Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 143 ~ Takdir Bahagia ~


__ADS_3

Dokter memberikan penjelasan yang melegakan. Setelah itu dokter pamit untuk melanjutkan aktivitasnya. Leana yang berbahagia mendengar penjelasan dokter langsung memeluk Camelia. Mereka saling berpelukan erat dan mendoakan semoga tidak terjadi hal-hal yang buruk. Radian sempat tercengang melihat adegan akrab kedua wanita itu.


"Semoga cepat sembuh dan kita rayakan ulang tahun Reno bersama-sama di Villa," ucap Leana.


"Kamu bersedia mengundangku?" tanya Camelia dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tentu saja, Reno pasti sangat senang dengan kehadiranmu," ucap Leana.


Camelia merentangkan tangannya dan Leana kembali memeluk wanita itu. Radian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Tak menyangka dalam waktu singkat, hanya selang waktu memanggil dokter, Leana dan Camelia telah menjadi sangat akrab.


Setiap hari Leana mengunjungi Camelia selama dirawat di rumah sakit. Tak lupa mengajak Salsa, Revani dan juga Revano tentunya. Revano sangat berterima kasih atas pertolongan Camelia terhadapnya. Revano sadar sekali saat dirinya terpaku menatap patung ukiran es yang akan menimpanya. 


Revano tiba-tiba merasa didorong dan terjatuh. Saat melihat ke belakang, Revano melihat Camelia yang telah pingsan tertimpa patung ukiran es. Wanita yang kakinya sedang sakit tetapi masih bersedia membantunya mengambilkan makanan membuatnya merasa sedih atas apa yang menimpa wanita itu. 


"Kita berkumpul bersama di Villa selama pemulihan Tante Camelia sekaligus merayakan ulang tahun Reno, bagaimana? Apa Reno setuju?" tanya Leana.


"Setuju! Setuju! Asyik, kita berlibur di Villa," seru Revano sambil melompat-lompat.


Semua tertawa melihat kebahagiaan Revano. Kedua orang tua Camelia pun ikut terharu melihat keakraban keluarga besar itu. Selain ada Salsa, ikut juga berkunjung Monica dan suaminya. Ridwan Putra dan keluarga. Ruangan itu terasa jadi sangat ramai dan meriah. Semua setuju untuk meluangkan waktu berlibur di Villa.


"Siapa yang bisa berangkat duluan, terserah. Yang tak bisa meninggalkan pekerjaan, bisa datang di hari h atau sebelumnya. Pokoknya kita berkumpul menemani masa pemulihan Camelia di Villa," ucap Leana.


Mendengar itu Camelia merasa terharu dan menangis sesenggukan di atas ranjang rumah sakit. Merasa tak percaya jika saat ini, dirinya telah dianggap anggota oleh keluarga besar itu. Revano segera menepuk lengan Camelia untuk menenangkannya. Camelia pun tersenyum sambil menghapus air matanya lalu menarik Revano dan memeluknya. Monica langsung cemberut melihat keakraban Revano dan Camelia.


"Semoga cepat dapat momongan Kak, biar nggak rebutan Reno lagi," ucap Leana.


"Meski sudah dapat momongan, Reno itu tetap favoritku," ucap Monica masih cemberut.

__ADS_1


"Ah, nggak percaya!" ucap Leana sambil tertawa.


Monica mencubit lengan kakak iparnya itu. Masih merasa melihat kedekatan Camelia dan Revano tetapi semua bahagia karena mendapat undangan merayakan hari ulang tahun Revano di Villa. Seperti yang dikatakan Leana, wanita itu mengundang semuanya termasuk Rica dan Ricky.


Beberapa hari sebelum hari ulang tahun Revano, Camelia dan orang tuanya telah lebih dulu beristirahat di Villa. Satu persatu tamu yang diundang datang lalu menginap. Hingga tiba saatnya hari ulang tahun Revano pun tiba. Leana terkejut karena tiba-tiba melihat ayah angkatnya datang.


"Daddy, aku pikir daddy tidak bisa datang. Kalau tahu begitu, aku jemput daddy," ucap Leana dengan mata yang berkaca-kaca.


Begitu khawatir karena ayahnya yang telah cukup tua harus melakukan perjalanan ke luar kota. Dr. Djamal hanya tersenyum sambil menepuk pipi putrinya itu. Lalu melangkah menghampiri Revano. Leana menyusul ayahnya, melangkah sambil mengapit tangan orang tua itu.


"Kamu sudah punya dua orang anak tapi masih saja manja," ucap dokter senior itu sambil kembali menepuk pipi putrinya.


Begitu melihat kakeknya datang, Revano langsung berlari menghampiri. Anak itu langsung memeluk orang tua itu. Radian yang menggendong Revani juga langsung menghampiri ayah mertuanya itu. Dr. Djamal sangat bahagia melihat ramainya keluarga itu.


Leana meminta ayahnya untuk segera duduk dan menyuguhkan makanan dan minuman untuk ayahnya. Mereka sekeluarga duduk mengelilingi dokter itu. Semua ingin menceritakan pengalaman masing-masing karena memang telah lama tak menjumpai kakek-kakek itu. Tak henti-hentinya sang ayah tertawa mendengar cerita keluarga besar itu.


"Terima kasih daddy," ucap Leana.


"Untuk apa? Daddy yang ingin berterima kasih padamu karena telah bersedia menemani bapak tua yang kesepian ini," ucap Djamal.


"Nggak daddy, akulah yang berterima kasih. Tanpa pertolongan daddy. Aku mungkin tak ada lagi di dunia ini …."


"Benar daddy, aku juga sangat berterima kasih karena daddy telah menyelamatkan cinta pertama dan terakhirku ini," ucap Radian sambil merangkul istrinya.


"Kalau berterima kasih, buatlah anak-anak yang banyak agar daddy punya banyak cucu," ucap Djamal sambil tertawa.


"Siap daddy," ucap Radian dengan cepat, tinggal Leana yang terbelalak.

__ADS_1


Semua yang mendengarkan pembicaraan itu ikut tertawa melihat ekspresi Leana yang tersenyum dengan mata yang membesar. Pak Ridwan Putra pun mengenalkan diri pada dr. Djamal. Sebagai sesama orang tua, mereka pun berbincang akrab bahkan tertawa bersama. Menatap orang-orang tua itu, Radian sangat terharu.


"Aku benar-benar berterima kasih pada daddy. Tanpa pertolongannya, aku ragu bisa hidup bahagia sekarang. Aku kehilanganmu. Kehilangan satu-satunya cinta dalam hidupku," ungkap Radian.


"Kalau aku tidak ada, kakak pasti menemukan wanita yang lain. Mungkin lebih baik dari aku," ucap Leana.


"Nggak sayang. Aku tidak yakin. Bertahun-tahun hidup tanpa kamu. Tanpa tahu kalau kamu masih hidup tetap aku tetap mencintaimu. Aku tak bisa mencintai wanita lain selain kamu. Aku benar-benar berterima kasih pada daddy. Aku akan patuhi apa pun permintaannya," ucap Radian sambil tersenyum menggoda.


Leana langsung mencubit pinggang suaminya. Teringat janji suaminya pada sang ayah. Memberikan cucu yang banyak untuk ayah mertuanya itu. Radian menangkap tangan istrinya lalu menarik wanita itu dalam pelukannya. Berdua mereka menatap kebahagiaan dari keluarga besar itu.


Dr. Djamal bersama Ridwan Putra, Shanty, Ratih dan orang tua Camelia yang asyik berbincang. Revano yang bolak balik diminta menyuapi kue tart oleh Monica dan Camelia. Ezra yang tertawa melihat istrinya yang cemburu setiap kali melihat Revano menyuapi Camelia.


Pasangan Ricky dan Rica yang asyik berpacaran. Serta para pelayan, baby sitter dan Salsa yang asyik mengajari Revani berjalan. Leana tersenyum memandang semua itu sambil bersandar di dada suaminya. Lalu menoleh ke arah laki-laki yang dicintainya itu. Leana bersyukur karena ditakdirkan menikahi laki-laki yang dicintainya itu. Radian tersenyum membalas tatapan istrinya.


Tak tahan  melihat tatapan mesra Leana, Radian segera mengecup bibir istrinya. Leana tersenyum melihat Radian yang nekat melakukan itu di saat suasana ramai. Radian seperti tak peduli, dia hanya ingin menunjukkan rasa cintanya pada Leana.


"Aku beruntung ditakdirkan menjadi suamimu," bisik Radian.


"Ya, kalau dipikir-pikir aku memang hebat, karena aku berhasil mengubah takdirku," ucap Leana.


"Oh ya?"


"Ya, mengubah takdir kakakku jadi suamiku," ucap Leana sambil tersenyum.


Radian langsung memeluk istrinya erat. Tak pedulikan apa-apa lagi. Seolah-olah di villa hanya ada mereka berdua. Radian nekat membenamkan bibirnya dan mencium wanita itu. Wanita yang telah berhasil mengubah takdirnya. Mengubah takdir menyedihkan menjadi takdir yang membahagiakan. Menjadikan dirinya yang seorang kakak menjadi suami yang sangat mencintainya.


...☘️☘️☘️ ~ T A M A T ~ ☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2