untuk pergi setelah menitipkan makanan itu pada suster jaga.
Dengan air mata yang berderai, Leana berlari menuju mobil yang menunggunya untuk mengantarkan mereka ke bandara.
Radian terduduk di lantai, menyesali keputusannya yang menunda untuk bertemu dengan istrinya.
Cinta itu memaafkan, setelah mendengar itu harus aku langsung mencarimu. Mestinya aku percaya padamu, tidak … tak percaya pun aku harus tetap memaafkanmu. Aku mencintaimu, harusnya aku memaafkan apa pun kesalahanmu. Harusnya aku memaafkanmu karena cinta itu memaafkan. Kamu juga harus memaafkan aku Leana, bukannya pergi, bukan pergi, jangan pergi, batin Radian menangis.
Dengan perasaan sedih laki-laki itu kembali ke rumah toko kontrakannya itu. Seluruh karyawan menanti hasil pertemuan Radian dengan perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan mereka. Namun saat melihat raut wajah murung itu para karyawan pun menilai kontrak kerja sama mereka batal.
Tak ada yang berani menyinggung hal itu, mereka pasrah dan kembali bekerja. Pak Arif menepuk bahu Radian agar bersabar dan tidak gampang putus asa. Dan mengajak laki-laki itu bekerja dan belajar lebih giat lagi.
"Kegagalan adalah sukses yang tertunda. Ini baru penawaran pertama kita, masih banyak kesempatan yang lain percayalah," ucap Arif menasehati.
"Gagal? Siapa yang gagal?" tanya Radian dengan raut wajah serius.
Haris dan Yanto serta yang lainnya langsung menoleh ke arah Radian. Laki-laki itu pun seperti baru sadar kalau telah sampai di kantornya. Dia sendiri heran dengan tingkah orang-orang di kantor itu yang seperti kecewa.
"Bang! Bukannya kontrak kerja sama ini gagal?" tanya Haris untuk memperjelas situasi.
"Tidak, aku berhasil mendapatkan kontrak itu. Siapa yang gagal?--"
"Serius Bang?" tanya Yanto.
Radian mengangguk sambil menunjuk amplop coklat besar berisi kontrak kerja sama yang telah ditandatangani utusan perusahaan. Haris langsung membuka amplop besar itu dan melihat dengan jelas kontrak itu telah bertanda tangan kedua belah pihak. Laki-laki itu langsung berteriak girang.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...