
Radian bangun sambil memegang keningnya yang terasa sakit. Menatap ke sekeliling ruangan yang terasa asing baginya. Hingga kaget dan segera memalingkan wajahnya saat laki-laki itu melihat Camelia yang tertidur tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya.
Radian segera meraih selimut hotel itu dan menutupi tubuh wanita itu. Radian segera bangun dari ranjang itu dan menatap tubuhnya. Radian menggelengkan kepalanya saat melihat tubuhnya sendiri yang telah melepas kemejanya. Laki-laki itu menjambak rambutnya sendiri dengan kuat. Menggelengkan kepalanya tak mau menerima pemikirannya sendiri.
Tidak! Tidak! Aku tidak melakukan apa-apa. Aku tak melakukan apa pun padanya, tidak! Aku tidak akan mengkhianati istriku, batin Radian.
Laki-laki itu segera mencari kemejanya yang terlempar ke balik meja. Segera laki-laki itu mengenakan kemejanya dan pergi dari kamar hotel itu. Meski merasa tak menyentuh Camelia namun kenyataan wanita itu tidur di sampingnya membuat pikiran Radian menjadi kalut.
Laki-laki itu berkali-kali, menyesali dirinya yang ikut menikmati minuman hingga akhirnya membuatnya mabuk. Sekuat tenaga pikirannya menolak kenyataan yang ada di hadapannya. Bahkan hingga kembali ke rumah kantornya, Radian terlihat murung.
"Bang! Semalam ke mana? Aku pikir Abang kembali pulang tapi kenapa tak ada di sini. Menginap di rumah ya Bang?" tanya Haris heran.
__ADS_1
Radian tercenung, laki-laki itu berusaha melupakan kejadian pagi itu. Saat mendapatinya dirinya tertidur di sampingnya. Namun justru ditanyakan oleh Haris. Laki-laki itu tak menjawab dan langsung naik ke lantai atas ruko itu. Segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sekian lama tertunduk di bawah pancaran air shower. Laki-laki itu menitikkan air mata. Sekuat tenaga berpikir apa yang terjadi namun tetap tak menemukan jawabannya.
Tidak! Aku rasa tidslak terjadi apa-apa. Aku tak ingat apa-apa. Tapi bagaimana kalau aku tak sadar melakukannya? Tak ingat apa pun justru membuatku bimbang. Apa mungkin aku benar-benar melakukannya? Tidak! Aku tidak akan mengkhianati istriku, aku tidak melakukannya Livia. Aku tidak akan mau melakukannya selain denganmu, batin Radian menangis.
Berkali-kali menolak untuk percaya telah melakukan perbuatan itu dengan Camelia. Namun Radian hatinya tetap ragu karena tak mengingat apa pun. Saat kembali ke ruang kerjanya Radian masih termenung. Dan yang bisa membuat Radian bicara hanyalah Pak Arif.
"Andaikan saja bapak tak pulang duluan. Andai aku melarangmu minum saat itu. Andai bapak menjagamu malam itu, semua belum tentu terjadi. Bapak menyesal Radian. Maafkan kesalahan bapak. Kamu menolak untuk pergi, tapi bapak justru mendorongmu untuk ikut bersama kami. Andai saja saat itu kamu tidak ikut. Bapak sungguh-sungguh menyesal Nak, maafkan Bapak," ucap Arif menyesal sambil mengusap punggung Radian.
"Bapak tak salah, aku yang salah. Aku tak tegas pada diriku sendiri. Andai saja aku menolak untuk minum lebih banyak, mungkin aku tidak akan mabuk Pak. Tapi dalam hati aku justru sangat ingin mabuk karena aku tak bisa melupakan penyesalanku atas kepergian istriku Pak. Aku hanya ingin sedikit merasa tenang Pak. Kepalaku rasanya mau pecah setiap kali mengingat kepergiannya. Aku hanya ingin istirahat dari rasa penyesalanku Pak. Tapi ini yang aku dapatkan, aku justru melakukan kesalahan. Bagaimana ini Pak? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku akan menemui Livia, sementara aku yang telah menodai pernikahan kami," ucap Radian dengan air mata yang mengalir.
__ADS_1
Haris dan Yanto yang ingin menyapa mereka, urung mendekat. Mereka justru merasa heran atas sikap Radian yang tiba-tiba menangis di hadapan Pak Arif.
"Kita belum tahu apa yang terjadi Radian. Kita tunggu penjelasan Camelia," ucap Arif.
"Dia pasti menuntutku bertanggung jawab Pak. Aku tidak bisa, aku tak ingin mengkhianati istriku. Aku tak mau kehilangan Livia Pak. Berpisah dengannya menjatuhkan hidupku terasa mati. Apa lagi jika dia tahu aku melakukan ini, Livia pasti sangat membenciku Pak. Bagaimana aku bisa membuatnya kembali padaku," jelas Radian.
"Maafkan bapak Radian. Bapak tak bisa berbuat apa-apa, tak bisa memberi solusi. Saat ini hanya berharap Camelia menyadari kesalahannya dan tak menuntutmu," ucap Arif.
Sebuah harapan yang muluk-muluk namun memang hanya itu yang bisa diucapkan bapak itu. Dia mendukung Radian kembali pada istrinya. Memberi semangat agar laki-laki lebih giat bekerja agar bisa menyusul anak dan istrinya.
Tiba-tiba Camelia datang dan langsung berdiri di depan meja kerja Radian. Wanita itu seperti telah bersiap-siap melancarkan serangan agar Radian tak bisa mengelak dari tanggung jawabnya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...