
Leana membalik lembar demi lembar buku harian yang telah lama di tak dilihatnya itu. Tersenyum mengingat saat-saat dirinya menulis kenangan-kenangan indah. Kemudian bersedih saat wanita itu mengingat saat kejadian-kejadian yang menyedihkan.
Sebagian besar cerita yang tertulis dalam buku harian itu terukir nama Radian. Saat laki-laki itu melahap habis sandwich buatannya. Saat laki-laki itu menghentikan kekerasan yang di lakukan Monica padanya, dan yang paling berkesan bagi Leana adalah saat laki-laki itu terlihat mondar-mandir sambil menatap buku karena pintu kamarnya yang tak tertutup rapat.
Gadis itu menoleh tanpa sengaja ke dalam kamar Radian yang bersebelahan dengan kamarnya. Terlihat laki-laki itu sedang tekun membaca sebuah buku. Leana yang saat itu masih bernama Livia tanpa sadar berdiri di depan pintu kamar seperti tersihir untuk terus menatap kakak tirinya itu. Tak henti-hentinya mengagumi ketekunannya belajar dan tentu juga mengagumi ketampanannya.
Tanpa sengaja Radian menoleh ke arah pintu. Laki-laki itu terpaku karena mendapati Livia sedang berdiri menatapnya. Livia yang kepergok langsung menampilkan senyum khasnya. Namun, jangankan menyapa atau bertanya, laki-laki itu langsung menutup pintu dengan cepatnya.
Livia termangu lalu melangkah ke kamarnya saat itu Livia langsung menulis kejadian itu dalam buku hariannya.
~ Kakakku Radian sedang belajar. Kakak orang yang sangat rajin, cerdas dan tampan tapi pelit. Jangankan diizinkan masuk ke kamarnya, melihatnya dari luar saja tidak boleh. Hihihi... pasti banyak gadis-gadis yang suka padanya ~
Leana tersenyum saat mengingat masa itu kemudian membalik halaman berikutnya. Terus membaca hingga akhirnya hal-hal menyedihkan mulai sering ditulis dalam setiap lembarnya.
__ADS_1
Rasa prihatin dan sedih Livia melihat kondisi perusahaan ayahnya yang mulai mengalami kesulitan hingga akhirnya kecelakaan yang merusak wajahnya. Livia mulai menulis kisah-kisah sedih itu di dalam buku hariannya.
~ Kak Radian tak mau melihatku, dia selalu memalingkan wajahnya setiap kali ada aku disekitarnya. Kak Radian benci padaku, adiknya yang jelek ini. Aku sendirian, tak ada yang sayang padaku, tak ada yang sayang pada adik yang jelek ini. ~
Leana menitikkan air mata saat mengenang masa itu. Namun, Leana melihat sejumlah simbol bintang di sudut tulisan Livia.
Simbol apa ini? Untuk apa aku menulis ini? Tanda bintang dan anak panah? batin Leana bertanya-tanya lalu membalik lembaran buku harian itu dengan cepat hingga akhirnya melihat tanda anak panah dan sejumlah simbol bintang.
Ini bukan tulisanku, apa Kak Radian yang menulis? Apa maksudnya ini? batin Leana kembali bertanya-tanya.
Leana menangis tersedu-sedu, membaca balasan dari curahan hatinya. Tak hanya satu, Radian membalas semua curahan hati Livia. Menjawab semua pemikiran gadis itu yang dianggapnya salah. Radian menyayangi adiknya meski tak pernah menunjukkannya.
Leana tertawa sambil menangis saat membaca balasan curahan hati Livia yang lainnya.
__ADS_1
~ Terima kasih atas pujianmu adikku sayang, aku memang suka membaca tapi aku tidak akan konsentrasi jika kamu mengintipku. Bagaimana aku bisa belajar jika kamu menatapku seperti itu. Apa kamu tahu? Aku menahan debar jantungku setelah menutup pintu. Apa kamu tahu, yang kamu lakukan itu membuat hatiku berdebar-debar? Memang banyak gadis yang suka padaku, tapi Kakak cuma suka gadis yang satu itu. Gadis yang selalu tersenyum setiap kali Kakak melihatnya meski dia merasa letih dengan pekerjaannya. Gadis yang tak pernah mengeluh, meski diperlakukan tidak adil di rumahnya. Gadis yang selalu menangis di balkon kamarnya tapi tak pernah menyalahkan siapa-siapa, hanya mengadu merindukan ayahnya. Gadis yang sudah pergi meninggalkan Kakaknya dan membiarkan Kakaknya hidup dengan rasa menyesal. ~
Leana menutup mulutnya untuk menahan tangisnya yang sesenggukan. Para pelayan yang masih sibuk mengumpulkan buku, hanya bisa menatapnya dengan rasa iba. Hati Leana tak sanggup lagi menahan kesedihannya saat melihat tulisan Radian di akhir tulisannya.
~ Meski kamu tak lagi di sisi Kakak tapi Kakak akan tetap sayang dan cinta sama kamu, Livia. ~
Leana memeluk buku harian itu, dalam hati merasa yakin Radian sungguh-sungguh mencintainya. Setelah membaca isi hati Radian yang tertuang dalam buku hariannya itu. Laki-laki itu menjawab semua ungkapan hatinya meski dia telah dinyatakan tiada.
Radian tetap mencintai adik tirinya meski sudah dinyatakan meninggal dunia. Cinta Radian terbukti dengan tak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun hingga akhirnya kembali bertemu dengan Livia yang dikenal dengan nama Leana.
"Maaf Nyonya, ada telepon," ucap seorang pelayan.
Leana menghapus air matanya dan segera menerima panggilan telepon itu. Saat mendengar kabar dari teman kerja Radian, air matanya yang tadi telah terhapus kini kembali mengalir. Leana terguncang, tak mampu lagi menggenggam ponselnya hingga terlepas begitu saja. Leana lunglai setelah mendengar berita Radian yang kecelakaan dan kritis di rumah sakit.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...