
Pelayan itu mempersilahkan Radian masuk setelah mendapat izin dari majikannya. Laki-laki itu sangat terkejut saat mengetahui tamu yang sedang mengunjungi Leana ternyata adalah Ezra. Kedua laki-laki itu saling menatap. Rahang keduanya serentak menegang. Saat mendengar Radian datang, Ezra berharap Leana tak mau menerima kedatangan laki-laki itu.
Namun, Ezra akhirnya kecewa karena ternyata Leana masih mau bertemu dengan laki-laki yang telah meninggalkannya dan menikah dengan wanita lain itu. Sementara Radian yang baru mengetahui kalau tamu Leana adalah Ezra langsung kaget karena tak percaya Leana masih mau bertemu dengan laki-laki yang telah melecehkannya itu.
Kedua laki-laki yang sama-sama mencintai Livia itu saling menatap dengan pikiran masing-masing. Radian yang merasa heran, Ezra masih berani menemui Leana setelah apa yang dilakukannya dan Ezra yang merasa penasaran untuk apa lagi Radian datang menemui Leana setelah meninggalkan Leana dan menikahi wanita lain.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka bertemu? Setelah apa yang dilakukan Ezra padanya, harusnya Livia membencinya. Apa sekarang Livia menerima Ezra, tidak oh tidak. Jangan sampai akhirnya Livia menerima Ezra, batin Radian sangat khawatir.
Ezra yang merasa hubungannya dengan Radian sedang tidak baik akhirnya memutuskan untuk pamit pulang. Tak mungkin baginya untuk tetap bertahan di tempat itu. Dengan diizinkannya Radian menemui Leana menunjukkan kalau sudah saatnya dia harus pergi dari rumah itu.
Tinggal Radian yang menatap dengan sendu wanita yang dicintainya. Radian sangat merindukan Leana. Laki-laki itu sangat ingin memeluk istri yang sangat dicintainya itu tapi Radian ragu apakah Leana masih memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Maaf aku mengganggumu," ucap Radian akhirnya buka suara.
Leana yang tadinya berdiri menatap Radian akhirnya memalingkan wajahnya. Hati wanita itu masih merasakan sakit atas keputusan Radian yang menikahi Camelia. Melihat sikap Leana yang memalingkan wajahnya membuat hati Radian terasa perih namun dia harus bertahan demi mendapatkan maaf dari wanita yang selalu dirindukannya itu.
"Aku … aku ingin minta maaf," ucap Radian.
Melangkah mendekati dengan ragu-ragu akhirnya berhenti. Memutuskan untuk lebih mendekat lagi lalu kembali berhenti. Terlihat jelas pertentangan di hatinya sedang terjadi. Radian sangat ingin lebih dekat dengan Leana bahkan sangat ingin memeluknya namun merasa tak yakin Leana akan menerima. Radian mengerti Leana sakit hati dengan perbuatannya dan kesalahannya yang sudah terlalu banyak.
"Aku sudah tahu apa yang terjadi. Aku melihat foto kejadian itu yang sebenarnya. Aku baru tahu kalau Ezra melecehkanmu. Aku baru tahu kalau ternyata kalian tidak berselingkuh. Aku …."
Radian mencoba kembali mendekat dan terpaku menatap mata Leana yang telah memerah. Seolah-olah menunjukkan untuk apalagi semua kata-kata itu diucapkan. Untuk apa mengatakan kebenarannya karena sekarang semua sudah terlambat. Radian telah memutuskan menikah dengan Camelia. Seperti apa pun pernyataan penyesalan Radian sekarang, semuanya sudah tak ada artinya lagi.
__ADS_1
Leana memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan air matanya yang tak terbendung lagi. Penyesalan Radian sudah tak ada artinya lagi. Laki-laki itu telah memutuskan menikahi wanita lain dan itu tak bisa dimaafkannya. Kata maaf yang sudah tak berguna lagi. Andai Radian tak mengkhianatinya dengan menikahi Camelia dengan senang hati Leana memaafkan dan kembali padanya. Namun, kini Leana merasa laki-laki itu bukan miliknya lagi meski kata maaf diberikannya.
"Livia, maukah kamu memaafkan aku?" tanya Radian.
Laki-laki itu akhirnya mendekat dan meraih tangan Leana. Namun, wanita itu justru menarik tangannya segera.
"Livia?" tanya Radian heran dengan sikap Leana yang menolak disentuh olehnya.
Wanita itu hanya diam memalingkan wajahnya.
"Livia, maafkan aku–"
"Aku maafkan Kakak," ucap Leana kemudian beranjak pergi.
"Aku tahu aku salah! Aku mohon, maafkan aku Livia! Jangan jauhi aku. Jangan menghindar dariku. Aku mohon Livia," ungkap Radian menangis.
"Nggak bisa Kak! Sekarang Kakak milik Camelia! Aku nggak bisa bersama Kakak lagi," ucap Leana tak bisa menahan tangisnya yang terisak-isak.
"Jangan bicara begitu Livia, aku bukan milik Camelia. Aku hanya mencintaimu, aku khilaf. Aku mabuk hingga tak sadar … tapi sungguh Livia. Di hatiku, di mataku itu adalah kamu. Alkohol mengaburkan pandanganku. Aku pikir dia itu kamu karena aku merindukanmu. Bersamanya itu adalah sebuah kesalahan. Aku sama sekali tak sadar melakukan itu dengannya. Di mataku cuma ada kamu Livia. Cuma kamu istriku yang sesungguhnya," ucap Radian sambil menangkup wajah istrinya.
"Tapi kenyataannya dia adalah istri Kakak sekarang
. Aku tidak bisa berbagi cinta dengannya, aku–"
__ADS_1
"Aku tidak berbagi cinta Livia! Sejak awal hingga detik ini aku cuma mencintai kamu. Aku tidak punya cinta untuknya. Cintaku semuanya untukmu Livia. Aku tidak cinta padanya, aku tidak pernah cinta padanya," tutur Radian.
"Tapi aku tak bisa Kak, kenyataannya sekarang dia istri Kakak. Dia perempuan, aku juga perempuan. Aku bisa merasakan sakitnya orang yang dicintai direbut orang. Aku tidak mau merasa bersalah padanya," ucap Leana.
"Kamu tidak salah sayang, kamu tidak merebut aku dari siapa pun. Aku tetap milikmu sayang! Aku hanya ingin menjadi milikmu. Aku ini suamimu, kamu tetap istriku. Livia, bagiku kamu tetap istriku,. Aku tidak mau berpisah denganmu," ucap Radian dengan air mata yang menitik di sudut matanya.
Laki-laki itu frustasi demi meyakinkan Leana yang masih menolaknya. Radian tak punya cara lain untuk membuktikan cintanya hanya untuk Leana. Segera laki-laki itu membenamkan bibirnya ke bibir Leana. Wanita itu kaget dan mundur, dengan wajah yang bersimbah air mata, Leana beranjak dari tempat itu. Meninggalkan Radian yang tertunduk menangis. Leana telah menolaknya, hatinya terasa perih.
Menoleh ke lantai atas di mana Leana menghilang di balik dinding. Laki-laki itu kembali tertunduk, namun terusik saat mendengar suara Revano yang telah mampu mengucapkan kata-kata meski tak banyak. Radian berdiri di balik pintu beranda belakang di mana beberapa pelayan duduk berkeliling di lantai keramik itu. Radian tersenyum melihat putranya yang begitu tampan berjalan ke arah mana saja pelayan yang memanggilnya.
Melempar bola lalu mengambilnya kembali. Radian tak tahan ingin mendekati anaknya. Ikut duduk bersila di lantai keramik beranda belakang itu. Seorang pelayan menunjuk agar Revano berjalan ke arah papanya. Anak itu dengan patuh berjalan ke arah laki-laki yang tersenyum merentangkan tangannya.
Begitu sampai, Radian langsung memeluk anak itu. Terdengar tawa bahagia laki-laki itu namun tak seiring dengan ekspresi di wajahnya. Radian yang menunduk menatap putranya yang duduk di pangkuannya. Suara tawa terdengar namun ia menitikkan air mata. Senyum para pelayan yang mengembang langsung hilang. Mereka saling berpandangan, saat melihat bulir bening itu mengalir melewati hidungnya mancung.
Para pelayan tertunduk tak sanggup menatap pemandangan di hadapan mereka. Radian seolah tak peduli air matanya yang menetes terlihat oleh para pelayan. Tanpa disadarinya, bukan hanya pelayan yang termangu menatap pemandangan itu. Leana yang memutuskan untuk kembali menemuinya pun tak tega melihat pemandangan menyedihkan itu.
Tawa Radian terdengar serak, tapi dia tak ingin menutupinya. Asyik berbicara pada anaknya. Tak peduli dengan sekeliling, hanya menganggap dunia ini milik mereka berdua.
"Cepat besar ya Nak! Biar bisa jaga Mama dan adik. Kalau Papa tidak ada, Reno yang harus menjaga mereka!" ucap Radian lalu mencium puncak rambut anak itu begitu lama.
Terdengar isak tangisnya yang tertahan. Radian segera menyerahkan putranya pada baby sitter-nya. Radian melangkah keluar dengan tergesa-gesa membawa tangisnya yang telah susah payah ditahannya.
Radian melangkah tak tentu arah, pandangannya kosong, pikirannya hampa. Entah apa yang dipikirkannya, melangkah begitu saja menyeberangi jalan. Tak peduli mobil yang tengah melaju ke arahnya. Hanya itu yang dirasakannya sekarang kosong, hampa dan gelap.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...