Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 53 ~ Menolong ~


__ADS_3

Leana berdiri di depan pintu rumah kontrakan itu. Menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan ibu mertuanya. Leana bertekad untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi tadi pagi. Berbagai ucapan atau pun kata-kata disiapkannya demi untuk mendapatkan maaf dari ibu mertuanya.


Setelah merasa siap, segera wanita itu mengetuk pintu, tak lama kemudian Monica muncul dengan air mata yang berderai. Gadis itu kaget, begitu juga dengan Leana. Melihat adik iparnya yang langsung menjerit dan menangis.


"Kak Monica kenapa menangis?" tanya Leana yang langsung panik.


"Mommy … Mommy," ucap Monica berulang kali namun tak meneruskan ucapannya.


Gadis itu tak tahu cara menjelaskannya namun hanya bisa menunjuk ke arah sebuah kamar. Tanpa dipersilahkan Leana langsung menerobos masuk. Terlihat ibu itu yang sedang berbaring, menangis sambil memanggil-manggil. Saat Leana mendengar ucapan ibu mertuanya itu terdengar seperti memanggil Monica namun dengan ucapan yang tak jelas.


"Mommy sepertinya terkena stroke. Sejak kapan ini terjadi Kak? Kenapa tak segera menelepon?" tanya Leana.


Wanita itu bertanya tapi tak ingin menunggu jawaban. Segera pergi keluar dan meminta tolong pada tetangga untuk membantu mengangkat tubuh Shanty ke dalam mobilnya. Setelah berterima kasih wanita itu segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit di mana Radian dirawat.


"Kak, bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa tidak segera menelponku?" tanya Leana sambil menyetir.


"Pulang dari rumah sakit tadi Mommy masih menangis dan marah-marah. Setelah itu Mommy ingin ke kamar mandi. Tapi saat di kamar mandi tiba-tiba Mommy jatuh. Aku minta tolong pada tetangga, untuk mengangkat tubuh Mommy ke kamar," jelas Monica.


"Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?" tanya Leana sambil melihat sekilas Monica yang memangku ibunya si belakang.


Terlihat Shanty yang masih menangis namun tak bersuara. Matanya menatap ke sana kemari seperti orang bingung. Kadang berbicara pada Monica tapi ucapannya terdengar tak jelas. Membuat Monica yang menangis hanya bisa mengangguk setiap kali ibu itu bicara padanya.


"Aku tidak punya uang untuk ke rumah sakit atau membayar taksi. Aku juga tak berani menelponmu karena kamu sedang marah dan menuduh kami meracunimu. Teganya Kakak menuduh Mommy berbuat itu padahal Mommy tulus pagi-pagi memasak untuk dibawa ke rumah sakit. Tahu seperti itu kejadiannya lebih baik tak menawarkanmu makan pagi tadi. Karena itu, aku tidak berharap pada kalian, Mommy juga pasti tidak akan sudi meminta tolong pada kalian," ucap Monica.


"Maafkan kami Kak, tadi itu Kak Radian salah paham. Kak Radian sangat panik melihat aku muntah. Maafkan kami ya Kak Monica? Sebenarnya aku datang ke rumah untuk meminta maaf pada kalian. Tapi melihat Mommy seperti ini sebaiknya kita harus segera membawanya ke rumah sakit," ucap Leana.


"Apa betul Mommy terkena stroke?" tanya Monica langsung menangis sedih.


"Dilihat dari gejalanya sepertinya Mommy memang terkena stroke Kak tapi jangan khawatir jika cepat ditangani serangan ini bisa diatasi. Seseorang yang terkena stroke memiliki waktu emas atau golden time period selama tiga jam pertama. Pada waktu emas ini, kerusakan yang terjadi pada otak bisa di minimalkan dan segera mendapatkan pertolongan, maka peluang untuk tertolong bisa lebih besar. Kira-kira sejak kapan kejadiannya Kak? Apa sudah melewati waktu tiga jam?" tanya Leana.


"Entahlah, kalau perasaanku masih belum begitu lama karena Mommy berencana makan siang setelah ke kamar mandi," jelas Monica.


"Baiklah mudah-mudahan masih belum melewati Golden time period tapi walaupun sudah melewati golden period itu, stroke masih terus berkembang selama 24 jam. Jadi bagaimana pun juga tetap harus segera dibawa ke rumah sakit," jelas Leana.


"Ya, syukurlah Kak Leana datang ke rumah," ucap Monica.


Leana ikut bersedih namun tersenyum dalam hati karena melihat Monica yang terlihat tak menyimpan dendam padanya. Entah mungkin karena panik dan tidak punya tempat untuk mengadu atau karena memang Monica telah melupakan kemarahannya begitu saja.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di Instalasi Gawat Darurat, Leana segera memanggil paramedis untuk membantu mengangkat tubuh ibu mertuanya. Shanty segera ditangani oleh dokter, yang segera mengambil tindakan berupa memberikan obat untuk meminimalisir kerusakan di otak, baik berupa penyumbatan atau pendarahan akibat pecahnya pembuluh darah.


Monica menangis sambil menunduk, tak terkira betapa paniknya dia saat mengetahui ibunya jatuh di kamar mandi. Shanty mengeluh wajahnya terasa kebas dan sulit menggerakkan tangan dan kakinya. Shanty juga berbicara sambil menangis padanya namun Monica tak mengerti apa yang diucapkan ibunya. Gadis itu hanya bisa menangis mendengar ucapan ibunya.

__ADS_1


Begitu terdengar ketukan pintu Monica langsung datang untuk menghampiri. Berharap ada seseorang yang bisa menolongnya. Leana muncul dan gadis itu pun, memberitahu keadaan ibunya. Dan kini Monica sudah bisa sedikit berlega hati karena ibunya telah di tangani oleh para dokter dan siap untuk dirawat.


Leana datang mendekati gadis itu, melihat Leana yang datang mendekatinya, Monica langsung memeluknya. Leana membalas pelukan itu. Monica memang membutuhkan pelukan sebagai bentuk dukungan. Saking paniknya, gadis itu melupakan dendamnya pada Leana dan Radian karena kejadian tadi pagi.


Monica merasa sangat berterima kasih karena Leana yang datang. Karena wanita itu bisa segera mengambil tindakan untuk menolong.


"Terima kasih Kak Leana karena datang dan menolong Mommy," ucap Monica tulus pada Leana.


"Tak usah sungkan Kak, bagaimanapun juga, jika terjadi hal seperti itu, aku pasti tidak akan tinggal diam Kak. Lagi pula apa yang terjadi pada Mommy aku rasa pasti ada hubungannya dengan kejadian tadi pagi," ucap Leana yang juga merasa tak enak hati.


"Oh ya, kenapa bisa terjadi seperti itu? Aku yakin Mommy tidak menaruh racun dalam makanan itu tapi kenapa Kak Leana bisa muntah-muntah?" tanya Monica.


"Itu juga yang ingin aku jelaskan pada kalian. Aku dan Kak Radian menemui dokter untuk menanyakan penyebab muntah yang aku alami tadi pagi. Ternyata … Monica ini adalah salah paham. Aku mengalami mual dan muntah bukan karena keracunan tapi karena … aku … telah hamil lagi," jelas Leana.


"Benarkah? Jadi penyebab mual Kak Leana tadi karena telah hamil lagi?" tanya Monica memastikan.


Seolah-olah kurang yakin dengan apa yang didengarnya tadi. Leana mengangguk untuk memastikan ucapannya. Monica langsung memeluk Leana. Gadis itu gembira mendengar berita kehamilan itu. Leana merasa haru atas respon Monica.


Tak menyangka gadis yang dikenalnya sangat culas dan kejam padanya dulu, bisa begitu peduli dan bahagia dengan hal-hal seperti itu.


"Aku pikir Kak Monica tidak suka dengan anak kecil," ucap Leana.


"Aku suka melihat anak kecil. Saat Revano lahir aku sangat senang karena merasa memiliki seorang keponakan. Aku seperti memiliki anak juga meski hanya anak kakakku. Tapi sayangnya kami cuma sebentar bertemu dengan Revano. Kita sudah keburu berpisah," ungkap Monica.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Monica.


"Kita akan menunggu penjelasan dokter. Kemungkinan Mommy juga akan dirawat di rumah sakit ini," jelas Leana.


Monica mengangguk, hening sejenak. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Leana menatap Monica yang terdiam tertunduk. Monica seperti gadis polos yang tak bisa apa-apa saat panik. Leana tak menyangka gadis sepertinya bisa begitu jahat saat di SMP dulu.


Dokter datang menemui mereka dan menjelaskan bahwa Shanty harus mendapatkan perawatan. Leana segera mengurus permintaan ruang rawat inap yang terbaik untuk ibu mertuanya. Tak lama kemudian Shanty dibawa ke ruang rawat inap sesuai dengan permintaannya itu.


Mereka mengikuti Shanty yang dipindahkan ke ruang rawat inap. Ibu itu terlihat sedang tertidur dan di bawa ke sebuah ruangan yang sangat nyaman, tak lupa Leana menyuruh Monica untuk beristirahat.


"Aku akan pergi dulu Kak, untuk beritahu kak Radian dan juga membeli makanan. Kak Monica pasti belum makan siang, ya 'kan?" tanya Leana.


Gadis itu hanya mengangguk, sejujurnya dia hanya bisa pasrah tak mendapat apa pun. Leana yang telah mengurus semuanya hingga ibunya bisa dirawat di ruangan mewah itu saja sudah membuatnya sangat bersyukur.


Leana pun kembali ke ruangan rawat inap suaminya. Laki-laki itu langsung memeluk Leana dan merasa lega karena bisa melihat istrinya lagi. Sejak wanita itu pergi, hati Radian tak tenang sedikit pun karena takut terjadi sesuatu yang buruk pada wanita yang dicintainya itu.


Namun saat Leana menceritakan apa yang terjadi Radian sangat terkejut dan merasa bersalah. Dalam hati laki-laki itu juga ingin segera meminta maaf pada ibu dan adiknya yang nyata-nyata telah dituduhnya berbuat jahat.

__ADS_1


"Kakak ingin ke ruangan Mommy?" tanya Leana.


Laki-laki itu mengangguk dengan ragu-ragu. Melihat itu Leana langsung menyiapkan suaminya untuk mengajaknya ke ruang rawat inap ibunya.


"Apa Mommy akan memaafkan aku?" tanya Radian.


"Aku tidak tahu Kak, aku sendiri belum sempat meminta maaf tapi nanti kita coba saja Kak. Kita lakukan apa saja untuk mendapatkan maaf dari Mommy," ucap Leana sambil mendekatkan kursi roda pada suaminya.


Radian menatap istrinya dengan tatapan yang sendu. Laki-laki itu kembali mengagumi kebaikan hati Leana. Sebelum laki-laki itu duduk di kursi roda itu, Radian memeluk istrinya. Sangat berterima kasih untuk apa yang dilakukan Leana untuknya dan ibunya.


Wanita sebaik kamu tak pantas untuk di sakiti, tapi apa yang aku dan keluargaku lakukan selalu saja menyusahkanmu, batin Radian.


"Maafkan aku sayang, aku dan keluargaku hanya bisa menyusahkanmu," ucap Radian masih memeluk istrinya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Jangan berkata seperti itu Kak, apa yang aku lakukan ini untuk kebaikan hubungan kita dengan Mommy. Lagi pula apa yang terjadi pada Mommy mungkin karena kesalahan kita tadi. Jadi aku hanya berusaha untuk membayar kesalahanku," ucap Leana.


"Aku yang salah tapi kamu yang disusahkan," ucap Radian dengan suara serak.


"Jangan ucapkan kata-kata seperti itu lagi Kak, aku juga bersalah, bukan hanya Kakak yang berpikiran buruk pada Mommy," ucap Leana mengingatkan.


Radian memejamkan mata sambil terus memeluk istrinya. Laki-laki itu merasa sangat beruntung memiliki wanita berhati lembut itu. Radian mencium pipi istrinya lama lalu tersenyum. Leana juga ikut tersenyum. Segera wanita itu meminta suaminya untuk duduk di kursi roda. Radian berniat mendorong sendiri kursi rodanya. Tapi Leana tetap membantu mendorong kursi roda suaminya itu.


"Ingatlah Leana! Kamu jangan terlalu capek, kamu itu sedang hamil," ucap Radian mengingatkan.


"Ya Kakak, jangan khawatir. Aku ingat kok," jawab Leana.


Wanita itu segera mengantarkan suaminya ke ruang rawat inap ibu mertuanya. Di sana Radian langsung disambut dengan tangis oleh Monica. Radian langsung meminta maaf pada adiknya itu. Monica mengangguk karena tak punya alasan lagi baginya untuk tak memaafkan kakaknya setelah apa yang dilakukan Leana selaku istri dari kakaknya itu.


Setelah mengantar Radian, Leana pun pamit membeli makanan. Meski tak setuju melihat Leana yang bolak balik tak istirahat tapi Radian tak bisa melarangnya karena wanita itu sudah janji akan membelikan makanan untuk makan siang Monica.


Saat istrinya pergi, Radian meminta adiknya menceritakan apa yang terjadi. Monica pun menjelaskan semua sejak pulang dari rumah sakit hingga akhirnya Leana datang ke rumahnya. Mendengar cerita dari adiknya, Radian merasa apa yang diputuskan istrinya selalu benar.


"Hati Leana itu seperti malaikat. Beruntung dia tak mau mengikuti keinginanku. Jika tadi dia mengikuti ucapanku, mungkin saat ini Leana masih menunda untuk datang menemui kalian. Dan kalian masih berada di rumah dan terlambat melakukan pertolongan pada Mommy," ucap Radian mengingat rasa khawatir yang membuatnya melarang Leana menemui keluarganya seorang diri.


Namun, Leana bersikukuh untuk menemui keluarga itu sekarang juga. Meski ada rasa takut namun wanita itu tetap ingin menemui kedua orang itu karena tak ingin menunda untuk meminta maaf. Leana takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan dan sekarang semua itu terjadi. Leana menemukan ibu mertuanya sedang terserang stroke.


"Benar Kak, jika Kak Leana tidak datang. Mommy mungkin akan lumpuh selamanya karena tak segera mendapatkan pertolongan. Aku sama sekali tak mengerti, hanya bisa berharap Mommy membaik sendiri di rumah dengan beristirahat. Ternyata seseorang yang terkena stroke harus segera mendapat penanganan dokter untuk meminimalkan kerusakan sel-sel otak yang dapat terjadi dalam waktu yang cepat juga untuk menghindari timbulnya komplikasi. Dokter sangat mengapresiasi tindakan Kak Leana yang langsung membawa Mommy ke rumah sakit--"


"Benarkah?" tanya Shanty yang ternyata telah sadar dan mendengar semua percakapan Monica dan kakaknya.


Mendengar suara ibunya kedua putra dan putri Shanty langsung datang menghampiri. Radian segera meminta maaf pada ibunya sambil menangis menyesal. Laki-laki itu memeluk ibunya dan merasa menyesal telah menuduh ibunya berniat jahat pada istrinya.

__ADS_1


Melihat ketulusan Radian meminta maaf dan mendengar usaha Leana untuk menolongnya, akhirnya Shanty memaafkan putra dan menantunya.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2