Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 109 ~ Usul ~


__ADS_3

Di saat ada kesempatan, Radian mengajak ayahnya bicara empat mata. Laki-laki itu menceritakan apa yang dilihatnya. Pak Ridwan Putra terkejut. Radian tidak bohong, sejak mendengar cerita istrinya, Radian juga ikut menyelidiki tingkah ayah kandungnya itu.


"Maafkan Papa Nak. Karena itu Papa merasa malu pada kalian semua. Papa telah meninggalkan kalian dan memilih menikah dengan seorang janda beranak satu. Awalnya kami bahagia. Meski hidup pas-pasan istri Papa tidak pernah mengeluh. Kami jarang bertengkar, berbeda dengan saat bersama Mamamu dulu. Papa merasa perpisahan kami adalah pilihan yang tepat. Papa merasa dihargai oleh janda itu. Dia selalu berterima kasih atas apa yang Papa beri untuknya. Berbeda dengan Mamamu yang selalu merasa tidak cukup. Papa memutuskan untuk berpisah dengan Mama dan menjalani hidup kita masing-masing. Papa juga tahu dan ikut bahagia saat Mama kamu berhasil menikahi bosnya. Tapi tak lama kemudian, Papa dipecat dari perusahaan Papa, entah apa sebabnya. Papa juga tidak diberi pesangon. Kami yang selama ini hidup pas-pasan langsung merasa kekurangan. Kami terpaksa menjual rumah kecil milik peninggalan suami janda itu. Hidup di rumah kontrakan, sambil berhemat. Papa mencoba mencari pekerjaan, tapi tak kunjung mendapatkan. Semakin lama umur Papa semakin tua, semakin tak sulit mendapatkan pekerjaan. Uang simpanan kami pun semakin menipis dan akhirnya habis. Papa tak punya harapan lagi. Rasa lapar lah yang akhirnya membawa papa ke rumah ini. Awalnya Papa ragu, tapi menatap wajah letih dan lapar orang-orang yang menjadi tanggung jawab Papa, membuat Papa harus beranikan menemui kalian. Maafkan Papa Nak, maaf sudah merepotkan kalian. Membohongi kalian, diam-diam menyimpan makanan yang kalian berikan untuk Papa pada keluarga Pap. Maafkan Papa Nak, Papa akan pergi," ungkap Ridwan Putra sambil menunduk.


"Aku mengajak Papa bicara bukan untuk menegur perbuatan Papa, tapi aku tidak bisa membiarkan Papa hidup seperti ini selamanya. Orang-orang di rumah ini suatu saat akan curiga. Bagaimana Papa  akan menjelaskan pada mereka? Bagi Livia tidak masalah. Papa tidak perlu merasa malu padanya. Dia bahkan berinisiatif untuk mengajak Papa dan keluarga tinggal di sini, tapi bagaimana dengan Mommy?" tanya Radian.


"Apa? Istrimu tahu tentang Papa?" tanya Ridwan Putra.


"Ya Pa, bukan hanya tahu tapi justru dia yang beritahu aku apa yang Papa lakukan setiap malam, menyelinap keluar rumah, membawa sisa makanan," ungkap Radian.


"Ya ampun, ternyata dia tahu kelakuanku, tapi tetap saja hormat padaku. Istrimu benar-benar orang yang baik," ucap Ridwan Putra.

__ADS_1


"Dia dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh orang tuanya. Papa Robert sama seperti Livia. Sangat baik, penyayang dan tidak pernah memandang status sosial. Papa Robert menyayangi kami tanpa membedakan antara anak kandung dan anak tiri. Livia persis seperti Papanya, menghormati aku, Monic dan Mommy meski dia tahu kami ini bukan siapa-siapa. Tak punya apa saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini. Dia sama sekali tidak merendahkan kami, karena itu, aku tak bisa lepas dari Livia. Aku butuh kasih sayang darinya," ungkap Radian.


"Begitu, meski dia tahu mengambil sisa makanan di dapur dia, masih menganggap aku sebagai ayah mertuanya," ucap Ridwan Putra.


"Tentu saja Pa, bagaimanapun juga Papa adalah ayah dari suaminya. Tentu dia tetap menganggap Papa ayah mertuanya. Sekarang dia telah tahu, apa yang akan Papa perbuat. Sekarang bagaimana menurut Papa? Apa Papa mau menerima usulku? Maukah Papa bekerja di anak perusahaan Tn. Robert? Jika di perusahaan besar, akan banyak pertanyaan dari orang-orang Pa. Tidak mungkin bawahanku adalah ayahku sendiri," ucap Radian.


"Ya Papa mengerti. Kalau begitu Papa bersedia bekerja di anak perusahaan Tn. Robert. Papa akan kabarkan hal ini pada istri dan putri Papa," ucap Ridwan Putra gembira.


"Apa? Kami semua? Apa istrimu mengizinkan?" tanya Ridwan Putra.


"Aku sudah bilang kan Pa? Livia itu suka menolong. Justru dia yang menawarkan untuk tinggal bersama-sama di sini tapi justru aku yang kurang setuju karena aku harus menimbang perasaan Mommy," ucap Radian.

__ADS_1


"Ya Papa mengerti Radian. Papa serahkan semua keputusan padamu," ucap Ridwan Putra sambil tersenyum.


Mereka pun mencapai kesepakatan. Malam itu, setelah makan malam, Leana justru menyiapkan beberapa dua bungkus makanan lengkap untuk keluarga Pak Ridwan Putra. Selain pada Shanty Rahayu dan Monica, Pak Ridwan Putra tak perlu sembunyi-sembunyi lagi menemui keluarganya.


"Wah, kali ini banyak sekali Pa," ucap gadis muda itu.


Mendengar ucapan putri tirinya itu, Pak Ridwan Putra menceritakan usulan Radian. Mendengar itu, kedua perempuan itu sangat bahagia. Mereka tak perlu tidur di masjid komplek itu menunggu Pak Ridwan mengantar makanan untuk mereka. Melihat keduanya setuju Pak Ridwan Putra segera mengajak untuk menemui putra dan menantunya di rumah mewah itu.


Kedua perempuan itu sangat bahagia, bisa diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di rumah mewah itu. Radian dan istrinya menyambut kedatangan keluarga ayahnya itu dengan hangat berbeda dengan sikap Shanty dan Monica yang memandang keduanya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2