
Radian memukuli Ezra, tetapi laki-laki itu sama sekali tak melakukan perlawanan. Ezra pasrah menerima pukulan dari kakak kandung gadis yang ingin dinikahinya itu. Ezra memahami, perasaan Radian yang benci padanya masih belum punah semuanya.
Itu karena Radian yang hanya menahan kemarahannya. Sama sekali tak melampiaskannya demi ketenangan hati Leana. Wanita itu telah memaafkan Ezra dan Leana tidak suka dengan kekerasan. Membuat Radian hanya menahan hati dengan untuk rasa sedih yang dialaminya selama berpisah dengan istrinya.
Sementara Ezra bertekad untuk membiarkan Radian melampiaskan kemarahannya. Ezra tak mungkin menjalin hubungan yang serius dengan Monica selama Radian masih memiliki kebencian padanya. Ezra pun tak ingin berbohong pada Monica kalau dirinya masih menyimpan perasaan cinta pada Leana.
Tubuh Monica lunglai, mendengar pengakuan Ezra. Monica tertunduk menatap tangannya yang menggenggam krim anti lebam di pangkuannya. Laki-laki itu menggenggam tangan Monica. Gadis itu mengangkat wajahnya. Menatap pasrah ke arah Ezra dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maukah kamu bantu aku melupakan Livia? Dia istri orang dan orang itu calon kakak iparku," ucap Ezra pada Monica.
"Kak Radian calon kakak iparmu?" tanya Monica menahan tawa bercampur tangis.
"Ya, kalau dia setuju. Kalau dia tidak marah lagi padaku dan kalau kamu mau dia jadi kakak iparku," ucap Ezra sambil tersenyum. Mendengar itu, Monica langsung memeluk Ezra.
"Aku akan bantu kamu lupakan Livia. Kalau perlu kita menjauh dari mereka. Sampai kamu bisa benar melupakannya," ucap Monica sambil menangis.
Ezra membalas pelukan Monica. Laki-laki itu tak menyangka, kedatangannya yang berniat untuk mengunjungi Monica justru berakhir dengan kekacauan. Namun, kekacauan ini diharapkannya dapat mengurangi rasa dendam dan rasa bersalah antara dirinya dan Radian.
"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit. Kamu tak ingin menunggui kelahiran keponakanmu yang kedua?" tanya Ezra.
Monica mengangguk sambil menghapus air matanya. Dengan hati bahagia gadis itu pun bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit. Monica mengajak Revano untuk menunggu kelahiran adik dari anak laki-laki tampan itu.
__ADS_1
"Mama mau melahirkan adek ya Tante?" tanya Revano yang heran, Monica membantunya bersiap-siap ke rumah sakit.
"Iya sayang, Reno harus berdoa ya, semoga adek lahirnya lancar dan sehat," ucap Monica.
"Ya Tante, doa untuk Mama juga ya Tante?" tanya Revano.
"Ya dong, Mama dan adek dua-duanya sehat, ya!" ujar Monica yang dibalas dengan anggukan oleh Revano.
Anak itu patuh saat diajak melangkah dengan cepat. Celingak-celinguk seperti mencari, saat ditanyakan anak itu ingin mengajak neneknya. Monica langsung memberitahu kalau neneknya telah lebih dulu menemani mamanya bersama papanya. Saat melihat Ezra di ruang tamu, anak itu langsung berlari mengejar, dan menghambur dalam pelukan laki-laki itu.
"Aduh, berat sekali," ucap Ezra saat menggendong Revano.
"Ya, tapi nggak apa-apa. Om kuat jadi nggak terasa sakit," jawab Ezra.
"Hebat!" teriaknya sambil bertepuk tangan.
"Reno, jalan sendiri ya sayang. Kasihan Om Ezra lagi sakit," ucap Monica.
"Nggak apa-apa, Monica. Aku baik-baik saja kok," jawab Ezra.
Revano tersenyum. Mereka pun segera berangkat menuju rumah sakit di mana Leana sedang berjuang melahirkan bayinya. Sesampainya di sana Revano langsung memanggil ayahnya.
__ADS_1
"Kalian … datang?" tanya Radian dengan ragu-ragu menyapa sementara Ezra mengangguk.
Melihat putranya yang merepotkan Ezra, laki-laki itu ingin mengambil alih menggendong Revano. Namun, Ezra menolak. Melihat tubuh dan wajah Radian yang terlihat letih, laki-laki itu tak tega menambah bebannya.
"Aku tidak apa, kamu kelihatannya sangat letih. Sebaiknya istirahatlah. Reno biar aku yang gendong," ucap Ezra menawarkan diri menjaga Revano.
Radian tertunduk, melihat putranya yang dekat dengan Ezra, dan Monica yang terlihat begitu berharap bisa menjalin hubungan yang serius dengan Ezra, Radian akhirnya sadar. Laki-laki itu harus bisa menuntaskan rasa dendam, rasa benci dan berusaha mengikhlaskan kenangan pahit yang dirasakannya akibat perbuatan Ezra terhadap istrinya.
Livia juga telah memaafkannya. Mungkin aku harus mencoba untuk memaafkannya juga, batin Radian.
Tak menuntut apa-apa atas perbuatan Ezra yang berusaha melecehkan istrinya adalah pengorbanan besar yang harus direlakannya demi Leana. Karena Leana yang tak ingin lagi memperpanjang masalah. Tak ingin lagi menyimpan rasa dendam.
Radian terpaksa mengikuti, demi rasa sayangnya pada istrinya. Kini Radian sadar, dengan menghapus dendam maka hati akan lebih tenang. Lebih bisa terbuka menerima sebuah hubungan pertemanan bahkan persaudaraan.
"Maafkan aku," ucap Radian pada Ezra.
"Aku juga minta maaf," balas Ezra sambil tersenyum.
Mereka saling tersenyum. Monica bahagia dan langsung bersandar manja pada kakaknya. Radian tersenyum sambil mengucek rambut adiknya. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi. Mereka terperangah kaget, saling memandang dan tak sabar menunggu penjelasan Dokter.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1