Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 27 ~ Kembali ~


__ADS_3

Ezra telah memutuskan untuk kembali. Berdua mereka berangkat dari Bandara Internasional John F. Kennedy. Menempuh perjalanan selama lebih dari 22 jam penerbangan, hingga akhirnya mendarat di tanah air. Ezra tersenyum pada Radian saat berjalan di pintu kedatangan internasional itu.


Radian membalas senyum laki-laki itu. Namun saat melihat pemandangan di hadapannya, senyum itu langsung menghilang. Saat melihat orang-orang yang mengangkat kertas bertuliskan nama itu, mata Radian berkaca-kaca. Laki-laki tak mampu menepis bayangan saat pertemuan pertamanya dengan Leana. Bertahan tak ingin mengangkat kertas bertuliskan nama gadis itu karena rasa gengsi.


Langkahnya terasa begitu jauh melewati gerbang kedatangan itu. Waktu seolah-olah berhenti untuk mengulang kembali saat-saat pertemuan mereka. Leana bertahan tak menemuinya, Radian pun bertahan tak mengangkat kertas bertuliskan nama Leana. Detik demi detik peristiwa itu seolah terulang lagi tanpa ada yang terlewati hingga akhirnya Radian mengalah dan mendatangi Leana.


Radian berusaha bertahan dengan prinsipnya namun Leana adalah gadis yang keras hati. Hingga akhirnya Radian mengalah, tanpa disadarinya kejadian itu merupakan awal dirinya takluk terhadap semua kehendak Leana.


"Kamu kenapa?" tanya Ezra melihat Radian yang melangkah dengan tatapan yang kosong.


Yang lebih membuat Ezra merasa perlu bertanya karena Radian yang terlihat sedang meneteskan air mata. Laki-laki itu langsung menghapus air yang mengalir dari sudut matanya itu kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Meski Radian berusaha untuk fokus tapi pikirannya masih tak bisa lepas dari bayangan Leana. Sejak pertemuan di bandara itu, Radian tak mampu menghabiskan hari tanpa melihatnya. Senyumnya, tawanya, keceriaannya, kelucuannya dan semua kenangan indah bersamanya.


"Kita langsung ke kantor," ucap Ezra.


"Baik Ezra," ucap Radian.


Mereka pun langsung mampir ke kantor. Ezra sengaja menyuruh Radian untuk merahasiakan kepulangan mereka. Sesampai di perusahaan ayahnya, Ezra langsung masuk ke ruangan Tn. Adam.


Ezra mengetuk pintu, laki-laki itu masuk setelah terdengar suara pelan dari dalam memintanya untuk masuk. Laki-laki itu pun masuk dan melihat ayahnya yang sedang berdiri diam memandang ke luar jendela. Terlihat jelas, bapak tua itu enggan untuk melepaskan pandangannya. Melamun di depan jendela besar itu telah menjadi kebiasaannya.


"Apa yang Daddy lihat di situ?" tanya Ezra.


Awalnya, Tn. Adam mengabaikan karena mengira yang masuk ke ruangan itu adalah personal assistant-nya. Biasanya setelah menaruh sesuatu di atas mejanya maka personal assistant itu akan segera keluar. Namun kali ini terdengar menyapanya dan panggilan yang berbeda itu membuatnya terusik. Tn. Adam segera membalik badannya, terkejut saat melihat putranya yang telah berdiri dihadapannya.


"Kamu ... kembali?" tanya Adam ragu.


Seperti takut kalau semua itu hanya ilusi, bapak tua itu berjalan pelan mendekati. Perlahan mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah putra satu-satunya itu. Saat tangannya menyentuh wajah itu, Tn. Adam langsung meneteskan air mata.

__ADS_1


Merasa bahagia karena menjelang kematiannya masih bisa bertemu putranya dan sedih jika ternyata semua itu hanyalah halusinasinya.


"Ya Daddy, aku kembali."


"Sungguh, ini adalah putraku? Aku tidak gila?" tanya Adam.


"Tidak Daddy, ini benar-benar aku, anakmu Daddy," jawab Ezra.


Ezra memeluk ayahnya agar bapak itu semakin yakin. Dan benar saja, bapak itu hingga menangis terisak-isak mendapatkan pelukan dari putranya.


"Maafkan Daddy-mu ini Nak, maafkan atas kesombongan Daddy," ucap Adam.


Kata-kata yang juga diucapkannya saat mengunjungi putranya itu di New York. Namun tak pernah mendapat jawaban dari putranya. Kedatangan kedua orang tuanya yang begitu merindukannya tak di gubrisnya sama sekali. Bahkan saat ibunya meninggal Ezra tetap tak mau kembali. Laki-laki itu hanya menangis seorang diri di kamarnya.


Seperti tak percaya pada kenyataan, Tn. Adam, memeluk putranya, menangis sesenggukan berharap ini semua bukan hanya mimpi. Ezra meminta ayahnya untuk duduk. Radian datang membawakan minum, laki-laki itu pun memberikan pada ayahnya.


"Minumlah Daddy," ucap Ezra.


"Radian, aku tidak salah orang bukan? Dia benar-benar Ezra, putraku?" tanya Adam pada Radian untuk meyakinkan hatinya.


"Benar Tuan, dia adalah Tuan Ezra, putra Tuan Adam," jawab Radian.


"Ke sini, duduklah!" seru Adam pada Radian yang hanya berdiri setelah membawakan minum.


Radian menoleh pada Ezra, laki-laki itu pun mengangguk agar Radian mau memenuhi permintaan ayahnya. Radian duduk di hadapan Tn. Adam dan Ezra.


"Kamu berhasil membawa putraku kembali, aku tak salah mengirimmu bukan? Aku berjanji dalam hati akan menaikan gajimu jika berhasil membawa putraku kembali," jelas Adam.


"Aku berencana akan menjadikannya personal assistant-ku, Daddy. Dia akan menjabat Asisten Eksekutif," ucap Ezra langsung.

__ADS_1


"Personal assistant-mu? Kalau begitu dia akan menjabat Asisten Eksekutif jika kamu bersedia menjadi CEO," ucap Adam.


"Ya Daddy, aku bersedia menjadi CEO di perusahaan ini," jelas Ezra.


"Sungguh? Radian aku tidak salah dengar? Anakku bersedia menggantikan aku memimpin perusahaan ini?" tanya Adam lagi untuk kembali meyakinkan hatinya.


"Benar Tuan, Tn. Adam sama sekali tidak salah dengar," ucap Radian.


"Baiklah! Baiklah! Aku senang mendengarnya. Terima kasih Radian, kamu telah membawa perubahan bagi kami, aku sangat bahagia sekarang. Kamu akan di menjabat Asisten Eksekutif apa kamu bisa? Apa kamu tahu apa itu Asisten Eksekutif?" tanya Adam yang meragukan kemampuan Radian.


Bapak tua itu tahu, kalau selama ini Radian justru seorang CEO yang memiliki Asisten Eksekutif-nya sendiri.


"Tahu Tuan, ini adalah jabatan personal assistant yang tinggi. Seorang asisten eksekutif umumnya memiliki atasan yang bekerja di bidang bisnis seperti CEO atau direktur di tingkat dewan. Seorang personal assistant yang bekerja di bidang bisnis, harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang perusahaan dan mengetahui siapa orang-orang penting di perusahaan. Seorang Asisten Eksekutif nantinya akan sering terlibat dalam berbagai pertemuan penting. Memiliki pengetahuan bisnis, administrasi, dan sudah berpengalaman di bidangnya," jelas Radian.


Tn. Adam mengangguk, merasa yakin Radian bisa menjabat jabatan barunya. Meski selama ini justru Radian memiliki seorang Asisten Eksekutif namun sekarang justru dia yang menjadi Asisten Eksekutif itu.


"Benar! Kamu memiliki semua pengetahuan bisnis itu. Jabatanmu harusnya bukan sekedar Asisten Eksekutif CEO. Sayangnya perusahaan ini telah memiliki CEO yang telah lama aku tunggu-tunggu kedatangannya," jelas Adam sambil menatap putranya.


Ezra mengangguk, Tn. Adam kembali menitikkan air mata.


"Andai Mommy masih ada, dia juga pasti akan senang. Sekarang Daddy pun bisa menyusul Mommy-mu dengan tenang," ucap Adam sambil tersenyum namun meneteskan air mata.


Ezra langsung memeluk ayahnya.


"Daddy jangan bicara seperti itu, aku akan menyesal kembali jika Daddy berpikiran seperti itu. Cukup penyesalanku karena kehilangan Mommy. Daddy jangan membuatku menyesal untuk yang kedua kalinya," ucap Ezra masih memeluk ayahnya.


Tn. Adam menepuk lembut punggung putranya, rasa haru merasuki relung hati bapak itu. Ezra kembali bukan hanya untuk perusahaan itu tapi agar mereka bisa berkumpul bersama lagi.


Tn. Adam sangat berterima kasih pada Radian yang berhasil membawa putranya kembali ke sisinya.

__ADS_1


...~  Bersambung ~...


__ADS_2