
Ezra mengajak Radian makan siang bersama dan pergi minum di malam harinya. Radian yang sangat penasaran bertanya penyebab laki-laki itu kesal pada orang tuanya. Laki-laki itu pun menceritakan tentang seorang gadis yang harus dijauhinya hingga kedua orang tuanya memutuskan untuk mengirimnya bersekolah di luar negeri. Radian teringat ucapan Tn. Adam yang pernah bercerita padanya.
"Lalu kenapa Tuan tidak mencarinya sekarang? Jika dulu dipisahkan karena Tuan masih belum dewasa dan masih dibawah kuasa orang tua. Saat telah mandiri seperti sekarang ini, bukankah harusnya Tuan bisa melakukan apa yang Tuan inginkan?" tanya Radian.
Ezra berpikir sejenak, keinginan untuk mencari gadis yang disukainya itu pernah muncul saat awal-awal dikirim ke New York. Diam-diam laki-laki itu ingin kembali ke tanah air, namun karena pengawalan dari orang suruhan Tn. Adam membuat usaha Ezra tak berhasil dan putus asa.
Hingga akhirnya terbiasa menjalani kehidupannya seorang diri di negeri orang. Hanya di temani oleh beberapa orang pengawal, Ezra tenggelam dalam kesendiriannya. Merasa dendam pada orang tuanya, Ezra bertekad untuk tak akan kembali lagi ke tanah air.
"Ayahku membuat aku tak memiliki kesempatan untuk bersamanya. Padahal aku merasa sedikit lagi aku bisa meraih hatinya. Itu yang membuatku sangat kesal. Sedikit lagi … hanya sedikit lagi saja aku akan menyatakan cinta padanya. Aku rasa aku berhasil meluluhkan hatinya. Dia gadis yang sulit didekati karena kehidupannya yang sulit. Aku memohon pada orang tuanya untuk meminta sedikit waktu saja agar aku bisa mengikat hatinya. Setelah itu jika aku harus pergi maka aku akan pergi. Tapi orang tuaku tidak peduli, semakin aku memohon semakin mereka ingin aku segera pergi. Akhirnya aku mewujudkan keinginan orang tuaku bukan? Aku pergi seperti yang mereka inginkan?" jelas Ezra.
"Aku rasa Tn. Adam merasa menyesal atas sikapnya di masa lalu. Aku berkenalan dengan Tn. Adam saat beliau sedang berjalan sambil melamun hingga tak sempat mengelak dari seorang anak yang bersepeda. Aku takut Tuan, penyesalan Tn. Adam bisa berakibat buruk pada dirinya. Maaf Tuan Ezra, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Bukan maksudku untuk menakut-nakuti tapi aku takut suatu saat Tuan Ezra akan menyesalinya," jelas Radian.
Ezra termenung mendengar ucapan Radian, kata-kata laki-laki itu merasuk di relung hatinya. Radian memang tidak bermaksud menakut-nakuti tapi saat memikirkan hal yang buruk, putra satu-satunya keluarga Adam itu mulai merasa takut.
"Tuan beruntung memiliki ayah yang peduli pada Tuan. Sebagian orang tak bisa mendapatkan perhatian seperti itu. Karena sudah tak ada di sisi lagi, jika dalam keadaan seperti itu jangankan perhatian yang kita rindukan, kemarahannya pun kadang kita harapkan untuk mengatasi rasa rindu. Aku memiliki tiga orang ayah …"
"Tiga orang ayah?" tanya Ezra langsung dan tertawa tak percaya.
"Ibuku menikah hingga tiga kali, satu berpisah tanpa kejelasan, satu berpisah dengan baik-baik dan yang terakhir meninggal. Masing-masing dari mereka ada yang aku rindukan, seperti yang aku katakan tadi, jangankan kasih sayang, kemarahan dari mereka pun aku rindukan," jelas Radian.
"Mereka punya karakter yang berbeda?" tanya Ezra penasaran.
"Tentu saja tuan, ada yang pemarah, ada suka menasehati, ada lembut dan penuh kasih sayang," jawab Radian.
"Kamu paling rindu dengan yang terakhir?" tanya Ezra.
"Pada dasarnya rindu semua Tuan, namanya juga orang tua, kadang di situasi tertentu aku teringat pada yang ini. Di momen yang lain, ingat dengan yang lainnya, kejadian yang lain lagi, aku rindu dengan yang lainnya. Semua itu karena mereka tak ada lagi di sisi kita. Jika telah seperti itu rasanya menyesal kenapa tak sepuas-puasnya dulu bersama mereka. Memaksimalkan momen bersama-sama dengan mereka," jelas Radian dengan mata yang berkaca-kaca.
Ezra tercenung mendengar kisah Radian. Setelah di rasa hari cukup larut, laki-laki itu pun memutuskan untuk pulang dari Night Club itu.
"Kamu menginap di mana?" tanya Ezra.
"Aku diberi fasilitas ongkos, makan dan hotel untuk menginap oleh Tn. Adam," jelas Radian.
"Kalau begitu, waktunya istirahat. Besok kita bertemu lagi di hotel," ucap Ezra.
"Baik Tuan," ucap Radian.
__ADS_1
Radian mengikuti Ezra keluar dari Night Club. Sampai di teras gedung itu mereka menunggu valet parking membawakan mobil Ezra. Seorang tamu protes karena menunggu lama, Valet Parking itu di maki-maki oleh tamu karena membuatnya lama menunggu. Radian tertunduk teringat kejadian saat dirinya dan Leana menunggu Valet Parking yang berdebat dengan seorang tamu.
Radian menghapus air matanya yang menggenang di pelupuk matanya.
Leana pasti tidak akan tinggal diam, dia pasti akan memaki tamu yang membuat keributan itu, Leana ... Leana sayang … aku sangat merindukanmu, batin Radian.
"Kamu kenapa Radian?" tanya Ezra.
"Tidak apa-apa Tuan, cuma teringat dengan istri," jawab Radian.
"Kamu sudah punya istri? Wah kamu ini penuh dengan kejutan," ucap Ezra sambil tertawa.
"Aku sudah 29 tahun Tuan, wajar jika sudah punya istri," jawab Radian sambil tersenyum malu.
"Umurku lebih muda dua tahun darimu. Kalau begitu jangan panggil aku Tuan, panggil saja namaku. Tapi bolehkah aku tetap memanggilmu Radian? Aku tidak suka dengan embel-embel panggilan, rasanya hanya membuat jarak antara kita saja, itu kalau kamu tidak keberatan," jelas Ezra.
"Tidak masalah Tuan eh … Ezra, tidak masalah memanggil namaku, aku jadi terasa lebih muda," jelas Radian. Ezra tertawa.
"Ok, terima kasih Radian, kamu sudah membuat hariku jadi yang mengesankan," jelas Ezra.
Radian mengangguk, sambil tersenyum. Ezra pun berinisiatif mengantar Radian pulang ke hotel karena perasaan Ezra yang semakin terasa dekat dengan Radian.
"Maaf Nona Leana, sudah menunggu lama," ucap Adam.
"Oh tidak apa-apa Tuan, aku sudah termasuk yang beruntung bisa bertemu dengan Tuan," ucap Leana.
"Kamu berlebihan, perusahaanmu begitu besar tapi masih berharap dengan perusahaan kecilku ini?" tanya Adam.
"Karena perusahaan Tuan Adam yang ahli di bidangnya. Aku angkat topi untuk itu," jelas Leana.
Laki-laki yang telah berusia senja itu tertawa. Mereka bertemu untuk melakukan sebuah kontrak kerja sama. Tn. Adam memang tak mudah untuk ditemui. Bapak yang tak lagi berminta untuk berkuasa di dunia bisnis itu hanya memilah orang-orang yang ingin ditemuinya. Jika menurutnya orang yang ingin ditemui memiliki sifat yang tak disukainya maka Tn. Adam akan menolak tanpa basa-basi.
Namun jika menurut pengamatannya seseorang itu memiliki sifat yang baik maka Tn. Adam bersedia meluangkan waktunya untuk bertemu karena itu Leana merasa beruntung bersedia di temui oleh bapak yang sudah tak peduli lagi mengejar kesuksesan di dunia bisnis itu. Baginya berhubungan dengan orang-orang baik lebih penting dibanding hanya mencari keuntungan di dunia bisnis. Mereka pun berhasil melakukan kontrak kerjasama.
"Aku harap kerjasama ini berjalan dengan sangat lancar," ucap Adam sambil menjabat tangan Leana.
"Terima kasih Tn. Adam," ucap Leana dengan senyum khasnya.
__ADS_1
"Saya yang berterima kasih," ucap Adam membalas senyum Leana.
"Kalau begitu sama-sama Tuan," jawab Leana lagi. Tn. Adam tertawa.
"Oh ya, tadi ... saya sudah membuatmu menunggu, bukannya sekarang sudah waktunya makan siang? Bagaimana kalau aku traktir makan siang?" tanya Adam.
"Oh tidak usah repot-repot Tuan, aku tidak lapar," jawab Leana.
Tapi baru saja Leana menolak secara halus tawaran makan siang itu, suara perutnya yang keroncongan justru berbunyi. Leana tertawa malu sambil menyentuh perutnya, membuat Tn. Adam kontan tertawa.
"Malu makan berdua dengan pria tua?" tanya Adam.
"Aah, bukan begitu tuan, aku merasa tidak enak hati jika ditraktir. Aku bersedia makan siang dengan tuan tapi biar aku yang traktir ya?" tanya Leana.
Tn. Adam tertawa, kemudian mengangguk. Tn. Adam mengajak Leana makan di kantin kantor mereka. Selain harganya yang terjangkau rasanya juga sangat lezat.
"Apa keberatan makan bukan di restoran mewah?" tanya Adam saat pandangan Leana mengitari suasana kantin kantor perusahaan itu.
"Oh tidak masalah tuan, dulu aku dan suamiku bahkan suka makan jajanan pinggir jalan," jelas Leana lalu tiba-tiba tertunduk.
Dengan mudah menceritakan kenangan itu pada Tn. Adam hingga melupakan kenyataan pahit yang mereka jalani sekarang. Leana seperti lupa kalau hubungannya dengan sang suami sudah tidak seperti dulu lagi.
"Sudah menikah rupanya?" tanya Adam.
"Sudah Tuan, dan juga memiliki seorang anak," sambung Leana.
"Wah hidupmu telah lengkap, jagalah semua itu baik-baik karena saat lepas dari dirimu, hatimu akan terasa hampa," jelas Adam.
Leana tertunduk, wanita itu sangat memahami perasaan itu. Tak hanya terasa hampa tapi merasa kehilangan segala-segalanya. Namun Leana tak menunjukkan hal itu ke permukaan, semua hanya di simpan di dalam hatinya. Leana tetap seperti seseorang yang ceria dari luarnya.
"Aku berkata seperti itu bukan bermaksud untuk menggurui tapi hanya berbagi pengalaman. Aku telah kehilangan sebagian besar waktu bersama putraku karena sebuah ego. Saat ini seseorang sedang berusaha membujuknya untuk kembali. Jika berhasil maka putraku yang akan melanjutkan kepemimpinan di perusahaan ini," ungkap Adam.
"Oh ... Tuan akan menyerahkan posisi presiden direktur pada putra Tuan?" tanya Leana.
"Ya, aku akan beristirahat, menikmati masa tuaku. Untuk selanjutnya kamu akan berhubungan dengan putraku, Ezra," jelas Adam.
"Ezra?" ucap Leana tanpa sengaja.
__ADS_1
Hati wanita itu sedikit berdesir mendengar nama yang cukup akrab ditelinganya. Namun Leana mengaggap itu hanya kebetulan saja karena merasa mungkin hanya namanya saja yang mirip dengan nama seseorang yang dulu dikenalnya.
...~ Bersambung ~...