
Leana resmi menjadi istri Radian dan tinggal bersama di rumah peninggalan ayah kandungnya. Leana menempati kamar Livia sebagai ruang kerjanya sekaligus tempat untuk beristirahatnya.
Terkadang Radian menemukan istrinya tertidur di kamar Livia. Laki-laki itu menggendong Leana kembali ke kamar mereka. Radian selalu merasa tidak nyaman berada di kamar Livia. Selalu merasa Livia mengawasinya, Radian tak bisa leluasa menunjukkan sikap mesranya pada Leana di kamar itu.
"Kakak sudah pulang?" tanya Leana yang terbangun saat Radian baru saja menaruhnya di ranjang.
"Ya sayang, maaf ya aku membawamu kembali ke kamar ini. Aku tidak mau kamu tidur di sana dan aku tidur di sini sendirian," ucap Radian.
Leana tersenyum, lalu melirik jam dinding.
"Pulangnya kok telat sekali?" tanya Leana.
"Ya! Tadi ada meeting tapi aku sudah kirim pesan padamu. Kamu pasti tidak membacanya," ucap Radian.
Leana tersenyum, lalu membantu suaminya melepas jas dan dasinya.
"Kakak mau aku siapkan jacuzzi whirlpool bath?" tanya Leana.
"Mau!" jawab laki-laki itu cepat.
Leana tersenyum lalu menyiapkan jacuzzi whirlpool dengan minyak esensial aromatik yang ditambahkannya kedalam kolam air hangat itu. Aromaterapi itu tidak hanya mampu menenangkan tubuh dan relaksasi otot namun juga bisa meningkatkan gairah seksual.
Leana tersenyum sambil melangkah kembali ke kamar. Wanita cantik itu berjalan mendekat lalu perlahan melucuti pakaian suaminya satu persatu.
"Temani aku ya sayang," bisik Radian.
Leana mengangguk sambil tersenyum, Jacuzzi Whirlpool telah siap sedia. Radian melepas semua yang melekat di tubuh istrinya. Lalu menggendong wanita cantik itu dan meletakkannya di dalam kolam air hangat itu. Berdua mereka menikmati kenyamanan kolam air hangat itu. Kehadiran Leana di sisinya membuat Radian tak bisa tinggal diam. Laki-laki itu menangkup wajah istrinya dan mulai mencumbunya, memeluk, mengusap, membelai dan membenamkan bibirnya ke bibir manis itu.
Leana pasrah mengikuti permainan cinta suaminya. Minyak esensial aromatik yang ditambahkannya kedalam kolam air hangat itu telah meningkatkan gairah seksual mereka. Leana membalas memeluk dan membalas ciuman laki-laki itu.
Radian tersenyum menatap istrinya yang juga telah bernafsu. Laki-laki itu lalu menggendong Leana kembali ke kamar dan bergumul dengan wanita cantik itu di ranjang. Tidak hanya desah nafas Radian yang terdengar, Leana pun sekuat tenaga menahan desahnya.
"Aku suka mendengar desahmu sayang. Keluarkanlah jangan ditahan" bisik Radian.
Meski Leana ingin menahannya namun tetap tak bisa, permainan cinta Radian membuat wanita itu tidak bisa menahan desahannya. Radian menatap istrinya yang memejamkan mata itu dan tersenyum. Laki-laki itu mengakhiri sesi bercinta mereka ditandai Radian yang semakin mempercepat ritme bercintanya.
"Aku mencintaimu sayang," bisik Radian.
Laki-laki itu rebah di samping istrinya sambil mengatur nafas. Radian meraih tubuh wanita yang dicintainya itu mendekat. Radian memeluk tubuh polos istrinya, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka lalu tertidur sambil terus mendekap wanita yang dicintainya itu dalam pelukannya.
Begitu resmi menikah Leana langsung pindah ke rumah itu. Tinggal di sana membuat Leana lebih mudah mengendalikan penghuni rumah. Leana perlahan-lahan membuat ibu mertuanya tak mampu mencicil hutangnya dengan segala macam cara.
Akibatnya saat jatuh tempo pembayaran cicilan hutang, Shanty selalu menunggak. Tak cukup sekali, Leana membuat ibu mertuanya itu menghadapi pengeluaran-pengeluaran yang tak terduga.
"Leana tolonglah, beri Mommy kelonggaran. Izinkan cicilan kali ini ditunda sementara. Ayolah Leana, bantulah Mommy kali ini," ucap Shanty memohon.
"Mommy, Mommy itu bukannya tidak punya uang untuk membayarnya. Mommy bisa menjual beberapa perhiasan lama yang sudah ketinggalan jaman atau yang sudah tidak di pakai lagi. Kenapa menyimpan barang lama yang jika dipakai Mommy justru merasa malu? Jual saja untuk menambah pembayaran cicilan hutang itu. Cukup tinggalkan perhiasan-perhiasan terbaik saja," ucap Leana menyarankan.
Shanty tak punya pilihan lain, terpaksa demi menambah uang cicilan hutang Shanty menjual sebagian koleksi perhiasannya. Dan dia terpaksa melakukannya beberapa kali hingga tak ada lagi perhiasan yang bisa dijualnya.
Shanty mencoba untuk meminta bantuan pada Radian, namun putranya itu justru bertanya. Sementara Shanty tak bisa menceritakan alasan sesungguhnya kenapa dan untuk keperluan apa dia meminta tambahan uang bulanan.
"Uang bulanan Mommy itu sudah sangat besar, untuk apa Mommy minta tambahan lagi. Untuk keperluan apa?" tanya Radian penasaran.
Shanty tak bisa menjawab, Radian berkesimpulan ibunya hanya ingin membeli perhiasan-perhiasan lagi dan untuk itu Radian menolak. Laki-laki itu sebenarnya tidak suka dengan gaya hidup ibunya yang suka berfoya-foya demi penampilan.
Hingga akhirnya Shanty tak punya pilihan lain. Sesuai dengan perjanjian rumah itu jatuh ke tangan Leana, Shanty akhirnya menyerah. Dengan terpaksa wanita itu menandatangani pengesahan balik nama atas rumah itu pada Leana. Setelah mendapatkan jaminan dari Leana bahwa dia tidak akan mengusir Shanty dan Monica.
"Apa yang Mommy takutkan? Aku tidak akan mengusir Mommy, meski rumah itu menjadi milikku. Mommy tetap bisa tinggal di rumah itu. Bukankah kita satu keluarga?" tanya Leana.
Benar juga, meski rumah itu bukan milikku lagi tapi aku tetap bisa tinggal di rumah itu. Leana itu menantuku, tak mungkin dia mengusirku. Radian tentu tidak akan membiarkan istrinya mengusir ibunya, batin Shanty.
Nyonya itu pun akhirnya setuju menyerahkan rumah itu. Shanty kembali hidup tenang dengan sisa perhiasannya. Shanty rela tak lagi memiliki rumah demi mempertahankan sisa perhiasannya yang mana adalah perhiasan-perhiasan terbaik dan terbaru miliknya.
"Kak Radian bilang Mommy punya anak tiri yang sudah meninggal. Apa penyebab meninggalnya Mommy?" tanya Leana saat mereka sarapan bersama.
Mendengar itu Shanty dan Monica langsung tercekat. Namun saat sadar mereka berusaha untuk bersikap wajar.
__ADS_1
"Dia meninggal karena bunuh diri."
"Bunuh diri? Di rumah ini?" tanya Leana kaget.
"Bukan! Bukan! Dia bunuh diri melompat ke jurang," ucap Shanty segera menyanggah.
"Kenapa Mommy bisa yakin dia melompat masuk jurang? Apa Mommy melihat sendiri dia melakukan itu?" tanya Leana lagi.
"Iya, dia ditemukan di dasar jurang tak jauh dari tempat dia melompat," jawab Monica.
Kaki Shanty langsung menyenggol kaki Monica. Membuat gadis itu sadar seharusnya tak ikut bicara.
"Lokasi tempat dia melompat? Kak Monica tahu persis di mana dia melompat?" tanya Leana.
Monica langsung menutup mulutnya, kelimpungan mencari jawaban.
"Ah bukan begitu maksudnya. Dia ditemukan di dasar jurang, jadi kemungkinan dia bunuh diri di sana," jelas Shanty.
"Mommy yakin dia bunuh diri? Kenapa bisa begitu yakin dia bunuh diri. Mungkin saja dia dibunuh 'kan?" tanya Leana semakin penasaran.
"Tidak! Dia bunuh diri karena dia menulis pesan, ya 'kan Kak?" tanya Monica.
"Pesan seperti apa? Surat? Kak Radian tahu tentang ini?" tanya Leana pada Radian.
Laki-laki itu langsung meminum air putih di dekatnya untuk menghilangkan rasa kering yang tiba-tiba di rasakan di tenggorokannya.
"Kenapa ingin tahu soal ini?" tanya Radian.
"Tidak apa-apa, hanya penasaran saja," ucap Leana.
"Dia menuliskan kesedihannya di buku hariannya."
Ah ya benar, aku punya buku harian, batin Leana.
"Dia menulis akan bunuh di buku harian itu?" tanya Leana.
"Sayang! Sudahlah jangan dibahas lagi tentang dia!" ucap Radian dengan nada sedikit membentak.
Leana tercenung, Shanty dan Monica saling berpandangan. Merasa kaget dengan sikap Radian namun juga merasa lega karena pembicaraan yang menakutkan bagi mereka itu bisa segera berakhir.
Akhirnya sarapan pagi itu di lalui dengan suasana yang tiba-tiba hening. Radian menyesal telah membentak Leana. Di kamar mereka laki-laki itu meminta maaf pada istrinya.
"Sayang aku minta maaf, aku … aku merasa tidak nyaman membicarakannya. Dia sudah meninggal, dia sudah tenang di alamnya. Jangan kita usik lagi dia, ya," ucap Radian sambil menangkup wajah istrinya.
Leana hanya diam, sejujurnya dia tidak suka dibentak di depan mertua dan adik iparnya itu. Itu memberi kesan kalau Radian bisa berbuat sekehendak hatinya pada Leana. Wanita berkuasa itu tentu saja bisa balik menentang suaminya namun demi menjaga wibawa Radian di depan Shanty dan Monica, Leana akhirnya mengalah.
"Sayang?" tanya Radian karena laki-laki itu belum mendapatkan jawaban dari Leana.
Leana tetap diam, Radian langsung sadar kalau istrinya tersinggung.
"Maafkan aku ya? Jika ada yang ingin kamu ketahui tentang dia tanyakan padaku saja, ya!" ucap Radian akhirnya.
Memangnya Kakak tahu semua? Apa Kakak tahu kalau Livia itu didorong ke jurang oleh Mommy dan Monica? Tidak 'kan? Lalu apa yang bisa aku ketahui tentang Livia dari Kakak? Batin Leana.
"Sayang katakan sesuatu, tolong maafkanlah aku," ucap Radian sambil mencium telapak tangan istrinya.
Melihat ekspresi Radian yang terlihat begitu menyesal akhirnya Leana mengangguk. Radian lega, langsung memeluk wanita yang dicintainya itu. Setelah mengecup bibir istrinya, laki-laki itu mengajak Leana untuk berangkat ke kantor.
Baiklah untuk sementara aku hentikan dulu penyelidikanku. Aku bisa mendapat informasi dari Mommy dan Monica secara terpisah. Tapi kenapa Kakak terlihat begitu tidak suka membicarakan tentang Livia? batin Leana.
Radian masih melihat Leana yang termenung merasa tidak enak perasaan. Laki-laki itu kembali memeluk istrinya memohon Leana menghentikan sikapnya yang seperti itu.
"Sayang, tolong maafkan aku. Jangan bersikap seperti ini, perasaanku tidak tenang berangkat ke kantor," ucap Radian memohon.
"Baiklah, maaf Kak! Aku jadi membuat Kakak risau. Aku tidak apa-apa sekarang. Ayo kita berangkat," ucap Leana sambil tersenyum.
Melihat senyum di bibir istrinya, Radian merasa lega. Mereka berjalan bergandengan tangan menuruni tangga. Setelah pamit pada Shanty dan Monica, Radian dan Leana melangkah menuju garasi mobil. Mereka berangkat ke kantor dan bekerja seperti biasa.
__ADS_1
Di saat ada kesempatan Leana bertanya sambil berbincang ringan dengan Shanty atau Monica tentang Livia.
"Siapa yang pegang buku harian Livia?" tanya Leana yang tak yakin dengan cerita Monica.
"Kak Radian! Setelah kami menunjukkan isi buku harian itu pada orang-orang yang ingin tahu penyebab kematiannya. Kak Radian menyimpan buku harian itu," jelas Monica.
"Di mana dia menyimpannya?" tanya Leana.
"Entahlah, mungkin di kamarnya. Bukannya semua buku di simpan di kamarnya," ucap Monica.
Benar juga, kalau Kak Radian yang simpan buku harian itu, pasti dia simpan di kamar. Kalau begitu aku akan mencarinya. Aku penasaran, apa yang aku tulis hingga bisa membuat aku terkesan bunuh diri? tanya Leana dalam hati.
Sepulang kerja Leana mencoba mencari buku harian itu tapi tak kunjung ditemukannya. Leana sedikit kesal.
Apa aku harus bertanya pada Kak Radian? Bagaimana kalau dia tak mau menunjukkannya? Kak Radian tak suka diusik tentang Livia, kenapa ya? tanya Leana dalam hati.
"Sedang apa sayang?" tanya Radian langsung memeluk Leana dari belakang.
"Oh, Kakak sudah pulang?" tanya Leana yang tak memerlukan jawaban.
Laki-laki itu langsung mencium pangkal leher Leana.
"Aku kangen sama kamu, seharian di kantor aku selalu teringat kamu. Aku jadi ingat dulu sebelum kita menikah, kamu sering datang ke kantor. Sekarang malah tidak pernah lagi," tutur Radian.
Leana tertawa mendengar curahan hati suaminya.
"Ya kenapa harus cari di kantor kalau di rumah kita bisa bertemu," ucap Leana masih tak hilang tawanya.
"Masa pacaran dulu enak, lagi kangen, kamu langsung nongol di kantor," jawab Radian.
"Oh jadi lebih enak waktu pacaran? Kenapa waktu itu buru-buru ingin menikah?" tanya Leana.
"Oh ya, aku lupa, nikah itu lebih enak," jawab Radian yang langsung membuat Leana tertawa.
Laki-laki itu membalik tubuh Leana menghadap ke arahnya. Radian melepas jas dan dasinya lalu menyatukan bibir mereka.
"Kalau menikah kita bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan," ucapnya sambil mendorong Leana hingga jatuh ke ranjang.
Laki-laki itu langsung melepaskan hasratnya yang tertahan sejak masih di kantor tadi. Kemudian mengajak istrinya mandi bersama. Saat waktu makan malam, mereka turun untuk makan malam bersama. Saat menikmati makan malam yang tenang itu, Leana menerima telepon dari personal assistant-nya.
"Sudah mau sampai? Benarkah? Baiklah aku tunggu," ucap Leana kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
"Ada yang mau datang," ucap Leana memberi tahu dengan ekspresi yang gembira.
"Siapa?" tanya Radian.
"Dia yang menemaniku saat tinggal di penthouse," jawab Leana.
"Apa? Kamu bilang kamu tinggal sendirian di penthouse," sanggah Radian.
"Ya, karena itu dia menemaniku," jawab Leana lagi.
"Kenapa kamu tidak pernah cerita ada yang mau datang? Apa dia akan menginap di sini? Kenapa tidak minta izin dulu sama Mommy? Jangan seenaknya mengundang orang datang ke rumah Mommy," ucap Radian dengan nada yang tidak senang.
Entah kenapa dia merasa tidak senang dengan kedatangan tamu yang ditunggu-tunggu Leana. Radian merasa cemburu melihat Leana yang begitu senang dengan kedatangan tamunya itu.
Sementara Leana langsung menoleh pada Shanty. Saat laki-laki itu menekankan untuk meminta izin pada ibunya itu sebagai pemilik rumah. Shanty hanya bisa tertunduk saat tatapan Leana seolah-olah bertanya benarkah ini masih rumahnya?
Bel berbunyi, Leana langsung berlari ke ruang tamu. Radian kesal, memilih tetap di tempat duduknya.
"Akhirnya kamu datang juga Fluffy," terdengar suara Leana berkata.
Fluffy? Fluffy? Itu nama kucing Livia? Batin Radian yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
Leana terlihat sedang menggendong kucing ras Persia berwarna putih dengan bulunya yang tebal lembut dan halus. Radian terpaku menatap Leana yang sibuk bermain bersama kucing kesayangannya itu.
Sementara Radian sibuk menenangkan hatinya yang bergejolak begitu mendengar nama kucing yang persis sama seperti kucing Livia yang telah mati dan terkubur di bawah pohon Tabebuya di taman belakang rumahnya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...