
Leana membantu kesiapan Rica untuk memulai bekerja. Wanita itu memberikan pengarahan-pengarahan agar gadis itu siap menghadapi dunia kerja. Begitu terlihat siap, Leana meminta Nesya untuk datang ke rumahnya.
Meskipun kaget karena tak biasanya Leana merekomendasikan seseorang untuk bekerja di perusahaannya. Nesya tetap patuh pada perintah pimpinan tertinggi perusahaan tempat dia bekerja itu. Nesya pun berkenalan dengan Rica. Gadis itu berjanji akan bantu mengarahkan pada bagian kebersihan. Rica sangat bahagia dan berterima kasih pada Leana dan Nesya.
Keesokan harinya, Rica telah bersiap sedia untuk berangkat bekerja. Leana yang berhati lembut tak tega melihat gadis itu yang berangkat bekerja dengan pakaian dan dandanan yang sederhana. Wanita itu langsung mengajak Rica ke walk in closet di kamarnya. Rica terperangah menatap ke sekeliling kamar yang penuh dengan buku-buku layaknya perpustakaan besar.
"Semua adalah buku-buku koleksi Kak Radian. Kakak memang sangat suka membaca buku, makanya Kak Radian sangat cerdas," jelas Leana.
Rica mengangguk kagum pada koleksi buku-buku dari yang berharga murah hingga bernilai selangit berjejer rapi di rak yang memenuhi dinding kamar. Pemandangan sekeliling ruangan itu membuatnya sangat kagum. Namun, pemandangan selanjutnya lebih membuatnya terperangah.
Gadis itu bahkan berlari ke sana kemari, dari satu sudut ke sudut yang lain saat memasuki walk in closet di mana semua perlengkapan penunjang penampilan itu tersusun rapi di sana. Pakaian yang tergantung rapi, mulai dari gaun-gaun indah hingga pakaian-pakaian resmi.
"Ini koleksi pakaian kantorku, baru beberapa kali pakai. Karena tubuhku yang berubah saat mengandung jadi tak dipakai lagi. Ambillah beberapa untuk dipakai bergantian setiap hari," ucap Leana.
Rica bukannya segera memilih pakaian-pakaian mahal itu tetapi justru menoleh ke arah Leana dengan mata yang berkaca-kaca. Setelah menelan ludah menatap pakaian-pakaian yang hanya bisa dikhayalkan itu, kini Leana justru memintanya memilih beberapa untuk dipakainya untuk berangkat bekerja.
"Serius aku boleh pakai ini Kak?" tanya Rica yang dibalas dengan anggukan oleh Leana.
"Aku janji akan hati-hati pakainya biar tidak rusak," sambung Rica lagi.
"Jika terawat dengan baik, bisa dipakai lebih lama lagi. Bagus sekali jika bisa menjaga dengan baik apa yang menjadi milik kita–"
"Apa?" tanya Rica tak mengerti.
"Apa berikan pakaian yang kamu suka, kalau kamu bisa merawatnya dengan baik. Aku ikut senang," ucap Leana memperjelas maksudnya.
"Kakak beri untukku? Bukan dipinjamkan?" tanya Rica masih tak percaya dengan yang didengarnya.
"Ya, tapi janji ya, bekerja dengan baik, rajin dan tekun," ucap Leana.
"Baik Kak, baik! Terima kasih banyak Kak," ucap Rica yang langsung memeluk Leana tanpa sadar.
__ADS_1
Leana tersenyum. Tanpa sadar pikirannya terhadap Rica berubah. Gadis itu tidaklah terlalu buruk. Hanya berpikiran pendek dan hanya ingin hidup santai. Namun, semakin mengenal gadis itu semakin memahami sifatnya. Terlihat lugu, dan berpikiran pendek. Tetapi juga mudah terharu akan kebaikan orang.
Leana berharap gadis itu bisa menjadi seorang lebih baik. Lebih bertanggung jawab dengan hidupnya hingga bisa mandiri bahkan bisa menjadi tempat bergantung orang tuanya. Rica pun mulai memilih pakaian-pakaian yang menarik menurutnya.
Setiap kali memilih, gadis itu akan menunjukkan pada Leana yang duduk di sofa di tengah-tengah ruangan itu sambil menggendong bayinya. Leana akan mengangguk. Gadis itu akan langsung berteriak tak percaya pakaian yang dipilihnya diizinkan untuk diambil.
"Terima kasih Kak, untuk semuanya," ungkap Rica dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya, apa sudah dicoba semua?" tanya Leana yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Rica.
"Baiklah kalau begitu acara memilih pakaiannya sudah selesai. Sekarang kita keluar," ucap Leana hendak berdiri tetapi terpaku menatap sepatu Rica yang terlihat tak layak pakai lagi.
"Aku lupa kamu juga butuh sepatu dan tas bukan?" tanya Leana.
Rica sontak menoleh ke arah sepatunya. Gadis itu langsung termangu menatap ke arah sepatunya yang tak sepadan dengan pakaian yang di cobanya saat ini. Leana pun memilihkan dua pasang sepatu dan dua buah tas berwarna netral untuk diberikan pada Rica.
Lagi-lagi gadis itu terharu melihat kebaikan hati Leana. Gadis itu berjanji akan bekerja dengan giat agar Leana tidak malu karena telah merekomendasikannya. Setelah semua beres, Rica pun berangkat ke kantor perusahaan Leana.
Seketika Rica akan bangkit, rasa lelahnya langsung hilang. Gadis itu akan kembali semangat menjalankan tugas-tugasnya. Semakin bersemangat karena para pekerja di sana cukup ramah padanya. Teringat akan apa yang menjadi pesan Leana.
"Di manapun kamu berada, di manapun kamu bekerja. Jangan bersikap sombong. Sifat seperti itu akan membuatmu dijauhi orang. Sifat sombong tak mengangkat derajat seseorang tapi justru menjatuhkan derajat kita di dalam hati orang-orang. Sifat rendah hati, justru membuat orang-orang kagum padamu, baik dari pihak teman maupun dari pihak musuh, mengerti!" nasehat Leana.
"Mengerti!" ucap Rica yang membuat teman-teman sesama pekerja langsung tertawa.
Rica tersenyum malu. Tanpa sengaja menjawab nasehat Leana yang melintas dalam pikirannya. Rica setiap saat mengingat nasehat itu membuat gadis itu disukai oleh para pekerja di sana.
"Mengerti apa sih?" tanya seorang office girl.
"Aku cuma ingat nasehat kakakku," ucap Rica.
"Apa nasehatnya?" tanya office girl lain.
__ADS_1
"Bekerja yang rajin, tekun dan jangan sombong," ungkap Rica.
"Ya aku tahu," ucap Rica.
"Kirain ada nasehat-nasehat unik. Aku ingin mencobanya," ucap office girl itu.
"Ya, ini pesan biasa tapi sangat berkesan buatku karena melihat contohnya secara langsung. Orang yang memberi nasehat itu sangat sukses, disayang banyak orang, dikagumi oleh teman ataupun musuh," jelas Rica.
Rica kembali membayangkan Leana. Dikagumi oleh teman ataupun musuh sangat dipercaya oleh Rica karena merasa sendiri secara langsung. Rica yang tadinya tak menyukai Leana bahkan menganggapnya sebagai musuh karena iri pada kehidupan Leana yang kaya raya. Ditambah lagi memiliki suami yang begitu mempesona membuat Rica menganggap Leana adalah musuh.
Namun, kebaikan hati Leana yang sama sekali jauh dari sifat sombong, dalam sekejap merubah pikiran Rica. Hati gadis itu sering kali tergugah, hingga dengan cepat merubah perasaan benci Rica terhadap Leana menjadi rasa kagum. Sifat rendah hati membuat orang kagum di hati teman ataupun musuh, jelas terbukti bagi Rica.
"Orang yang memberi nasehat itu kakakmu? Sangat sukses, disayang banyak orang dan juga dikagumi oleh teman ataupun musuh? Jika dia sukses kenapa dia tidak membantumu menjadi sukses juga?" tanya office girl itu di saat jam istirahat mereka.
"Ini, sekarang sedang membantuku. Memberikan nasehat berharga dan memberiku kesempatan untuk bekerja di sini. Itu sudah membantuku," jelas Rica.
"Oh ya siapa itu, apa kami kenal?" tanya office girl itu.
"Kenal, dia adalah pimpinan tertinggi perusahaan ini …."
"Bu Leana? Tadi kamu bilang kakakmu?" tanya office girl itu sambil tertawa.
"Ya, Bu Leana seperti Kakak kandungku," ucap Rica.
"Kalau itu semua orang juga ingin jadi keluarganya. Siapa yang tak ingin. Sukses tapi tidak sombong …."
"Berarti aku tidak salah kan?" tanya Rica.
Semuanya mengangguk. Tanpa sadari kalau Rica benar-benar telah menjadi keluarga Leana. Jika ketahuan pun tak masalah bagi Leana karena menempatkan Rica di posisi yang dia bisa. Bukan posisi yang melebihi kemampuannya hingga tidak membuat iri para karyawan lainnya.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1