
Radian menatap pemandangan kota dari atas balkon ruang kantornya. Hatinya sedikit terusik karena hari ini adalah jadwal pertemuan dengan perusahaan Leana.
Mungkin yang datang masih utusannya. Ya ampun, kenapa aku terus memikirkannya? Kenapa aku ingin bertemu dengannya? Apa karena matanya yang mirip Livia saat tersenyum. Atau ucapannya yang mengingatkanku pada masa lalu. Sudahlah! Harusnya aku melupakannya, dia bahkan sama sekali tak menghargaiku. Selalu mengutus personal assistant-nya menemuiku. Aku harusnya tak peduli lagi, anggap saja sudah berakhir. Livia, setelah sekian lama, ada seseorang yang mengingatkanku padamu, batin Radian.
Laki-laki itu memejamkan mata, dadanya terasa sesak. Namun tak ingin larut dalam kegalauan hatinya. Radian menghela nafas lalu menghembuskannya, Radian melakukan itu hingga berkali-kali. Tiba-tiba terdengar suara tawa kecil di belakangnya. Sontak Radian membalik badan dan terkejut, Leana sedang tersenyum memandanginya.
"Apa itu salah satu latihan teknik pernafasan yoga?" tanya Leana sambil tersenyum.
Radian kelimpungan tak bisa menjawab. Gadis itu berjalan melewati pintu geser ke balkon.
"Aku sudah mengetuk pintu, karena tidak ada sahutan jadi aku langsung masuk," sambung Leana.
Radian langsung melihat jam tangannya.
"Aku datang lebih cepat, aku pikir sebelum mulai bicara bisnis kita bisa …. makan siang dulu?" tanya Leana sambil berjalan perlahan lebih mendekat ke hadapan Radian.
Laki-laki bertubuh tinggi itu menunduk memandangi wajah cantik di hadapannya. Menatap Leana dengan tatapan yang dalam, Leana pun balas menatap laki-laki di hadapannya itu.
"Kenapa tidak mengutus personal assistant-mu lagi?" tanya Radian.
"Oh, kamu lebih suka dengannya? Baiklah aku beritahu dia," ucap Leana langsung membalik badan.
Radian menangkap tangan gadis yang hendak pergi itu. Leana menatap genggaman tangan Radian. Laki-laki itu buru-buru melepaskan genggaman tangannya.
"Aku hanya bertanya, bukan ... lebih suka dengannya," ucap Radian lalu tertunduk.
Leana tersenyum, lalu kembali mendekati laki-laki tampan itu.
"Sikapmu seperti anak remaja. Apa kamu belum pernah jatuh cinta?" tanya Leana melihat sikap Radian yang malu-malu.
"Apa? Kenapa menanyakan itu? Tidak sopan! Itu bukan urusanmu," ucap Radian lalu kembali masuk ke ruangannya.
Laki-laki itu duduk di belakang meja kerjanya dan bersikap seperti sedang memeriksa pekerjaannya. Radian paling tidak suka diusik tentang pribadinya. Khususnya tentang perasaan cinta, Radian adalah laki-laki yang tertutup terutama dalam urusan asmara.
"Aku benar-benar kelaparan, apa kamu tidak mau mengajakku makan siang?" tanya Leana dengan nada manja.
Radian bergeming, matanya tak beralih dari angka-angka pada lembaran kertas di hadapannya.
Aku tidak punya kewajiban mengikuti semua kehendakmu, makin diikuti makin melunjak, batin Radian.
"Baiklah, aku pergi sendiri," ucap Leana lalu keluar dari ruangan Radian.
Laki-laki itu menghempaskan lembaran kertas di tangannya ke atas meja.
Kenapa dia berbuat seperti itu? Kenapa selalu membuat orang tidak enak hati? Batin Radian.
Laki-laki itu melangkah ke luar ruangan namun tak melihat Leana di lorong kantor itu. Segera Radian menuju lift untuk turun ke lantai basement. Berharap belum terlambat, Radian berharap Leana masih belum melaju dengan supercar yang pernah dilihatnya. Laki-laki itu mencari-cari di mana Leana memarkirkan mobil mewahnya itu.
Radian berlari ke sana kemari mencari namun tak kunjung melihat gadis itu. Hingga akhirnya Radian berlari ke pos parkir.
"Pak, tadi lihat supercar lewat sini?" tanya Radian sambil terengah-engah.
"Mobil keren itu Pak? Tadi memang ada mobil keren masuk Pak," jawab penjaga pos parkir.
"Keluar? Apa belum keluar?" tanya Radian masih terengah-engah.
"Belum Pak," jawab penjaga.
"Yakin Pak?" tanya Radian lagi.
"Saya yakin belum keluar Pak. Rencananya mau saya foto itu mobil. Habis keren betul," ucap penjaga itu dengan polosnya.
Radian melihat ke sekeliling area gedung itu.
"Cari siapa Pak?" tanya penjaga pos.
"Pemilik mobil itu, katanya mau keluar makan siang," ucap Radian putus asa.
"Oh ya, tadi ada wanita cantik bertanya tempat cari jajanan pinggir jalan Pak …"
"APA? Jajanan pinggir jalan?" tanya Radian heran.
"Ya Pak. Terus saya bilang di sebelah kiri terus ada jalan masuk nah di sepanjang jalan itu ada segala macam jajanan pinggir jalan. Biasanya karyawan kantor sekitaran area sini makan siang atau beli jajanan di sana," jelas Pak Penjaga Pos Parkir.
"Jalan ke sebelah kiri lalu ketemu jalan masuk?" tanya Radian untuk menyakinkan dan dibalas anggukan oleh penjaga pos parkir itu.
Radian berlari ke arah yang ditunjuk, mencari-cari di antara para karyawan perkantoran yang mulai ramai memesan makanan. Berlarian dan langsung mencari-cari di tengah terik matahari membuat kepalanya pusing.
Radian putus asa, laki-laki itu sendiri tidak yakin kalau Leana bersedia makan di jalanan seperti itu. Mengingat posisinya sebagai CEO di perusahaan besar, putri tunggal pemilik rumah sakit dan terbiasa dengan kehidupan mewah.
Radian memijit kepalanya yang terasa sakit karena menatap begitu ramainya karyawan dari berbagai perusahaan di sekitar situ.
Tiba-tiba pundaknya ditepuk, Radian langsung membalik badan.
"Ayo makan sama-sama," ucap Leana riang sambil menyodorkan sepotong Korean sandwich
Radian langsung membalik badan dan melangkah meninggalkan Leana.
"Aku tidak suka!" ucapnya melanjutkan langkahnya.
~ Nggak mungkin, nggak suka. Biasanya Kak Radian selalu menghabiskan sandwich buatan Bi Iyah ~
__ADS_1
Radian menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Leana.
"Apa katamu?" tanya Radian dengan matanya yang membesar.
Leana menggelengkan kepalanya dengan raut wajah heran. Gadis itu justru sedang mengunyah makanannya. Radian melanjutkan langkahnya dengan pikiran yang berkecamuk.
Apa aku sudah gila? Kenapa aku seperti mendengar suara Livia? Apa karena … kejadian ini seperti saat terakhir Livia berjalan bersamaku, batin Radian.
Radian menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Leana. Gadis itu kembali menyodorkan sandwich yang diletakkan dalam wadah kotak kecil itu. Karena melihat Radian tak kunjung menerima makanan yang disodorkannya Leana ingin menyimpannya.
Tapi tiba-tiba Radian menahan tangan Leana dan mengambil Korean sandwich yang disodorkan gadis itu.
"Nah gitu dong, nanti bisa menyesal lagi lho," ucap Leana sambil tersenyum.
Menyesal? Benar! Aku menyesal tidak mengambil sandwich yang sodorkan Livia waktu itu. Aku selalu menyesal setiap kali mengingatnya, tapi menyesal ... lagi? Apa ini yang kedua kalinya? batin Radian.
"Apa maksudmu menyesal lagi?" tanya Radian.
"Tadi waktu aku ajak makan siang kamu menolak. Akhirnya menyesal dan mencariku ke sini 'kan? Sekarang ditawari sandwich kamu menolak lagi. Tapi sekarang sudah mau menerima artinya kamu tidak mau menyesal lagi ya 'kan?" tutur Leana.
Radian tak peduli dengan ocehan gadis itu, dia melanjutkan langkahnya sambil menggigit Korean sandwich di tangannya.
"Terima kasih telah menerimanya demi aku," ucap Leana.
Bukan demi kamu tapi demi Livia, aku tidak mau menyesal seperti yang kurasakan pada Livia, batin Radian.
Laki-laki itu mempercepat langkahnya membuat Leana ketinggalan. Gadis itu berusaha mensejajarkan langkah mereka.
"Kamu suka sandwich? Mau aku buatkan tiap hari?" tanya Leana.
Radian menghentikan langkahnya dan menatap Leana.
"Berapa umurmu?" tanya Radian.
"Kenapa?" ucap Leana balik bertanya.
"Caramu memanggil orang kurang sopan pada orang yang usianya lebih tua darimu," ucap Radian memberi nasihat.
"Oh! Kalau begitu bagaimana caranya? Aku harus panggil kamu apa? Kak Radian?" tanya Leana sambil memiringkan kepalanya.
Melihat tingkah Leana, Radian tak bisa menahan senyum.
Oh manisnya, batin Leana.
Laki-laki itu melanjutkan langkahnya meninggalkan Leana.
"Kak!"
Senyum di wajah Radian lenyap seketika, Radian seperti benar-benar mendengar suara Livia. Dadanya berdebar kencang lalu menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Kak Radian!"
"Kak Radian!"
Livia? Batin Radian.
Tanpa sadar Radian berlari dan langsung memeluk Leana. Tak peduli memeluk gadis itu di trotoar yang ramai dilewati orang-orang yang berlalu lalang. Leana tersenyum dan membalas pelukan laki-laki itu. Sesuatu yang telah bertahun-tahun diimpikannya. Bisa memeluk kakaknya yang selalu menolongnya meski tak pernah mau mengakuinya.
Tiba-tiba Radian melepaskan pelukannya dan terlihat malu. Ditambah orang-orang di sekitar yang tersenyum menatap mereka. Sementara Leana bersikap biasa-biasa saja.
"Kamu ini, dipeluk laki-laki di pinggir jalan, kenapa diam saja sih? Kenapa tidak menolak, kenapa tidak protes?" tanya Radian.
"Kenapa harus protes?" tanya Leana.
"Ya ampun!" seru Radian sambil celingak celinguk melihat orang yang semakin banyak tersenyum pada mereka.
Radian meraih tangan Leana dan mengajaknya berlari kembali ke kantornya. Laki-laki itu berlari sambil menahan malu.
Sial, aku lupa dia dibesarkan di luar negeri mana peduli dia dengan pandangan orang di sini, batin Radian.
Radian berhenti dan menyandarkan Leana ke dinding pagar perusahaan. Menoleh ke arah luar seolah-olah takut masih ada yang melihat mereka. Sementara Leana tersenyum sambil terus menatap laki-laki yang terengah-engah di hadapannya. Terpesona seolah-olah waktu berjalan begitu lambat, pandangan matanya perlahan menyusuri dada hingga ke leher yang berkeringat dan terus naik hingga ke rahang laki-laki tampan itu.
Tiba-tiba Radian menoleh padanya dengan tatapan yang kembali tajam.
"Semua ini gara-gara kamu," ucapnya sambil berjalan meninggalkan Leana dan berjalan menuju kantornya.
"Apanya yang gara-gara aku?" tanya Leana.
Radian tak menjawab, masih tetap berjalan meninggalkan gadis itu.
Bagaimana kalau ada karyawan kantorku yang melihat kejadian tadi, aah gawat, batin Radian.
"Kak Radiaaan!" teriak Leana.
Radian menutup kedua telinganya sambil menoleh dengan kesal pada Leana. Laki-laki itu menghampiri gadis yang memanggilnya itu.
"Aku tidak izinkan kamu memanggilku dengan panggilan itu," ucap Radian kesal.
"Kenapa?" tanya Leana polos.
"Hanya satu orang gadis selain adikku yang boleh memanggilku dengan panggilan itu!" tegas Radian kemudian berlalu dari tempat itu.
__ADS_1
"Satu orang gadis? Siapa itu? Pacarmu? Kak Radian sudah punya pacar?" tanya Leana dengan nada sedikit kecewa.
"Aku bilang jangan panggil aku seperti itu! Pertemuan kita kali ini dibatalkan!" teriak Radian lalu masuk ke dalam lift dengan wajah yang kesal.
Radian menatap Leana yang berjalan menuju lift. Laki-laki itu segera menekan tombol lift ditutup, langkah Leana terhenti. Terlihat jelas kalau Radian sangat kesal. Leana tak ingin menambah kekesalan di hati laki-laki itu. Leana melambaikan tangannya dengan senyumannya yang khas, Leana pamit saat pintu lift hampir benar-benar tertutup.
Sial, kenapa dia terus bersikap seperti itu. Kenapa dia harus tersenyum seperti itu. Leana! Kamu bukan Livia! Kenapa kamu bertingkah sepertinya? Kenapa kamu menyiksaku seperti ini? Kenapa? Kenapa?
"KENAPA? KENAPA?" jerit Radian.
Begitu lift terbuka, laki-laki itu bergegas berjalan ke ruangannya. Di sana Radian melepas jas hitam dan dasinya. Menarik keluar kemeja putih itu. Kedua tangannya bertumpu di besi pagar pembatas balkon sambil menunduk. Radian menitikkan air mata. Ketenangannya terusik, kehadiran Leana membuat kenangannya bersama Livia terusik.
Sementara Leana mengendarai mobilnya dengan menitikkan air mata.
Benarkah Kak Radian sudah punya pacar? Karena itukah dia kesal padaku? Aku terlambat! Aku terlambat menemuimu. Harusnya dari dulu aku kembali. Seperti apa gadis yang dicintainya? Satu-satunya gadis yang boleh memanggilnya Kakak selain adiknya itu siapa? Seperti apa orangnya? Batin Leana bertanya-tanya.
Sepanjang perjalanan itu Leana terus menangis sambil menggigit bibirnya. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya.
Sejak kejadian itu sehari-hari Leana hanya duduk termenung memandang panorama kota dari balik kaca di ruangannya. Tiba-tiba personal assistant-nya masuk, Leana sudah hampir mengusirnya jika orang kepercayaannya itu tidak datang bersama Radian. Leana langsung memutar kursi kerjanya menghadap ke arah mereka.
"Nona Leana, Tuan Radian ingin menemui Nona," ucap Nesya.
"Terima kasih Nesya," ucap Leana yang meminta agar personal assistant-nya itu untuk segera meninggalkan ruangannya.
Leana mempersilahkan Radian duduk di kursi tamu. Meski sangat terkejut dengan kedatangan Radian, gadis itu berusaha untuk bersikap tenang.
"Aku ingin minta maaf tentang sikapku tiga hari yang lalu," ucap Radian memulai pembicaraan.
Tak terasa sudah tiga hari berlalu, batin Leana.
Sejak kejadian itu tak ada kabar kelanjutan tentang pertemuan mereka. Dan hal itu tentu membuat Radian panik. Membatalkan pertemuan mereka kemarin bukan berarti Radian benar-benar membatalkan pertemuan seterusnya.
Namun tak ada kabar dari Leana, utusannya pun tak datang hingga akhirnya Radian memutuskan untuk mendatangi kantor Leana menunjukkan rasa bersalahnya atas sikapnya yang telah lalu.
"Aku tidak bermaksud membatalkannya begitu saja. Leana, maafkan atas sikapku yang tidak pantas," ucap Radian.
"Tidak, aku tidak merasa ada yang salah dengan sikap Tuan. Itu adalah hak Tuan Radian," ucap Leana dengan dada yang seperti diremas.
"Apa kita bisa menjadwal ulang pertemuan?" tanya Radian.
"Baiklah, mengenai pertemuan selanjutnya akan saya kirim personal assistant saya besok," jawab Leana dengan menahan hati.
Leana kecewa, gadis itu berharap Radian datang bukan karena urusan kerjasama perusahaan mereka. Tapi apa yang diharapkannya tak menjadi kenyataan.
"Aku sudah menjawab pertanyaan Tuan, apa boleh Tuan menjawab pertanyaan saya?" tanya Leana.
"Apa? Pertanyaan yang mana?" tanya Radian.
"Yang membuat tuan kesal waktu itu, hanya satu orang gadis selain adik Tuan yang boleh memanggil dengan panggilan itu. Apa dia seorang pacar? Atau seorang istri?" tanya Leana dengan dada yang perih.
"Dia … gadis yang paling berarti dalam hidupku," ucap Radian lalu menunduk.
"Oh, pantas saja, baiklah! Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Silahkan Tuan," ucap Leana.
Gadis itu langsung berdiri menghadap ke jendela kaca. Radian yang tertunduk sontak kaget dengan sikap Leana yang seperti mengusirnya. Leana pun menyesal dengan sikapnya itu tapi gadis itu tak tahan lagi. Dia harus segera berpaling ke arah lain. Karena tak mampu lagi membendung air matanya yang segera tumpah.
Leana berharap akan mendengar pintu ruangannya terbuka dan tertutup kembali agar bisa segera menumpahkan tangisnya. Laki-laki yang menjadi penyemangatnya dalam melanjutkan hidupnya. Telah memiliki wanita lain di dalam hatinya.
Perlahan Radian berdiri, laki-laki itu merasa ini adalah pertemuan terakhir mereka. Leana datang dan mengusik ketenangannya dan itu membuatnya sangat kesal. Namun tiga hari tanpa mendengar gadis itu memanggilnya, Radian merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Laki-laki itu tak rela.
"Leana, tolong jangan panggil aku Tuan," ucap Radian memohon.
Leana menunduk, air matanya tak sanggup lagi tertahankan. Gadis itu tak ingin Radian melihatnya menangis sesenggukan.
Tak ada gunanya, pergilah! Aku mohon segera pergilah! Batin Leana menangis.
Namun tak disangka Radian justru menghampirinya. Membalik tubuh gadis itu dan terkejut menatap wajah yang bersimbah air mata itu. Entah kekuatan apa yang membuatnya nekat berbuat seperti itu. Radian memeluk Leana dan membenamkan bibirnya ke bibir gadis itu.
Leana kaget, namun tentu saja tak ingin menolaknya. Karena memang itu yang diinginkannya, ungkapan cinta Radian yang tertumpah dalam sikapnya.
"Leana jangan abaikan aku," ucap Radian sambil menangkup wajah gadis itu.
Leana tak habis pikir dengan sikap Radian. Jelas-jelas menyatakan telah memiliki seseorang dihatinya namun tiba-tiba memeluk bahkan menciumnya. Begitu banyak hal yang membuat gadis itu bertanya-tanya namun tak lagi dipikirkannya. Leana hanya ingin menikmati pelukan Radian yang begitu erat.
Hari itu juga Radian ingin memperkenalkan Leana pada ibunya. Tentu saja Leana setuju karena itu adalah bukti keseriusan Radian terhadap hubungan mereka.
Leana kembali melangkahkan kakinya ke rumah milik ayahnya. Dengan mata yang berkaca-kaca menatap ke sekeliling ruangan itu. Begitu sedih saat tak ada satu pun foto atau lukisan ayah dan ibu kandungnya apalagi jejak-jejak kehidupannya dirinya di rumah itu.
"Mommy kenalkan, dia … teman dekatku," ucap Radian yang masih ragu menetapkan status hubungan mereka.
Leana yang sedang menatap lukisan besar ketiga orang itu langsung menoleh. Shanty terkejut mendapati siapa yang telah menjadi teman dekat putranya.
"Nyonya? Ternyata memang benar? Aku seperti mengenal seseorang di lukisan itu, ternyata benar-benar Nyonya? Tapi di sana terlihat begitu muda dan cantik saya jadi ragu," ucap Leana tanpa merasa bersalah.
Kurang ajar, batin Shanty Rahayu kesal.
Radian malah tersenyum, hal yang dia dan Monica ungkapkan saat pertama kali melihat lukisan itu.
"Tunggu dulu, kalian sudah saling kenal?" tanya Radian heran.
"Ya, kami berkenalan saat launching perhiasan model terbaru. Benar 'kan Nyonya?" ungkap Leana dengan ceria.
__ADS_1
Shanty terpaksa mengangguk-angguk dengan canggung, mengingat sertifikat rumahnya yang telah berpindah ke tangan Leana tanpa sepengetahuan Radian.
...~ Bersambung ~...