
~ Livia ~
Nama itu menggetarkan hati Radian, karena nama itu bertahun-tahun membuat hatinya bersedih karena kehilangannya dan sekaligus nama yang memberinya kebahagiaan. Pergi, dirindukan dan tiba-tiba datang kembali, tentu saja hal itu membuat kebahagiaan Radian berkali-kali lipat.
Tapi kenyataan yang didapatinya, gadis yang dirindukannya itu justru menyimpan dendam terhadap dirinya dan keluarganya. Radian benar-benar terguncang, cinta yang tak pernah bisa pudar itu justru mempersulit hidupnya.
"Siapa … Livia?" tanya Radian terbawa perasaan.
Rasa penasaran karena mendengar nama yang mirip dengan nama gadis yang juga dia cintai.
"Dia, adik kelasku. Kalau dipikir-pikir, dia gadis yang tidak menonjol. Sangat manis, tapi penyendiri, aku berhutang maaf padanya," jelas Ezra.
"Maaf? Berhutang maaf? Maksudnya, kamu sudah berbuat kesalahan padanya," tanya Radian yang dibalas dengan anggukan oleh Ezra.
Hutang maaf seperti apa? Apa dia pernah menyakiti gadis bernama Livia itu? Oh, kenapa aku selalu merasa kalau yang dibicarakan adalah Livia ku, batin Radian.
"Waktu itu aku menjabat sebagai ketua OSIS di SMP itu. Livia adalah anak kelas satu yang baru masuk tahun ajaran baru. Saat masa orientasi siswa, dia terlambat datang ke sekolah. Aku bertanya pada semua siswa yang terlambat waktu itu. Mereka menjawab dengan berbagai alasan kecuali Livia, dia tak mau menjawab sama sekali apa alasannya," ucap Ezra memulai ceritanya.
Radian diam mendengarkan, terlihat Ezra yang mulai menuang minumannya lagi seperti mempersiapkan diri untuk menceritakan sebuah cerita yang membebaninya.
"Semua menjawab alasan mereka terlambat tapi dia hanya diam. Itu membuat panitia orientasi siswa geram. Akhirnya mereka semua mendapatkan hukuman berlari keliling lapangan. Mereka berlari beberapa kali lapangan sesuai dengan alasan yang mereka berikan. Tapi Livia sama sekali tak mau menyebutkan alasannya. Dan yang akhirnya membuatku menyesal, aku mengikuti hasutan salah seorang panitia orientasi untuk membuatnya terus berlari hingga dia menyebutkan alasannya," jelas Ezra lalu tertawa.
Radian melihat sebuah tawa penuh penyesalan dari Ezra. Laki-laki itu tertawa sambil tertunduk. Radian hanya diam menunggu, tak memaksanya meneruskan cerita. Ezra seperti tak sanggup meneruskannya. Tapi laki-laki itu bangun dan berjalan menuju balkon lalu berdiri di sana menatap pemandangan kota dari ketinggian.
Radian mengikuti dan berdiri di sampingnya. Ezra pun menoleh ke arah Radian.
"Apa ceritaku membosankan? Aku tidak pernah ceritakan ini pada siapa pun sebelumnya," ucap Ezra.
"Tidak! Sama sekali tidak membosankan, aku justru ikut penasaran dengan alasan gadis itu tidak mau menjawab pertanyaan panitia orientasi siswa itu," ucap Radian sambil tersenyum.
Ezra mengangguk, ucapan Radian membuat Ezra yakin dan akhirnya melanjutkan ceritanya.
"Gadis itu tetap bertahan tidak menceritakan alasannya meski satu persatu yang mendapat hukuman telah meninggalkan lapangan. Hanya tertinggal dia seorang diri," ucap Ezra.
"Dia tetap bertahan tidak menceritakan alasannya? Kalau begitu dia seorang gadis yang keras hati," tanya Radian.
Laki-laki itu merasa kagum akan kerasnya hati gadis yang masih berumur dua belas tahun itu. Ezra mengangguk menjawab pertanyaan Radian.
"Meski nafasnya yang sudah tersengal-sengal dia tetap berusaha berlari hingga akhirnya dia jatuh pingsan," jawab Ezra.
"Aku kagum dengan kerasnya hati gadis itu," ucap Radian.
"Aku juga sama sepertimu, sangat kagum akan kekerasan hatinya. Saat melihatnya pingsan barulah aku menyesal telah menghukumnya," ucap Ezra.
__ADS_1
"Lalu apa yang kamu lakukan selanjutnya? Apa memaafkannya dan menghapus hukumannya?" tanya Radian.
"Harusnya begitu tapi seorang panitia orientasi siswa lain ngotot gadis itu harus melanjutkan hukuman keesokan harinya. Jika dia masih belum mau menyebutkan alasannya," ujar Ezra.
"Gila! Kejam sekali panitia orientasi siswa itu," sahut Radian.
"Lebih gila lagi aku yang mengikuti ucapannya," ucap Ezra kembali dengan tawa menyesalnya.
"Tanpa aku sadari, Livia membuatku penasaran padanya hingga mencarinya dan meminta untuk melanjutkan hukumannya. Kadang aku merasa kalau itu hanya alasanku untuk kembali menemuinya. Karena rasa penasaranku yang luar biasa padanya. Aku hanya ingin kembali menatapnya, tapi tak punya alasan apa pun untuk menemuinya. Aku menggunakan alasan kejam itu hanya untuk bisa menatap wajahnya. Gadis itu balas menatapku dengan tatapan yang tak bisa aku mengerti. Aku rasa dia pasti menilai aku, seorang ketua OSIS yang kejam. Saat aku kembali bertanya padanya, dia masih belum mau menjawabnya. Dia pun mulai berlari mengelilingi lapangan. Melihatnya seperti itu, ada rasa menyesal mengungkit hukuman itu. Tiba-tiba seorang panitia orientasi lain menghampiriku dan bertanya alasan kenapa gadis itu dihukum."
"Panitia orientasi siswa yang kemarin?" tanya Radian.
"Bukan! Ini gadis yang lain lagi, dia wakil ketua OSIS," jawab Ezra.
"Wakilmu?" tanya Radian yang dibalas dengan anggukan oleh Ezra.
"Aku menceritakan kejadian kemarin hingga membuat para panitia orientasi siswa memutuskan untuk melanjutkan hukumannya pada gadis itu. Dia … sangat kaget dan menceritakan kalau kemarin gadis itu telah menolongnya yang terserempet motor bahkan mengantarkannya ke rumah sakit. Wakil OSIS itu bahkan memperlihatkan luka di lengannya," jelas Ezra.
Teringat kembali saat dia melihat balutan kain kasa di lengan wakil ketua OSIS itu. Sontak Ezra berlari mengejar gadis yang telah kelelahan berlari mengelilingi lapangan beberapa kali itu.
Ezra menghentikannya, gadis itu menatap Ezra dengan wajah yang mulai pucat pasi. Pandangannya nanar dan gadis itu pun kembali jatuh pingsan. Namun kali ini Ezra menyambut tubuhnya yang yang jatuh lunglai. Ezra menggendongnya sambil berlari menuju UKS. Wakil ketua OSIS itu pun datang melihat keadaannya.
"Dia sudah menolongku tapi kenapa kalian justru menghukumnya?" tanya wakil OSIS itu.
"Tetap saja 'kan? Tetap saja hukuman ini tidak manusiawi. Jika dia tak mau menjelaskan alasannya ya sudah, masa harus dihukum terus," ucap wakil ketua OSIS itu kesal sambil mengusap wajah Livia yang berkeringat.
"Baru kali itu aku dimaki oleh wakilku sendiri," ucap Ezra pada Radian.
Mengingat kejadian itu.
"Tentu dia kesal, dia sudah ditolong gadis itu tapi teman-temannya justru malah menghukum gadis penolongnya itu," jawab Radian.
Ezra mengangguk sambil tertunduk, teringat kembali dia yang akhirnya menunggu gadis itu hingga kembali sadar. Ezra meminta maaf karena terlalu keras menghukum. Gadis itu hanya diam, melangkah dengan perlahan kembali ke lapangan. Sejak itu Ezra merasa berhutang maaf pada Livia. Karena Livia hanya diam tak menjawab permintaan maaf nya.
Sejak itu juga Ezra mengamati Livia hingga sadar kalau gadis itu sering mendapat bully dari seorang gadis. Ezra baru teringat kalau gadis yang suka mem-bully Livia adalah gadis yang menghasutnya untuk memberikan hukuman lebih pada Livia. Namun semakin gadis itu mem-bully Livia, semakin ingin Ezra membelanya.
Melihat penderitaan gadis itu setiap hari. Di bully oleh kakak kelasnya, Ezra semakin simpati padanya. Tanpa Ezra sendiri tahu kalau Livia justru semakin di bully karena Ezra yang sering mendekatinya. Hingga akhirnya Ezra tak peduli lagi pada perubahan yang terjadi di wajah Livia yang rusak.
Di mata Ezra, gadis itu tetap cantik luar dan dalam. Suka menolong orang tanpa mau mengumbar kebaikannya. Lebih suka bertahan mendapat hukuman dari menyebutkan kebaikan yang telah dilakukannya. Tapi kecelakaan yang dialaminya membuat gadis itu kehilangan percaya diri sangat drastis. Livia tumbuh menjadi gadis penyendiri. Lebih memilih menjauh dari orang-orang yang menatap aneh padanya.
Ezra tak peduli dengan tatapan orang terhadap Livia karena baginya Livia tetap sama. Gadis cantik yang baik hati meski setiap kali menemuinya Livia bersikap tak acuh padanya.
"Kamu masih marah padaku? Livia!" Kata-kata itu sering terlontar dari mulut Ezra.
__ADS_1
"Maaf Livia!"
Namun Livia hanya berjalan menghindar dari Ketua OSIS tampan itu. Ezra selalu mencari cara agar bisa bicara dengan gadis itu.
"Livia aku ingin bicara!" Livia justru masuk ke perpustakaan tapi Ezra tak putus harapan.
"Aku bawa ini untukmu," ucap Ezra sambil membuka kotak bekal itu.
Livia terdiam mematung menatap roti isi yang tertata rapi di kotak bekal itu. Livia tak langsung pergi seperti biasanya. Melihat itu, Ezra tersenyum, langsung meraih tangan gadis itu dan mengajaknya duduk di bangku di bawah pohon. Ezra begitu senang dan merasa sebentar lagi akan segera mendapatkan maaf dari gadis itu.
Ezra menaruh roti isi itu di telapak tangan Livia. Gadis itu menatap roti isi itu dengan ragu-ragu. Kemudian Livia menghadap ke arah lain dan melepas maskernya. Perlahan mulai memakan roti isi ditangannya. Ezra sangat berharap bisa makan bersama dengan gadis itu tapi Livia justru membelakanginya.
Tidak apa-apa, bersabar saja, sekarang dia mau menerima roti ini saja sudah cukup. Apa dia tidak sarapan? Apa dia tidak dibekali uang jajan? Kasihan sekali, batin Ezra.
Livia tak pernah terlihat di kantin karena tak mungkin gadis itu makan di depan siswa-siswa lain. Karena itu Ezra yakin kalau gadis itu telah sarapan sebelum berangkat sekolah tapi saat Ezra menawarkan roti isi itu, mata Livia tak bergerak dari makanan di hadapannya itu. Ezra pun yakin Livia belum sarapan pagi.
Hal itu terjadi beberapa kali roti isi selalu menjadi andalan Ezra mendekati Livia. Kadang menerima kadang menolak. Sedikit kecewa kalau hari itu Livia menolak namun sangat bahagia mendengar gadis itu mengucapkan terima kasih meski dengan suara pelan. Hanya kata-kata itu yang biasa keluar dari balik masker itu. Hanya suara singkat itu yang bisa didengar Ezra, laki-laki itu bahkan tak tahu seperti apa suara gadis itu sebenarnya.
Tanpa disadari Ezra, beberapa kali menerima roti isi darinya membuat Livia semakin mendapat bully-an. Gadis itu tak berani lagi keluar kelas, apalagi bertemu dengan Ketua OSIS tampan itu. Tapi Livia juga tak sanggup mendengar obrolan teman-teman di kelasnya. Gadis itu akhirnya memilih menyendiri di samping gedung sekolah. Setiap hari duduk di sana, karena di samping gedung sekolah yang sepi itu Livia bisa melepas masker untuk menghirup udara dengan lebih bebas.
Ezra mencarinya ke mana-mana hingga akhirnya menemukan gadis itu duduk tertunduk seorang diri.
"Di sini rupanya. Ini aku bawa roti untukmu," ucap Ezra.
Livia buru-buru meraih maskernya, namun tangan Ezra menghalangi gadis itu mengenakan maskernya.
"Gimana caranya makan jika pakai masker?" tanya Ezra sambil tersenyum.
Livia akhirnya memalingkan wajahnya karena maskernya yang telah direbut Ezra. Pemuda itu justru menarik dagu Livia mengarah padanya. Hari itu Ezra lebih berani mendekati gadis itu, tanpa siapa pun berada di sekitar situ. Wajah yang biasanya berpaling setiap kali gadis itu menghabiskan roti yang diberikan Ezra.
Kini wajah yang biasa berpaling darinya itu terpampang di hadapan Ezra. Laki-laki itu memperhatikan wajah Livia, menunjukkan pada gadis itu bahwa dia sama sekali tidak masalah dengan wajah rusak itu.
Livia ingin memalingkan wajahnya namun cengkeraman tangan Ezra di dagunya sangat kencang hingga gadis itu seperti menampilkan wajahnya. Air mata Livia mengalir perlahan, menangisi Ezra yang masih menatap wajahnya. Livia merasa laki-laki itu juga akan jijik dan akan menghindar seperti teman-temannya yang lain.
Livia pasrah, Ezra akan tetap baik padanya dia akan senang, Ezra akan menjauh darinya dia akan selamat dari bully. Gadis itu memilih diam namun air matanya mengalir. Melihat air mata yang mengalir di pipi Livia, Ezra meraih tengkuk Livia dan membenamkan wajah gadis itu di dadanya. Livia menangis sejadi-jadinya.
Baru saja Ezra meraih hati gadis itu, baru saja bisa mendengar suaranya, meski itu hanya suara tangisnya. Baru saja bisa menyentuh dagunya, membenamkan wajahnya gadis itu dalam pelukannya. Ezra langsung dipindahkan ke keluar negeri. Hal itu membuatnya sangat sakit hati pada ayah dan ibunya.
"Radian … aku ikut usulanmu. Aku akan kembali bersamamu. Menerima permintaan ayahku menggantikan kedudukannya sebagai presiden direktur di perusahaannya. Aku akan mengikuti kata-katamu, mencari lagi gadis yang aku cintai. Jika dulu aku dipisahkan darinya dan tak mampu melawan karena masih belum dewasa dan masih dibawah kuasa orang tua. Tapi sekarang, seperti yang kamu ucapkan kemarin, aku telah mandiri. Aku berhak memutuskan hidupku sendiri, aku berhak mencintai siapa pun tanpa takut di tentang. Aku akan menemukannya, aku akan memperjuangkan kembali cintaku. Aku akan kembali mendapatkannya. Terima kasih Radian, saudaraku, kamu adalah jalan bagiku, petunjukku, cahaya menuntun jalanku untuk meraih kebahagiaanku. Terima kasih Radian … terima kasih," ucap Ezra sambil memeluk Radian.
Radian termangu mendengar ucapan putra atasannya itu. Ezra telah memanggilnya saudara, Ezra mengikuti ucapannya, Ezra sangat mempercayai kata-katanya. Ezra memeluknya erat namun tak mampu dibalas oleh Radian. Sebagian hatinya bahagia karena berhasil menjalankan tugasnya membawa putra atasannya itu kembali.
Namun sebagian lagi bersedih jika ternyata Livia yang dicintai Ezra adalah Livia yang juga dicintainya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...