
Hari pernikahan Radian dan Camelia pun tiba. Terlihat kedua calon pengantin itu telah bersiap-siap untuk menjalankan prosesi pernikahan mereka. Senyum mengembang dari sudut bibir Camelia. Setiap saat dengan bahagianya menyambut kenalannya yang datang kemudian mengenalkan dengan calon suaminya.
Berbeda dengan raut wajah Radian yang terlihat sedih. Tak ada sedikit pun senyum terulas di bibirnya. Justru terlihat murung, bahkan bersedih. Setiap kali mengingat wajah istrinya, laki-laki itu seperti ingin menangis. Sementara Camelia Tersenyum bahagia memandang ke arahnya.
Acara puncak segera dimulai, Radian telah bersiap mengucapkan akad nikah saat tiba-tiba Leana muncul di tengah ruangan. Diam menatap Radian dengan mata yang berkaca-kaca. Semua orang yang hadir menatap ke arah wanita yang perutnya telah membesar itu.
Livia! Batin Radian.
"Livia!" ucap Radian lirih.
"Livia?" tanya Camelia sambil mengalihkan pandangannya ke arah Leana.
Wanita itu merasa heran dengan panggilan Radian pada wanita yang dikenalnya dengan nama Leana itu. Radian berdiri ingin mendekati, Radian seperti tak peduli dengan prosesi pernikahannya. Rasa bersalah dan rindunya pada Leana membuatnya begitu ingin memeluk istrinya.
Camelia menarik tangan calon suaminya, wajah panik mulai terpancar dari wajah dengan riasan pengantin itu. Tak menyangka Radian tak pedulikan dirinya sebagai calon istri, meninggalkannya duduk sendiri di hadapan penghulu sementara Radian berdiri ingin menghampiri istrinya.
Tak peduli dengan tatapan heran para tamu yang hadir di acara pernikahan itu. Radian seperti seorang yang telah tersihir. Meninggalkan acara yang seharusnya segera dimulai.
__ADS_1
"Livia!"
"Kak! Ayo kita mulai," ucap Camelia menarik tangan calon suaminya itu.
Rasa takut mulai menjalar dihatinya. Jika dibiarkan Radian bisa menggagalkan pernikahan itu dan bagaimana dengan bayi dalam kandungannya. Camelia tak boleh gagal menikah. Hari itu juga dia harus menjadi istri Radian.
Sekarang timbul penyesalan di hatinya mengundang wanita hamil itu ke acara pernikahannya. Niatnya ingin berbangga hati karena berhasil merebut Radian dari sisi wanita yang dibencinya itu, kini malah menyebabkan acara pernikahannya menjadi terganggu.
Camelia dengan sengaja menyerahkan undangan itu pada Nesya, personal assistant Leana dan meminta gadis itu menyerahkannya pada Leana. Nesya menjadi orang pertama yang menitikkan air mata saat membaca undangan pernikahan itu. Nesya berniat untuk menyembunyikannya karena tak akan tega melihat Leana menghadapi kenyataan itu.
Dan kini Leana hadir di acara pernikahan itu meski ayahnya melarang.
"Leana, kamu tak perlu hadiri Nak! Abaikan saja undangan itu," ucap Djamal yang tak tega melihat putrinya menangis di lantai dapur sambil menggenggam undangan pernikahan itu.
Dikelilingi oleh para pelayan rumah yang telah merasakan kesedihan sejak beberapa hari lalu saat undangan itu diantar Nesya ke rumah. Dr. Djamal mendekati putrinya, Leana menangis sesenggukan di bahu ayahnya. Tak banyak yang diucapkan Leana, hanya tangis yang tak kuasa dihentikannya.
Dr. Djamal memilih menginap di rumah Leana. Menemani putrinya yang sedang terluka. Kadang wanita itu mengalirkan air mata, kadang diam menatap hampa. Hingga beberapa hari itu Leana seperti tubuh tak bernyawa hingga tepat di hari H dengan tiba-tiba memutuskan untuk menghadiri pesta pernikahan laki-laki yang dicintainya.
__ADS_1
"Jangan Leana! Untuk apa menghadiri pesta pernikahan itu. Hanya akan membuatmu hatimu semakin terluka. Dia sudah meninggalkanmu dan sekarang ingin memulai hidup baru dengan wanita lain. Kamu harus terima kenyataan ini, jangan Nak! Biarkan saja dia menikah lagi, jika itu memang keinginannya. Jangan merendahkan harga dirimu di hadapannya." Cegah Dr. Djamal.
"Justru itu Daddy, mereka sengaja mengundangku. Artinya mereka ingin mendapat restu dariku. Aku akan hadir Daddy untuk merestui pernikahan mereka. Aku hanya ingin dia tahu, kalau aku tidak mengampuni pengkhianatannya ini. Aku hanya datang untuk itu. Untuk merestui mereka dan mengakhiri pernikahan kami," ucap Leana memohon pada ayahnya untuk membiarkannya datang ke acara pernikahan suaminya.
Leana tak akan menerima dimadu. Lebih baik hidup sendiri seperti sekarang ini daripada melihat suaminya dikuasai wanita lain. Dan kini dia berdiri di tengah ruangan menanti suaminya yang berjalan mendekati. Leana tak ingin menangis namun titik-titik bening itu muncul tanpa diminta.
Leana berharap Radian akan segera tiba dihadapannya. Semua termangu, tangan Camelia yang mencoba menahannya di tepis begitu saja. Camelia berdiri di hadapan Radian, mencoba untuk menghalangi namun seperti tadi Radian mendorongnya ke pinggir. Laki-laki itu bahkan tak melihat ke arah manapun selain menatap wajah istri yang dirindukannya itu.
"Livia!" ucap Radian.
Camelia kembali menarik tangan Radian. Namun laki-laki itu hanya fokus pada wanita hamil di hadapannya itu. Saat laki-laki itu telah cukup dekat, Leana mengangkat jari tangannya dan melepas cincin itu dari jari manisnya. Lalu menyerahkan cincin pernikahan mereka pada laki-laki itu.
Radian termangu menatap cincin yang pernah mengikat cinta mereka. Air mata Radian langsung mengalir. Hampir setahun Radian tak berada disisinya, Leana tetap mengenakan cincin itu. Meski tak berada disisinya, bagi Leana, Radian tetaplah suaminya. Tapi kini laki-laki itu telah memilih mengkhianatinya, Leana tak bisa menerima. Wanita itu memilih mundur, meski itu membuatnya benar-benar kehilangan satu-satunya cinta di dalam hidupnya.
Radian tak menerima cincin yang disodorkan itu. Leana meraih tangan Radian, dengan cepat menaruh cincin itu di telapak tangan laki-laki itu dan segera berbalik arah kemudian berlalu. Leana tak ingin Radian melihatnya menangis. Meski laki-laki itu melihat matanya yang berkaca-kaca. Tapi Leana tak ingin Radian melihatnya menangis.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1