
Leana datang ke rumah sakit, menceritakan fitnah yang menimpanya. Leana berharap Shanty dan Monica masih mau menganggapnya sebagai keluarga meski Radian tak lagi menganggapnya sebagai seorang istri.
Mendengar itu Monica langsung memeluk Leana, gadis itu pun menangis tersedu-sedu. Monica telah merasakan ketulusan hati Leana hingga di hati gadis itu telah tumbuh rasa sayang yang tulus pada Leana. Monica ikut merasakan kesedihan Leana. Monica tak lagi menyalahkan Leana dan menuduhnya mencuri laki-laki yang dicintainya. Karena gadis itu jelas melihat Leana tak inginkan cinta Ezra yang justru membuat Leana menderita.
Shanty ikut sedih mendengar curahan hati Leana tapi ada sesuatu yang juga menjadi beban pikirannya. Untuk itu Shanty memberanikan diri untuk menanyakannya pada Leana.
"Livia, mungkin Mommy harus segera keluar dari rumah sakit ini. Atau setidaknya pindah ke ruangan yang paling murah. Kami tak akan sanggup membayar fasilitas di sini," ucap Shanty tanpa ingin menyinggung hati Leana karena wanita itulah yang tadinya memesan ruangan setara kamar hotel bintang lima itu.
"Kalau itu Mommy jangan khawatir, aku tahu mungkin aku tidak bisa sering-sering datang ke sini. Aku juga takut Kak Radian keberatan aku menemui kalian. Aku takut tak sempat membayarnya hingga jadi beban bagi kalian. Karena itu aku telah menyerahkan deposit ke rumah sakit ini. Aku juga sudah melebihkan dari perkiraan tagihan nanti--"
"Apa? Kamu sudah membayarnya?" tanya Shanty.
"Ya Mommy, yang penting Mommy jalani pengobatan dengan tekun agar Mommy bisa kembali seperti semula. Jangan khawatirkan lagi tentang tagihannya," jelas Leana.
Penjelasan Leana itu membuat kedua ibu dan anak itu saling berpandangan. Leana benar-benar peduli pada mereka. Mengantisipasi tanpa diminta, Monica sangat sedih, wanita sebaik Leana dicampakkan oleh kakaknya.
Radian mendengar cerita kedua orang itu dengan air mata yang mengalir. Persis seperti apa yang dilakukan Leana menghapus air matanya dengan ujung lengannya karena tak kunjung berhenti.
"Jika kamu masih mencintainya, kembalilah padanya. Minta maaflah atas tuduhan-tuduhanmu itu. Dia tidak berselingkuh Radian, Mommy percaya padanya. Bukan karena Mommy mengharapkan menantu yang kaya. Tolong … kamu jangan lagi menuduh Mommy ibu yang materialistis," pinta Shanty.
"Ini sedih sekali Kak, kami tahu Kak Radian masih mencintai Kak Leana, begitu juga dengan Kak Leana masih menjadikan Kak Radian cinta sejatinya tapi … kalian tidak bisa bersatu. Ini sangat menyedihkan Kak," ucap Monica yang ikut menangis.
Radian memeluk adiknya yang sesenggukan. Dalam hati ada rasa hangat menyeruak di hatinya melihat Monica yang benar-benar telah menyayangi Leana, tulus tanpa mengharapkan apa pun.
Aku juga sangat ingin kembali padanya, Monica. Aku harap, aku bisa segera melupakan apa yang aku lihat. Foto-foto kemesraan mereka itu masih terus membayangi pikiranku, batin Radian.
__ADS_1
Setelah berkunjung ke rumah sakit Radian pun kembali ke ruko kontrakan itu. Radian melangkah pelan untuk kembali ke rumah sekaligus tempat usaha bagi dia dan kawan-kawannya itu. Semua yang diceritakan ibu dan adiknya sangat mengusik pikirannya. Setiap kali mengingat itu bayangan Leana muncul dalam pikirannya. Senyumnya, tawanya, hari-hari bahagia bersamanya. Radian akan tersenyum mengingat semua itu namun saat teringat foto kemesraan itu seketika senyum itu hilang.
Sikap murung Radian kadang muncul dalam keseharian laki-laki itu saat bekerja. Pak Arif yang memang dari dulu dekat dengan Radian tak tahan melihat kesedihan di raut wajah laki-laki yang sudah dianggap seperti anak baginya.
Radian pun akhirnya menceritakan kemelut rumah tangganya. Pak Arif mengangguk-angguk. Mantan karyawan senior yang juga menjadi sahabat Tn. Robert dalam merintis usahanya itu pun akhirnya mengerti dengan permasalahan Radian.
"Cintamu terhadap istrimu tak sebesar cintanya padamu," ucap Arif.
"Apa?" tanya Radian spontan sesaat setelah dia selesai menceritakan permasalahan keluarganya.
Pak Arif memang orang yang dipercaya oleh Radian. Tempat berbagi keluh kesah dalam urusan bisnis. Dalam setiap diskusi mereka, ide dan keputusan Radian selalu didukung oleh Pak Arif. Laki-laki yang pernah menjabat sebagai Direktur Bisnis itu selalu berpihak pada Radian. Namun kali ini saat laki-laki itu curhat tentang masalah pribadi, Pak Arif seperti menyudutkannya, terkesan tak mendukungnya.
"Bagi bapak pribadi, cinta itu bukan hanya sekedar luapan nafsu. Perasaan ingin bersama dan ingin memiliki. Cinta bagi bapak adalah memaafkan," ucap Arif sambil tersenyum.
"Apa maksud bapak?" tanya Radian.
"Apa mungkin dia akan memaafkan aku?" tanya Radian.
"Masalah bukan padanya tapi padamu. Kamu yang tak mengerti konsepnya bahwa cinta itu adalah memaafkan. Meski dia benar-benar selingkuh jika kamu memaafkan maka itulah cinta. Cinta itu memaafkan semuanya. Jika kamu tak mampu memaafkannya maka jangan mengaku cinta padanya," ucap Arif.
"Jika dia benar-benar selingkuh aku harus tetap memaafkannya?" tanya Radian.
"Itulah cinta, cinta itu selalu memaafkan," sambung Arif.
Benar yang dikatakan Pak Arif, jika memberi maaf saja tak bisa, bagaimana bisa bilang cinta padanya, batin Radian.
__ADS_1
Laki-laki itu tersenyum pada wajah tua di hadapannya itu. Radian bertekad ingin membuktikan cinta yang sesungguhnya yaitu memaafkan Leana meski wanita itu benar-benar berselingkuh.
Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka dengan penuh semangat. Radian kembali ke ruangannya dengan senyum menghias di bibirnya. Teringat wajah istri yang sangat dicintainya.
"Oh kamu sudah datang?" tanya Arif pada seseorang.
Radian berpikir kira-kira siapa yang datang ke kantor baru mereka.
"Ya Pak," jawab yang ditanya.
Radian mendengar suara seorang wanita, laki-laki itu heran dan langsung menghampiri. Penasaran untuk apa seorang wanita datang ke kantor mereka.
"Kamu?" tanya Radian yang mengenal siapa yang datang.
"Ya Kak Radian," jawab Camelia sambil tersenyum.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Radian kaget.
"Mau bekerja di sini," jawab Camelia masih dengan tersenyum.
Radian langsung menoleh ke arah Pak Arif.
"Bapak pikir kita butuh sekretaris, jadi saat dia melamar kerja di sini Bapak langsung terima. Karena dia juga berasal dari perusahaan yang sama denganmu dan katanya sudah sangat mengenalmu," jelas Arif langsung.
Radian memegang keningnya, laki-laki itu tak menyangka Camelia akan mengikutinya hingga ke perusahaan baru berdiri seperti ini. Yang tentu saja tak akan sanggup menggaji orang dengan gaji yang besar.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...