Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 85 ~ Terbongkar ~


__ADS_3

Ricky bertanya alasan Radian memutuskan untuk menikah dengan Camelia. Radian menceritakan kondisi Camelia yang saat ini sedang mengandung anaknya. Ricky sangat kaget, mengetahui ternyata Camelia sedang mengandung. Begitu kagetnya, karena merasa Radian bukanlah tipe laki-laki yang suka bermain-main dengan wanita lain.


Radian pun akhirnya menceritakan kronologi kejadian yang membuatnya harus bertanggung jawab pada kehamilan Camelia. Ricky merasa bersalah hingga akhirnya menceritakan kronologi yang sesungguhnya.


"Tak mungkin Bang, malam itu Abang mabuk berat. Abang bahkan tak sadarkan diri. Aku yang bantu dia membawa Abang ke hotel karena dia bayar aku cukup mahal. Dia juga mabuk berat hingga akhirnya kami … berbuat," ucap  Ricky dengan suara pelan.


Radian terkejut mendengar cerita Ricky dan meminta laki-laki itu menjelaskan kejadian dengan sedetail-detailnya. Dengan wajah yang tertunduk Ricky akhirnya bercerita mulai dari saat dirinya sedang bekerja di Night Club. Camelia memanggilnya dan meminta bantuan untuk membawa Radian yang sedang mabuk berat ke sebuah hotel.


"Abang jatuh di sofa sedangkan Camelia jatuh di ranjang. Aku … sudah akan pergi tapi dia belum memberikan uang yang dijanjikannya. Aku terpaksa mengikuti keinginannya membelikan minuman yang dia inginkan. Aku menunggu tapi dia terus saja minum. Bahkan memaksaku untuk ikut minum. Aku terpaksa ikut karena kembali dia mengancam tidak akan memberikan bayaranku. Aku mulai kesal tapi tetap aku ikuti karena telah terlanjur sejauh itu mengikuti kehendaknya tapi tiba-tiba dia menarik tubuhku hingga jatuh di atas ranjang. Dia langsung menindih tubuhku. Satu persatu Camelia melepas pakaiannya. Aku tercengang tapi tak berusaha melarang. Dia mulai menciumku, dan melepas pakaianku. Aku … tak bisa menahan diri Bang, hal yang biasanya cuma khayalan, kini ada di depan mataku. Aku merasa tak bersalah karena aku hanya mengikuti keinginannya. Kami melakukannya di ranjang sementara Abang masih tak sadarkan diri di sofa," jelas Ricky.


"Lalu … kenapa aku bisa berada di ranjang bersamanya?" tanya Radian dengan menatap nanar pada Ricky.


"Saat melakukannya dia tidak sadar, aku pun tak peduli. Kesal dengan tingkahnya yang menyebalkan dan meremehkan aku selama ini, membuat aku ingin melampiaskannya. Toh bukan keinginanku sendiri, dia yang memaksaku. Aku hanya ingin mengikuti kemauannya tapi di akhir permainan dia sadar kalau yang menidurinya bukan Bang Radian. Dia kesal hingga memaki aku, menghinaku," ucap Ricky lalu tertunduk.


Teringat kembali saat mata Camelia terbelalak menatap laki-laki yang masih menindihnya. Ekspresi wajah yang tadinya menggoda kini berubah menjadi beringas. Camelia mendorong tubuh Ricky dan memaki laki-laki itu. Begitu kesal hingga melempar semua bantal ke arah mahasiswa itu.


"Dasar kurang ajar, laki-laki nggak tahu diri. Apa yang kamu lakukan?  Pergi kamu! Dasar tak tahu diri. Beraninya kamu lakukan ini padaku dasar miskin tak tahu diri!" teriak Camelia sambil menutupi tubuhnya yang tak mengenakan apa pun.


"Hey nenek sihir, harusnya aku yang protes. Kamu yang inginkan ini, kamu yang melakukan ini padaku. Kamu yang mengajakku, kamu yang memaksaku!" teriak Ricky.


"Nggak! Nggak! Nggak! Kamu bohong! Kamu ambil kesempatan saat aku mabuk," teriak Camelia sambil memukul-mukul tubuh Ricky, sementara sebelah tangannya menggenggam kain putih yang dililitkan di tubuhnya.


"Dengar ya nenek sihir! Kalau bukan karena kamu yang menjanjikan aku sejumlah uang, aku tidak akan mau berurusan dengan nenek sihir seperti kamu!" bentak Ricky.

__ADS_1


"Kurang ajar kamu! Kurang ajar!" teriak Camelia.


"Sekarang berikan uangku atau aku–"


"Apa? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Camelia dengan dada yang turun naik karena emosi.


Namun, kali ini air matanya mengalir. Menatap Radian yang tertidur tertelungkup di atas sofa. Wanita itu tiba-tiba menangis yang terisak-isak, berharap akan menghabiskan malam berdua dengan Radian. Berharap bisa menjerat laki-laki itu menjadi miliknya. Ricky pun tercenung menatap Camelia yang menangis. Rencananya telah gagal, kehormatannya hilang. Ricky terdiam menatap kesedihan wanita itu.


"Aku akan bayar kamu, tapi tolong bantu aku sekali lagi," ucap Camelia pelan setengah memohon.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ricky.


Laki-laki itu turut merasa menyesal, menyadari bahwa apa yang terjadi pada mereka bukanlah yang menjadi kehendak Camelia. Laki-laki itu bersedia memenuhi keinginan Camelia. Wanita itu pun mulai memberitahukan keinginannya.


Ricky mengangguk, laki-laki itu segera mengenakan pakaiannya dan mulai mengikuti perintah Camelia. Mengangkat tubuh Radian dan melepas kemeja laki-laki yang masih tak sadarkan diri itu. Membuang kemeja itu ke sembarang arah.


"Lepas semuanya–"


"Apa? Kamu ingin membuat seolah-olah semua terjadi bersamanya? Kamu ingin memfitnah dia?" tanya Ricky.


"Bukan urusanmu, yang penting kamu lakukan perintahku. Aku akan bayar kamu–"


"Aku muak mendengar kata-kata itu, kamu akan membayarku. Kamu akan membayarku, entah berapa kali aku mendengar itu. Aku tidak mau lakukan itu. Kalau kamu mau, lakukan sendiri. Aku sudah cukup membantumu," ucap Ricky.

__ADS_1


Camelia pasrah, membayar uang yang dijanjikannya. Ricky pergi meninggalkan Camelia dan Radian yang masih tak sadar. Wanita itu kembali naik ke ranjang. Melepas kain yang melilit tubuhnya dan berbaring di samping laki-laki yang tak mengenakan kemejanya lagi.


Radian termenung mendengarkan penjelasan Ricky. Tertawa pedih saat menyadari dia harus mengalami semua penderitaan dalam rumah tangganya karena perbuatan wanita itu. Radian langsung meragukan bayi yang dikandung Camelia.


"Berarti bayi yang dikandungnya itu bukan bayiku. Apa mungkin itu bayimu? Aku benar-benar tidak melakukan apa pun dengannya 'kan? Sungguh tidak terjadi apa pun antara aku dan dia 'kan?" tanya Radian bahkan hingga berdiri begitu semangat.


"Aku rasa tidak terjadi apa-apa Bang. Kecuali Abang sadar lalu melakukan lagi–"


"Nggak! Nggak! Begitu sadar aku langsung pergi dari kamar hotel itu. Aku tinggalkan dia sendiri di hotel itu. Aku yakin aku tidak melakukan apa-apa," ucap Radian lalu menoleh pada Ricky yang tertunduk.


"Apa kamu ingin membuktikan bayi itu anakmu?" tanya Radian.


"Terserah padanya, yang pasti sekarang ini, Abang sudah tahu kalau bayi yang dikandungnya bukan anak Abang. Abang juga sudah tahu kalau dia berbohong untuk menjerat Abang dalam sebuah pernikahan. Seandainya dulu aku tahu kalau Abang menikah dengannya karena alasan kejadian itu, sudah sejak dulu aku halangi pernikahan Abang dengannya," ucap Ricky menyesal.


"Sudahlah! Ini lebih baik daripada aku selamanya terperangkap dalam pernikahan yang tidak aku inginkan. Aku berterima kasih karena kamu memutuskan untuk jujur menceritakan kejadian yang sesungguhnya," ucap sambil tersenyum menepuk pundak pemuda itu.


Saat jam kerjanya berakhir, Radian langsung menemui Camelia yang telah menunggunya di rumah kontrakan mereka. Melihat Radian yang pulang ke rumah, Camelia langsung menyambut laki-laki itu dengan sikapnya yang manja.


"Aku sudah tahu semuanya dari Ricky. Jangan berpura-pura lagi. Aku tidak akan menunggu anak itu lahir untuk menceraikanmu. Secepatnya aku akan mengurus perceraian kita. Jangan coba-coba menghalangi aku, atau aku akan menuntutmu atas pasal penipuan," jelas Radian.


Lalu meninggalkan Camelia yang tertunduk seorang diri. Radian yang memang tak tinggal di rumah itu lagi, pulang ke rumah Leana. Meninggalkan wanita yang hanya bisa menangis menyesali keinginannya yang tak bisa tercapai.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2