Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 54 ~ Keputusan Kembali ~


__ADS_3

Mendengar suara Shanty, kedua putra dan putrinya langsung datang menghampiri.


"Mommy sudah bangun? Bagaimana perasaan Mommy?" tanya Radian yang segera datang menghampiri ibunya.


Dengan susah payah tangan Shanty menggapai wajah Radian. Shanty memanggil nama Radian namun dengan suara yang pelan dan tak begitu jelas. Laki-laki itu langsung menangis menyesal atas tuduhannya tadi pagi. Segera Radian meminta maaf pada ibunya sambil menangis menyesali.


Shanty menangis mendengar permintaan maaf putranya. Rasa sakit hatinya karena dituding ingin meracuni istrinya itu sangat menyakiti hati Shanty namun akhirnya wanita setengah abad lebih itu memaklumi dan sadar kalau ketulusannya memang pantas diragukan. Akhirnya nyonya itu pun memaafkan putranya.


"Mana Livia?" tanya Shanty, bicara dengan lidah yang seperti kaku.


"Livia sedang membeli makanan," jawab Radian.


"Mommy juga ingin minta maaf padanya," ucap Shanty dengan lidah yang terasa kelu.


"Bukannya tadi Mommy sudah meminta maaf?" tanya Radian merasa heran.


"Tapi dalam hati Mommy … masih ada kesombongan. Masih merasa … diri Mommy benar. Seakan-akan apa yang Mommy lakukan pada Livia adalah wajar karena iri semua harta jatuh ke tangannya. Padahal semua itu harta ayahnya, Mommy lupa kalau Tn. Robert telah berbuat baik pada Mommy dan anak-anak. Mommy khilaf hingga tega membunuh putrinya. Sampai kemarin Mommy masih menganggap membunuhnya adalah hal yang wajar. Padahal … itu tidak manusiawi. Mommy lupa kebaikan mereka dan kasih sayang mereka terhadap kita," ungkap Shanty sambil mengalirkan air matanya.


"Baiklah Mommy, nanti jika Livia pulang Mommy bisa meminta maaf padanya. Mommy jangan khawatir, segala kesalahan Mommy padanya akan aku bayar dengan kasih sayang dan cinta yang banyak untuknya. Aku akan selalu setia padanya dan aku akan selalu percaya padanya. Kita bersama-sama berusaha membahagiakannya," jelas Radian.


"Ya Mommy! Apalagi sekarang Kak Leana, sudah hamil lagi Mom. Aku akan bantu merawat bayinya nanti--"


"Hamil? Leana hamil lagi?" tanya Shanty pelan.


"Ya Mom, tadi Kak Leana cerita kalau ternyata Kak Leana mual dan muntah karena sedang hamil lagi," jawab Monica.


"Oh syukurlah! Mommy pikir kalian masih belum bersama lagi," ucap Shanty bersyukur namun juga merasa heran.


Radian hanya tersenyum malu, karena mereka memang diam-diam bertemu. Di hotel dan di rumah Leana, semua tanpa diketahui oleh ibu dan adiknya.


"Kembalilah padanya! Jangan biarkan dia hamil seorang diri. Wanita hamil itu butuh dimanja, diperhatikan, disayangi. Apa kata orang jika dia tinggal sendiri tapi ternyata masih bisa hamil?" tanya Shanty yang tak butuh jawaban.


Leana yang telah kembali dari membeli makanan tersenyum mendengar saran dari ibu mertuanya. Sekian lama mendengar percakapan mereka. Saat Shanty menyuruh putranya kembali ke rumah untuk memanjakannya adalah percakapan yang paling disukainya.


Leana yang tadinya ingin segera masuk ke ruang rawat inap itu urung mendorong pintu masuk karena mendengar namanya disebut. Leana mendengar Ibu mertuanya yang telah sadar sedang menanyakannya. Wanita setengah abad lebih itu ingin meminta maaf dengan sungguh-sungguh padanya, hingga akhirnya berita kehamilannya yang disampaikan Monica. Namun saat mendengar percakapan Shanty menyuruh putranya untuk memanjakan Leana adalah hal yang paling diharapkannya. Leana pun menunggu Radian memberikan jawaban.


"Ya Kak, kembalilah pada Kak Leana. Biar kami tinggal di kontrakan asalkan … uang bulanan tetap dikirim," ucap Monica sambil tertawa.


Leana pun ikut tertawa namun dengan suara yang ditahannya.


"Kakak kalau menerima gaji, berencana ingin membuka usaha bersama. Beberapa karyawan di kantor Kakak dulu bertemu dengan Kakak saat menunggu angkutan umum. Mereka mengatakan CEO yang sekarang orangnya licik, beberapa orang karyawan senior dibuang begitu saja. Dia menerima orang-orang bawaannya dan mereka tidak berkompeten. Gaji orang-orang bawaannya sangat besar sementara yang lainnya seperti di cekal. Banyak yang resign dan tidak betah dengan cara kerja CEO yang sekarang. Semua bertentangan dengan prinsip kerja Daddy, Kakak--"


"Benarkah? Maksud Kakak? CEO perusahaan Papa?" tanya Leana tiba-tiba masuk dan tak tahan mendengar cerita Radian.

__ADS_1


"Ya sayang! Kakak sendiri tidak tahu pasti tapi sedikit banyak mantan karyawan di sana banyak menyampaikan keluh kesahnya," jelas Radian.


Leana meletakkan barang belanjaannya di atas meja sambil terus berpikir.


"Livia!" panggil Shanty.


Wanita yang sedang termenung itu akhirnya menoleh pada ibu yang sedang berbaring itu. Leana langsung mendatangi, melihat kedua tangan ibu itu yang direntangkan, Leana langsung memeluk ibu mertuanya. Sekali lagi Shanty meminta maaf dan berterima kasih pada wanita cantik itu.


Leana yang telah mendengar ketulusan niat Shanty untuk meminta maaf tentu saja langsung memberi maaf. Sebenarnya tanpa meminta maaf pun wanita itu telah mendengar sendiri pengakuan Shanty dan Leana telah langsung memaafkannya. Namun demi kesopanan, Leana tetap mendengar pernyataan maaf yang tulus dari mertuanya itu dengan serius hingga ibu mertuanya itu merasa permintaan maafnya itu benar-benar dihargai.


Leana menyerahkan makanan-makanan itu pada Monica. Gadis itu segera menyimpannya di lemari pendingin dan di akan dipanaskan dalam microwave jika Monica ingin menyantapnya.


Setelah berbincang-bincang sejenak, Leana dan Radian kembali ke ruang rawat inap Radian. Selama perjalanan ke ruang rawat inap itu, Leana mendorong kursi roda Radian sambil berpikir tentang keadaan perusahaan ayahnya.


"Apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya Radian.


"Ya Kak?" tanya Leana balik.


"Kita telah melewati kamarnya," ucap laki-laki itu memberitahu.


Leana kaget dan segera melihat situasi sekeliling.


"Maaf Kak, aku melamun," ucap Leana sambil tertawa malu.


"Maaf ya Kak," ucap Leana mengulang meminta maaf saat mereka tiba di dalam ruang rawat inap Radian.


"Meminta maaf hingga dua kali tapi menjawab pertanyaanku tidak sama sekali," ucap Radian sambil mengajak istrinya duduk di ranjang rumah sakit itu.


"Aku memikirkan perusahaan Papa," ucap Leana sambil menunduk.


"Jangan khawatir perusahaan itu menerapkan sistem pencegahan fraud dan memiliki tim anti fraud. Jadi kita bisa mendapatkan informasi jika terjadi tindakan penyimpangan. Informasi kecurangan, penipuan, penggelapan aset, pembocoran informasi, tindak pidana. Jika memang ada, manajemen akan mengetahui kalau seseorang melakukan kecurangan itu," jelas Radian.


"Tapi bagaimana jika tim anti fraud itu adalah orang-orang yang telah dipecat dari perusahaan itu?" tanya Leana.


"Kamu benar beberapa di antaranya memang telah dikeluarkan dari perusahaan tapi masih ada beberapa yang bertahan," jawab Radian.


"Apa mereka bersedia memberikan informasi? Bagaimana jika mereka telah menjadi salah satu pelaku kecurangan," tanya Leana.


"Tentu saja mereka bersedia memberikan informasi. Dan jangan khawatir seorang anggota tim anti fraud memiliki karakter yang kuat sebagai penegak kebenaran di perusahaan. Aku tahu siapa orang-orangnya dan mereka adalah orang-orang yang bisa dipercaya. Kita bisa mendapat informasi yang dibutuhkan jika menang ada terjadi kecurangan," jelas Radian.


"Kita?" tanya Leana.


"Maksudku manajemen dan pemilik perusahaan, yaitu kamu," ucap Radian sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kak, jika memang CEO itu melakukan kecurangan, maukah Kakak menerima kembali posisi itu?" tanya Leana dengan penuh harap.


"Artinya kamu berharap CEO sekarang ini melakukan kecurangan?" tanya Radian sambil tersenyum.


"Bukan begitu Kak, tapi … seperti yang diceritakan teman-teman yang Kakak temui. CEO yang sekarang ini terindikasi memiliki sifat yang tak adil. Bahkan tega mengeluarkan beberapa karyawan senior di perusahaan itu," ucap Leana.


"Kita lihat hasil audit nanti, jika memang terjadi kecurangan. Aku bersedia kembali menjabat posisi CEO di situ lagi tapi … ngomong-ngomong dari mana kamu tahu kalau karyawan-karyawan senior itu--"


"Aku diam-diam mendengar pembicaraan kalian di balik pintu, mulai dari perasaan bersalah Mommy hingga berita tentang perusahaan. Aku mendengar semuanya," ucap Leana sambil tersenyum menggoda.


"Oh kamu mau jadi agen rahasia mencuri dengar pembicaraan orang?" tanya Radian sambil tertawa.


Leana tersenyum menatap tawa suaminya yang begitu manis. Dalam hati tak puas-puasnya mengagumi ketampanan laki-laki itu.


"Apa kabar dengan bayiku? Apa dia baik-baik saja?" tanya Radian teringat pada kehamilan istrinya.


"Aku rasa dia baik-baik saja," jawab Leana.


"Jangan terlalu lelah ya sayang," ucap Radian nyaris berbisik.


"Mulai deh, khawatir tingkat tingginya muncul," ucap Leana sambil tersenyum.


"Ya, aku selalu khawatir padamu. Tadi saat kamu pergi aku tak bisa menghilangkan pikiran burukku. Sangat khawatir, sampai-sampai aku ingin segera keluar dari ruangan ini. Rumah sakit ini terasa seperti penjara. Aku akan bertanya pada dokter, jika aku boleh keluar dari rumah sakit ini aku ingin segera keluar--"


"Menginap di rumah ya? Jika Kakak menginap di rumah? Aku dukung Kakak keluar dari rumah sakit ini," ucap Leana bernegosiasi.


Radian tersenyum karena haru, menatap istrinya yang terlihat begitu mengharapkannya. Perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya. Sikap manis Leana yang tak malu-malu mengharapkan dirinya membuat laki-laki itu merasa begitu diinginkan. Radian sangat bahagia dan ingin disalurkannya melalui ciumannya yang hangat.


Baru saja menikmati ciuman itu terdengar suara berdehem dan suara tawa yang tertahan. Sontak mereka menoleh ke arah suara. Dokter dan perawat datang untuk memeriksa kesehatan Radian. Leana turun dari ranjang rumah sakit itu. Dokter itu bercanda kalau Radian tak tahan lagi tinggal di ruang rawat inap itu. Radian hanya menjawab dengan tersenyum.


"Kondisi kesehatan Bapak sudah stabil, hasil laboratorium juga menunjukan semua telah kembali normal. Besok pagi bapak sudah boleh keluar dari ruang perawatan ini," jelas dokter.


"Benarkah dokter?" tanya Radian begitu semangat.


"Benar Pak, kecuali bapak ada keluhan lain. Mari kita lakukan tes lab lagi," ucap dokter itu bercanda.


"Ah tidak dokter, aku tidak punya keluhan lain," ucap Radian langsung bahkan melambaikan kedua tangannya untuk menyakinkan.


"Anda jangan bohong, keluhan yang lain itu rasa kangen sama istri," ucap dokter yang suka bercanda itu.


Radian tertawa sambil mengangguk, Leana pun tertawa tertahan. Hari itu mereka sangat bahagia, begitu banyak hal yang terjadi di hari itu. Radian dinyatakan sembuh, Leana dinyatakan hamil, Radian yang bersedia kembali ke rumah Leana dan bersedia kembali menjadi CEO di perusahaan keluarganya serta hubungan Leana dengan keluarga itu yang sudah membaik.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2