Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 41 ~ Merelakan ~


__ADS_3

Radian langsung didatangi Camelia saat tiba di ruangannya. Laki-laki itu tak menyangka kalau Camelia mendatangi dengan amarah yang menyala-nyala.


"Katakan Kak, kenapa Kak Radian--"


"CUKUP! Beraninya kamu memanggil aku seperti itu! Aku tidak izinkan kamu memanggilku seperti itu!" bentak Radian.


"Aku … tapi kita sudah menjadi pasangan, kita--"


"Aku tidak ada hubungan apa pun denganmu. Kita tahu kalau hubungan kita itu hanya pura-pura. Aku juga tidak ada kewajiban untuk menjelaskan apa-apa padamu. Mulai sekarang kamu kembali pada posisimu, aku membatalkan kesepakatan untuk menjalin hubungan pura-pura denganmu!" ucap Radian lalu mengalihkan pandangannya pada layar laptop di hadapannya.


"Nggak! Aku nggak terima! Kakak tetap pacarku! Aku tidak mau putus!" seru Camelia.


"Kita ini tidak pacaran Camel! Aku tidak pernah menganggapmu pacarku. Dan lagi pula, aku sudah kembali pada istriku. Aku tidak akan memanfaatkanmu untuk menghindar dari istriku lagi. Aku hanya menganggapmu teman biasa, dari sejak pertama hingga sekarang. Ingatlah! Aku hanya meminta bantuan padamu. Bukan sungguh-sungguh ingin menjadikanmu pacarku," jelas Radian terpaksa menjelaskan lebih detail karena Camelia yang tak kunjung menerima kenyataan yang sebenarnya.


"Sudah bersama kembali? Secepat itu?" tanya Camelia tak percaya.


Mereka baru beberapa hari memutuskan untuk berpacaran meski itu hanya untuk pura-pura. Camelia dan Radian bahkan belum melakukan apa pun seperti layaknya orang berpacaran. Di kantor Radian tetap berlaku seperti atasannya. Di luar Radian bahkan seperti tak mengenalnya.


Camelia yang merasa begitu bahagia saat diminta menjadi pacarnya setidaknya ingin menjalani hari-hari seperti orang berpacaran lainnya. Namun, Radian benar-benar memperlakukan dirinya sebagai pacar hanya di depan Leana. Selebihnya Camelia jangan berharap.


"Ya, secepat itu. Semua berkat ucapanmu. Kamu yang mengungkit tentang perceraian itu hingga aku harus menjelaskan apa yang sebenarnya ada di dalam hatiku. Tak ada setitik pun niatku untuk menceraikannya. Mendengar ucapanmu itu dia terguncang dan aku tak ingin dia jatuh sakit karena itu. Aku paling benci membuatnya menderita karena aku sangat menyayanginya. Aku sangat mencintainya, sejak aku mengenal cinta, aku hanya mencintainya," jelas Radian lalu pergi melangkah dari ruangan itu.


Ucapan Camelia yang memaksakan kehendaknya untuk tetap memiliki hubungan khusus dengannya membuat udara di ruangan itu terasa lenyap. Dadanya terasa sesak, Radian menyesal, mengambil keputusan untuk meminta bantuan gadis itu hingga kini membuatnya terjerat oleh rencananya sendiri.

__ADS_1


Radian ingin bebas, namun ternyata hal itu tidak mudah. Camelia tak seperti yang diduganya. Dia gadis yang kukuh mempertahankan keinginannya. Tak mudah bagi Radian membuatnya melupakan begitu saja perjanjian mereka.


"Ternyata Pak Radian ada di sini? Pak Radian diminta ke ruangan Tn. Ezra, Pak," ucap seorang karyawan.


"Baiklah!" jawab Radian langsung melangkah menuju ruangan pimpinan tertinggi perusahaan itu.


Meninggalkan Camelia begitu saja. Radian sebenarnya merasa berdosa berbuat seperti itu tapi dia ingin bersikap tegas pada Camelia. Radian tak ingin bersikap manis hingga membuat gadis itu masih memiliki harapan untuk mendapatkan cintanya. Radian meminta maaf dalam hatinya karena telah bersikap kejam pada gadis yang pernah dimintai bantuannya itu.


Aku tidak akan melupakan bantuanmu. Saat aku terdesak aku memohon padamu tapi saat semua telah berlalu aku bersikap kejam padamu. Maafkan aku Camel, aku hanya memanfaatkanmu tapi kamu tahu isi hatiku, sejak awal hanya berpura-pura terhadapmu. Aku sama sekali tidak menipumu bukan? Seharusnya kamu tidak boleh sungguh-sungguh berharap padaku, batin Radian sambil melangkah menuju ruangan Ezra.


Laki-laki itu segera mengetuk pintu ruangan atasannya. Radian bertanya-tanya dalam hati, alasan dia dipanggil kali ini. Tapi Radian merasa kalau semua ini ada hubungannya dengan kepergiannya tanpa izin bersama Leana kemarin malam.


Radian masuk ke ruangan itu begitu mendapat perintah untuk masuk. Pandangan Radian mengitari ruangan karena tak menemukan Ezra di kursi kerjanya hingga akhirnya terlihat Ezra berdiri di balkon tempat biasa mereka berbincang-bincang.


"Kita hanya berdua di sini, jangan terlalu sungkan," ucap Ezra yang artinya meminta Radian untuk bersikap seperti seorang teman.


Radian hanya bisa menunduk, menganggap laki-laki dihadapannya itu sebagai atasan atau teman tetap saja pergi dari acara makan malam tanpa permisi itu tidak dibenarkan.


Begitu merasa bersalahnya Radian, hingga laki-laki itu hanya bisa pasrah. Tak berusaha mencari alasan atau memohon maaf karena sudah jelas dilakukannya dengan penuh kesadaran.


"Tidak adakah penjelasan tentang kepergianmu dengan wanita yang aku cintai kemarin malam?" tanya Ezra sambil menoleh pada Radian.


"Maafkan aku Tuan ... maaf Ezra, aku bersalah karena pergi begitu saja dari undangan makan malam itu," ucap Radian menyesal, hanya itu yang bisa diucapkannya.

__ADS_1


"Aku tak peduli dengan undangan makan malam itu. Yang menjadi masalah adalah kamu pergi bersama dengan wanita yang aku cintai--"


"Maafkan aku Ezra, tapi Leana juga wanita yang aku cintai. Dia tidak hanya sekedar wanita yang aku cintai dengan tiba-tiba. Tapi dia adalah istri dan ibu dari anakku," jelas Radian.


"Akhirnya kamu berterus terang--"


"Maafkan aku Ezra. Aku tak bermaksud menutupinya. Rumah tangga kami sedang diguncang masalah. Aku belum siap untuk menceritakannya karena aku sendiri tidak yakin kami bisa berbaikan. Aku sendiri tidak yakin kalau dia masih mencintaiku. Setelah masalah yang kami alami, setelah perkenalan kalian. Aku tidak percaya diri kalau dia masih mencintaiku apalagi untuk mengakuinya sebagai istriku," jelas Radian dengan ekspresi yang bersungguh-sungguh.


"Tapi sepertinya sekarang kalian telah berbaikan lagi," ucap Ezra.


"Ya Tuan, kami memutuskan untuk bersama lagi," ucap Radian akhirnya.


"Jadi wanita yang kamu ceritakan waktu di New York itu adalah Leana. Wanita yang membuatmu menangis bercerita dihadapanku ternyata adalah Leana," ucap Ezra.


"Ya Tuan, aku baru menyadari kalau wanita yang ingin Tuan kenalkan padaku ternyata adalah istriku sendiri," jelas Radian.


"Kamu tidak berprasangka buruk pada istrimu kalau dia ingin meninggalkanmu dengan berhubungan denganku?" tanya Ezra.


"Aku pasrah Ezra. Aku pikir dia membenciku, aku pikir dia tidak ingin lagi bersamaku. Setelah bertemu dengan laki-laki sepertimu. Aku tak punya rasa percaya diri lagi untuk bisa tetap bersamanya, tapi … kenyataanya … ternyata kami masih saling mencintai," ungkap Radian.


"Dia juga masih mencintaimu, aku tahu itu. Meski aku memohon padanya, dia tetap tak bisa menerimaku. Dia sangat mencintaimu Radian. Kamu sangat beruntung. Jagalah cinta kalian baik-baik, mungkin ini pertanda bagiku dan aku telah mengambil hikmahnya. Kalau aku tak seharusnya meninggalkan cinta sejatiku karena seorang wanita yang baru aku kenal. Aku harusnya tetap pada pendirianku, mencari dan tetap mencintai cinta pertamaku," jelas Ezra.


Radian mengangkat wajahnya dengan terperangah. Radian jelas-jelas tahu siapa yang dimaksud Ezra. Wanita yang cintai Ezra tetaplah orang yang sama dengan wanita yang baru saja di relakannya. Radian terpaku, dia tetap tak mampu untuk menceritakannya siapa jati diri Leana yang sebenarnya pada Ezra, atasannya.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2