Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 114 ~ Jangan Berharap ~


__ADS_3

Saat sarapan pagi, mereka berkumpul bersama. Suasana terasa tidak nyaman. Shanty terlihat cemberut. Membuat Leana merasa tidak enak hati. Bagaimanapun juga dirinyalah yang mengizinkan keluarga itu tinggal sementara di rumah itu.


Leana yang telah menganggap ibu mertuanya itu seperti ibu kandungnya, merasa ikut merasakan perasaannya. Bertemu kembali dengan mantan suami yang kini memiliki istri yang lain, pastilah sangat menyakiti hatinya. Saat berada di kamarnya, Leana datang menghampiri ibu mertuanya itu.


"Maafkan Livia ya Mom, karena Livia mengizinkan mereka tinggal di sini, Mommy jadi merasa tidak nyaman," jelas Leana.


"Tidak usah dipikirkan Livia. Mommy sudah bicara dengan Radian dan juga telah menyetujui, tapi rasanya memang tidak nyaman. Mungkin karena belum terbiasa," jelas Shanty.


"Aku janji akan merayu mereka untuk segera pindah dari rumah ini," ucap Leana.


"Merayu? Apa maksudmu?" tanya Shanty heran.


"Ya, dengan membelikan rumah yang sesuai dengan keinginan mereka. Mungkin mereka mau segera pindah," jawab Leana.


"Apa? Kamu ini? Jangan sampai kebaikan hatimu dimanfaatkan oleh mereka. Mommy tidak setuju kalau kamu mengikuti kehendak mereka walau itu demi kenyamanan Mommy. Mereka bisa seenaknya meminta rumah mewah padamu dan sengaja membuat kita tidak nyaman agar kamu mencarikan rumah yang mereka mau. Mommy tidak setuju! Kalau kamu mau menawarkan rumah untuknya harus melalui seleksi Mommy!" ucap Shanty begitu keras hingga setengah membentak.


"Mommy?" tanya Radian yang tiba-tiba muncul.


"Kakak? Aku jadi kaget," ucap Leana sambil menggendong bayinya.


Radian mengecup pipi putri kecilnya. Lalu meminta untuk diizinkan menggendong bayi cantik itu. Sebelum berangkat bekerja, Radian memang selalu menyempatkan bermain dengan putra putrinya. Setelah menyapa dan bermain dengan putra kesayangannya, sekarang giliran menggendong putri kesayangannya.

__ADS_1


"Ada apa? Kok Mommy kayak emosi begitu?" tanya Radian.


"Gimana Mommy nggak emosi Radian. Demi mereka yang segera keluar dari rumah ini, Livia mau membelikan rumah yang sesuai dengan keinginan mereka. Bagaimana kalau mereka menginginkan rumah mewa, apa kalian akan memenuhi keinginan mereka? Bisa-bisa mereka bertahan di sini sampai mereka mendapatkan apa yang mereka mau. Mommy nggak sudi!" ucap Shanty.


"Oh begitu rupanya," ucap Radian sambil tersenyum.


"Aku sudah antisipasi Mom. Aku akan berikan waktu paling lama tinggal di rumah ini. Jika mereka tidak mau menerima tawaran rumah itu, mereka tetap tak bisa tinggal di rumah ini lagi. Jadi mereka tak bisa seenaknya bertahan di rumah ini sampai mendapatkan rumah sesuai dengan keinginan mereka. Kalau mereka tidak menerima itu salah mereka sendiri jika tidak memiliki rumah tepat di batas waktu tinggal di rumah ini," jelas Leana.


"Oh begitu?" tanya Shanty.


"Mom, Livia ini pebisnis Mom, kalau masalah perundingan, jangan ditanyakan lagi. Dia tak akan mundur, dan tidak akan mau kalah," ucap Radian sambil tersenyum.


"Ya, apalagi jika ada hal-hal tertentu yang membuat aku kesal, keputusanku bisa sangat tegas dan menyakitkan," ucap Leana untuk meyakinkan ibu mertuanya.


"Baiklah Mommy sayang," ucap Leana.


Mendengar itu Shanty langsung memeluk Leana. Entah kenapa, melihat menantunya yang begitu penurut padanya Shanty jadi terharu. Melihat pemandangan itu, Radianlah yang paling bahagia. Ibunya yang dulu sangat membenci Leana kini justru terlihat sangat menyayanginya.


Radian berjanji akan bicara dengan keluarga itu setelah pulang dari kantor nanti. Poin yang harus disampaikannya adalah batas waktu mereka bisa tinggal di rumah itu, dan mau tak mau mereka sudah harus menentukan rumah yang akan mereka pilih. Tak lupa menyampaikan bahwa rumah-rumah yang ditawarkan itu adalah pilihan Shanty.


Penting bagi Radian menyampaikan itu karena Radian tak ingin keluarga itu menilai Leana seseorang yang pelit atau perhitungan. Karena Leana bukanlah orang seperti itu. Mereka harus tahu, yang menentukan pilihan rumah itu adalah ibunya yang mereka tahu sendiri tak begitu menyukai mereka.

__ADS_1


"Kami terima, apa pun yang dipilihkan untuk kami. Diberi rumah dengan percuma saja, kami sudah sangat berterima kasih. Mana mungkin kami berani memilih," ucap Ridwan Putra.


Radian merasa sedih melihat sikap ayahnya yang begitu merendah tetapi harus bagaimana lagi. Kehidupan ayahnya itu yang memprihatinkan. Jika tidak takut pada ibunya mungkin Radian akan membantu habis-habisan. Namun, demi menjaga hati ibunya yang takut terluka karena memanjakan keluarga yang tidak disukai Shanty, Radian terpaksa berlaku tegas.


"Pelit! Orang kaya pelit!" ungkap Rica.


"Siapa orang kaya yang tidak pelit menurutmu. Ayo sebutkan? Apa ada orang kaya yang mau belikan rumah untuk kita selain Radian dan istrinya? Kamu tidak bersyukur dan tidak tahu diri. Sudah diajak ke sini saja, Papa sudah sangat bersyukur. Mantan istri Papa itu bisa saja tak mau menerima kita. Bisa saja menolak mati-matian kehadiran kita dirumah ini tapi dia sudah ketularan baiknya Radian dan istrinya. Hingga rela menerima kita. Jika melihat sifatnya yang dulu, dia bisa saja mengusir kita seperti mengusir hewan. Apa kamu tahu itu? Jadi bersyukurlah!" ucap Ridwan Putra.


Tak suka mendengar ucapan putri tirinya itu yang masih menjelek-jelekkan putra dan menantunya. Ratih langsung mencubit Rica. Gadis itu mengelak dengan cemberut.


"Sebaiknya kamu juga mencari pekerjaan. Rendahkan hatimu dan minta bantulah untuk mendapatkan pekerjaan pada Livia. Dia pimpinan tertinggi di perusahaan miliknya. Mungkin bisa menerima tamatan SMA di perusahaan bonafit seperti itu," ucap Ridwan Putra.


"Jadi wanita karir?" tanya Rica.


"Kalau kamu rajin belajar dulu tentu bisa jadi wanita karir. Sekarang apa yang bisa kamu kerjakan di perusahaan sebesar itu? Paling jadi office girl," ucap Ridwan Putra.


"Papa jahat, bukannya mendukung putrinya, malah mematahkan semangatnya. Papa jahat," ucap Rica.


"Bukannya jahat tapi realistis. Ingin pekerjaan yang hebat tapi pendidikan cuma tamatan SMA. Mending kalau berhenti sekolah karena tak ada biaya tapi ini karena malas belajar. Bagaimana bisa bekerja? Melakukan tugas-tugas yang sulit," ucap Ridwan Putra.


Rica termenung, barulah merasa menyesal. Memiliki cita-cita sebagai seorang wanita karir, tetapi tak diiringi oleh keinginan untuk memperoleh ilmu yang diperlukan. Jika dulu Rica begitu bahagia bisa segera berhenti memikirkan tugas-tugas sekolah. Sekarang baru menyesal karena untuk menjadi seorang wanita karir yang sukses, harus perlu belajar yang keras. Jangan berharap bisa sukses dengan hanya bersantai-santai saja.

__ADS_1


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2