
Leana tiba di kantor Ezra, wanita itu langsung meminta ditunjukkan di mana ruangan Radian. Meski merasa heran, Ezra mengantar wanita yang dicintainya itu menemui Radian.
Mendengar itu Radian langsung menyambar Camelia yang lewat di hadapannya. Laki-laki itu langsung memeluk gadis manis itu.
"Maafkan aku, tolong bantu aku! Tetaplah diam seperti ini," bisik Radian sambil memeluk Camelia.
Tepat saat Radian memeluk Camelia. Leana dan Ezra datang. Leana tak bisa melanjutkan langkahnya lagi, kakinya terasa berat. Senyum yang tadi terulas di bibirnya pun langsung menghilang. Laki-laki yang dirindukannya, yang dicintainya kini nyata-nyata telah memeluk seorang gadis di depan matanya.
"Wow, ada apa ini?" tanya Ezra mendekat.
"Oh Tn. Ezra, maaf," ucap Radian sambil melepas pelukannya.
"Apa kalian baru jadian?" tanya Ezra pada Radian.
Laki-laki itu langsung menoleh pada Camelia dan mengangguk.
"Wah, selamat ya! Ini benar-benar hebat, akhirnya kamu menemukan seseorang yang bisa menaklukkan hatimu," ungkap Ezra sambil menepuk lengan sahabatnya itu.
Radian hanya tersenyum sambil menunduk. Leana diam menatap wajah suaminya lalu beralih menatap gadis yang ada disampingnya. Dalam hati rasanya Leana ingin sekali menjambak rambut gadis itu tapi melihat wajahnya yang lugu, Leana tak tega. Apa yang terjadi juga bukan kesalahannya.
Sementara Radian sedikit pun tak menoleh pada Leana. Laki-laki itu hanya fokus menatap Ezra, atasannya. Mengalami Kekecewaan seperti itu, Leana membalik badan dan langsung pergi.
"Leana, bukannya ingin bertemu dengan Radian?" tanya Ezra langsung menangkap tangan wanita itu.
"Tidak! Aku hanya ingin tahu ruangannya saja," ucap Leana sambil tersenyum pahit.
Wanita itu segera memalingkan wajahnya, menghindar dari tatapan mata Ezra yang mengarah padanya. Leana merasakan matanya semakin memanas.
Benarkah dia sudah berpacaran dengan gadis itu, apa tidak seharusnya Kak Radian meminta izin dulu padaku. Bagaimana dengan pernikahan kita? Apa berakhir begitu saja? Batin Leana bertanya-tanya.
Wanita itu melangkah dengan tertunduk. Pandangannya kosong hingga saat Ezra memanggil Leana, wanita itu seperti tak mendengarnya. Radian menatap Leana yang melangkah dengan wajah sedih. Rasanya ingin berlari dan memeluknya tapi semua itu akan menyakiti orang yang mereka hormati dan sayangi.
Radian bertahan di tempat meski dengan mata yang berkaca-kaca.
"Pak Radian, apa maksud semua ini?" tanya Camelia pelan.
"Maafkan aku Camel, lupakan semua yang terjadi tadi. Maafkan aku!" ucap Radian lalu melangkah ke meja kerjanya.
"Tidak bisa Pak! Aku rasa, aku tidak bisa melupakan ini begitu saja!" seru Camelia.
Radian menoleh pada Camelia, hatinya yang telah letih sebenarnya tak mampu untuk berdebat tapi Camelia sepertinya tak bisa menyudahinya begitu saja.
__ADS_1
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Radian.
"Penjelasan! Setidaknya beri aku penjelasan. Kenapa Bapak ingin aku melupakan ini. Katakan padaku, apa sebabnya Bapak melakukan ini padaku?" tanya Camelia tak mau terima begitu saja.
"Aku harus membuat Leana melupakanku--"
"Apa?"
Radian ragu ingin berterus terang pada Camelia tentang hubungannya dengan Leana tapi Radian tak punya alasan lain yang bisa membuat Camelia percaya. Hingga laki-laki itu terpaksa menceritakan kenyataan yang sesungguhnya.
"Leana adalah istriku, karena suatu masalah kami berpisah. Aku ingin dia melupakanku, aku ingin dia menganggap aku telah melupakannya," jelas Radian.
"Tapi Pak Radian tak bisa melupakannya? Pak Radian masih tetap mencintainya?" tanya Camelia. Radian mengangguk.
"Baiklah! Aku bersedia! Aku bersedia menjadi pacar Pak Radian," ungkap Camelia.
"Apa maksudmu Camel? Aku tidak ingin punya pacar," ucap Radian.
"Aku akan jadi pacar Pak Radian kapanpun Pak Radian butuh aku. Aku akan bantu Bapak untuk membuat Bu Leana melupakan Bapak dan Bapak melupakan Bu Leana," ucap Camelia.
"Kenapa? Kenapa kamu mau melakukan ini?" tanya Radian heran.
Karena aku suka Pak Radian, kesedihan di wajah Pak Radian membuat aku selalu ingin menghibur Bapak. Ini adalah batu loncatan bagiku. Berpura-pura menjadi pacarmu dan berharap suatu saat Bapak akan benar-benar menjadi pacarku yang sesungguhnya. Jatuh cinta padaku, menjadi orang yang bisa menggantikan posisi Bu Leana di hatimu, batin Camelia.
Radian tertunduk, sebenarnya Radian tak ingin terlalu jauh berhubungan dengan gadis itu. Radian tak ingin memiliki hubungan emosional dengan gadis mana pun. Tapi karena Camelia menawarkan diri dan gadis itu tahu Radian masih tetap mencintai Leana, akhirnya laki-laki itu mengangguk.
"Jangan berharap apa-apa dariku! Aku hanya akan tetap mencintai istriku. Jika kamu sanggup seperti itu, aku setuju menjadikan kamu pacar pura-puraku. Aku--"
"Pak Radian! Tuan Ezra memanggil! Bu Leana jatuh pingsan," ucap seorang karyawan berlari terengah-engah memberi tahu Radian.
Tanpa berpikir apa-apa lagi Radian langsung berlari meninggalkan Camelia begitu saja. Gadis itu tercenung melihat ekspresi panik Radian begitu mendengar Leana jatuh pingsan. Di lobby kantor Radian melihat Ezra sedang menggendong Leana.
"Leana, kamu kenapa?" tanya Radian panik ingin menyentuh wajah Leana.
"Apa katamu?" tanya Ezra langsung menjauhkan Leana dari jangkauan Radian.
"Ma-maksudku Bu Leana, kenapa dia?" tanya Radian.
"Entahlah! Tadi seperti orang yang linglung. Ditanya tak menjawab, dia seperti orang yang terguncang. Aku akan membawanya ke rumah sakit. Pertemuan hari ini kamu yang gantikan aku. Mengerti!" perintah Ezra.
Laki-laki itu segera masuk ke dalam mobil mewahnya setelah sopir membukakan pintu. Terlihat Ezra begitu khawatir pada keadaan Leana. Radian hanya mengintip dari balik jendela kaca mobil, bagaimana Ezra mengusap wajah Leana.
__ADS_1
Dia istriku Ezra, akulah yang harusnya menggendongnya. Akulah yang harusnya mengusap wajahnya. Dia istriku Ezra, dia wanita yang aku cintai, batin Radian dengan mata yang berkaca-kaca.
Mobil itu pun melaju meninggalkan Radian yang termangu di teras gedung perusahaan itu. Camelia memandang sedih Radian yang berdiri tertunduk.
Jika mencintainya, kenapa tak bersamanya? Kenapa justru berpisah? Kenapa ingin dia melupakanmu? Pak, apa aku bisa membuatmu melupakannya? Apa bisa aku mengurangi penderitaanmu? Batin Camelia.
Radian masuk ke dalam gedung perusahaan itu dengan langkah gontai. Raut wajahnya terlihat sangat sedih, Radian bahkan tidak yakin dia bisa memimpin pertemuan dengan para utusan dari perusahaan kerja sama mereka nanti.
Sementara itu, Ezra duduk di samping ranjang rumah sakit sambil menggenggam tangan Leana. Mendengar informasi dari Nesya tentang keberadaan Radian. Membuat wanita itu langsung ingin pulang ke tanah air. Membooking pesawat paling pagi agar bisa segera membuktikan ucapan Nesya.
Saking tak sabar menunggu pagi, Leana tak bisa tidur nyenyak. Sebentar-bentar terbangun karena takut kesiangan. Hingga akhirnya bergegas ke bandara, tak sabar menunggu pesawat itu landing. Leana segera berlari keluar pesawat begitu dinyatakan berhenti.
Berlari ke parkir inap bandara menuju mobilnya yang terparkir sejak pagi kemarin. Segera mendatangi perusahaan Ezra untuk menemukan laki-laki yang dicintainya namun, Leana justru mendapatkan kenyataan. Suaminya yang dirindukannya justru telah menjalin hubungan dengan wanita yang masih muda dan begitu manis.
Hati Leana terguncang, sejak malam begitu berharap bisa bertemu Radian namun kenyataan yang didapatinya tak bisa diterimanya.
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa tiba-tiba begitu terguncang?" ucap Ezra sambil mencium telapak tangan Leana.
Ezra menunggu Leana hingga malam menjelang. Radian datang membawakan makanan untuk Ezra. Laki-laki itu bahkan tak berselera untuk makan.
"Makanlah Tuan, bagaimana Tuan akan menjaga Bu Leana jika Tuan sendiri jatuh sakit," ucap Radian.
Mendengar itu, Ezra langsung menyantap makanan yang dibawakan Radian. Hati Radian terasa perih saat melihat atasannya itu begitu mengkhawatirkan istrinya hingga tak pedulikan kesehatannya sendiri.
Dia sangat menyayangimu Leana, haruskah aku mengikhlaskanmu bersamanya? Dia sangat perhatian padamu, dia sangat mencintaimu. Hanya dia yang bisa menjagamu, menyayangimu dengan tulus. Aku akan mengikhlaskan kalian, jika itu bisa membuatmu bahagia, batin Radian.
Radian menatap wajah istrinya.
Apa aku harus menceraikanmu Leana? Agar kamu bisa hidup bahagia bersama laki-laki yang mencintaimu, batin Radian.
Setelah duduk seharian menunggui Leana, Ezra berdiri di balkon sambil menatap langit gelap.
"Radian, boleh aku bertanya padamu?" tanya Ezra yang berdiri di atas balkon ruang rawat inap rumah sakit mewah itu.
"Ya Tuan. Apa yang ingin Tuan tanyakan?" tanya Radian.
"Ada hubungan apa antara kamu dan Leana?"
Sebuah pertanyaan yang membuat Radian terkejut setengah mati. Niatnya ingin menutupi hubungannya dengan Leana, sekarang justru ditanyakan oleh atasannya.
Radian bingung antara ingin berdalih atau ingin berkata jujur karena laki-laki itu tidak tahu apa yang akan terjadi jika Radian jujur mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...