Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 49 ~ Bertemu di RS ~


__ADS_3

Malam itu Leana tidur dalam pelukan Radian. Begitu bangun di pagi hari, Leana langsung merasakan tubuhnya yang masih dipeluk laki-laki itu. Sontak wanita itu mengangkat wajahnya, begitu bertemu tatap, terlihat senyum Radian mengembang di bibirnya.


"Sudah bangun sayang?" tanya Radian pelan.


"Kakak, tidak bisa tidur?" tanya Leana justru balik bertanya.


"Aku tidur, cuma lebih cepat bangun. Mungkin karena tidur terlalu banyak jadi sekarang aku cepat bangun," jawab Radian.


Leana duduk di ranjang itu dan melihat ke sekeliling. Wanita itu takut karena tak nyaman Radian jadi tidak tidur nyenyak sedangkan laki-laki itu sangat butuh istirahat. Leana ingin turun dari ranjang rumah sakit itu tapi Radian justru menahannya dan kembali menarik berbaring di sampingnya.


"Kakak, sekarang sudah pagi. Aku takut dokter datang memeriksa. Lagipula sebentar lagi Mommy dan Monica akan datang," ucap Leana agar Radian membiarkannya pergi.


"Dokter sudah periksa, kalau Mommy … kenapa kamu harus pergi jika Mommy datang?" tanya Radian.


"Apa? Dokter sudah datang untuk periksa? Kenapa Kakak tidak bangunkan aku?" tanya Leana.


"Kenapa harus bangunkan kamu? Bukan kamu yang ingin diperiksa?" tanya Radian sambil tersenyum.


"Ya, tapi gimana caranya dokter periksa jika aku ada ranjang Kakak? Lagipula kenapa Kakak biarkan dokter itu melihat aku tidur?" tanya Leana.


"Dokter tak boleh lihat kamu tidur? Lalu bolehnya lihat kamu apa? Mandi?--"


"Kakak!!"


Radian tertawa, lalu memeluk wanita yang dicintainya itu. Menatap wanita itu dengan wajah yang begitu bahagia.


"Aku belum mandi, main peluk-peluk saja," ucap Leana pura-pura cemberut.


"Apa sekarang mau mandi? Aku panggilkan dokter sekarang?" tanya Radian kembali tertawa.


Laki-laki itu terlihat begitu bahagia hingga selalu menggoda istrinya. Setelah menggoda dia akan menatap istrinya dengan tatapan yang lembut.


"Aku masih penasaran, bagaimana Dokter periksa Kakak sementara aku masih tertidur di sini. Apa dokter itu tidak suruh bangunkan aku?" tanya Leana serius.


"Tadinya kamu ingin dibangunkan tapi aku melarangnya. Aku bilang kamu sudah menjagaku semalaman jadi sekarang kamu masih mengantuk. Aku minta diperiksa di sofa itu saja," jelas Radian.

__ADS_1


"Jaga semalaman apa? Lagi pula harusnya Kakak bangunkan aku. Pasiennya 'kan Kakak, kenapa malah aku yang tidur di sini," ucap Leana masih bernada protes.


"Aku benar kok, kamu sudah menjagaku semalaman hingga aku bisa tidur. Jika kamu tidak datang, aku tidak akan bisa tidur nyenyak. Di mana pun aku diperiksa tidak masalah bagiku. Asalkan dokter itu tidak mengganggu istriku yang sedang istirahat," ucap Radian sambil tersenyum.


Leana pun ikut tersenyum, lalu minta izin untuk kembali pulang.


"Kamu masuk kerja pagi ini?" tanya Radian.


"Sebenarnya aku tidak ingin masuk kerja. Tapi apa yang akan aku lakukan seharian?" tanya Leana.


"Istirahat di rumah atau temani aku di sini--"


"Apa? Tapi bukannya nanti Mommy dan Monica datang?" tanya Leana.


"Kalau mereka datang, memangnya kenapa? Kamu benci bertemu dengan mereka?" tanya Radian.


"Bukan begitu! Tapi … sekarang mereka sudah tahu aku Livia. Mereka pasti memandangku berbeda. Mereka yang akan membenci aku. Jika aku adalah Leana mungkin mereka senang bertemu denganku tapi … aku Livia, orang yang mereka benci dari dulu," jelas Leana.


"Aku sudah bicara banyak dengan Mommy. Kenapa Mommy begitu membencimu, itu karena semua warisan jatuh ke tanganmu. Mommy merasa iri, kamu yang masih belia di beri semua harta kekayaan itu. Sementara dirinya yang seorang istri hanya mendapatkan uang bulanan seperti biasa. Jika kamu ingin tahu apa yang menyebabkan Mommy membencimu, itu lah sebabnya," jelas Radian.


"Saat itu Mommy tidak membencimu. Tapi dia yang terlalu menyayangi dirinya sendiri. Hingga tak peduli padamu. Kamu dan Monica selalu bertentangan dan Mommy hanya ingin berpihak pada putri kandungnya. Seorang ibu memihak pada putri kandungnya dibandingkan anak tirinya itu adalah hal yang wajar bukan? Karena itu Mommy terlihat seperti membencimu. Padahal dia hanya ingin putri kandungnya bahagia," jelas Radian.


Leana tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca, semua penjelasan itu masuk akal tapi dalam hatinya seorang Livia juga inginkan kasih sayang dari Shanty sebagai seorang ibu.


"Aku akui ibuku bukan ibu yang baik. Tapi sudah menjadi takdir, dia menjadi ibu tirimu. Kamu tak mendapatkan apa yang kamu harapkan dari ibuku. Aku tahu itu, karena aku sendiri juga mengalaminya. Mengharapkan ibuku menjadi seorang ibu yang bijaksana, yang penuh kasih sayang dan perhatian adalah juga menjadi harapanku. Aku tak mendapatkan ibu seperti itu bukan berarti aku harus memecatnya menjadi ibuku bukan?" tanya Radian meminta pengertian dari Leana.


Radian mengangkat dagu Leana yang tertunduk, terlihat air matanya yang telah mengalir.


"Maafkan ibuku karena tak menjadi ibu seperti yang kamu harapkan. Aku juga seperti itu, setiap hari memaafkan ibuku yang tak menjadi ibu yang aku idamkan. Aku mencintaimu Livia, sejak hari pertama bertemu denganmu. Aku telah menyayangimu, aku ingat saat itu kamu ingin menyalamiku tapi aku mengelak. Itu karena kamu begitu manis, begitu cantik dan begitu kasihan. Di hari pertama kita bertemu kamu harus mengalah memberikan kamarmu untuk Monica. Aku semakin menyukaimu, aku bahagia saat mengetahui kamu memilih kamar di samping kamar pilihanku. Sejak saat itu aku mendengar isak tangismu. Aku semakin simpati padamu, diam-diam aku memperhatikanmu--"


"Bohong! Diam-diam memperhatikan apa? Setiap kali aku menatap Kakak, Kak Radian pasti memalingkan wajah," protes Leana akhirnya.


"Itu karena aku malu ditatap olehmu, setiap kamu ada di sekitarku, jantungku akan berdebar-debar kencang. Jangankan melihatmu, namamu disebut saja jantungku sudah langsung berdegup kencang," jelas Radian bernostalgia.


"Kakak sudah jatuh cinta padaku sejak aku masih jadi adik tiri Kakak?" tanya Leana heran.

__ADS_1


Radian menunduk. "Aku tidak tahu kalau itu namanya jatuh cinta. Yang pasti aku rasakan, aku akan tersenyum setiap kali melihat senyummu, hatiku bersedih jika melihatmu menangis. Aku selalu ingin melindungimu, diam-diam mendengar curahan hatimu dan mendengarmu menangis di balkon kamarmu. Setiap mendengar kamu terisak aku akan langsung berdiri dibalik dinding yang membatasi balkon kamar kita, hanya ingin merasakan kamu ada sisiku," tutur Radian sambil menatap lembut wajah istrinya.


Leana tertawa. "Kenapa Kakak ceritakan semua ini padaku?" tanya Leana sambil tersenyum.


"Entahlah ... mungkin agar kamu tahu, aku menyukaimu sejak kamu masih menjadi Livia. Livia manis ataupun Livia yang telah rusak wajahnya, aku tetap menyukaimu. Bahkan saat wajahmu berganti pun aku tetap jatuh cinta padamu. Entah apa sebabnya, mungkin karena sikapmu yang mengingatkan aku pada Livia yang sangat aku rindukan," ucap Radian.


Leana mengusap wajah tampan itu dan tersenyum. Tak menyangka hari ini bisa mendengar pengakuan cinta Radian yang tersimpan sekian lama di hatinya.


Karena itu Livia, jangan ragukan cintaku padamu. Kamu adalah segala-galanya bagiku, batin Radian yang tersenyum dan langsung membenamkan bibirnya ke bibir istrinya.


Laki-laki itu tahan ingin menikmati manisnya bibir Leana. Semakin ingin mencari manisnya bibir lembut itu. Ciuman yang semakin dalam dan semakin dalam. Radian bahkan membaringkan kembali istrinya di ranjang rumah sakit itu.


Tiba-tiba terdengar suara berdehem, Radian dan Leana langsung menghentikan adegan mesra itu dan menoleh.


"Kamu pikir ini hotel apa? Bagaimana kalau dokter yang masuk?"


Melihat yang datang, Leana langsung ingin turun dari ranjang itu. Namun Radian justru memeluk wanita cantik itu.


"Mommy, kalau masuk ketuk pintu dulu," ucap Radian.


"Memangnya ini kamar kalian?" tanya Shanty.


"Ya ... untuk sementara, ini memang kamar kami," jawab Radian.


"Kamu pagi-pagi sudah sampai di sini?" sapa Shanty pada Leana.


Leana ingin menjawab meski bingung mencari alasan. Tapi Radian justru mendahuluinya menjawab.


"Bukan! Sejak tadi malam Leana di sini. Dia menemaniku menginap di sini" jawab Radian.


"Oh kalau begitu kamu pasti belum sarapan. Ini Mommy bawa makanan dari rumah, cobalah ... Kamu belum pernah mencoba masakan Mommy 'kan?" ujar Shanty.


Leana termangu, ada rasa tak percaya melihat sikap baik Shanty. Ada rasa curiga muncul dari dalam hati Leana hingga yang bisa dilakukannya hanyalah saling pandang dengan suaminya. Shanty mengeluarkan kotak perbekalan. Menaruhnya di atas meja dan menyodorkannya pada Leana. Wanita itu menatap makanan yang di sodorkan Shanty dengan jantung yang berdebar kencang.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2