
Camelia sampai di kantor dengan wajah kesal. Dengan kasar wanita itu meletakkan sekeranjang buah segar untuk menjenguk Radian itu di atas meja. Para office boy akhirnya membagi buah yang ditaruh begitu saja di atas meja itu.
Mereka tak peduli pada Camelia yang duduk di ruangannya seorang diri dengan wajah kesal. Begitu kesal hingga Camelia mendorong semua yang ada di depannya. Buku, kertas file dan wadah pensil pun melayang jatuh ke lantai. Seorang office boy yang bertugas di lantai kantornya itu pun langsung datang mendekat, begitu mendengar suara benda-benda yang jatuh ke lantai. Office boy yang masih muda itu menatap heran pada wanita yang sedang menelungkupkan wajahnya di atas meja itu.
Tatapan Office boy itu beralih pada benda-benda di lantai, perlahan memunguti semua barang-barang yang bergelimpangan di lantai itu. Sedikit merasa kesal karena ruangan itu baru saja selesai dibersihkannya. Dengan tatapan penuh tanda tanya office boy itu meletakkan kembali barang-barang yang berjatuhan itu di atas meja kerja Camelia.
Aku tidak akan tinggal diam, lihat saja. Suatu saat aku akan menunjukkan foto-foto itu padamu. Kamu tidak akan bisa melupakan apa yang kamu lihat ini. Aku ingin tahu, apa yang akan kamu lakukan pada istri tercintamu itu. Apa kamu masih akan mencium bekas bibir atasanmu itu? Batin Camelia lalu duduk menghadap ke depan dengan senyum di wajahnya.
Office boy yang melihat tingkah karyawan wanita itu mengernyitkan keningnya heran. Namun tak ingin berlama-lama melihat tingkah aneh Camelia, office boy itu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Leana yang malam itu kembali mendatangi ruang rawat inap suaminya setelah mengalami peristiwa traumatis di ruang kerjanya. Tak dapat menahan letih hati, tubuh dan jiwanya. Saat bertemu dengan suaminya, Leana menumpahkan kesedihannya namun tak menceritakan apa pun yang dilakukan Ezra padanya.
Leana tak ingin menambah beban pikiran suaminya, wanita itu hanya bisa menelan sendiri rasa trauma di hatinya itu. Beruntung laki-laki itu memeluknya hingga membuat hatinya menjadi tentram. Malam itu Leana tertidur di dalam pelukan suaminya. Sementara laki-laki yang sangat merindukan Leana itu, merasa bahagia hingga tak ingin melepas sedetik pun pelukannya.
Pagi sekali dokter dan perawat melakukan kunjungan sebelum pergantian shift. Radian meminta perawat itu tak membangunkan istrinya dan memeriksanya di sofa.
"Itu istrinya Pak Radian?" tanya Dokter itu pelan.
"Ya dokter," jawab Radian juga dengan suara pelan karena takut membangunkan istrinya.
"Sepertinya dia sangat mencintai Pak Radian hingga rela tidur bersempit-sempitan di ranjang yang diperuntukkan untuk satu orang. Tapi tidurnya sangat nyenyak, sepertinya dia mengalami sesuatu yang membuat hati dan tubuhnya lelah," ucap dokter itu lagi sambil mengamati Leana.
"Maaf dokter," ucap Radian yang menyesal menggunakan single bed itu untuk tidur berdua dengan istrinya.
"Tidak apa-apa, ranjang itu masih cukup kuat jika bobot istri Pak Radian dua atau tiga kali lipat dari sekarang ini," jawab dokter yang ternyata suka bercanda itu.
__ADS_1
"Tapi, dia terlihat sangat tertekan, beruntung itu tak menyerang kesehatannya," sambung dokter itu.
Radian membenarkan ucapan dokter itu namun mengira kalau letih, hati, jiwa dan tubuh Leana adalah karena sikap dan tuduhannya kemarin. Menuduh istrinya membayarnya untuk mendapatkan sebuah kepuasan. Radian menatap wajah istrinya dengan perasaan menyesal. Bahkan Dokter yang baru melihat Leana sekilas pun dapat mengetahui goncangan jiwa yang dialami Leana.
Perawat memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, lidah dan mata Radian kemudian membuat mencatat dan menyerahkan catatan itu pada dokter. Dokter itu pun mengamati catatan itu sambil mengangguk-angguk.
"Sudah Pak Radian, nanti akan diperiksa lagi oleh dokter jaga menjelang siang. Silahkan kembali menikmati tidur bersama istri," ucap dokter itu sambil tersenyum.
Radian tersenyum malu, mengira dokter itu kembali bercanda.
"Saya serius Pak Radian, rasa bahagia bisa mempercepat kesembuhan. Itu baik untuk Pak Radian dan juga untuk istri. Sebelum istri Pak Radian juga jatuh sakit lebih baik sembuhkan hatinya, dengan pelukan dan ciuman. Itu akan memberikan efek bahagia tubuh dan jiwanya," ucap dokter itu sambil tersenyum mengangguk.
Radian menoleh pada perawat yang tersenyum mendengar ucapan dokter itu. Radian mengangguk sambil tersenyum. Sebenarnya tanpa disuruh pun Radian tetap akan melakukannya karena dia begitu merindukan istrinya. Tapi setelah mendengar ucapan dokter itu hatinya menjadi menggebu-gebu untuk memeluk dan mencium istrinya.
Baiklah akan aku lakukan, kalau begitu cepatlah keluar dari sini, batin Radian yang tersenyum pada dokter dan perawat itu.
"Pelukan dan ciuman bisa menyembuhkan luka hatimu, akan aku lakukan itu. Aku akan menerapkan metode yang menyenangkan itu sampai kamu terbangun," bisik Radian tersenyum dan mulai menciumi istrinya.
Sejujurnya baginya itu adalah penyembuh rasa rindunya sendiri namun bisa membuat Leana merasa bahagia adalah prioritas utamanya. Radian memeluk Leana dan terlihat wanita itu merasa nyaman di dalam pelukan laki-laki itu. Radian pun melanjutkan ciumannya di seluruh wajah istrinya. Kening, kedua kelopak matanya, puncak hidungnya hingga berakhir di bibirnya.
Semua dilakukan Radian dengan begitu lembut dan berkali-kali. Saat itulah Camelia datang dengan membawa sekeranjang buah. Sebelum masuk ke kantor dia berencana menjenguk Radian. Laki-laki tampan itu telah menjadi penyemangatnya untuk tetap bekerja di perusahaan milik Ezra Adam itu.
Setiap hari hanya ingin menatap wajah tampan yang sedang sibuk bekerja itu. Sebagai karyawan baru, ketampanan Radian menjadi perbincangan para karyawati muda. Namun Radian terkesan acuh tak acuh pada karyawati mana pun.
Hingga saat Radian memeluknya untuk mengelabui Leana. Hati Camelia serasa terbang hingga ke awan. Pemandangan itu tak hanya dilihat oleh Ezra dan Leana, namun oleh seluruh karyawati diruangan itu. Membuat Camelia merasa telah memenangkan hati laki-laki tampan yang membuat banyak hati terluka karena pelukannya terhadap Camelia.
__ADS_1
Wanita itu juga mendapat kesempatan untuk menemani Radian makan malam, semakin membuatnya menjadi pemenang di antara karyawati yang mengincar Radian. Setiap hari membanggakan dirinya yang semakin dekat dengan idola baru kantor itu.
Kini giliran hatinya yang terluka, setelah Radian menyatakan tak lagi membutuhkannya untuk berpura-pura. Wanita yang masih berusaha mendapatkan cinta Radian itu melihat sendiri bagaimana ekspresi cinta Radian pada istrinya yang sedang tertidur di sampingnya di atas ranjang rumah sakit.
Setelah menunggu beberapa hari, Radian masih belum menampakkan batang hidungnya. Ponsel yang selalu dalam genggamannya itu sudah dianggap seperti jimat keberuntungannya. Sebentar-sebentar mengintip kembali foto-foto yang dipilihnya untuk disimpan.
Melihat detail jika ada yang bisa membuat Radian curiga.
Ah tak mungkin dia bisa melihat detail foto ini. Jika sudah melihat satu saja, pikirannya sudah pasti kalut. Dia tidak akan tahu kalau sebenarnya perempuan itu sedang di paksa melayani tuan Ezra. Oh ya apa Tuan Ezra berhasil menidurinya. Aku harap dia berhasil, hingga perempuan itu benar-benar telah ternoda, batin Camelia sambil tertawa sendiri.
Dan hari itu akhirnya Radian muncul, setelah menunggu sekian hari. Laki-laki yang dicintainya itu kembali masuk kantor. Camelia sudah bersedia menunjukkan foto-foto di ponsel itu pada Radian. Namun ternyata laki-laki itu langsung menemui atasannya.
Camelia yang penasaran dengan percakapan kedua orang itu akhirnya mendekatkan telinganya di pintu ruangan CEO itu. Dengan jelas terdengar kalau Radian masih ingin mempertahankan cintanya pada istrinya.
Huh, dia tidak tahu kalau istrinya telah tidur dengan Tuan Ezra. Hingga detik ini perempuan itu tidak melayangkan tuntutan pada Tuan Ezra, artinya perempuan itu pasrah menerima ditiduri oleh Tuan Ezra. Lihat saja Kak Radian, ini adalah kesempatanmu lepas dari perempuan munafik yang hanya berpura-pura meronta itu, batin Camelia.
Wanita itu semakin tertarik mendengar perdebatan Ezra dan Radian. Dan yang membuat matanya terbelalak adalah saat mendengar Radian berkata Leana telah mengandung anaknya. Wanita itu langsung terperangah mendengar berita itu. Namun itu semakin memperkuat keinginannya untuk menunjukkan foto-foto dalam ponselnya itu.
Dan saat Radian berada di mejanya, adalah saat-saat yang paling ditunggu-tunggu. Radian yang sedang bingung memutuskan untuk tetap bekerja di situ atau mengundurkan diri.
Tidak, situasi sudah seperti ini, Ezra sangat marah karena aku tak memberitahunya kalau Leana adalah Livia yang dicintainya. Aku tak akan bisa bekerja dengan pimpinan yang membenciku, pimpinan yang ingin merebut istriku. Sebaiknya aku mengundurkan diri saja, batin Radian memutuskan.
Laki-laki itu bertekad keluar dari perusahaan itu. Banyak hal yang membuatnya memutuskan untuk resign. Tawaran Leana untuk posisi CEO di perusahaan ayah tirinya dulu, tawaran membentuk perusahaan baru dengan mantan karyawan-karyawan yang telah dipecat namun yang lebih menguatkan hatinya untuk keluar dari perusahaan itu adalah karena tak mampu lagi menatap pimpinannya yang jelas-jelas masih menyimpan cinta pada istrinya.
Radian mulai mengetik surat pengunduran dirinya saat Camelia tiba-tiba muncul dan menunjukkan foto-foto adegan mesra istrinya dan Ezra. Wanita itu bahkan mempertanyakan anak yang dikandung Leana. Begitu Camelia keluar dari ruangannya, dengan pasti Radian mengetik surat pengunduran dirinya dan meletakkannya di atas meja kerja atasannya.
__ADS_1
Radian membungkuk lama sebagai penghormatan terakhirnya pada Ezra. Lalu meninggalkan ruangan itu tanpa kata-kata. Tak peduli dengan tatapan Ezra yang menatapnya dengan perasaan yang bercampur aduk antara, kecewa, marah dan sedih.
...~ Bersambung ~...