Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 100 ~ Mengendalikan Hati ~


__ADS_3

Leana telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Di sana mereka bisa berkumpul untuk menjenguk Leana dan bayinya. Masih menggendong Revano, Ezra mengajak anak itu melihat adiknya. Sempat terpana saat melihat Monica yang seperti telah pantas menggendong bayinya sendiri. Laki-laki itu tersenyum membayangkan model cantik itu jika telah memiliki bayi mereka.


Begitu bahagia hingga terpikirkan untuk bertanya nama sang bayi, Ezra menoleh ke arah Leana justru tepat di saat wanita itu membalas ciuman suaminya. Ezra terpaku, menatap wanita yang masih berkuasa di hatinya itu sedang menikmati ciuman lembut dari suaminya.


Leana tak menyangka, jika momen sekilas itu sempat tertangkap mata oleh Ezra yang sontak merusak suasana hatinya. Rasa iri pada Radian kembali muncul, menatap Revano dan bayi baru lahir itu adalah buah percintaan Leana dan Radian. Ezra langsung kesal. Segera menurunkan Revano, dan pamit seolah-olah teringat sesuatu.


"Maaf Monica, aku harus kembali, aku ingat ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Ezra.


Laki-laki itu melangkah menghampiri Radian dan Leana. Menyerahkan Revano pada Radian, lalu pamit pulang. Leana dan Radian berterima kasih atas perhatian laki-laki itu menunggu kelahiran bayi mereka.


"Ya, tidak masalah, sekali selamat ya atas kelahiran putri kalian," ucap Ezra.


"Oh Kakak tahu dari mana dia bayi perempuan, padahal aku belum beritahu. Apa dokter yang beritahu tadi?" tanya Leana heran. Ezra menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya tahu saja, karena dia … cantik, sama seperti kamu," ucap Ezra.


Membuat jantung Radian dan Monica berdegup. Pujian Ezra terasa begitu mendalam. Radian mencoba untuk bersikap wajar. Monica tiba-tiba datang menghampiri.

__ADS_1


"Wajah yang mana yang cantik? Kak Livia ini sudah berubah wajah lho Ezra. Apa kamu lupa?" tanya Monica membuat Leana terdiam.


Bibirnya yang tersungging senyuman kini terdiam membungkam. Leana tiba-tiba merasakan, sikap ketus Monica dengan mengusik wajahnya. Monica seperti membuka topeng Leana, berharap wanita itu kembali mengingatkan kecantikannya sekarang ini bukanlah yang sebenarnya.


"Tentu saja aku ingat. Aku tak mungkin lupa," jawab Ezra.


"Masih ingat? Wajah Livia yang mengerikan itu?" tanya Monica.


"Monica!" hardik Radian.


Laki-laki itu tidak tahu apa masalah Monica hingga tiba-tiba bersikap seperti itu pada kakak iparnya. Radian tidak tahu, dalam hatinya Monica merasa kesal. Melihat perubahan air muka Ezra saat melihat Radian dan Leana ciuman. Monica langsung merasa kalau laki-laki yang dicintainya itu merasakan cemburu.


Ezra hanya menjawab dengan santai ucapan Monica. Mendengar nada bicara calon istrinya itu, Ezra justru ingin membalas. Juga ikut merasa kesal dengan ucapan Monica yang dinilai kasar dan menjengkelkan.


"Aku tidak pernah mengingat wajah mengerikan itu, yang selalu aku ingat adalah wajah manis Livia. Di saat cacat atau telah berubah seperti sekarang ini, wajah yang aku ingat adalah wajah manis itu. Wajah anak baru yang sangat manis … berlari keliling lapangan demi pertahankan alasannya datang terlambat ke sekolah," jelas Ezra.


Jawaban itu seperti disengaja Ezra ungkapkan, agar Monica sadar. Bagi Ezra, wajah manis Livia saat itu sama sekali tidak luntur, meski berubah cacat atau berubah wajah seperti sekarang ini. Monica tertunduk, baru sadar ucapannya tadi, bukan hanya membuat sedih Leana tetapi juga memancing amarah Ezra. Melihat raut wajah menyesal Monica, Ezra sadar dan menyudahi masalah itu.

__ADS_1


"Aku permisi pulang dulu, Radian … Livia," ucap Ezra lalu pamit pada Shanty Rahayu.


Laki-laki itu langsung melangkah keluar ruang rawat inap itu. Melihat Ezra yang pergi tanpa menoleh padanya, Monica langsung menyerahkan bayi yang digendongnya pada ibunya. Segera Monica berlari mengejar Ezra.


"Ezra tunggu!" seru Monica menghadang langkah Ezra.


"Aku tidak suka sikapmu seperti itu," ucap Ezra jujur.


"Aku cemburu," jawab Monica.


"Aku tahu. Tapi apa kamu juga tahu? Kita bisa bersama jika kita bertemu pada satu titik. Aku berusaha menghilangkan rasa cintaku pada Livia dan kamu berusaha menghilangkan sikap jahatmu pada Livia. Jika kita sama-sama berusaha, kita-kita sama-sama berhasil, maka kita sama-sama akan bertemu di titik itu. Kamu pikir aku suka melihat istriku bersikap sinis pada cinta pertamaku? Jika aku berhasil menghapus rasa cintaku pada Livia, apa menurutmu aku senang melihat sikapmu seperti itu? Atau hanya akan membuat aku ingin membelanya terus menerus?" tanya Ezra.


"Maafkan aku," ucap Monica akhirnya.


Monica menyesal dengan sikapnya yang tak pernah bisa dewasa. Gadis itu menyesal hingga menangis tersedu-sedu. Melihat itu Ezra datang menghampiri. Memeluk gadis yang menyesal itu untuk menenangkan hatinya.


Ezra tahu, saat ini adalah masa pembelajaran bagi Monica. Belajar mengendalikan sikap buruknya. Sama seperti Ezra yang juga belajar mengendalikan perasaannya.

__ADS_1


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2