Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 40 ~ Kembali Bersama ~


__ADS_3

Radian dan Leana menikmati kebersamaan mereka. Berdua menikmati kenyamanan air hangat yang ditambahkan minyak esensial aromaterapi itu.


"Kamu sungguh baik-baik saja? Aku khawatir kesehatanmu terganggu," bisik Radian sambil mengecup bibir dan leher istrinya.


"Kakak benar-benar khawatir padaku? Kakak seperti begitu khawatir tapi Kakak begitu jahat padaku--"


"Apa?"


"Teganya Kakak mengkhianati aku dengan gadis muda itu," ucap Leana dengan wajah cemberut.


Radian menghentikan kecupan-kecupannya dan menatap lurus ke mata Leana. Laki-laki itu menghela nafas berat.


"Maafkan aku Livia, entah apa yang aku pikirkan. Aku merasa kacau, aku merasa kalut. Saat aku belum siap untuk menemuimu, kamu justru muncul di hadapanku. Rasa kecewa dan malu pada pernikahan kita membuat aku seperti berdiri di persimpangan. Tak tahu arah yang akan aku tuju. Di satu sisi aku ingin bersamamu. Di sisi yang lain aku merasa bersalah padamu. Aku juga merasa kecewa pada pemikiranku yang menganggap kamu menikahiku demi balas dendammu. Aku tertekan Livia, setiap kali memikirkannya kepalaku terasa mau pecah," jelas Radian.


"Lalu apa hubungannya dengan gadis itu?" tanya Leana.


"Aku meminta bantuannya untuk … menjauhkanmu--"


"Apa? Kakak ingin mengusirku?" tanya Leana.


"Bukan begitu sayang! Aku … hanya belum siap menemuimu. Aku tidak sungguh-sungguh berhubungan dengannya dan dia juga sepakat untuk itu," jelas Radian lagi.


"Kalian bersepakat, untuk berpura-pura memiliki hubungan? Tapi … aku merasa dia benar-benar menyukai Kakak--"


"Apa?"


"Lalu bagaimana dengan mengurus surat perceraian itu? Dari ucapannya tersirat kalau dia benar-benar ingin kita berpisah, itu karena dia menyukai Kakak. Dia mendahului Kakak membicarakan tentang perceraian agar Kakak timbul niat untuk benar-benar bercerai dariku," jelas Leana.


Mendengar ucapan Leana, wajah laki-laki itu terlihat risau dan merasa menyesal.


"Aku tidak pernah berniat menceraikanmu Livia. Bagaimana aku sanggup menceraikan satu-satunya wanita yang aku cintai sejak dulu? Bisa mendapatkanmu kembali dalam hidupku saja rasanya sudah seperti mendapatkan keajaiban. Mana mungkin aku sanggup menceraikanmu," ucap Radian sambil menyatukan kening mereka.


Sementara itu Leana mengusap pipi laki-laki yang dicintainya. Sudah lama sekali rasanya, Leana tak menyentuh wajah itu.


"Kakak tidak rindu pada Revano?" tanya Leana.

__ADS_1


"Tentu saja aku merindukannya? Dia adalah kebanggaanku, kebahagiaanku, bukti cintaku. Aku selalu merindukannya sama seperti aku merindukanmu. Aku selalu mencari cara untuk bisa melihatnya. Setiap aku merindukan kalian, aku akan mengintip kalian--"


"Apa? Mengintip? Bagaimana caranya?" tanya Leana kaget.


"Setiap kali makan siang, kamu akan pulang ke rumah. Aku rasa untuk menyusui Revano. Setiap kali itu pula aku melihatnya di gendong baby sitter saat mengantarmu di teras. Aku hanya kecewa setiap kali kamu tidak pulang untuk makan siang. Apalagi karena berjanji makan siang bersama Tn. Ezra," ucap Radian tertunduk.


Leana mengusap wajah suaminya sambil tersenyum.


"Jika Kakak ke rumah saat makan siang, berarti Kakak menghabiskan waktu makan siang Kakak. Bagaimana bisa sempat makan siang lagi," tanya Leana heran.


"Kalau itu tak perlu di tanyakan, aku sudah terbiasa tidak makan siang agar bisa lebih berhemat. Tapi jika rasanya tak sanggup aku akan beli roti murah dan air mineral kemasan gelas. Itu sudah cukup untuk mengganjal perutku--"


"Ya ampun, pantas Kakak kurus sekali. Kakak tidak memperhatikan gizi lagi," ucap Leana makin cemas.


"Hidup kami sangat prihatin Livia, kami tak pedulikan gizi atau mementingkan rasa lagi. Sekarang aku sudah sangat bersyukur Tn. Adam mau menerimaku bekerja. Apalagi Tn. Ezra yang mengangkatku sebagai personal assistant-nya. Aku sangat bersyukur tapi sekarang aku membalas kebaikan mereka dengan merebut gadis yang dicintainya sejak masih SMP--"


"Apa?"


"Dia mencintaimu Livia, dia benar-benar mencintai Livia. Gadis yang berusaha didekatinya karena merasa berhutang maaf padanya. Karena menghukum Livia berlari keliling lapangan tanpa memberi ampun hanya karena datang terlambat ke sekolah--"


"Apa?"


Leana tertunduk, lalu menganggukkan kepalanya.


"Harus bagaimana lagi Kak? Ini sudah takdir, aku mengira dia pergi karena tak ingin lagi berteman denganku--"


"Itu tidak benar! Dia dipaksa pindah ke luar negeri oleh orang tuanya karena dia ingin mempertahankan cintanya padamu. Mendengar itu aku semakin kalut sayang! Bagaimana aku tega merebut gadis yang begitu dicintainya. Dia bahkan menyimpan dendam pada orang tuanya karena telah memisahkan kalian," jelas Radian dengan wajah yang sendu.


Leana tercenung lalu memeluk dan menyadarkan Radian di dadanya. Wanita itu mengusap dan menyiramkan air di punggung dan lengan suaminya lalu memeluk leher laki-laki itu erat.


"Tapi aku hanya mencintai Kakakku, yang selalu menatap sedih padaku setiap kali aku menangis, menolongku meski tak mau mengakui kalau sudah menolongku. Selalu menghabiskan sandwich buatanku tapi menolak dan bilang tak suka sandwich saat aku tak mendapatkan jatah sarapan. Aku tidak melupakan semua itu, aku tahu saat itu Kakak menolak sandwich dariku karena tahu aku tak mendapat jatah sarapan 'kan? Sejak itu aku bertekad, aku ingin jadikan Kakakku jadi suamiku--"


"Benarkah?" tanya Radian tak percaya.


Sebuah pernyataan yang tak disangka-sangka. Radian sayang pada Livia meski tak pernah terpikirkan menjadikan Livia menjadi istrinya namun saat kehilangan Livia, rasa sayang Radian berkembang menjadi cinta. Sebuah cinta yang dirasakannya justru saat orangnya telah tiada. Radian hanya menyimpan perasaan cinta itu di dalam hatinya tanpa ingin jatuh cinta pada wanita mana pun.

__ADS_1


Leana tersenyum sambil mengangguk, Radian segera membenamkan bibirnya di bibir wanita terkasihnya itu sebagai ungkapan bahagia dan rasa cintanya yang semakin bertambah pada wanita dihadapannya. Radian jadi bertanya-tanya kebaikan apa yang pernah dilakukannya hingga justru menikahi orang yang sejak dulu dicintainya.


Laki-laki itu kembali melepaskan hasratnya pada wanita itu, dan tentu saja Leana menyambutnya. Radian merasa seperti baru saja menikah lagi, kali ini menikahi Livia.


"Aku mencintaimu Livia," ungkap Radian dengan nafas yang tersengal-sengal.


Leana pun kehabisan nafas hingga tak sanggup menjawab ungkapan cinta Radian. Wanita itu hanya bisa mengangguk dengan kuat. Mereka tersenyum dan tertawa bersama. Radian memeluknya erat.


Pagi itu mereka tak sabar menunggu pakaian diantar ke kamar. Begitu sampai mereka langsung menikmati sarapan pagi di hotel. Hati mereka berbunga-bunga, semua hal terasa indah bahkan menginap di hotel sederhana itu pun terasa seperti berbulan madu di hotel yang mewah.


"Kakak akan kembali ke rumah?" tanya Leana sambil menggandeng tangan suaminya.


Setelah sarapan pagi mereka langsung check out. Leana mengajak laki-laki itu untuk kembali ke rumah orang tuanya. Radian berjanji akan mengunjungi putranya namun belum bisa kembali ke rumah istrinya itu.


"Kenapa?" tanya Leana heran.


"Aku harus bicarakan dengan Mommy dan Monica. Kami tidak bisa seenaknya kembali ke rumah itu tanpa ada perjanjian apa-apa. Aku tak bisa membiarkan ibuku dan adikku sewenang-wenang lagi padamu," jelas Radian.


Leana mengangguk. "Tapi jangan terlalu lama ya?" tanya Leana tak sabar.


"Ya sayang, aku hanya ingin tahu, seberapa besar keinginan ibu dan adikku kembali ke rumah itu. Aku ingin membuat mereka tahu kalau kamu telah menawarkan kami untuk kembali. Tapi aku akan membuat mereka berpikir kalau aku menolak tawaranmu. Aku akan menunjukkan keberatan untuk kembali ke rumah itu dikarenakan malu atas perbuatan mereka. Biar mereka menyesal dan menyadari kalau hidup kami yang susah sekarang ini, itu semua akibat dari kejahatan mereka sendiri," jelas Radian panjang lebar.


"Wah, sebenarnya yang dendam itu aku atau Kakak? Kenapa pembalasannya lebih kejam Kakak daripada aku?" tanya Leana sambil tertawa.


Radian juga ikut tertawa namun tak lepas memandang wajah cantik Istrinya. Hatinya masih tak percaya, hari ini … pagi ini masih menggenggam tangan istrinya. Radian merasa seolah-olah semuanya masih seperti mimpi.


"Aku akan langsung ke kantor sayang. Kamu pulanglah untuk istirahat ya!" ucap Radian sambil mengusap pipi istrinya.


"Kenapa harus beristirahat? Seperti habis kerja berat saja?" tanya Leana sambil tersenyum.


"Kerja berat 'kan, melayani suami yang hasratnya menumpuk dan dibayarkan dalam satu malam," jawab Radian sambil tersenyum. Leana pun ikut tertawa.


"Baiklah aku akan istirahat, Kakak juga jangan bekerja terlalu berat ya!" ucap Leana dengan raut wajah yang ragu.


Keduanya tertunduk, mengira-ngira apa yang akan terjadi pada Radian saat bertemu dengan atasannya nanti. Radian tentu saja merasa bersalah, karena merebut gadis yang dicintai Ezra.

__ADS_1


Namun dibalik itu Radian tak menyadari Ezra telah mengikhlaskannya, mengingat Radian dan Leana adalah suami istri yang terpisah hanya karena sedang dalam masalah.


...~  Bersambung ~...


__ADS_2