Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 80 ~ Menyadari dan Membuktikan ~


__ADS_3

Leana memastikan ingin mempertahankan Radian setelah membaca balasan curahan hati Leana di buku hariannya. Melihat itu Leana yakin akan cinta Radian padanya. Berdasarkan hal itu Leana akhirnya memutuskan untuk kembali pada laki-laki yang dicintainya itu.


Camelia kesal hingga melangkah keluar dari ruangan itu. Meninggalkan ibu mertuanya dan adik iparnya di ruang rawat inap itu. Shanty memeluk erat Leana, ibu mertuanya itu langsung mencurahkan isi hatinya melihat penderitaan putranya sejak berpisah dengan Leana.


"Saat dia memutuskan untuk kembali padamu dia terlihat sangat bahagia. Sangat bertolak belakang dengan saat dia menikah dengan Camelia. Dia terlihat sangat sedih, tak ada raut kebahagiaan di wajahnya. Mommy tidak tahu bagaimana cara mengembalikan keceriaannya. Livia, suamimu sangat mencintaimu karena itu dia sangat terluka saat mengira kamu berselingkuh. Dia selalu bersedih sejak saat itu. Mommy bisa memastikan kalau pernikahannya dengan Camelia hanya karena terpaksa. Cintanya tetap untukmu Livia," jelas Shanty.


Leana menangis dalam pelukan ibu mertuanya sekaligus ibu tirinya itu. Leana tak menyangka jika ibu yang dulu sangat membencinya itu kini sangat berharap padanya. Shanty sangat ingin Leana kembali pada putranya.


"Lihatlah, kandunganmu semakin besar. Dia akan membutuhkan ayahnya. Biarkan dia berkumpul dengan ayahnya," bujuk Shanty.


"Tapi bagaimana dengan bayi yang dikandung Camelia. Dia juga berhak berkumpul dengan ayahnya," ucap Leana.


"Mommy pernah dengar kalau Radian akan bertanggung jawab terhadap anak itu jika anak itu memang benar anak kandungnya tapi dia tetap tak akan menganggap Camelia sebagai istrinya. Radian hanya menganggap kamulah satu-satunya istri baginya," jelas Shanty.


"Benar Kak, di hari pertama saja mereka langsung bertengkar," imbuh Monica.


Leana mengangguk, "Iya Mom, bukankah aku tadi telah mengatakan akan kembali pada Kak Radian?" tanya Leana.


"Ya Mommy juga dengar. Tapi Mommy takut kalau kamu mengatakan itu hanya untuk mengusirnya diri sini. Mommy takut kalau kamu tidak sungguh-sungguh dengan ucapmu itu," ucap Shanty.


"Aku sungguh-sungguh Mommy. Jujur saja, aku sangat sakit hati, aku sangat sedih dikhianati. Hidup bersamanya dengan pengkhianatannya membuatku sangat menderita tapi berpisah darinya pun aku juga tetap menderita. Karena itulah aku memutuskan untuk kembali padanya. Setidaknya aku tahu Kak Radian pernah benar-benar mencintaiku," ungkap Leana.


"Dia selalu mencintaimu Nak. Keputusannya untuk meninggalkanmu selalu membuatnya menderita," ungkap Shanty.

__ADS_1


"Ya Kak Leana, kami tak pernah melihatnya menangis sebelumnya. Tapi sejak berpisah dengan Kak Leana, kami sering melihatnya bersedih hingga menangis," timpal Monica.


"Ya Livia, Mommy sebagai ibu sangat menyesal tak bisa membuatnya hidup bahagia selama ini. Dia selalu menahan sendiri penderitaannya dalam diam, dalam wajah murungnya tapi sejak mengenalmu dan berpisah denganmu, Mommy baru melihatnya begitu sedih. Hidupnya yang menderita selama ini masih belum seberapa dibandingkan penderitaannya karena berpisah darimu," tambah Shanty.


Leana mengangguk, wanita itu pun bulat hati memutuskan untuk kembali pada suaminya. Shanty dan Monica sangat bahagia. Bersama-sama mereka menunggu Radian di rumah sakit. Leana berterima kasih pada Pak Arif, Haris dan Yanto. Leana juga meminta mereka untuk beristirahat pulang.


"Tapi Bu kami …."


"Tidak apa Pak! Saya yang akan menjaganya di sini, jika bapak-bapak besok ingin menjenguknya lagi silahkan. Tapi sebaiknya malam ini bapak semua istirahat di rumah dan … tolong, doakan kesembuhan suami saya Pak," ucap Leana memohon.


"Tentu kami akan mendoakan Bang Radian Bu. Kami semua sayang sama Bang Radian," ungkap Haris.


"Terima kasih ya!" jawab Leana bersyukur atas kebaikan hati ketiga teman kerja suaminya.


Leana bahagia melihat perhatian teman kerja Radian tapi melihat kondisi ruangan yang tak begitu nyaman untuk menunggu, Leana merasa lebih baik meminta teman-teman kerja Radian itu untuk pulang.


Wanita itu tertidur sekejap karena merasa begitu mengantuk dan lelah. Namun, tak lama kemudian, Leana kembali terbangun dan langsung mendekati ranjang rumah sakit suaminya.


"Kak, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa sangat sakit? Apa yang harus aku lakukan untuk meringankan rasa sakitmu. Bangunlah Kak, lihatlah aku! Aku sudah menunggumu sejak tadi. Aku ingin mendengar suaramu. Bangunlah Kak, aku sangat takut," ungkap Leana dengan tersedu-sedu.


Meski terlihat tegar di depan siapa pun, Leana sangat lemah, hatinya sangat khawatir akan kondisi suaminya yang masih belum sadarkan diri. Setiap saat terlintas pikiran buruk dalam benaknya dan wanita itu akan selalu merasa menyesal.


Leana menganggap kecelakaan yang menimpa suaminya, semua karena kesalahannya. Radian yang pergi dari rumahnya dalam keadaan hati yang terguncang. Melangkah dengan pikiran yang kosong dan tanpa memikirkan keselamatannya, karena itu Leana adalah orang yang paling menyesal dalam kejadian ini.

__ADS_1


"Maafkan aku Kak, jika Kakak segera bangun, aku rela kembali bersama Kakak meski harus berbagi cinta dengan wanita lain," bujuk Leana dengan tangis yang terisak-isak.


Wanita itu merasa tak sanggup menjalani hidup seperti yang diucapkannya tadi. Hidup bersama dengan suami yang memiliki wanita lain. Namun, Leana rela jika itu bisa membuat Radian sadar dari koma. Leana ingin mendengar suara Radian yang memanggil namanya. Leana ingin mendengar suaranya meski itu sebuah makian yang menyalahkannya. Leana rela asalkan laki-laki itu berhasil melewati masa kritisnya.


Leana terisak hingga tubuhnya terguncang, setiap kali teringat ucapan Radian pada putranya, Revano.


~ Cepat besar ya Nak! Biar bisa jaga Mama dan adik. Kalau Papa tidak ada, Reno yang harus menjaga mereka! ~


"Nggak! Nggak! Nggak! Jangan berpesan seperti itu pada Reno. Dia masih kecil, dia tidak akan mengerti. Kakak tidak boleh berpesan seperti itu pada Reno. Kakak lah yang harus menjaganya, Kak Radian lah yang harus menjaga kami. Kak Radian jangan pergi! Jangan tinggalkan kami!" Tangis Leana di tengah malam yang sunyi itu.


Leana menangis sepanjang malam. Di depan orang lain, Leana terlihat sangat tegar. Tak ada yang bisa melihat kesedihannya yang paling dalam. Namun, di saat sendiri seperti saat ini, wanita itu terlihat sangat lemah. Memohon agar Radian tak pergi meninggalkannya.


Leana menggenggam tangan suaminya dan menciumnya dengan air mata yang membasahi wajahnya. Semakin dipikirkan semakin Leana merasa ketakutan. Leana benar-benar tak ingin kehilangan suaminya.


Begitu lelah hati dan tubuh Leana hingga membuatnya kembali tertidur. Namun, kali ini sambil menggenggam erat tangan suaminya seolah-olah itu bisa menahan suaminya untuk pergi. Sekian lama tertidur, tanpa disadarinya Radian menggerakkan kelopak matanya. Perlahan-lahan menatap lurus ruangan yang masih asing baginya itu.


Radian ingin menyentuh kepalanya yang terasa sakit. Namun, tangannya terasa berat tertahan. Perlahan Radian menoleh ke arah samping. Langsung tersenyum menatap wanita yang dicintainya tengah tertidur sambil menggenggam erat tangannya.


Livia, benarkah ini kamu? Atau ini hanya halusinasiku? Bahagianya aku jika ini memang benar dirimu. Rasanya tidak percaya jika kamu masih sudi menemani suami yang telah mengecewakanmu. Aku mohon jangan sampai ini hanya halusinasiku. Aku mohon! Batin Radian yang masih meragukan antara ilusi dan kenyataan.


Sekuat tenaga, Radian menyentuh wajah wanita yang dicintainya itu. Meski rasa sakit yang luar biasa dari tangannya yang terluka tapi Radian tak sabar ingin membuktikan apa yang ada dihadapannya ini bukanlah sekedar ilusi. Rasa nyeri hebat dirasakan laki-laki itu saat berusaha menggerakkan tangannya untuk menggapai wajah Leana.


Tak hanya tangannya, tubuhnya pun terasa sangat sakit. Namun, Radian tetap ingin menyentuh tampilan yang ada di hadapannya ini. Radian berharap apa yang dilihatnya adalah kenyataan. Leana ada dihadapannya, menunggunya dan itu sangat membahagiakan hatinya. Radian sangat ingin membuktikan itu meski rasa sakit harus ditanggungnya.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


 


__ADS_2