Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 55 ~ Kenyataan Menyakitkan ~


__ADS_3

Radian dinyatakan sembuh dan besok diizinkan pulang. Hari itu adalah hari yang sangat bahagia bagi mereka. Begitu banyak hal yang terjadi di hari itu. Radian dinyatakan sembuh, Leana dinyatakan hamil, Radian menyatakan bersedia kembali ke rumah Leana dan bersedia kembali menjadi CEO di perusahaan milik keluarga Leana. Yang lebih penting dari semua itu adalah hubungan Leana dengan Shanty dan Monica yang sudah membaik.


Tinggal Shanty yang sekarang berjuang untuk melawan serangan stroke yang dideritanya namun dokter telah menyatakan keadaan Shanty akan kembali seperti semula jika tekun menjalani perawatan dan patuh mengikuti perintah dokter.


Shanty diminta untuk tidak memikirkan segala sesuatu yang membuatnya stress, wanita setengah abad lebih itu harus terus mengusahakan hatinya bahagia. Leana, Radian dan Monica selalu menghibur dan membuat hati ibu itu senang. Namun dibalik semua itu Shanty harus belajar menjadi orang yang berhati lapang, tak mudah iri dan belajar menerima keadaan.


Keesokan harinya Radian pun di izinkan pulang.


"Kita ke ruangan Mommy?" tanya Leana sambil mengangkat tas.


Radian langsung merebut tas yang berisi keperluan pribadinya itu. Leana tak diizinkan sama sekali mengangkat apa pun oleh Radian bahkan keranjang isi buah dan makanan pun langsung direbut laki-laki itu. Leana mengerucutkan mulutnya.


"Awas nanti pingsan lagi," ledek Leana setelah itu berlari keluar ruangan.


"Jangan lari!" teriak Radian.


Mendengar suara Radian yang serius, wanita itu sontak menghentikan langkahnya. Lalu menunggu Radian sambil tersenyum membujuk. Kemudian mengambil satu kantong berisi makanan dari tangan Radian. Laki-laki itu akhirnya membiarkan karena merasa kantong itu tak terlalu berat.


Setelah membayar tagihan rumah sakit. Mereka melangkah santai menuju ruangan Shanty dan Monica. Selama Shanty dirawat, adik tirinya itu memilih tinggal di ruang rawat inap mewah itu dibanding pulang ke rumahnya. Monica menikmati rasa menginap di sebuah kamar hotel bintang lima.


Shanty dan Monica terkejut saat melihat Radian yang tak lagi mengenakan baju pasien.


"Kamu sudah diizinkan keluar rumah sakit sayang?" tanya Shanty saat mereka muncul dari balik pintu.


Shanty yang tak berbaring lagi namun telah duduk bersandar merasa begitu senang saat melihat putranya dinyatakan sembuh. Terlihat juga raut wajah Shanty yang kembali ceria. Bicaranya pun tak sesulit kemarin namun saat menggerakkan anggota tubuhnya Shanty masih seperti mengeluarkan tenaga yang cukup besar untuk bisa menggerakkannya.


Keempat orang itu menikmati makan siang bersama di ruang rawat inap itu. Melihat Shanty yang kesulitan menyuap sendiri makanannya, Leana berinisiatif untuk menyuapi namun Radian menggantikan istrinya melakukan itu agar istrinya tak terlambat menyantap makan siangnya.


"Kak Radian kembali seperti dulu lagi, overprotektif sama Kak Leana yang sedang hamil," celetuk Monica.


"Dari kemarin Leana sudah sangat sibuk padahal dia baru tahu kalau sedang hamil. Karena kehamilan yang masih muda, Kakak harus ekstra hati-hati menjaganya," ucap Radian yang khawatir.


Leana diam mendengarkan obrolan kakak dan adik itu. Hingga tanpa sadar Leana tertidur, Monica menyenggol lengan kakaknya memberitahu kalau Leana telah tertidur di kursi. 


"Kasihan Kak Leana kecapekan, pasti istirahatnya kurang," bisik Monica.

__ADS_1


"Ya, tadi malam Kakak minta di temani tidur di ruang rawat inap karena hari ini akan pulang. Kakak rasa semalam tidurnya kurang nyenyak," jawab Radian.


"Pindahkan ke ranjang penunggu pasien itu. Kasihan tidur di kursi nanti lehernya pegal," ucap Shanty.


Radian mengangguk lalu mendekati istrinya. Perlahan Radian mengangkat tubuh Leana dan menaruhnya di ranjang khusus untuk penunggu pasien. Radian menatap wajah istrinya yang tertidur sangat lelap, tak tahan laki-laki itu mengecup kening istrinya. Dalam sangat berterima kasih pada atas cinta dan kasih sayang Leana padanya dan pada keluarganya.


Saat menjelang malam Radian dan Leana pulang ke rumah. Shanty dan Monica sangat senang mendengar keputusan Radian yang bersedia kembali ke kediaman keluarga Robert Chandra. Begitu sampai di rumah itu, Radian langsung mencari putranya yang selalu dirindukannya. Leana tertawa melihat Radian yang begitu gembira bermain dengan putranya.


Saat Revano, ingin menyusu dengan ibunya barulah Radian menyerahkan putra mereka pada Leana. Wanita itu segera membawa putranya ke kamar. Di sana Leana menyusui putranya. Sementara Radian masih tak mau lepas mengganggu putranya.


Laki-laki itu asyik mengusap rambut Revano yang asyik menyusu pada ibunya.


"Dalam waktu dekat kamu harus berhenti menyusui Revano," ucap Radian.


"Kenapa?" tanya Leana.


"Kasihan adiknya, dia juga butuh asupan gizi darimu," ucap Radian sambil mengusap kepala putranya.


Anak itu semakin cepat memejamkan mata. Namun Revano masih tetap menyusui. Radian mengecup pipi Revano. Lalu beralih ke dada istrinya yang terbuka. Perlahan mengecupnya hingga ke leher. Leana memejamkan matanya, menikmati ciuman lembut dari bibir suaminya. Perlahan, terus berulang kali hingga berakhir di bibir Leana.


Wanita itu membelai lembut pipi laki-laki tampan itu sambil terus membalas ciumannya. Radian menunduk melihat Revano yang telah berhenti menyusu, perlahan laki-laki itu mengangkat tubuh Revano dan menaruhnya di ranjang bayi.


Laki-laki itu begitu bersemangat mencari dan memberikan kepuasan pada istrinya. Radian telah berjanji dalam hatinya untuk selalu memberikan cinta yang banyak untuk istrinya. Hingga akhirnya Leana tak mampu menahan desahnya. Laki-laki itu meminta Leana tak menahan suara desah kesukaannya. Karena itu merupakan kebanggaan baginya bisa memberikan kepuasan pada istrinya.


Radian memeluk istrinya setelah melepaskan diri dari penyatuan cinta mereka. Rasanya laki-laki itu tak ingin melepaskan sedikit saja waktunya tanpa memeluk Leana. Mereka kembali tertidur karena kelelahan.


Keesokan harinya Radian kembali bekerja. Laki-laki itu langsung menemui atasannya. Ezra yang merasa kecewa atas sikap Radian yang menutupi jati diri Leana terlihat tak mempedulikan laki-laki yang menghadap padanya itu.


Radian tidak tahu penyebab sikap dingin laki-laki itu terhadapnya. Karena saat Radian tak sadarkan diri, Ezra datang menjenguk dan mengetahui kenyataan bahwa Leana ternyata adalah Livia melalui Monica.


Setelah melaporkan kehadirannya, laki-laki itu minta diri untuk kembali ke ruangannya. Ezra akhirnya tak tahan dan bertanya tepat saat laki-laki itu hendak meraih gagang pintu untuk keluar dari ruangan itu.


"Kenapa?" 


Hanya satu kata saja itu cukup menghentikan langkah Radian. Laki-laki itu menoleh ke arah Ezra. Radian sendiri tidak tahu apa maksud kata itu ditanyakan padanya. Radian memutuskan kembali berdiri di hadapan atasannya itu.

__ADS_1


"Ada apa Tuan? Apa yang ingin Tuan tanyakan?" tanya Radian untuk memperjelas pertanyaan laki-laki itu.


"Kenapa tidak jujur padaku? KENAPA MEMBOHONGIKU?" tanya Ezra akhirnya dengan tatapan mata yang tajam.


Laki-laki telah berusaha untuk menahan diri dan amarahnya. Namun, rasa ingin tahu alasan Radian melakukan itu telah membuatnya memulai untuk membuka lukanya sendiri.


"Tolong jelaskan apa maksud pertanyaan Tuan?" tanya Radian dengan sopan.


"Kenapa? Kenapa tak jujur padaku kalau Leana ternyata adalah Livia! Selama ini kamu tahu perasaanku pada Livia. Kamu biarkan aku bertanya-tanya keberadaan Livia sementara kamu tetap menyimpan rahasia itu. Kamu pasti tertawa di belakangku. Aku ingat saat aku mendekati Leana kamu mengingatkan aku untuk mencari Livia. Kenapa? Agar aku menjauh dari Leana yang ternyata adalah istrimu. Kamu berharap selamanya aku tak menemukan Livia. Karena Livia sudah tak ada, telah berganti menjadi Leana. Tapi sekarang aku telah tahu kalau Livia adalah Leana. Aku … cabut kembali keputusanku untuk melepaskan Leana padamu. Karena kamu tak jujur padaku aku pun tak perlu bersikap sportif padamu," jelas Ezra sambil berbalik menoleh ke arah kaca besar di belakangnya.


"Maafkan aku Tuan, aku tidak bermaksud menipu. Aku hanya seorang suami yang ingin tetap mempertahankan istriku agar tetap menjadi milikku. Apa aku salah Tuan? Awalnya aku berharap Livia yang Tuan maksud adalah Livia yang lain. Selama ini aku tetap berharap mereka adalah orang yang berbeda. Namun saat aku mengetahui Livia yang Tuan maksud adalah istriku, aku tak mampu lagi berterus terang Tuan. Karena aku telah memutuskan untuk kembali padanya seperti yang Tuan sarankan. Sekarang aku pasrah, hukuman apa yang akan Tuan berikan padaku. Namun aku tak bisa menyerahkan Livia pada Tuan, karena aku mencintai Livia dan Livia juga mencintaiku," jelas Radian pasrah.


"Kamu pasrah? Karena telah kembali pada Livia, kamu akan mendapatkan kembali posisimu sebagai CEO di perusahaan ayahnya Livia. Untuk itu kamu kembali padanya. Mengemis padanya agar dia mau menerimamu dan mendapatkan kembali jabatanmu? Sekarang kamu menjadi sombong, lupa bagaimana hidup sulit mencari pekerjaan--"


"Bukan seperti itu Tuan, aku tidak bermaksud menyombongkan diri. Aku tak butuh yang lainnya, aku hanya ingin berkumpul kembali dengan istriku, itu saja Tuan. Satu-satunya yang kuinginkan hanya berkumpul lagi dengan keluargaku, itu saja," ucap Radian tegas. 


"Omong kosong! Dulu kamu menghindar dari Livia bahkan menjalin hubungan dengan bawahanmu, sekarang kamu bilang ingin berkumpul lagi dengan istrimu? Itu karena kamu tak sanggup lagi hidup susah. Alasan kamu kembali padanya adalah kamu tak sanggup lagi hidup tanpa jabatan lamamu," tegas Ezra.


Radian diam, laki-laki itu merasa tak perlu menjelaskan lagi. Baginya yang terpenting adalah keluarganya. Radian menatap Ezra dengan tatapan sedih.


"Aku tahu seberapa besar rasa cintamu pada Livia, tapi aku pun sama. Jika saja Livia memilihmu, aku akan merelakannya. Aku akan merelakan apa pun yang membuatnya bahagia. Tapi … aku tidak bisa menyerahkan Livia padamu karena Livia juga mencintaiku. Sekarang Livia juga sedang mengandung anakku. Aku akan mempertahankan Livia sekuat tenagaku. Maaf Tuan, aku tak ingin membahas ini lagi. Aku permisi," ucap Radian mengangguk hormat lalu melangkah meninggalkan ruangan Ezra.


Baru beberapa langkah terdengar bunyi barang-barang yang pecah berasal dari ruangan itu.


Maafkan aku Ezra, aku telah membalas kebaikanmu dengan menyakiti hatimu tapi aku tak bisa … aku tak bisa melepaskan Livia padamu. Livia dan anak-anak kami adalah segala-galanya bagiku, batin Radian.


Radian kembali ke meja kerjanya. Laki-laki itu termenung sejenak lalu memutuskan untuk membuat surat pengunduran diri. Baru saja hendak mengetik surat pengunduran diri itu, Camelia datang menghampiri.


"Perempuan seperti itu yang ingin Kakak pertahankan?" tanya Camelia.


"Apa maksudmu? Aku bilang jangan panggil aku seperti itu!" ucap Radian dengan nada kesal.


"Ini, ini lihat sendiri! Perempuan seperti inikah yang ingin kamu pertahanankan. Di saat kamu tak ada sisinya, dia bercumbu dengan laki-laki lain. Bahkan dia melakukannya kantor. Apa dia pernah mengajakmu bermain di kantor?" tanya Camelia sambil meletakkan ponsel dengan tampilan foto-foto Leana dan Ezra bercumbu di sofa di ruang Leana.


Radian tak ingin melihatnya tapi entah mengapa tangan laki-laki itu justru bergerak melihat semua tampilan di layar ponsel itu. Terlihat Leana dengan posisi ditindih oleh Ezra yang sedang menciumi lehernya, sementara Leana memejamkan matanya.

__ADS_1


Dalam tampilan yang lain bahkan terlihat Leana yang telah melepas blouse-nya sementara mereka menyatukan bibir mereka. Radian tak mampu lagi memperhatikan satu persatu tampilan yang membuat darahnya mendidih itu. Dengan cepat menggeser foto-foto yang begitu banyak menampilkan kemesraan mereka. Radian ingin membanting ponsel itu jika Camelia tak segera merebutnya. Dengan senyum yang mengembang di bibirnya, wanita itu melangkah dengan anggun meninggalkan Radian yang emosi yang memuncak dan mata yang berkaca-kaca.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2