
Radian tergesa-gesa mendatangi perusahaan Ezra. Segera laki-laki itu melangkah menuju ruang kerja CEO itu. Hari itu masih terlalu pagi, mereka heran Radian yang telah resign dari perusahaan itu tiba-tiba datang di saat gedung masih sepi.
"Pak Radian! Jam segini pak Ezra belum datang," ucap seorang office boy.
"Aku tahu! Aku hanya ingin segera keluar dari rumah. Pikiranku tak tentu arah, satu-satunya yang ingin aku lakukan saat ini hanyalah melayangkan tinjuku ke wajah atasanmu itu," ungkap Radian pelan nyaris tak terdengar.
Namun, telinga office boy itu cukup nyaring. Laki-laki itu segera menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Radian yang duduk dengan tatapan mata yang kosong di salah satu kursi karyawan.
"Pak, ada apa? Jangan punya pikiran seperti itu Pak! Bahaya, Pak Radian bisa dituntut." Nasehat office boy itu bicara setengah berbisik.
"Aku tidak takut! Hidupku sudah kacau. Hukuman mati bahkan lebih baik daripada aku jalani hidup seperti ini," ungkap Radian masih dengan tatapan kosong.
"Sabar Pak! Jangan bicara seperti itu. Nggak baik Pak! Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya–"
"Tapi jalanku sudah buntu. Kamu tahu apa yang dilakukan atasanmu itu pada istriku? Dia melecehkannya."
"Ya ampun Pak. Jangan sembarang tuduh. Pak Radian bisa dikenakan pasal pencemaran nama baik," ucap office boy itu khawatir.
__ADS_1
"Ini bukan tuduhan, istriku cerita padaku tapi karena foto sialan itu aku tak percaya padanya. Aku justru menuduhnya berselingkuh. Aku percaya pada foto-foto palsu yang diberikan wanita sialan itu. Aku meninggalkan istriku karena percaya perempuan jahat itu. Aku meninggalkan istriku yang sedang hamil bahkan menuduh bayi itu hasil perselingkuhan. Aku jahat bukan? Aku pantas mati bukan? Sekarang aku harus menikah dengan perempuan yang telah memfitnah istriku. Aku bodoh bukan? Aku bodoh dan jahat, lalu untuk apa aku hidup? Hanya untuk menyakiti orang yang sayang padaku. Menyakiti hati orang yang aku cintai. Kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan? Bukankah mati lebih baik bagiku? Daripada merasakan sakit ini, bukankah mati lebih baik bagiku?" tanya Radian dengan menitikkan air mata.
Office boy itu tercenung mendengar masalah yang dihadapi mantan karyawan perusahaan itu. Walau tak lama mengenal Radian tapi laki-laki di hadapannya itu termasuk seorang karyawan yang baik. Tak memandang status sosial dan derajat seseorang.
Jika karyawan lain tak akan peduli dengan orang-orang level bawah sepertinya, berbeda dengan Radian yang tak segan merendahkan dirinya membantu memunguti tisu gulungan yang bertebaran karena jatuh tak sengaja. Kejadian itu sangat berkesan bagi office boy itu dan untuk itu dia sangat berterima kasih padanya. Bukan karena membantu memungut tisu yang tak seberapa berat itu. Tapi karena telah bersikap tak memandang rendah padanya.
Ricky pernah membaca cara hidup orang yang beretika. Perlakukan seorang petugas kebersihan atau OB dengan rasa hormat seperti anda memperlakukan CEO anda. Tak ada yang terkesan dengan perlakuan kasar anda terhadap bawahan anda. Tetapi itu akan memberi kesan yang tak terlupakan jika anda memperlakukan mereka dengan hormat.
Pelajaran hidup yang bermartabat itu hanya bisa ditemukannya dalam diri Radian. Meski dia bukanlah seorang CEO tapi di hati Ricky, Radian lebih terhormat dari CEO mana pun yang pernah ditemuinya.
"Namaku Ricky Pak, aku siap mendengar keluh kesah Pak Radian tapi aku tak akan membiarkan Pak Radian berbuat salah–"
"Silahkan Pak Radian selesaikan urusan Pak Radian dengan Tuan Ezra tapi jika melewati batas aku akan hentikan Pak. Bapak masih muda masih banyak waktu memperbaiki segalanya. Saat ini Bapak merasa telah salah mengambil langkah untuk itu jangan sampai salah melangkah terlalu jauh. Berbalik arah dan selesaikan semuanya satu persatu dan Pak Radian akan menemukan kembali titik awal. Dari sana Bapak bisa memulai lagi dengan langkah yang benar," jelas Ricky.
"Kamu pikir masalahku ini mudah untuk diselesaikan?" tanya Radian.
Entah mengapa laki-laki itu justru menjadikan Ricky sebagai tempat bertukar pikiran. Berbincang-bincang dan saling memberi pandangan dan nasehat. Perlahan-lahan emosi Radian menurun bahkan menghilang. Jika tadi tujuannya mencari Ezra adalah untuk membuat perhitungan karena perbuatannya pada istrinya kini justru berbalik arah ingin menunjukkan pada Ezra bahwa dirinya akan kembali memperjuangkan cinta istrinya.
__ADS_1
"Aku telah salah paham terhadap Livia atas perbuatanmu padanya. Seseorang mengambil foto pelecehan yang kamu lakukan terhadap istriku membuat aku salah paham terhadap Livia. Begitu banyak orang yang ingin kami berpisah. Tapi mulai sekarang aku tak peduli lagi, seperti apa pun usaha mereka ingin memisahkan kami, aku tidak akan menyerah. Karena cinta itu memaafkan, aku akan memaafkan segalanya meski dia bersalah apalagi jika dia jika dia difitnah. Aku … tak akan mudah terpancing untuk membencinya lagi," jelas Radian.
"Untuk apa kamu jelaskan ini padaku?" tanya Ezra.
"Agar kamu tahu, kamu tak ada kesempatan untuk mendapatkan cinta Livia. Dia hanya mencintaiku dan aku mencintainya. Kami akan berusaha mempertahankan cinta kami. Maaf, aku tidak bisa bersimpati dengan cintamu yang bertepuk sebelah tangan. Dulu, aku ikut bersedih untukmu tapi … sejak melihat kelakukanmu terhadap istriku. Aku tak bisa memandang hormat lagi padamu. Aku memaafkan perbuatanmu kali ini, demi kesalahanku yang tak jujur padamu. Tapi … mulai sekarang kita telah impas. Aku tak berhutang apa pun lagi padamu. Terima kasih atas kebaikanmu padaku selama ini. Aku tidak akan pernah melupakannya," ucap Radian kemudian berlalu dari ruangan CEO itu.
Meninggalkan Ezra yang termenung, tak bisa mengungkapkan kata-kata apa pun. Sementara itu tak jauh dari ruangan itu Ricky telah menunggu sambil tersenyum. Anak muda itu telah mengganti seragamnya. Setelah tugasnya sebagai OB selesai laki-laki itu berencana pulang namun, memutuskan menunggu Radian. Ricky ingin mengawal laki-laki itu agar tidak berbuat kesalahan yang akan merugikan dirinya sendiri.
"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Radian melihat Ricky yang telah berdiri sambil tersenyum-senyum.
"Tunggu Pak Radian, seperti ucapanku tadi, aku akan mengawal Pak Radian agar tak berbuat kesalahan fatal," jawab anak muda itu.
Radian tertawa, dan mengajak anak muda itu untuk meninggalkan gedung itu. Ricky memohon untuk diizinkan ikut Radian ke rumah kantornya. Meski merasa heran, Radian akhirnya mengizinkan.
Hari ini aku akan kembali bekerja dengan giat, nanti malam aku akan temui Livia untuk meminta maaf, batin Radian tersenyum membayangkan pertemuannya dengan istri tercintanya.
Radian tak peduli jika Leana membencinya dan ingin berpisah darinya. Baginya Leana selamanya adalah istrinya, jika Leana membencinya maka dia akan berusaha meminta maaf dan berusaha membuat Leana jatuh cinta lagi padanya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...