Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 11 ~ Perjanjian ~


__ADS_3

Tanpa sadar Leana menangis menatap foto orang tua kandungnya. Radian menyaksikan itu dan merasa heran. Di hadapan Radian, Leana menyatakan foto itu mengingatkannya pada orang tuanya hingga timbul kerinduan terhadap ibunya yang telah tiada.


Radian tak tega melihat kesedihan itu dan berjanji akan melimpahkan kasih sayang dan cinta yang besar bagi Leana sebagai ganti atas kehilangan rasa kasih sayang dari ibunya. Hal itu memunculkan keberanian Radian untuk segera mengajak Leana menikah di bulan depan.


Tak disangka oleh Radian, Leana menyetujuinya. Radian bahagia, sangat bahagia. Laki-laki itu mengajak Leana ke kamarnya dan segera membenamkan bibirnya ke bibir wanita cantik itu. Dalam hatinya Radian meminta izin pada Livia yang selama ini telah mengisi hatinya untuk digantikan dengan gadis yang telah membuatnya jatuh cinta itu


"Aku ingin menempati kamar adik tiri Kakak itu, apa boleh?" tanya Leana yang masih dalam pelukan Radian.


"Kenapa? Apa kamu tidak takut? Pemilik kamar itu sudah meninggal. Tidak ada lagi yang pernah masuk ke kamar itu," jelas Radian.


"Tapi aku lebih suka kamar yang dekat dengan kamar Kakak. Di bawah itu aku merasa jauh dari Kakak dan benar-benar seperti tidur sendirian di rumah ini," ucap Leana merayu.


"Tapi bukankah kita akan segera menikah? Kita akan tidur bersama dalam satu kamar?" tanya Radian.


"Kalau begitu besok aku pulang saja, menginap di sini kalau kita sudah menikah," jawab Leana.


"Baiklah! Baiklah! Baiklah! Kamu menginap di kamar itu tapi jangan malam ini ya? Besok saja, biar pelayan bersihkan dulu kamarnya itu, Ok?" tanya Radian minta persetujuan Leana.


Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.


"Malam ini bagaimana kalau menginap … di kamarku saja?" tanya Radian dengan malu-malu.


Leana tertawa dengan menutup mulutnya. Melihat tingkah Radian yang malu-malu seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.


"Aku mau Kak, tapi … apa kata orang nanti, belum menikah sudah tidur sekamar," ucap Leana masih tertawa.


Leana tak bisa menahan tawanya bukan karena permintaan Radian. Tapi karena tingkah laki-laki itu yang berani menyampaikan keinginannya tapi dengan ekspresi yang malu-malu.


"Kalau di kamarmu?" tanya Radian.


"Itu sama saja," jawab Leana.


"Baiklah kalau begitu aku akan bersabar sebulan lagi agar bisa tidur sekamar denganmu," ucap Radian pelan.


"Kenapa begitu ingin sekamar denganku?" tanya Leana.


Karena aku ingin tidur sambil memelukmu, batin Radian.


"Karena aku tidak mau kamu takut tidur sendirian," jawab Radian sambil tersenyum.


"Selama ini aku juga tidur sendirian. Di New York aku menempati penthouse seorang diri. Aku berani, aku tidak takut. Tapi … sejak kenal Kakak, aku jadi merasa kesepian. Aku juga ingin selalu bersama Kakak. Aku ingin tidur sambil memeluk Kakak …"


"Aaah sial," umpat Radian.


"Kenapa?" tanya Leana heran.


"Kenapa aku selalu keduluan? Kenapa kamu selalu lebih dulu mengucapkannya, itu kata-kataku," ucap Radian.


"Kata-kata yang mana?" tanya Leana sambil tersenyum.


"Kata-kata kalau aku … ingin tidur sambil memelukmu," ucap Radian sambil menunduk malu.


"Kalau itu kata-kata Kakak kenapa aku tidak dengar?" tanya Leana.


"Karena aku bicara di dalam hati …"


"Salah sendiri, bicara dalam hati tidak diakui berarti itu kata-kataku. Aku yang lebih dulu mengucapkannya. Kakak kalah cepat dariku," ucap Leana sambil menjulurkan lidahnya.


Melihat itu Radian langsung mengejar Leana.


"Sini, aku akan menangkapmu …"


"Tidak mau," jawab Leana sambil berlarian di kamar Radian yang luas itu.


Meski berlari ke sana kemari namun akhirnya Leana tertangkap juga. Laki-laki itu mendesak Leana ke dinding hingga gadis itu berada dalam kungkungan Radian yang bertubuh tinggi atletis.


"Mana lidah yang menjulur tadi?" tanya Radian sangat gemas dengan tingkah Leana yang meledeknya.


Perlahan Leana menjulurkan lidahnya dan langsung disambut oleh bibir Radian. Laki-laki itu dengan menggebu ingin menangkap lidah yang mempermainkannya tadi. Dengan napas yang memburu Radian membenamkan bibirnya lebih dalam lagi. Menyesap manis bibir beraroma mint vanilla itu.


Hingga akhirnya Radian melepas ciuman yang telah membuat napasnya tersengal-sengal.

__ADS_1


Beruntung Leana bersedia menikah denganku bulan depan, rasanya aku tidak tahan menunggunya lebih lama lagi, batin Radian.


"Untung Kakak menikahiku bulan depan, rasanya tidak sabar menunggu lebih lama lagi," ucap Leana.


"Oh, not again," ucap Radian sambil tertunduk di bahu Leana.


"Kenapa? Apa Kakak keduluan lagi?" tanya Leana sambil tersenyum.


Radian mengangguk dengan kening yang masih bertumpu di bahu Leana.


"Makanya jangan suka bicara dalam hati, jadinya keduluan terus 'kan," ucap Leana.


Radian menarik tubuh Leana dan menghempaskannya di ranjang. Gadis itu menjerit saat Radian menimpa tubuhnya dan menyatukan bibirnya dengan bibir gadis itu. Tak sampai di situ, Radian beralih menciumi leher Leana hingga ke pangkal leher gadis itu. Mencium aroma tubuh gadis itu dalam-dalam, tangan Radian perlahan melepas kancing kemeja longgar Leana. Gadis itu segera menggenggam tangan Radian untuk menghentikannya.


"Kakak menginginkannya?" tanya Leana.


"Aku laki-laki normal Leana, tentu saja aku menginginkannya," jawab Radian.


"Aku juga, tapi … bersabarlah, kita hanya perlu menunggu satu bulan lagi," ucap Leana pelan yang akhirnya menghentikan Radian melepas kancing kemeja putih longgar itu.


Radian menatap wajah cantik yang begitu dekat itu.


"Maafkan aku sayang," ucap Radian pelan.


"Tidak perlu, Kakak tidak melakukan kesalahan apa-apa," jawab Leana.


Radian bergerak bangkit dari atas tubuh Leana. Mengulurkan tangan untuk menarik tubuh gadis itu berdiri.


"Kalau begitu sebaiknya aku kembali ke kamarku ya?" tanya Leana.


Radian mengangguk, laki-laki itu mengantar Leana hingga ke depan pintu kamar tamu itu. Sebelum Leana menutup pintu, Radian mendekat dan meraih tengkuk Leana. Radian mengecup kening calon istrinya itu sangat lama sambil memejamkan mata.


"Selamat tidur sayang, aku mencintaimu," ucap Radian dan Leana tersenyum mendengar itu.


"Kali ini aku kalah, aku hanya mengucapkannya di dalam hati," ucap Leana.


Radian tertawa, hatinya berbunga-bunga. Dia bisa mengungkapkan perasaannya lebih dulu dibandingkan Leana. Dan lebih bahagia lagi saat gadis itu mengatakan dirinya telah mengucapkan itu di dalam hatinya.


Radian kembali ke kamarnya sambil senyum-senyum sendiri. Sesampai di kamar Radian melompat dengan mengepalkan tangannya, berteriak namun tak bersuara.


Radian melompat ke atas ranjangnya lalu menatap langit-langit kamarnya sambil tersenyum hingga matanya letih. Mereka berdua tidur di kamar masing-masing dengan senyum yang mengulas di bibir mereka.


Sebulan kemudian pernikahan pun digelar. Ballroom hotel bintang lima itu telah disibukkan oleh aktivitas para penyelenggara yang berlalu lalang mempersiapkan segala penunjang terselenggaranya pesta pernikahan mewah sepasang CEO itu.


Keputusan menikah dalam waktu cepat, membuat wedding organizer yang ditunjuk terpaksa menambah personal dengan melakukan kerjasama atau melakukan subkontrak dengan wedding organizer lainnya. Hal ini untuk membantu pengerjaan agar persiapan pernikahan ini dapat selesai tepat waktu sesuai dengan keinginan pasangan pengantin itu. Yang rencananya akan menggunakan konsep pesta pernikahan ala sitting dinner.


Pesta pernikahan yang diperhitungkan akan sangat mewah dengan mengundang para pebisnis sukses, tokoh-tokoh terkenal, diplomat, pejabat hingga selebriti. Begitu banyaknya undangan hingga harus menggunakan seluruh area ballroom yang luas itu. Dekorasi pesta yang merubah suasana seakan-akan masuk ke area tiga dimensi dengan tatanan dekorasi ruangan yang tergantung indah di langit-langit.


Pemilihan warna, bahan, serta peletakkan dekorasi yang tepat, membuat suasana menjadi lebih romantis dan magical dengan kombinasi kilauan kristal, warna putih, emas, dan perak yang menghadirkan efek glamor.


Shanty mengundang seluruh sahabatnya. Wanita-wanita dari kalangan atas menghadiri pesta mewah itu ibarat menghadiri sebuah acara penganugerahan. Mereka terlihat kemilau dengan perhiasan-perhiasan dengan harga ratusan juta hingga milyaran.


Tentu saja Shanty tak mau kalah menampilkan perhiasannya yang senilai dengan harga rumah megah yang ditempatinya itu. Wanita-wanita kalangan atas itu berdecak kagum dengan keindahan satu set perhiasan yang dikenakan Shanty.


Leana hanya tersenyum menatap ibu mertuanya yang memamerkan perhiasan yang akan membuat Leana kembali mendapatkan rumah peninggalan ayah kandungnya itu.


Pesta pernikahan yang menjadi kebanggaan Shanty itu pun sukses digelar. Mereka kembali ke rumah dengan tubuh yang terasa letih. Leana meminta Radian untuk beristirahat karena besoknya mereka akan berangkat untuk melakukan perjalanan honeymoon.


"Akhirnya kita diizinkan sekamar berdua," bisik Radian begitu sampai di kamar hotel.


"Kalau mau masing-masing, aku bisa pesan kamar satu lagi," ucap Leana.


"Tidak mau!" teriak Radian dan langsung memeluk tubuh istrinya.


"Bukannya semalam kita sudah tidur sekamar? Kakak saja yang tidak sadar karena langsung tertidur," ucap Leana sambil tertawa.


"Oh ya? Kenapa tidak bangunkan aku?" tanya Radian.


"Kenapa harus dibangunkan, Kakak terlihat begitu letih," ucap Leana.


"Ya, berdiri sambil tersenyum basa basi itu membuatku sangat letih," ucap Radian sambil merenggangkan pelukannya.

__ADS_1


Menatap wanita yang sekarang telah resmi menjadi istrinya itu. Tak menunggu waktu lama, laki-laki itu segera membenamkan bibirnya ke bibir gadis cantik itu. Menyesap manis aroma mint vanilla dari rongga mulut wanita cantik itu.


Leana pasrah membiarkan Radian melepas satu persatu kancing blouse-nya hingga tak menyisakan apa pun di tubuhnya.


"Aku mencintaimu Leana," bisik Radian dengan bibir yang masih menyentuh lembut bibir Leana.


"Aku juga mencintaimu, Kak Radian," jawab Leana.


"Kalau begitu aku perlu bukti," ucap Radian sambil tersenyum pada gadis yang berbaring di bawahnya itu


"Bagaimana cara aku membuktikannya?" tanya Leana 


"Berikan apa yang aku inginkan?" bisik Radian.


"Apa itu?" tanya Leana berpikir keras.


"Kamu, aku inginkan kamu, maukah kamu menyerahkan dirimu padaku?" tanya Radian.


Leana mengangguk. Radian tersenyum, mendapatkan izin dari istrinya. Laki-laki itu kembali mendekatkan wajah mereka dan menyatukan bibirnya dan bibir manis Leana. Gadis itu membalas dengan melingkarkan tangan di tubuh laki-laki yang telah polos itu.


Usapan tangan Leana di punggung Radian membuatnya tak sabar ingin menyesap semua yang ada di rongga mulut gadis itu.


Leana kembali melingkarkan tangannya di leher laki-laki yang dicintainya itu. Radian semakin gencar menciumi semua yang ada di hadapannya, leher, bahu, dada hingga membuat napas Leana terengah-engah.


Seiring menghilangnya matahari di bawah garis cakrawala, pertanda masuknya waktu malam. Kedua insan yang di mabuk cinta itu mulai menikmati malam pertama mereka.


"Terima kasih sayang," bisik Radian sambil mengecup kening istrinya.


Leana memejamkan mata hingga air mata itu mengalir di kedua sisi matanya.


"Kenapa menangis Leana? Apa sakit sekali? Maafkan aku sayang," ucap Radian khawatir sambil memeluk tubuh polos istrinya.


Leana cuma menggelengkan kepalanya.


Rasa sakit tubuhku tak lebih perih dari rasa sakit di hatiku. Aku merasa seperti sedang menipumu, menipu orang yang paling aku cintai. Entah bagaimana nanti jika Kakak tahu siapa aku yang sebenarnya? Aku mohon Kak, jangan membenciku. Aku tidak akan sanggup menghadapi kebencianmu, batin Leana sambil menenggelamkan wajahnya di dada laki-laki itu.


Radian menyesal karena merasa terlalu terburu-buru.


"Maafkan aku Leana, harusnya aku lebih bersabar," ucap laki-laki itu sambil mengusap lembut punggung halus Leana.


"Tidak apa-apa Kak, aku juga menginginkannya," jawab Leana.


Aku menginginkanmu Kak, aku ingin Kakak mencintai Livia, bukan wajah Leana, tapi mencintai aku … Livia, karena yang ada di dalam tubuh ini adalah Livia. Tubuh ini adalah tubuh Livia. Livia yang memakai topeng Leana untuk menipumu. Maafkan aku Kak, maafkan aku karena terlalu mencintaimu, jerit hati Leana.


Radian dan Leana memutuskan hanya beristirahat di kamar hotel itu. Memesan layanan kamar untuk segala keperluan mereka. Radian tak pernah lepas memeluk tubuh istrinya. Bahkan saat membersihkan diri pun mereka lakukan bersama-sama.


Tak jarang mereka bermesraan di bawah shower yang mencurahkan air ke seluruh tubuh mereka. Radian pun menumpahkan rasa cintanya lewat aksi-aksi bercintanya dan Leana pasrah menerima perlakuan manis suaminya.


Perjalanan honeymoon itu benar-benar memberi kenangan romantis dalam hidup mereka. Hingga saat kembali ke rumah pun, sinar bahagia masih terus terpancar dari wajah mereka.


"Kalian sudah kembali? Oh Mommy kangen sekali," ucap Shanty saat menyambut kepulangan putra dan menantunya.


Entah itu sungguh-sungguh merasa rindu atau hanya basa basi. Karena beberapa hari kemudian Shanty diam-diam menghadap Leana di kantornya meminta perpanjangan waktu untuk membayar cicilan.


"Mommy, business is business. Apa yang menjadi kesepakatan itu yang harus ditepati. Aku tidak bisa, hanya karena Mommy adalah mertuaku segala prinsip hidupku harus aku abaikan. Aku tidak akan mencapai kesuksesan seperti sekarang ini jika bukan karena selalu menjaga komitmen, baik untuk diriku sendiri atau orang yang bekerja sama denganku," jelas Leana sambil mengamati layar laptop di hadapannya.


"Tapi sayang, cicilan itu terlalu besar setiap bulannya. Mommy tidak sanggup dengan cicilan sebesar itu. Baru satu kali angsuran saja Mommy sudah kewalahan," ucap Shanty.


"Apa Mommy tidak memikirkan lebih dulu sebelum menandatangani surat perjanjian hutang kita?" tanya Leana dengan sikap yang tak acuh.


"Mommy sudah memikirkan masak-masak dan Mommy merasa bisa mencicilnya tapi sebenarnya jumlah cicilan itu setiap bulannya sangat besar. Apa tidak bisa dikurangi?" tanya Shanty.


"Tapi Mommy, tidak ada restrukturisasi utang dalam perjanjian kita. Itu memang salah satu solusi untuk mengurangi beban Mommy sebagai debitur dalam melunasi utang. Tapi kita tidak memiliki kesepakatan tentang itu karena aku sudah memberi keringanan dengan memberikan pinjaman tanpa bunga. Itu bahkan kita lakukan sebelum kita saling mengenal lebih dekat. Aku sudah membantu Mommy mencapai keinginan Mommy memiliki perhiasan itu. Sebagai sesama wanita yang sangat menyukai perhiasan aku ingin membantu. Hanya dengan bermodalkan saling percaya antara sesama wanita yang memiliki hobi yang sama. Karena itu, tolong Mommy, aku tidak bisa membantu lebih jauh lagi, Mommy harus melakukan kewajiban Mommy sebagai debitur," jelas Leana.


"Sebenarnya Mommy bisa membayar cicilan bulan ini tapi mobil Mommy bikin ulah, berkali-kali masuk bengkel biaya servicenya besar," jelas Shanty.


Tentu saja, aku tidak sembarangan menyuruh orang mengerjai mobil itu, batin Leana.


"Mobil mewah biaya perawatannya juga mahal Mommy. Jika tidak ingin mengeluarkan biaya besar jangan memilih mobil mewah. Lagi pula kenapa Mommy harus pusing ini baru satu kali tunggakan. Mungkin untuk cicilan berikut Mommy bisa membayarnya?" tanya Leana yang tak bisa dijawab oleh Shanty.


Leana perlahan-lahan membuat ibu mertuanya tak mampu mencicil hutangnya dengan segala macam cara.

__ADS_1


Jatuh tempo cicilan pembayaran hutang selalu tertunggak. Hingga sesuai dengan perjanjian, rumah jatuh ke tangan Leana jika dalam waktu tertentu Shanty tak mampu membayar hutangnya.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2