
Leana bahagia karena Ezra mencoba membuka hati untuk adik iparnya. Di mana dia sangat tahu betapa besar rasa cinta Monica terhadap mantan Kakak kelasnya itu. Monica hingga menjadi seorang yang jahat karena iri atas perhatian Ezra padanya. Namun, saat bertemu lagi dengan Leana. Laki-laki itu masih menyimpan perasaan cinta pada Leana.
"Saat bersamamu, aku merasa kalau aku masih mencintaimu Livia," ucap Ezra yang tak bisa ditahannya.
Tentu saja kata-kata itu membuat Leana marah. Dengan emosi, Leana segera bangkit dari kursi tamu itu tapi tiba-tiba Leana merasakan perutnya yang terasa sakit. Wanita itu bahkan kembali terduduk di kursi.
Leana memegang kandungannya yang tiba-tiba mengalami kontraksi. Ezra segera datang menghampiri. Dengan perasaan bingung laki-laki itu mencoba menenangkan Leana yang mengerang, merintih dan menjerit. Baru saja mencoba menghubungi Radian.
Laki-laki itu datang dan langsung menarik kerah Ezra. Melayangkan tinjunya hingga membuat laki-laki itu jatuh tersungkur. Radian datang dan menyaksikan Ezra yang begitu dekat dengan istrinya yang berbaring di sofa. Jerit dan rintihan Leana semakin membuat hati Radian kalut.
Tanpa melihat apa yang terjadi. Laki-laki itu hanya ingin segera menyingkir Ezra menjauh dari Leana. Bagaimanapun juga trauma atas apa yang dilihatnya di foto masih tetap tertinggal di kepalanya.
__ADS_1
Melihat Leana berbaring di sofa dan merintih, membuat pikirannya kembali melayang saat usaha pelecehan yang dilakukan Ezra pada istrinya. Monica dan Shanty datang bersamaan ke ruang tamu itu tapi dari arah yang berlawanan.
Monica baru pulang dari beraktivitas di agensinya sementara Shanty baru keluar dari kamarnya. Mendengar jerit kesakitan Leana, ibunda Radian itu langsung keluar. Mereka yang baru datang langsung kaget. Bukan hanya karena Leana yang menjerit kesakitan tetapi juga karena Radian yang telah melayangkan pukulan pada tamu mereka.
"Jangan Kak, berhenti!" seru Leana di sela-sela rasa sakitnya.
Radian menghentikan niatnya melayangkan pukulan untuk ke sekian kali. Segera laki-laki itu menghampiri istrinya yang telah basah bermandikan keringat. Dengan wajah panik Radian menoleh ke arah ibunya.
Seruan ibunya menyadarkan Radian. Langsung laki-laki itu menggendong istrinya dan membawanya ke rumah sakit. Sementara itu, Monica langsung melihat keadaan Ezra. Dengan perasaan sedih dan kesal pada kakaknya, Monica mengolesi wajah Ezra yang memar dengan krim anti lebam.
"Tidak apa-apa. Radian hanya salah paham. Aku rasa dia panik saat melihat Livia kesakitan. Aku juga tadi begitu," jawab Ezra saat mendengar Monica yang menggerutu.
__ADS_1
"Tapi tetap saja, keterlaluan! Nggak nanya-nanya langsung main pukul. Orang macam apa yang seperti itu?" tanya Monica dengan nada kesal.
"Orang yang sangat mencintai istrinya. Kamu mungkin tidak bisa merasakannya. Aku bisa merasakan emosi Radian yang tak sempat dilampiaskannya pada perbuatanku di masa lalu. Aku seperti kembali ke masa itu. Masa di saat aku ingin melecehkannya. Saat itu, aku juga berpikir. Jika tiba-tiba Radian datang dan melihat kelakuanku pada istrinya, dia pasti akan memukuliku. Sekarang lah kejadian itu menjadi nyata," tutur Ezra.
"Kenapa masih mengungkit hal itu?" tanya Monica.
"Karena aku tak mau ada rahasia lagi. Terlebih lagi saat ingin berhubungan serius denganmu. Kamu harus tahu segalanya. Jadi tak ada salah paham antara kamu dan kakak iparmu. Begitu juga dengan aku dan Radian. Aku ingin mengaku padamu, tak mudah bagiku menghilangkan perasaan cintaku pada Livia. Maafkan aku," ucap Ezra sambil menatap Monica.
Tangan Monica yang sibuk mengoles krim anti memar itu berhenti bergerak dan tiba-tiba terasa berat. Monica tertunduk menatap tangannya di pangkuannya. Seperti apa pun perhatiannya pada Ezra, tetap tak bisa mengalahkan rasa cinta Ezra yang begitu kuat pada Leana.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1