Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 87 ~ Merasa Iri ~


__ADS_3

Para pengunjung bioskop itu kebanyakan keluarga yang mengajak putra-putrinya menonton film keluarga. Mereka mengira Monica, Ezra dan Revano adalah sebuah keluarga kecil. Monica malu-malu tetapi merasa bahagia. Namun, dibalik itu juga merasa khawatir Ezra akan keberatan karena dikira suaminya.


Namun, ternyata Ezra bersikap terbuka. Laki-laki itu justru berterima kasih atas sangkaan para pengunjung itu. Monica tersenyum malu-malu mendapati kenyataan itu. Mereka pun kembali menunggu jam tayang film sambil menikmati popcorn yang masih tersisa.


Ezra membantu membelikan tiket film apa yang ingin ditonton Revano. Mereka pun menikmati tayangan film di hadapan mereka. Saat memilih tempat duduk Revano memilih duduk di samping kanan Ezra. Terpisah dari tantenya yang terpaksa duduk di samping kiri Ezra.


"Tante kalau nonton suka peluk-peluk. Reno kan jadi susah nontonnya," bisik Revano pada Ezra.


Laki-laki itu tertawa sambil mengangguk-angguk, bisa di duga kalau Monica tak sanggup menonton film-film yang menegangkan. Sementara Revano justru paling suka film-film bergenre action science fiction yang menampilkan aksi kejar-kejaran dinosaurus yang menegangkan.


Biasanya setelah film selesai tubuh gadis itu akan lemas dan minta istirahat dulu sambil minum. Revano akan cekikikan melihat Tantenya lunglai kehabisan tenaga karena menonton selalu dengan perasaan tegang. Setelah kekuatannya pulih, Monica akan menggelitik anak itu karena berani menertawakannya.


Baru saja tayangan dimulai, Monica menjerit lalu langsung memeluk tubuh Ezra. Laki-laki itu sontak menoleh sambil tersenyum pada Revano yang cekikikan karena apa yang diucapkan Revano langsung terbukti. Setelah sadar Monica langsung kembali ke posisinya sambil merapikan pakaiannya.


Wajahnya tentu semburat merah, beruntung suasana gelap hingga tak mungkin terlihat wajahnya yang telah memerah karena malu. Tetapi dari sikapnya yang langsung kikuk, Ezra bisa meyakini gadis itu merasa malu.


"Reno sini sama Tante," bisik Monica dengan kecondongan tubuhnya di depan tubuh Ezra.


"Nggak mau ah, Tante di sana aja," bisik Revano juga mencondongkan tubuhnya di hadapan Ezra.


Ezra hanya duduk diam melihat kedua Tante dan keponakan itu berbisik di depannya. Monica masih mencoba untuk merayu Revano, sementara anak itu masih bersikeras bertahan di tempatnya. Ezra berdehem untuk mengagetkan kedua orang yang asyik bernegosiasi di depan tubuhnya.


Monica dan Revano langsung menoleh ke arah Ezra yang tersenyum. Monica dan Revano pun cengengesan di hadapan Ezra. Segera Tante dan keponakan itu kembali ke posisi masing-masing.


Monica kaget dan langsung memeluk Ezra terjadi hingga beberapa kali. Ezra bahkan sengaja memindahkan gelas minum dan popcorn ke sisi Revano. Laki-laki itu mendekat pada Revano dan berbisik padanya.


"Pantas Reno nggak mau dipeluk Tante. Pelukannya kuat banget sampai tak bisa napas," bisik Ezra.


Revano mengangguk sambil cekikikan dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Monica yang melihat Ezra dan Revano berbisik-bisik, pura-pura kesal karena merasa dibicarakan oleh kedua laki-laki tampan beda usia itu. Gadis itu menepuk bahu Ezra, laki-laki itu menoleh tetapi tetap pada posisinya.


"Hey … Kalian sedang bisik-bisik apa?" tanya Monica juga dengan berbisik.


Ezra menoleh meski tubuhnya tetap condong pada Revano. Anak laki-laki tampan itu juga melongok menatap Monica. Mereka berdua serentak menggelengkan kepala lalu kembali saling menatap dan cekikikan bersama. Monica menoleh ke layar lebar itu, seolah-olah tak peduli dengan tingkah kedua laki-laki tampan itu.


"Tante nontonnya penakut sekali, dikagetin dikit aja langsung peluk-peluk," bisik Revano pada Ezra.

__ADS_1


"Iya, berarti kalau mau dipeluk Tante harus nonton film kayak gini ya?" tanya Ezra juga sambil berbisik.


"Iya," jawab Revano sambil tersenyum.


"Kalau begitu jangan sampai tahu orang lain. Ini rahasia kita. Tante nggak boleh nonton film sembarangan, jangan sampai Tante peluk-peluk orang lain," ucap Ezra.


"Iya," jawab Revano kembali mengangguk dan tersenyum.


Ezra mengucek puncak rambut anak laki-laki tampan itu. Ezra tersenyum melihat kelucuannya. Terbayang wajah wanita yang menjadi ibu Revano adalah gadis yang dicintainya. Hati laki-laki itu terasa perih.


Andaikan kamu putraku Reno, alangkah bahagia rasanya. Tapi ibumu membenciku karena perbuatanku. Aku harus bagaimana lagi Reno, seperti apa pun usahaku untuk membahagiakannya, dia tetap setia pada papamu. Papamu pasti sangat bahagia bisa memiliki cinta mamamu, batin Ezra berbisik.


Laki-laki itu tersenyum pasrah, lalu merapikan rambut anak laki-laki tampan itu. Ezra memeluk Revano, memeluk anak itu seperti membayangkan memeluk Leana. Itu membuatnya merasa bahagia. Monica yang melihat kejadian itu langsung tertunduk, gadis itu merasa tahu apa yang dipikirkan Ezra. Monica yakin Ezra sedang membayangkan Leana saat memeluk Revano.


Saat keluar dari studio, Monica masih terlihat murung. Pikirannya masih melayang pada apa yang dilihatnya tadi. Hatinya terasa perih. Terlihat jelas bayangan Leana masih begitu melekat di hati Ezra.


"Kalian parkir mobilnya di mana?" tanya Ezra melangkah di area parkir, sekalian ingin mengantar Monica dan Revano.


Monica yang tenggelam dalam lamunannya tak menjawab pertanyaan Ezra. Laki-laki itu menoleh pada Revano yang berjalan sambil menggenggam tangannya. Ezra mengangkat dagunya pada Revano untuk bertanya pada anak itu, ada apa dengan tantenya, anak itu hanya mengangkat bahunya.


Gadis itu terdorong ke seberang tetapi justru Ezra tertabrak mobil yang baru membelok dari arah belakang itu. Monica sontak menjerit saat sadar, melihat Ezra yang terpental jatuh tak sadarkan diri. Sopir yang menabrak pun akhirnya turun dan melihat keadaan Ezra. Monica langsung menangis panik, sopir itu meminta Monica untuk tenang. Mereka memutuskan untuk membawa Ezra ke rumah sakit.


Pengendara mobil itu bersedia menanggung beban biaya rumah sakit. Namun, harus segera pergi, karena itu lah dia terburu-buru bahkan saat berbelok. Membuat pengemudi itu kaget karena tiba-tiba melihat seseorang berjalan dihadapannya. Menginjak rem pun sudah tak sempat lagi. Pengemudi itu memberikan kartu nama pada Monica agar bisa menghubunginya nanti.


Setelah mendapat pertolongan dan pemeriksaan, Ezra dipindahkan ke ruang rawat inap. Pengendara mobil itu juga sudah pergi. Tinggallah Monica yang menangis di samping ranjang rumah sakit itu sambil menatap Ezra yang belum sadarkan diri.


"Tante, Om sakit ya? Kena tabrak ya?" tanya Revano yang duduk di pangkuannya.


"Iya Reno, ini salah Tante. Tante yang jalan tak hati-hati. Tak melihat ada mobil yang mau lewat," ucap Monica dengan air mata yang terus mengalir.


"Tante jangan nangis, kita doain Om Ezra cepat sembuh ya," ucap Revano menghapus air mata Monica.


Cukup lama mereka menunggu Ezra yang belum sadarkan diri sehingga Revano tertidur di pangkuan Monica. Gadis itu segera menaruh tubuh kecil itu di ranjang khusus untuk penunggu pasien. Sementara Monica kembali duduk di samping ranjang rumah sakit Ezra. Sekian lama menunggu akhirnya gadis itu mengantuk juga.


Monica pasrah, akhirnya bersandar di ranjang rumah sakit itu. Memejamkan matanya dengan bertumpu pada lengannya. Akhirnya gadis itu tertidur juga. Sekian lama tertidur, gadis itu tak tahu Ezra telah sadar dan menatapnya. Laki-laki itu tersenyum menatap Monica yang lelah karena menunggunya.

__ADS_1


Matanya beralih mengitari ruangan hingga terhenti pada anak kecil yang juga tertidur di sebuah ranjang. Ezra ingin mengganti posisi tubuhnya karena ingin bersandar. Merasakan ada gerakan, Monica pun langsung terbangun.


"Kamu sudah bangun? Kenapa langsung duduk?" tanya Monica bertubi-tubi.


"Aku sudah bangun dari tadi, tubuhku rasanya pegal karena tak bergerak-gerak. Maaf, karena aku bergerak kamu jadi terbangun," ucap Ezra.


"Kamu tak bergerak karena takut aku terbangun?" tanya Monica.


"Aku lihat kamu begitu lelah," jawab Ezra.


"Sebenarnya tak terlalu lelah, apa yang aku lakukan dari tadi? Cuma duduk di sini menunggumu–"


"Maafkan aku ya," ucap Ezra.


"Kenapa kamu yang minta maaf, harusnya aku yang minta maaf. Ini semua terjadi karena aku yang tidak hati-hati," ucap Monica lalu menunduk.


"Apa yang kamu pikirkan saat menyeberang tadi?" tanya Ezra.


Monica semakin menunduk dan semakin merasa bersalah. Rasa iri yang timbul di hatinya saat Ezra memeluk Revano justru berakhir dengan kecelakaan pada laki-laki yang masih dicintainya itu.


"Maafkan aku. Sebenarnya ini dosaku. Aku berpikir kamu pasti sedang membayangkan Leana saat memeluk Reno. Aku jadi iri, cintamu masih begitu besar pada Leana. Meski dia tak memberimu harapan sedikit pun. Aku jadi tak fokus melangkah. Maafkan aku ya … Ezra," jelas Monica sambil menghapus air matanya.


Monica merasa aneh menyebut nama itu, nama yang sejak dulu tersimpan di hatinya. Namun, telah lama tak terucap dari mulutnya. Sementara hatinya masih berdebar kencang, sama seperti saat pertama kali menyukai Ezra.


"Kamu iri? Ya! Aku juga iri. Kenapa aku masih seperti itu. Rasanya aku sudah pasrah melepas Livia, karena dia telah bahagia bersama laki-laki yang sejak dulu dicintainya. Tapi … saat melihat anak itu, aku jadi merasa iri. Andai saja dia anakku," ucap Ezra sambil menatap Revano.


"Kamu menyukainya? Aku juga menyukainya, aku sangat sayang padanya, dia tampan dan lucu dan cerdas dan baik dan … ahhk pokoknya aku ingin punya anak seperti dia–"


"Aku juga ingin punya anak seperti dia," ucap Ezra lalu menoleh pada Monica.


Mereka saling menatap dan senyum itu sama-sama menghilang. Berganti dengan sikap yang sama-sama canggung. Monica menatap ke arah kanan dan Ezra menoleh ke sebelah kiri. Suasana jadi hening. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan bunyi pintu yang terbuka.


"Sayang, kamu kecelakaan? Kamu nggak apa-apa?"


Monica terbelalak menatap siapa yang datang. Bukan hanya karena panggilannya terhadap Ezra, tetapi karena mengenal persis siapa yang mengucapkannya. Mulut Monica hingga menganga saat melihat wanita yang mengucapkan kata itu ternyata adalah Camelia.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2