
Radian ingin membuat surat pengunduran diri, saat itu juga Camelia datang ke meja kerjanya dan memperlihatkan foto-foto di ponselnya. Sebenarnya Radian tak ingin meladeni wanita itu namun entah mengapa tangan laki-laki itu justru bergerak melihat semua tampilan di layar ponsel itu.
Terlihat Leana dengan posisi ditindih oleh Ezra yang sedang menciumi lehernya, sementara Leana memejamkan matanya. Terlihat juga Leana yang telah melepas blouse-nya sementara mereka menyatukan bibir mereka. Radian tak mampu lagi memperhatikan satu persatu tampilan yang membuat darahnya mendidih itu.
Begitu kesalnya melihat semua tampilan di ponsel, membuat Radian ingin membanting ponsel milik Camelia itu. Untung saja Camelia segera merebutnya. Dengan senyum yang mengembang di bibirnya, wanita itu melangkah dengan anggun meninggalkan Radian dengan emosi yang memuncak dan mata yang berkaca-kaca.
Di depan pintu langkah wanita itu terhenti.
"Kamu meninggalkannya dan wanita itu merasa kesepian, mencari pelampiasan hasratnya pada laki-laki lain. Oh ya, aku dengar dia telah hamil? Apa kamu yakin kalau bayi itu adalah anakmu?" tanya Camelia dengan menampilkan senyum yang paling manis.
Tak peduli betapa sakitnya hati Radian, wanita itu melangkah ke luar ruang itu sambil tersenyum penuh kemenangan.
Aku rasa, usahaku tidak sia-sia. Sebentar lagi, Kak Radian pasti akan menceraikan istrinya, batin Camelia sambil tersenyum menatap ponsel di tangannya.
Teringat saat pagi itu dia mencari-cari Radian yang masih belum terlihat di meja kerjanya. Berkali-kali mengintip ke meja kerja itu namun laki-laki yang selalu di khayalkannya itu tak terlihat batang hidungnya. Hingga akhirnya Camelia bertanya.
"Apa Pak Radian tak masuk hari ini?" tanya Camelia pada seorang karyawan.
"Aku dengar tadi pagi Pak Radian pingsan di kantor Bu Leana," jawab karyawan itu.
"Apa? Pingsan? Lalu di mana dia sekarang?" tanya Camelia langsung ingin mengetahui keberadaan Radian.
"Entahlah, aku hanya dengar kabar itu saja," jawab karyawan yang terlihat sangat sibuk dan ingin kembali bekerja itu.
__ADS_1
Camelia panik, wanita itu langsung berlari ke luar pintu perusahaan. Segera wanita itu menghentikan taksi di hadapannya dan melaju menuju perusahaan Leana.
Mungkin dia masih di sana atau setidaknya aku tahu ke mana dia di bawa. Apa dia telah sadar sekarang? Apa yang terjadi dengannya? Apa semua gara-gara istrinya itu? Apa dia memaksa melakukan sesuatu? Kenapa laki-laki bertubuh kekar seperti itu bisa pingsan? Ini pasti ulah perempuan itu, dia pasti melakukan sesuatu pada Kak Radian. Apa dia meracuninya? Atau apa? tanya Cameli dalam hati.
Sesampai di perusahaan Leana, wanita itu langsung bertanya di mana ruangan Leana. Sekretaris menolak memberi tahu karena Leana sedang ada tamu. Camelia mengira tamu yang dimaksudkan adalah Radian yang masih belum sadar atau apa pun.
"Aku harus bertemu dengan Ny. Leana sekarang. Aku ini temannya, jika dia tahu kamu menghalangiku, kamu bisa dipecat," ancam Camelia dengan membelalakkan matanya.
Sekretaris itu takut, segera ingin menghubungi Leana namun Camelia menutup kembali teleponnya.
"Katakan saja di mana ruangannya?" tanya Camelia.
Sekretaris itu ingin berdiri untuk mengantar Camelia. Namun wanita itu membentaknya dan meminta sekretaris itu menyebutkan ke arah mana dia harus mencari ruangan Leana. Sekretaris itu akhirnya memberikan petunjuk. Camelia yang ingin segera memergoki apa yang dilakukan Radian dan Leana di ruangan istri Radian itu, berjalan tergesa-gesa ke ruangan yang ditunjuk.
Dengan tega, tanpa ingin menolong Leana, wanita itu justru mengambil beberapa foto dalam berbagai adegan. Setelah Ezra menghentikan tingkahnya, wanita itu pun langsung pergi meninggalkan perusahaan itu. Di sebuah halte wanita itu penasaran dan langsung memeriksa dan memilah beberapa adegan yang terlihat seperti sedang bercumbu dan menghapus adegan yang terkesan pemaksaan.
Sambil tersenyum menatap beberapa foto yang telah tersimpan di ponselnya itu, Camelia kembali ke perusahaan milik Ezra.
Besok aku cari tahu di mana Kak Radian di rawat, batin Camelia.
Setelah mencari tahu ke sana kemari. Hingga akhirnya menghubungi pihak perusahaan Leana. Akhirnya wanita itu tahu kalau Radian masih dirawat di rumah sakit. Keesokan paginya sebelum ke kantor, Camelia berniat menjenguknya lebih dulu.
Dengan semangat melangkah ke ruang rawat inap yang telah diberitahukan pihak rumah sakit. Sambil melenggak-lenggok membawa sekeranjang buah segar wanita itu begitu semangat ingin mengunjungi laki-laki pujaannya.
__ADS_1
Namun, apa yang dilihatnya? Begitu mendorong pintu rawat inap itu, Camelia langsung di suguhkan adegan mesra Radian yang sedang mencium pelan istrinya yang masih tidur di ranjang rumah sakit itu. Berkali-kali menempelkan bibirnya ke bibir wanita yang dicintai laki-laki itu sambil tersenyum. Menatap wajah itu dan menepis helaian rambut yang menutupi sebagian mata Leana lalu kembali menciumnya lembut.
Laki-laki itu tak bosan-bosannya melakukan itu, sementara semakin melihat adegan itu Camelia semakin muak.
Apa yang akan kamu lakukan jika tahu istrimu berciuman dengan laki-laki lain? Laki-laki yang dikenalkannya sebagai teman spesialnya padamu. Kamu pikir kalian telah bersama lalu hubungan mereka telah berakhir? Huh apa kamu masih akan menciumi bibir istrimu saat tahu bibir itu juga telah dinikmati laki-laki lain. Aku yakin, sekuat-kuatnya cintamu pada istrimu. Tetap tak akan sanggup menatap foto-foto yang aku miliki ini. Kamu pasti akan menyesal kembali pada istrimu, batin Camelia sambil tersenyum.
Wanita itu urung menemui Radian. Camelia tak mungkin menunggu hingga laki-laki itu puas menciumi istri yang sangat dirindukannya itu. Pagi-pagi sekali, usahanya telah gagal dan itu membuatnya sangat kesal. Ditambah lagi bayangan Radian yang bolak balik menatap dan mencium bibir istrinya membuat Camelia semakin kesal.
Camelia sampai di kantornya dalam suasana kantor yang masih sangat pagi. Hanya beberapa orang office boy yang terlihat sibuk berlalu lalang membersihkan setiap ruangan. Salah seorang office boy bahkan bertanya pada Camelia karena merasa heran.
"Kenapa datangnya pagi sekali Bu? Kantor belum siap jam segini," tanya seorang office boy.
Jangankan menjawab pertanyaan office boy itu, Camelia justru menampilkan wajah kesalnya. Begitu kesalnya hingga menaruh dengan kasar di atas sebuah meja sekeranjang buah yang dibawanya. Office boy itu heran, Camelia meninggalkan sekeranjang buah itu begitu saja dan berlalu masuk lift menuju ruangannya.
Office boy itu heran dan memberitahukan pada teman-temannya. Mereka pun membagi rata buah-buahan yang ada di keranjang itu dan melanjutkan kerja mereka.
"Hari ini kita dapat rejeki nomplok, kapan lagi makan buah-buahan segar dan mahal seperti ini," ucap seorang office boy sambil melaksanakan tugasnya.
"Ya, aku mau simpan untuk anak istri di rumah," sahut office boy yang lain.
Mereka tak peduli lagi pada Camelia yang telah duduk di ruangannya seorang diri dengan wajah kesal. Camelia, semakin teringat semakin kesal dengan apa yang dilihatnya. Terlihat jelas laki-laki yang dicintainya itu begitu menikmati setiap ciumannya. Terlihat dari pancaran rona wajah yang bahagia setiap kali menatap wajah istrinya. Itu benar-benar membuat hati Camelia menjadi kesal.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1