Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 124 ~ Beda Kasta ~


__ADS_3

Radian mendapat izin untuk ikut menemani sang istri menunggu putra mereka yang baru merasakan hari-hari pertama bersekolah. Saat menjelang pagi Radian terbangun dan memastikan kalau dirinya akan ikut ke sekolah Revano hari ini. Namun, saat menatap wajah damai istrinya, yang tak tersirat keberatan dari raut wajah itu, membuat Radian yakin tak terjadi hubungan apa-apa antara Leana dan wali murid itu.


Terlebih setelah mereka bercinta. Radian merasakan Leana yang begitu maksimal melayaninya. Radian hingga merasakan nikmatnya bercinta itu hingga berkali-kali. Leana dengan bahagia mengikuti keinginannya. 


Sepertinya tidak terjadi apa-apa. Apa perlu aku ikut dengan mereka? Apa perlu aku setakut ini? Kenapa aku merasa dia sama sekali tidak berpura-pura. Sayang, kamu masih milikku kan? Hatimu masih milikku, benar kan? Batin Radian bertanya-tanya sambil menatap wajah yang tertidur di sampingnya itu.


Radian tak tahan ingin mengecup istrinya . Perlahan mendekat dan menempelkan bibirnya ke bibir wanita cantik itu. Berniat hanya melakukan sekali tetapi akhirnya kembali dilakukannya. Untuk yang kedua kalinya Radian merasa sesuatu menyentuh pipinya dan bibir itu terasa menyambutnya.


"Mau sekali lagi?" tanya Leana yang masih memejamkan mata.


"Jangan sayang, nanti kamu kelelahan–"


"Kamu?"


"Ya baiklah … kita," jawab Radian.


Leana tertawa. Masih menangkup wajah suaminya. Leana membuka matanya dan tersenyum sambil tetap berbaring di bawah suaminya.


"Kakak jadi ikut bersama kami?" tanya Leana.


"Kamu keberatan?" tanya Radian, entah kenapa masih ingin memancing rasa keberatan Leana.


"Nggak, kenapa harus keberatan?" tanya Leana.

__ADS_1


Wanita itu ingin menceritakan tentang Dean. Berharap jika Dean bertemu dengan suaminya, mereka akan ikut berbincang-bincang akrab. Namun, Leana tak yakin Dean akan datang dan menunggui putrinya hingga Leana urung bercerita. Wanita itu takut suaminya telah bersemangat ikut tetapi Dean tak datang.


Radian memutuskan untuk ikut dan itu artinya Radian tidak masuk bekerja. Saat mendengar ayahnya akan ikut menemani, Revano sangat senang. Perasaan yang berbanding terbalik dengan perasaan Salsa. Baby sitter itu berharap akan terjadi perang tadi malam atau minimal pagi ini.


Namun, yang dilihatnya justru pasangan suami istri itu semakin mesra. Mereka berencana pergi bersama-sama menunggui putra mereka. Dengan ikutnya Radian ke sekolah, Salsa justru tak diajak. Leana bisa menggendong bayinya sendiri dan Radian yang mengemudi.


Apa yang terjadi pada mereka? Tuan Radian tidak marah istrinya akrab dengan laki-laki lain? Kenapa tidak ada perang sama sekali? Kenapa justru malah semakin ingin bersama? Oh nggak! Mungkin saat ini Tuan Radian justru ikut karena ingin tahu siapa laki-laki di foto itu. Dia pasti ingin menyelidiki sendiri, tapi aku sangat ingin tahu apa yang dilakukannya saat bertemu. Kenapa malah aku tidak boleh ikut, batin Salsa.


Terlihat mereka berangkat bersama-sama. Leana Duduk di bangku penumpang bagian depan bersama bayi mereka dan Revano di bangku belakang. Terlihat semua ceria, jauh dari perkiraan Salsa.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Shanty melihat Salsa mengintip ke melalui kaca samping pintu besar.


"Nggak nyonya besar sedang liat Revano dan Revani mau berangkat sekolah," jawab Salsa.


"Kamu nggak diajak harusnya senang, bisa bersantai di rumah sementara bayinya diasuh ibunya," ucap Shanty yang justru heran melihat wajah cemberut Salsa.


"Sana ngobrol sama yang lainnya," ucap Shanty.


"Ya nyonya," ucap Salsa lalu segera pergi dari tempat itu.


Ih dasar nenek sihir ingin ikut campur urusan orang saja. Mau aku ngapain kek, apa urusanmu? Aku mau berdiri di sana di sini, lihat sana lihat sini, mau apa? Dasar kepo ingin tahu urusan orang. Tak bisa lihat orang senang, batin Salsa yang berbanding terbalik dengan wajahnya yang tersenyum.


Berlalu dari hadapan Shanty dan bergabung dengan para pelayan lainnya. Terpaksa berbincang-bincang dengan orang-orang yang tak selevel dengannya. Meski Ratih juga berada di situ, meski Ratih adalah ibu sambung dari Radian tapi bagi Salsa, Ratih hanyalah gembel yang sedang menumpang di rumah itu.

__ADS_1


"Kamu nggak ikut hari ini?" sapa Ratih.


Salsa malas menjawab. Karena sudah jelas saat ini masih berada di rumah. Ratih justru malah bertanya. Sikap Salsa seolah-olah tak mendengar pertanyaan Ratih. Para pelayan jadi agak kesal melihat kesombongan Salsa. Setiap hari tak mau bergabung dengan mereka.


Salsa seperti anti masuk ke dapur atau ke beranda dapur. Seolah-olah area tugasnya hanya kamar, kamar Revani dan Revano, ruang tengah saat menonton televisi atau ruang bermain anak-anak. Mereka tak berharap Salsa akan bergabung dengan mereka di dapur.


Saat Ratih menyapa Salsa, mereka justru merasa Ratih tak perlu melakukan itu. Ratih yang tak mendapat jawaban akhirnya terdiam. Beruntung pelayan yang lain langsung mengajaknya bicara. Mereka seolah-olah tak peduli dengan kehadiran Salsa di situ dan menunjukkan tak perlu mendengar jawaban dari baby sitter itu.


"Ayo Bu Ratih pilihkan lagi buahnya yang manis," ucap seorang pelayan yang tak peduli pada Salsa.


"Oh kamu ini, masih belum tahu cara pilihnya. Cari yang sudah lunak, jangan yang masih keras," ucap Ratih yang kembali larut dalam keseruan merek mencari buah-buahan yang matang.


"Enak kerja di sini ya. Majikan kita nggak sombong. Nggak pelit, mau makan apa aja nggak ada bedanya. Mau makan di mana aja nggak dilarang. Cuma kita aja yang tahu diri di mana posisi kita," ucap seorang pelayan.


"Kamu yakin kita boleh makan di mana aja? Emang makan di meja makan besar itu kita boleh?" tanya pelayan yang lain.


"Eh boleh kok, waktu itu aja, Bu Leana disuruh saya makan di situ, temani Revano makan–"


"Ya itu karena disuruh temani anak majikan juga," sahut yang lain.


"Ya artinya kita nggak dilarang amat makan di mana aja. Bu Leana nggak anti melihat kita, cuma kita aja yang harus tahu diri," ucap pelayan tadi.


"Ya, saya juga pernah diajak makan di sana temani Bu Leana. Tapi aku pilih duduk aja, nggak enak rasanya makan bareng orang kaya. Lah masakan kita dan mereka juga sama, nggak ada bedanya kenapa harus duduk makan di sana, saya jadi kikuk," ucap yang lain.

__ADS_1


Para pelayan yang lain sontak tertawa. Mengolok-olok pelayan itu tak bakat jadi orang kaya. Pelayan tadi tak peduli dan ikut tertawa. Suasana ceria para pelayan itu sama sekali tak pengaruhi suasana hati Salsa. Hatinya masih kesal karena tak bisa ikut menyaksikan pertemuan Radain dan wali murid anak itu.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2