
Radian bahagia dengan kelahiran putranya. Laki-laki itu pun memberitahu perihal kelahiran putranya itu pada Monica dan ibunya. Monica bergegas mendorong kursi roda ibunya menuju ruang rawat inap Leana. Mereka bahagia menatap wajah bayi tampan itu. Bergantian Shanty dan Monica menggendong bayi yang baru lahir itu.
"Siapa namanya Kak, apa sudah disiapkan namanya?" tanya Monica sambil menatap bayi mungil dalam gendongan Shanty.
"Revano Putra Radian?" tanya Radian.
Monica tertawa mendengar nama bayi itu yang hanya kebalikan namanya, Radian Putra menjadi Putra Radian.
"Masa cuma putra Radian? Bukannya juga putra Leana?" tanya Monica lagi.
Mereka tertawa, termasuk Leana yang merasa lucu dengan ucapan Monica.
"Kalau begitu Revano Putra Radian dan Putra Leana," ucap Radian lagi.
Mereka kembali tertawa hingga rasa sedih Leana terasa jauh berkurang. Terlebih lagi melihat suaminya yang begitu bangga pada putranya.
"Tak terasa Mommy sekarang telah menjadi seorang nenek," ucap Shanty.
"Ya Mommy tapi siapa dulu nama pastinya?" tanya Monica lagi kembali pada topik pembicaraan mereka.
"Kalau begitu ikut nama keluarga saja dan nama keluarga kita adalah Putra," usul Shanty.
"Putra? Apa nama suami Mommy yang memiliki rumah itu adalah Putra?" tanya Leana.
Shanty kelimpungan ditanya seperti itu oleh Leana. Radian langsung memutuskan menjawab pertanyaan istrinya itu
"Bukan! Putra adalah nama ayah kandungku sedangkan yang mewariskan rumah itu adalah suami Mommy yang ketiga namanya Robert Chandra," jelas Radian yang tak ingin menyembunyikan apa pun lagi.
Laki-laki itu merasa seperti menuntut untuk mengetahui masa lalu Leana. Sedangkan Leana sendiri tidak pernah diberitahu tentang masa lalu keluarganya. Shanty terlihat tak suka hal itu diceritakan pada Leana tapi apa mau dikata Radian telah terlanjur menceritakannya.
"Jadi rumah itu tadinya milik suami Mommy yang ketiga? Suami Mommy yang memiliki seorang putri bernama Livia, yang mati bunuh diri itu?" tanya Leana bertubi-tubi.
Entah kenapa Leana merasa kesal, Shanty justru menginginkan anaknya menyandang nama keluarga dari suami pertamanya sementara dia dan kedua anaknya menikmati harta dari suami ketiganya.
Shanty berusaha bersikap tenang, dan menjawab pertanyaan Leana yang terasa sedang menyindirnya.
"Karena darah yang mengalir di tubuh Radian adalah darah dari suami Mommy yang pertama yang bernama Ridwan Putra jadi Mommy mengusulkan nama Putra untuk menjadi nama keluarga kita. Tiga generasi dari Ridwan Putra, Radian Putra dan sekarang Revano Putra, begitu maksud dan tujuan Mommy," jelas Shanty.
__ADS_1
Dalam tubuhku mengalir darah Robert Chandra yang Mommy lupakan begitu saja setelah menikmati semua hartanya, batin Leana.
Wanita itu mengangguk mendengar penjelasan ibu mertuanya itu.
Meski tidak suka dengan pilihan nama itu namun kenyataan memang demikian. Radian sendiri meski tidak menyukai ayah kandungnya namun tetap memakai nama belakang ayahnya.
"Kalau kamu tidak setuju, kita cari nama lain. Meski mengalir darah keturunan Putra dalam tubuhnya tapi dia adalah anakmu, dalam tubuhnya juga mengalir darah keluargamu. Sayang, kamu ingin mencantumkan nama keluargamu, siapa nama keluargamu?" tanya Radian sambil menangkup wajah istrinya.
Leana terdiam, tak mungkin dirinya menyebutkan nama Djamal sebagai nama keluarganya karena Radian telah tahu kalau Dokter itu bukan ayah kandungnya.
Chandra, tapi aku tidak bisa mengungkapkan itu. Karena aku belum sepenuhnya merebut semua harta milik ayahku, batin Leana.
Akhirnya Leana menggelengkan kepala.
"Ya Mommy benar Kak, bagaimanapun juga nama keluarga memang selalu diambil dari nama ayahnya," ucap Leana akhirnya pasrah.
"Kalau begitu sudah dipastikan namanya Revano Putra. Benarkan?" tanya Monica.
Semua mengangguk termasuk Leana. Shanty terlihat begitu puas dengan keputusan itu seolah-olah keluarganya lebih berhak terhadap anak itu.
"Artinya namanya apa Kak?" tanya Monica lagi.
"Wah ternyata Kakak mengerti sekali. Jangan-jangan Kakak sudah persiapkan nama itu sejak lama," sahut Monica.
Radian hanya tersenyum sambil tertunduk malu. Semua tersenyum bahagia dengan kehadiran bayi yang dinilai sangat tampan itu. Radian terlihat sangat bangga pada putranya dan kelahiran Revano juga membuat semuanya melupakan sejenak masalah mereka.
Monica dan Shanty yang baru-baru ini mengakui pada Radian kalau mereka telah kehilangan harta mereka yang telah beralih pada Leana. Jika dipikir-pikir mereka sebenarnya merasa kesal atas kenyataan itu. Sementara Radian baru menyadari bahwa istrinya ternyata menutupi jati dirinya yang sesungguhnya.
Semua perasaan yang tak mengenakan hati itu hilang dalam sekejap karena kehadiran bayi mungil yang tampan itu. Mereka semua merasakan keceriaan, di rumah itu selalu ada gelak tawa menatap lucunya bayi Radian dan Leana. Melihat kasih sayang Shanty dan Monica rasanya tak akan ada yang percaya kalau mereka adalah orang-orang yang berhati kejam. Itu pikiran Leana.
Namun, keceriaan mendadak hilang dari wajah Radian saat personal assistant-nya kembali datang membawakan dokumen yang lebih mengejutkan Radian. Belum lama mengetahui kalau Leana bukanlah anak kandung Dr. Djamal. Kini Radian lebih terkejut lagi mendapati kenyataan yang baru saja diterimanya dari personal assistant-nya itu.
"Ini benar-benar terjadi?" tanya Radian.
"Benar Tuan, saya datang secara langsung ke rumah sakit di Seoul di mana Nyonya Leana melakukan rekonstruksi wajahnya. Nyonya Leana awalnya terdaftar atas nama Livia Chandra. Melakukan operasi plastik secara bertahap selama enam tahun atas wajahnya yang sangat rusak karena kecelakaan. Menurut informasi yang di tuliskan dalam rekam medisnya. Kerusakan wajah pada Nona Livia telah terjadi cukup lama dan dibiarkan begitu saja, sementara ada beberapa luka baru yang ditemukan. Itu karena akibat dari tubuh Nona Livia yang jatuh ke jurang. Nona Livia juga mengalami beberapa patah tulang dan luka di sekujur tubuh. Tuan, bisa melihat sendiri foto-fotonya yang disusun secara bertahap sesuai dengan progres rekonstruksi wajahnya," jelas Syasko panjang lebar.
Radian membuka lembaran-lembaran foto wajah Livia sejak mulai ditemukan hingga akhir. Laki-laki itu hingga menutup mulutnya menahan tangisnya yang pecah. Personal assistant itu akhirnya pamit keluar ruangan membiarkan Radian yang menangis membayangkan apa yang terjadi pada adik tirinya itu.
__ADS_1
Livia, ternyata ini yang terjadi padamu, maafkan aku Livia. Maafkan aku yang tidak bisa melindungimu, batin Radian yang menangis terisak.
Sementara itu, Leana yang menjalani masa pasca melahirkan, menyerahkan urusan perusahaannya ditangani oleh personal assistant-nya Nesya. Sebenarnya Nesya tak ingin mengganggu Leana yang ingin menikmati kebahagiaannya menjadi seorang ibu.
Tapi apa yang ditemukan Nesya, membuat orang kepercayaan Leana itu akhirnya harus menemuinya sesegera mungkin. Nesya menyakini bahwa ada yang ingin menyelidiki asal usul Leana. Nesya gadis miskin yang dibantu Leana saat menamatkan kuliahnya itu dengan sepenuh hati membantu Leana.
"Apa kamu yakin informasi ini?" tanya Leana.
Saat Nesya datang ke rumah hendak menjenguk Leana yang baru saja melahirkan. Mereka justru berbincang di balkon kamar Leana dan berbicara serius di sana.
"Salah seorang karyawan bagian administrasi rumah sakit memberitahu kalau ada yang mencari informasi tentang Livia, anak dengan wajah rusak yang ditemukan oleh Dr. Djamal. Dan orang itu ternyata adalah Syasko," jelas Nesya lalu tertunduk.
"Syasko? Siapa orang itu? Kenapa dia mencari informasi tentang aku?" tanya Leana.
"Dia … dia adalah personal assistant-nya Tuan Radian," jawab Nesya.
Leana terkejut hingga menutup mulutnya yang terbuka.
"Apa dia mendapatkan semua informasi itu?" tanya Leana dengan mata yang berkaca-kaca.
Wanita itu mendadak ketakutan jika suaminya telah mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Leana merasa kehidupan rumah tangganya akan segera terancam.
"Sayangnya bagian administrasi itu tidak tahu apakah Syasko berhasil mendapatkan informasi tentang Nona. Tapi jangan khawatir aku akan mendekatinya dan mengorek informasi apa saja yang telah di dapatkannya. Sekaligus ingin tahu apa rencana Tuan Radian selanjutnya," tutur Nesya.
Leana mengangguk dan berterima kasih pada Nesya sekaligus memohon bantuan gadis itu untuk mengetahui rencana suaminya. Nesya pun pamit dan Leana menunggu dengan hati yang tak tenang. Menunggu perkembangan pencarian informasi yang dilakukan Nesya dan juga menunggu apa yang akan dilakukan suaminya saat pulang dari kantor nanti.
Semakin sore jantung Leana semakin berdebar. Apalagi saat wanita itu mendengar pintu kamar yang terbuka lalu tertutup kembali.
Dia telah pulang, apa yang akan terjadi? Batin Leana risau hingga menyilangkan tangan di dadanya.
Leana menunggu apa yang akan diucapkan Radian. Marahkah? Benci? Kecewa? Sedih? Leana tak mampu menebaknya. Semakin berpikir jantungnya semakin berdebar kencang. Leana hingga menutup matanya di balkon kamar itu.
Tiba-tiba Radian memeluknya dari belakang.
"Livia …"
Mata Leana yang terpejam langsung terbuka lebar bahkan membulat. Leana yakin Radian telah mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Leana semakin ketakutan hingga tubuhnya gemetar. Ketakutan yang amat sangat mengingat kehancuran rumah tangganya yang semakin dekat.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...