Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 8 ~ Memilih ~


__ADS_3

Monica berdiri di depan pintu kamar Radian yang memang tetap terbuka. Dengan keras menentang keinginan Radian yang ingin meminang Leana sebagai istrinya. Sontak mereka menoleh ke arah Monica yang berdiri berkacak pinggang dengan mata yang membulat besar.


Radian merasa tidak enak hati dengan sikap adiknya namun dengan santai Leana melangkah mendekat hingga jarak mereka tak terlalu jauh. Leana menatap Monica dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Kasihan, sudah setua ini masih sekolah, sekolah, sekolah mau berapa banyak sekolah model yang akan dia jajal hingga jadi model profesional atau jangan-jangan sekolah terus tapi tak lulus-lulus. Dasar bodoh, batin Leana yang senyum-senyum sendiri.


Monica kesal ditatap seperti itu, ditambah lagi Leana yang tersenyum setelah menatapnya.


"Apa senyum-senyum?" tanya Monica.


Mendengar ucapan Monica, Radian merasa tingkah adiknya sudah keterlaluan. Segera laki-laki itu menarik lengan adiknya dan membawanya ke kamarnya di lantai bawah. Sementara Leana hanya bersantai di balkon kamar Radian. Menoleh ke arah kanan balkon itu yang merupakan balkon milik kamarnya dulu.


Apa Kakak sering duduk di sini? Waduh, jika ya, Kakak pasti sering mendengar aku menangis dan bicara sendiri di balkon itu. Sudahlah, semua sudah berlalu. Sudah lama aku tak mengingat lagi masa-masaku menjadi Livia. Tapi sejak kepulanganku dan kembali mendekati keluarga ini, tentu saja semua kenanganku di sini kembali lagi, batin Leana yang rebah di kursi malas di balkon itu.


Sementara itu di kamar Monica, Radian mempertanyakan maksud adiknya itu menentang keinginannya untuk menikahi Leana.


"Kenapa kamu melarangku menikahinya? Kamu tidak punya hak Monica. Lagi pula kenapa harus bicara secara langsung seperti itu di hadapannya. Kamu bisa mengenalnya dulu, nilai dia barulah bicara denganku," ucap Radian dengan wajah tak senang.


"Aku nggak mau Kakak memiliki istri …"


"Apa?"


"Kalau Kakak menikah nanti Kakak hanya akan memperhatikan istri Kakak. Di rumah ini siapa yang peduli padaku selain Kakak. Selama ini kita hanya bertiga, sejak kecil kita melewati segala masa dengan bertiga. Masa susah masa senang …"


"Kapan kita melewati masa senang? Kamu pikir pindah ke rumah ini dan membiarkan Mama menikahi Papanya Livia itu adalah masa senang? Bagi kamu mungkin ya, tapi tidak bagiku. Setiap hari harus melihat ketidakadilan yang di perlihatkan Mama …"


"Mommy …"


"Bullshit Mommy … begitu pindah ke rumah ini menjadi Mommy. Dulu di rumah Abi Arifin, dia kita panggil Ummi, pada dasarnya dia adalah Mama. Wanita yang melahirkan kita di rumah susun dan selalu berteriak kalau bertengkar dengan Papa. Mama hanya berkamuflase di setiap tempat yang disinggahinya. Mama hanya beruntung karena telah mencapai yang diinginkannya setelah Papa Robert meninggal dan Livia juga meninggal. Tapi pada dasarnya dia adalah Mama, bukan Mommy," papar Radian.


Mendengar nama Livia disebut Kakaknya, Monica menunduk dengan tangan yang gemetar. Tentu saja dia tahu adik tirinya itu meninggal tapi bukan bunuh diri seperti yang di umbar-umbar pada semua orang tapi karena mereka bunuh dengan dibuang ke jurang yang dalam dan tak terlihat dasarnya.


"Kakak tidak pernah melarangmu menyukai laki-laki mana pun asalkan kamu bisa menjaga diri. Tapi kenapa kamu tega melarang Kakak menyukai Leana? Apa lagi melarang Kakak menikahinya?" tanya Radian.


Monica tak menjawab, dia hanya tertunduk. Radian menunggu jawaban tapi Monica tetap tak mau mengungkapkan isi hatinya. Radian kehabisan akal. Teringat pada Leana yang ditinggal di kamarnya. Laki-laki itu segera mendatangi Leana yang telah tertidur di kursi malas di balkon kamarnya.


Radian tersenyum menatap wajah Leana yang tertidur damai. Helaian rambutnya terbang tertiup angin lembut. Radian menyematkan helaian rambut itu di balik telinga Leana.


Menatapmu saja rasanya begitu damai apalagi jika memilikimu, batin Radian.


Radian menatap detail wajah Leana, kening, alis mata, hidung, pipi hingga ke bibir. Seperti memiliki kekuatan magnet yang kuat saat menatap bibir manis itu. Mata Radian seperti tak ingin beralih lagi dari bibir lembut itu. Mendekatkan perlahan bibirnya ke bibir Leana dan menempelkannya.


"Ada yang mencuri ciuman," bisik Leana.


"Oh maaf, aku hanya ingin membalas dendam," ucap Radian.


"Apa?"


Leana langsung terduduk, dadanya berdegup kencang. Kata balas dendam yang biasa digaungkan di dalam hatinya justru terucapkan oleh Radian. Leana mendadak merasa takut jika ternyata Radian mengetahui siapa dirinya.


Setelah bicara dengan Monica, Radian berkata seperti itu membuat tubuh Leana mendadak dingin. Darahnya seperti berhenti mengalir.


Apa Kak Monica mengenaliku? Apa dia memiliki firasat? Apa? Kenapa Kak Radian bicara tentang dendam? Batin Leana ketakutan namun ditahan dengan sekuat tenaga agar tak terlihat oleh Radian.


Mata Leana menunggu apa yang dilakukan laki-laki itu. 


"Karena kamu juga telah mencuri hatiku. Aku juga ingin mencuri ciuman darimu," ucap Radian sambil tersenyum.


"Hanya itu? Balas dendam karena itu?" tanya Leana lega.


"Itu alasan yang sangat kuat, ingin alasan apalagi? Kamu pikir mudah mencuri hatiku? Setelah gadis yang meninggal itu, tak ada satu pun yang bisa mencuri hatiku selain kamu," jawab Radian.


Leana langsung melingkarkan tangannya ke leher dan punggung laki-laki itu. Leana membenamkan bibirnya ke bibir laki-laki tampan itu. Leana hingga menyesapnya hingga dalam. 


"Apa itu? Menciumku tanpa seizinku. Kamu juga ingin mencuri dariku?" tanya Radian sambil tersenyum.


"Tidak, aku hanya ingin mengambil kembali ciuman yang Kakak curi dariku," jawab Leana tak ingin kalah.


"Mengambil kembali?" tanya Radian lalu tertawa. "Aku rasa kamu mengambilnya kebanyakan, aku juga harus mengambilnya kembali," ucap laki-laki itu lalu kembali merebahkan Leana.


Radian menyesap bibir lembut itu, merasakan lidah Leana yang bermain-main di rongga mulutnya, Radian tersenyum dan kembali mengulanginya. Ciuman lembut itu membuatnya kecanduan hingga ingin dilakukannya berkali-kali.


"Aku sangat ingin menikahimu Leana," bisik Radian akhirnya.


Laki-laki itu menyandarkan kepala Leana di dadanya.


"Bagaimana dengan Kak Monica? Jangankan menerimaku sebagai calon istri Kakak, berkenalan denganku saja dia tidak mau," ucap Leana.


"Maafkan Monica, dia memang manja denganku. Mungkin karena kami tak lagi memiliki figur ayah. Dia sangat mengandalkan aku, takut jika aku mengabaikannya jika telah menikah nanti."


Tentu saja dia cemas, kalian selalu bertiga selama ini, kalian sangat bergantung satu sama lain. Dia tak ingin melepasmu pada wanita lain, sebaik apa pun wanita itu. Kita lihat saja apa dia bisa menghalangi kita menikah? Batin Leana.


Leana kembali fokus pada laki-laki yang kembali memainkan lidahnya di rongga mulut gadis itu. Hari ini Leana gagal mendapatkan izin menikah dari Monica. Hal itu tentu saja membuat Radian kesal. Leana bahkan belum sempat berkata apa pun saat Monica datang menyatakan keberatannya.


Di kantornya Leana langsung memanggil Nesya dan meminta nama-nama agensi yang kira-kira bisa diajak bekerjasama untuk menerima Monica sebagai model profesional.

__ADS_1


"Ini Nona, nama lima agensi bergengsi yang bersedia menerima Nona Monica di management mereka," ucap Nesya sambil menyerahkan lima profil perusahaan yang menjadi incaran para Model-model yang ingin menjadi model profesional.


Berkat Nesya yang memiliki keterampilan dalam mendekati pemilik agensi dan nama besar perusahaan Leana. Kelima agensi teratas itu bersedia menerima Monica menjadi model di bawah naungan mereka.


"Terima kasih Nesya, jadi semuanya bersedia menerima? Apa Monica memang berbakat?" tanya Leana.


"Sebenarnya beberapa kali kelima agensi itu membuka kesempatan untuk para model bergabung bersama mereka tapi Monica tak pernah lolos karena persaingan yang ketat. Mereka kebanyakan menerima lulusan sekolah model dari luar negeri. Tapi mereka bisa melatih Monica jika diterima, tentunya harus belajar dari nol lagi disana," jelas Nesya.


"Apa yang mereka harapkan dari perusahaan kita," tanya Leana.


"Sponsor, untuk menyelenggarakan peragaan busana di kota-kota mode dunia. Semakin sering mereka ikut dalam kancah internasional semakin dipertimbangkan di dunia modeling bukan?" tanya Nesya.


"Ok, nggak masalah. Kira-kira yang mana yang bisa kita jadikan target pertama?" tanya Leana.


"Yang ini Nona, saya lihat ada audisi untuk peragaan busana Designer terkenal di sebuah objek pariwisata yang baru dibuka. Saya rasa Nona Monica akan ikut audisi itu," jelas Nesya.


"Ow, baiklah terima kasih temanku Nesya, apa kita makan siang hari ini?" tanya Leana.


"Sepertinya belum bisa Nona, tadi sekitar setengah jam lalu. Tuan Radian bertanya kegiatan Nona siang ini. Karena tidak ada agenda jadi saya bilang kosong. Saya rasa Tuan Radian akan kemari," ucap Nesya sambil tersenyum.


"Oh begitu, baiklah Nesya, lain waktu aku traktir kamu makan siang ya," ucap Leana.


"Siap Nona," ucap Nesya sambil tersenyum.


Nesya pamit keluar dari ruangannya. Leana sangat bersyukur memiliki personal assistant yang sangat mengerti dirinya. Hatinya berbunga-bunga saat Nesya berkata Radian bertanya tentang kegiatannya hari ini. Leana menatap jam tangannya yang terasa lambat menggerakkan jarum-jarumnya.


Leana menunggu sambil menatap pemandangan kota melalui jendela kaca besar yang biasa menjadi tempatnya termenung. Tiba-tiba buket bunga mawar muncul di hadapannya. Leana terkejut, wanita itu tahu Radian akan datang namun tak menyangka akan membawakan bunga untuknya.


"Terima kasih Kak," ucap Leana yang langsung memeluk Radian.


"Aku yang harus berterima kasih padamu karena telah bersabar menghadapi adikku yang manja itu. Tapi percayalah sayang, aku akan terus berusaha membujuknya," ucap Radian.


"Kalau dia tetap tidak mengizinkan bagaimana?" tanya Leana.


"Aku tetap akan menikahimu walau tanpa izinnya. Leana, aku tidak ingin kehilanganmu! Monica adikku tapi dia tidak berhak ikut campur dalam keputusan hidupku. Aku … mencintaimu Leana, aku sangat mencintaimu," ungkap Radian.


Leana tersenyum bahagia, segera gadis itu memeluk laki-laki tampan yang menjadi cinta sejatinya itu. Leana bahkan menitikkan air mata, tak pernah terbayangkan jika suatu saat Leana akan mendengarkan kata-kata itu terucap dari mulut Radian.


Radian menyodorkan kotak berisi cincin berlian di hadapan Leana yang masih memeluknya. Leana kaget dan segera merenggangkan pelukannya. Segera Leana ingin meraih cincin yang sodorkan itu. Tapi Radian justru mengelak dan menyembunyikan di belakang punggungnya.


Leana berjalan ke samping punggung Radian namun laki-laki itu justru bergeser.


"Kakak! Mana cincinku?" tanya Leana yang tak sabar ingin mengenakan cincin pemberian Radian.


Namun laki-laki itu hanya tersenyum dan justru mengulurkan dua tangannya yang tergenggam.


"Apa maksudnya? Aku tak boleh memilih keduanya? Jika aku tidak suka dengan yang aku pilih bagaimana? Aku tetap harus melepaskan isi tangan yang lainnya," tanya Leana yang dibalas anggukan oleh Radian.


"Tidak boleh diganti? Kalau aku tidak suka bagaimana?" tanya Leana.


"Bagaimana lagi? Itu resiko dan itu takdir," ucap Radian.


"Iih, mengerikan!" ucap Leana kesal.


"Ayo cepat pilih!" ujar Radian.


Dengan bingung Leana pun memilih, kadang menunjuk tangan kanan lalu tiba-tiba membatalkannya kemudian seperti yakin memilih tangan kiri lalu kembali membatalkannya.


"Bagaimana CEO cantik ini begitu plin-plan dalam mengambil keputusan," ucap Radian sambil tertawa.


"Karena harus kehilangan yang satunya, aku harus hati-hati dalam memilih agar tidak menyesal," ucap Leana akhirnya kembali memilih tangan kanan Radian.


Karena menurutnya Radian pasti menggenggam cincin itu di tangan kanan dan akan langsung menyelipkannya di jari manis Leana. Dan benar saja, di telapak tangan kanan Radian menggenggam cincin yang telah diperlihatkannya tadi.


Leana bahagia pilihannya tepat namun penasaran dengan isi genggaman tangan kiri Radian.


"Lalu apa isi dalam genggaman tangan kiri itu?" tanya Leana yang telah mengambil cincin dari telapak tangan Radian.


Radian pun membuka telapak tangannya namun tak ada apa pun di sana.


"Kosong? Kalau aku memilih artinya aku tidak mendapatkan apa pun?" tanya Leana yang semakin yakin pilihannya tadi adalah pilihan yang tepat.


Namun Radian menggelengkan kepalanya.


"Bukan kosong tapi ada di sini, di dalam dadaku. Ini adalah hatiku," ucap Radian dengan mantap.


Leana tertegun.


"Jika aku memilih ini artinya aku melepas hatimu? Aku tidak mau ini," ucap Leana langsung mengembalikan cincin itu ke telapak tangan Radian.


"Tapi kamu sudah memilih ini," ucap Radian sambil tersenyum.


Leana membalik badan menghadap ke jendela.


"Aku tidak mau, jika mendapatkan cincinmu tapi tak mendapatkan hatimu. Untuk apa? Menikah tapi tak mendapatkan cintamu? Kalau begitu tidak usah!" seru Leana.

__ADS_1


Kenapa Kak Radian begini? Apa dia menyesal? Apa dia kembali pada cinta lamanya tak ingin meninggalkan cinta lamanya, oh tidak, jerit hati Leana.


"Aku tidak bisa memberi cincin sekaligus hatiku, karena hatiku tak berada ditempatnya lagi, bukankah kamu telah mencurinya?" tanya Radian sambil memeluk Leana dari belakang dan menyodorkan kembali cincin itu di depan wajah Leana.


Leana tersenyum, lalu menoleh pada Radian.


"Bukankah kamu sudah memiliki hatiku?" tanya Radian yang dibalas dengan pelukan oleh Leana.


"Aku kira Kakak berubah pikiran, Kakak akan kembali mencintai cinta pertama Kakak," ucap Leana dengan air mata haru yang mengalir deras.


"Dia cinta masa laluku dan sekarang aku mencintaimu Leana, kamu adalah masa depanku," ucap Radian sambil memejamkan mata menghirup pangkal leher Leana.


Kakak adalah cintaku dari masa lalu, sekarang dan untuk masa yang akan datang, batin Leana.


Radian menyelipkan cincin berlian itu di jari manis Leana. Setelah kembali mengucapkan kata-kata permintaan untuk menjadi istrinya. Leana menjawab setuju dan cincin itu pun terselip di jari manis wanita cantik itu.


"May i kiss my bride?" tanya Radian


Tak perlu meminta izin menciumnya, Leana justru langsung mencium bibir calon suaminya itu. Radian tersenyum dan membalas dengan ciuman yang menggebu.


Beberapa hari kemudian Monica menghadiri sebuah audisi pemilihan model-model peragaan busana di sebuah daerah pariwisata yang baru dibuka. Dengan semangat wanita itu menunjukkan kebolehannya namun melihat saingannya yang merupakan model-model papan atas, Monica pun getar getir menunggu pengumuman.


Monica menunggu sambil terus berdoa namanya tercantum dalam salah satu model yang terpilih. Begitu membuka mata, mata itu langsung terbelalak. Leana keluar dari ruang pimpinan agensi. Leana akan pulang dan pimpinan itu menawarkan diri untuk mengantarnya, Leana ingin menolak secara halus.


"LEANA!!!"


Leana menoleh ke arah suara yang memanggil dengan tatapan seolah-olah bertanya siapa yang berani memanggilnya dengan tidak sopan seperti itu. Monica langsung menyadari kekeliruannya dan bertindak dengan sangat sopan.


"Kak Leana?" sapa Monica sambil cengar-cengir.


Ya ampun … Kak Leana? Batin Leana langsung tertawa.


"Oh, Monica?" tanya Leana langsung menempatkan diri di atas Monica.


"Siapa dia Nona Leana?" tanya pimpinan agensi.


"Oh perkenalkan aku Monica, adik ipar, Kak Leana," ucap Monica langsung memperkenalkan diri.


"Kapan aku menikah dengan Kakakmu?" tanya Leana.


"Aah, bukankah sebentar lagi. Kalau begitu sekarang masih calon kakak ipar," ucap Monica.


Leana akhirnya mengangguk, Monica langsung bercerita dia sedang menunggu hasil pengumuman audisi.


"Apakah Tuan bisa meloloskan aku?" tanya Monica.


"Benar dia calon adik ipar Nona Leana?" tanya pimpinan agensi itu.


"Benar tuan, jika Tuan Aldo tidak ingin mempermalukan aku di depan calon adik iparku. Bersediakah menerimanya di agensi ini?" tanya Leana.


Monica langsung terkejut mendengar ucapan Leana yang meminta pimpinan agensi itu menjadikannya salah satu model profesional di sana.


"Demi Nona Leana, siapa yang tidak bersedia. Tentu saja kami akan menjadikan calon adik ipar Nona Leana model profesional kami di sini," ucap Aldo.


"Baiklah kalau begitu terima kasih banyak, jika ada waktu luang kita makan siang bersama?" tanya Leana.


"Terima kasih Nona Leana," ucap pimpinan agensi itu.


Leana langsung pamit dan tersenyum sedikit pada Monica kemudian melangkah dengan anggun meninggalkan tempat itu.


Haaa, hanya begitu saja? Dia bisa membuat pimpinan itu tunduk padanya dan bersedia menerimaku menjadi model di agensi ini. Hanya dengan bicara sebentar itu saja? Leana, hebat sekali dia, jerit batin Monica.


"LEANA!!! Eh … maksudku Kak Leana!" panggil Monica.


Leana membalik badan dan menunggu wanita kekanak-kanakan itu berlari menghampirinya.


"Terima kasih sudah membantuku, jika tahu semudah ini dengan bantuanmu, sejak dulu aku akan minta bantuanmu," ucap Monica sambil cengar-cengir.


"Bagaimana bisa minta bantuan dari dulu, kita juga baru bertemu dan kamu juga menolak hubunganku dengan kakakmu," ucap Leana to the point.


"Oh, mengenai itu jangan khawatir aku akan merestui kalian," ucapnya sambil mengangguk-angguk.


"Kamu pikir Kakakmu mendengar ucapanmu? Dia tetap melamarku meski tak mendapat izin darimu," jelas Leana sambil memperlihatkan cincin di jari manisnya.


"Aku tahu, Kakak pasti tidak peduli pendapatku," ucap Monica tertunduk.


"Menurutmu dia rela kehilangan aku demi dirimu?" tanya Leana.


Monica semakin menunduk.


"Kamu adalah gadis manja yang disayanginya tapi aku wanita yang dicintainya. Kamu mengerti? Dia lebih memilihku dibanding memilih kamu, jadi jangan pernah memintanya untuk memilih. Kasihani dirimu sendiri," ucap Leana.


Wanita itu tak ingin Monica merasa bahwa berkat izin darinya, Radian bisa menikah dengannya. Leana ingin Monica tahu diri bahwa Monica tidak ada arti dibanding dirinya di mata Radian.


Monica tertunduk, sikap angkuhnya yang menolak mentah-mentah kehadiran Leana kemarin diingatkan lagi padanya. Membuat gadis itu menyesal akan sikapnya dan berjanji akan selalu mendukung hubungan Leana dengan kakaknya.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2